Saham
( 1717 )Turunnya Performa Saham Indonesia Pada Indeks MSCI
Perusahaan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), memberi penilaian yang kurang baik terhadap sejumlah saham perusahaan terbuka di dalam negeri. Penilaian yang menjadi acuan investor asing ini menunjukkan ketidakpastian akan likuiditas saham berkapitalisasi besar di dalam negeri. Analis saham Infovesta, Ekky Topan, Jumat (21/2) menjelaskan, penilaian MSCI dengan memasukkan sejumlah saham Indonesia ke Global Standard Index mengacu pada preferensi investor asing. Penilaian MSCI juga menjadi salah satu acuan utama bagi manajer investasi global dalam menentukan alokasi dana mereka di pasar saham dalam negeri.
”Saham yang masuk ke dalam MSCI cenderung mendapatkan perhatian lebih dan berpotensi menarik inflow (dana masuk) dari investor asing,” ujarnya. MSCI pada Februari 2025 melakukan penyesuaian pembobotan saham Indonesia yang akan ditetapkan per Maret 2025. Mereka melakukan penyesuaian pembobotan saham (rebalancing) sebanyak empat kali, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November. Pada pengumuman per awal 2025, terdapat tiga dari 20 saham milik emiten Indonesia dalam daftar MSCI Global Standards yang dikeluarkan, yaitu PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PTMerdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun ke daftar MSCI Small Cap Index serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
MSCI tidak akan menambahkan saham perusahaan Indonesia lainnya ke dalam daftar tersebut sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pada 11 Februari 2025, MSCI mengumumkan bahwa mereka tidak mempertimbangkan saham konglomerat berkapitalisasi besar untuk masuk daftar pada awal 2025. Pada 2024, kinerja tahunan saham dalam daftar MSCI Indonesia mencatatkan -11,94 %. Padahal, sejak 2021 kinerjanya selalu tumbuh positif. Kinerja tahunan pada 2024 juga lebih buruk dari kinerja tahunan pada tahun awal pandemi Covid-19, 2020, sebesar -7,46 %. (Yoga)
Valuasi PT Chandra Asri Pacific Daya Investasi Berpotensi Jumbo
Strategi Mengoptimalkan Cuan dari Kenaikan Harga Emas
Peluang Cuan dari Bisnis Tepung Roti
Bisnis Tertekan Akibat Persaingan dan Kelesuan Ekonomi
X Inc. Eksplorasi Pendanaan Senilai US$ 44 Miliar
Kontrak Jumbo Perkuat Kinerja Emiten
Investor Asing Lepas Saham Unggulan, IHSG Tertekan
Pasar Cemas Efek Kebijakan Trump dan Kenaikan Harga Emas
Adu Cuan Lima Bank Kelas Kakap
Kompetisi profitabilitas di antara lima bank kelas kakap semakin sengit pada 2024. Dengan tantangan suku bunga acuan masih tinggi dan likuiditas yang ketat, perbankan mengutak-atik strategi mempertahankan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Meskipun, hasilnya NIM industri perbankan menyusut pada akhir 2024 ke level 4,62% dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,81%. Dari data OJK, secara umum, tingkat profitabilitas perbankan yang tercermain dari return on asset (ROA) juga turun ke posisi 2,69% pada 2024 dibandingkan 2,74% pada akhir 2023. Berdasarkan data yang dihimpun Investor daily, secara bank only, total laba lima bank besar mencapai Rp188,89 triliun, meningkat 5,7% dibandingkan periode 2023 yang senilai Rp178,71 triliun. Adapun, bank yang meraup lana bersih terbesar masih ditorehkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Di mana lama bersih individual BRI mencapai Rp54,84 triliun, sepanjang 2024. NIM BRI pun masih tinggi, lantaran bank bersandi saham BBRI ini fokus pada penyaluran kredit segmen usaha UMKM.
Pada akhir tahun 2024, NIM BRI secara bank only berada di level 6,47%, menyusut dibandingkan tahun sebelumnya 6,84%. Di tengah pengetatan likuiditas yang masih berlanjut d tahun ini, BRI pun memproyeksikan NIM 2025 secara konsolidaro berada di kisaran 7,3% hingga 7,7%, dibandingkan posisi 2024 sebesar 7,74%. Berikutnya bank yang berada diperingkat kedua adalah PT Bank Bank Central Asia Tbk (BCA) yang mencetak laba bersih secara individual Rp 54,71 triliun pada 2024. Peringkat ketiga adalah bank berlogo pita emas, PT Bank mandiri (Persero) Tbk yang meraup laba bersih secara bank only sebesar Rp51,13 triliun sepanjang 2024. Berikutnya PT Bank Negara Indonesia berada diperingkat empat dengan laba bersih secara individual senilai Rp 21,21 triliun sepanjang 2024, naik 2,07% (yoy). Terakhir, bank yang bertengger diperingkat kelima adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Meskipun baru berusia empat tahun usia merger, namun kinerjanya terus mengalami pertumbuhan positif. Pada akhir Desember BSI mengantongi laba bersih Rp 7 triliun, meningkat 22,81% dibandingkan periode 2023 sebesar 5,7 triliun.(Yetede)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









