Saham
( 1736 )Menanti Solusi Mujarab untuk Pemulihan Bursa
Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terus menghadapi tekanan yang signifikan, dipicu oleh penurunan peringkat saham MSCI Indonesia oleh Morgan Stanley dan berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan proteksionisme AS. Dalam situasi ini, pelaku pasar berharap adanya langkah strategis dari pemerintah dan otoritas terkait untuk menstabilkan IHSG, di antaranya dengan memberikan insentif investasi, menstabilkan nilai tukar rupiah, dan memberikan kepastian kebijakan fiskal serta moneter.
Menurut Fath Aliansyah dari Maybank Sekuritas Indonesia, kebijakan yang lebih proaktif, termasuk buyback saham oleh BUMN, dapat memberikan dukungan terhadap harga saham yang tertekan. Aria Santoso, Presiden Direktur CSA Institute, juga menilai bahwa penurunan IHSG ini disebabkan oleh faktor eksternal, termasuk penurunan peringkat Indonesia oleh Morgan Stanley dan kebijakan tarif dagang AS.
Namun, beberapa analis melihat bahwa kehadiran Danantara justru bisa menjadi katalis positif untuk pasar dalam jangka panjang, dengan dampak yang potensial bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam meningkatkan kinerja BUMN. Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menyarankan agar pemerintah memberikan kejelasan terkait strategi pengelolaan aset Danantara dan mendorong aksi buyback saham BUMN untuk menstabilkan pasar. Selain itu, Hendra Wardana dari Stocknow.id menambahkan bahwa peresmian bullion bank dapat menjadi katalis positif bagi emiten emas di Indonesia, seperti ANTM, HRTA, dan BRMS.
Secara keseluruhan, meskipun pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar, terdapat beberapa langkah yang bisa diambil untuk meredam krisis ini, dengan harapan dapat meningkatkan stabilitas dan daya tarik investasi di masa depan.
Prospek Suram: Investor Asing Mulai Angkat Kaki
Harga Pangan Menjelang Ramadan Kompak Naik
Investor Asing Tarik Dana Rp 3,47 Triliun Sehari Pasca Peluncuran Danantara
Setelah Danantara Berdiri Mengapa Saham BUMN Melemah
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Diproyeksikan Terus Menanjak di Tahun 2025
Profil 7 BUMN yang Dikabarkan Masuk Danantara
Turunnya Performa Saham Indonesia Pada Indeks MSCI
Perusahaan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), memberi penilaian yang kurang baik terhadap sejumlah saham perusahaan terbuka di dalam negeri. Penilaian yang menjadi acuan investor asing ini menunjukkan ketidakpastian akan likuiditas saham berkapitalisasi besar di dalam negeri. Analis saham Infovesta, Ekky Topan, Jumat (21/2) menjelaskan, penilaian MSCI dengan memasukkan sejumlah saham Indonesia ke Global Standard Index mengacu pada preferensi investor asing. Penilaian MSCI juga menjadi salah satu acuan utama bagi manajer investasi global dalam menentukan alokasi dana mereka di pasar saham dalam negeri.
”Saham yang masuk ke dalam MSCI cenderung mendapatkan perhatian lebih dan berpotensi menarik inflow (dana masuk) dari investor asing,” ujarnya. MSCI pada Februari 2025 melakukan penyesuaian pembobotan saham Indonesia yang akan ditetapkan per Maret 2025. Mereka melakukan penyesuaian pembobotan saham (rebalancing) sebanyak empat kali, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November. Pada pengumuman per awal 2025, terdapat tiga dari 20 saham milik emiten Indonesia dalam daftar MSCI Global Standards yang dikeluarkan, yaitu PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PTMerdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun ke daftar MSCI Small Cap Index serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
MSCI tidak akan menambahkan saham perusahaan Indonesia lainnya ke dalam daftar tersebut sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pada 11 Februari 2025, MSCI mengumumkan bahwa mereka tidak mempertimbangkan saham konglomerat berkapitalisasi besar untuk masuk daftar pada awal 2025. Pada 2024, kinerja tahunan saham dalam daftar MSCI Indonesia mencatatkan -11,94 %. Padahal, sejak 2021 kinerjanya selalu tumbuh positif. Kinerja tahunan pada 2024 juga lebih buruk dari kinerja tahunan pada tahun awal pandemi Covid-19, 2020, sebesar -7,46 %. (Yoga)
Valuasi PT Chandra Asri Pacific Daya Investasi Berpotensi Jumbo
Strategi Mengoptimalkan Cuan dari Kenaikan Harga Emas
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022









