Saham
( 1717 )Saham Bank Lapis Dua, Peluang atau Tantangan?
Saham Bank Lapis Dua, Peluang atau Tantangan?
Fase Konsolidasi IHSG Segera Berakhir pada Pekan Ini
Awan hitam yang menyelimuti IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan mulai menghilang dipertengahan Februari 2025. IHSG diprediksi mengakhiri fase konsolidasi pada pekan ini, dengan sentimen penggerak yang cukup kuat masih datang dari global, dan juga berbagai data ekonomi domestik. "IHSG diperkirakan cenderung mengakhiri fase konsolidasi di support area 6.550-6.750, untuk selanjutnya menguji level 6.700-6.750 di pekan ini," kata Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan. Secara teknikal, menurut Valdy, stochastic RSI mulai bergerak naik dari oversold area, bersamaan dengan penyempitan negative slope pada MACD. Ini memberikan ruang bagi IHSG untuk mencoba bergerak mendekati resitance 6.750 setelah pada akhirnya pekan lalu ditutup di posisi 6.638.
Pergerakan IHSG, lanjut Valdy, akan mendapat pengaruh dari Amerika Serikat, dimana indeks-indeks Wall Street kembali ditutup mixed di Jumat (14/2/2025). Dengan penutupan tersebut mencatatkan penguatan mingguan di pekan lalu. "Sentimen utama berasal dari penundaan pengumuman reciprocal tarrifs oleh pemerintahan AS setelah Presiden AS, Donald Trump memerintahkan review terhadap kebijakan tersebut. Faktor lain adalah perlambatan pertumbuhan retail sales ke 4,2% yoy di Januari 2025 dari 4,36% yoy di Desember 2024. Untuk saat ini, nampaknya bad news terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan the Fed yang lebih agresif di 2025," papar dia. (Yetede)
Daya Tarik Bursa Indonesia Kian Memudar bagi Investor Asing
Harapan di Saham Perbankan Masih Terbuka
Bunga Saham Asing
Investor asing di pasar modal Indonesia melakukan aksi jual bersih (net sell) yang signifikan sejak awal tahun, mencapai Rp9,93 triliun. Penyebab utama dari aksi jual ini adalah kebijakan moneter yang lebih hati-hati di Amerika Serikat, di mana Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberikan sinyal pemangkasan suku bunga yang tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Selain itu, kebijakan perdagangan yang diterapkan Presiden AS Donald Trump, seperti kenaikan tarif impor 25% untuk baja dan aluminium, juga mempengaruhi sentimen pasar.
Saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mengalami penjualan bersih terbesar oleh investor asing. Narasi mengenai "higher for longer" yang mendorong investor untuk beralih ke aset dengan risiko rendah, seperti emas, juga turut berkontribusi pada pergeseran dana dari pasar modal Indonesia.
Namun, meskipun adanya aksi jual asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sedikit penguatan sebesar 0,38%, dengan kapitalisasi pasar naik menjadi Rp11.431 triliun. Kinerja emiten, terutama pada kuartal I/2025, diperkirakan akan menjadi kunci bagi perkembangan pasar modal Indonesia tahun ini.
Emiten Grup Siam Cement Mengumumkan Kerugian Rp1,1 Triliun
Investor Baru, Grup Jarum, Perkuat Fondasi Remala Abadi (DATA)
Petrosea Cetak Rekor Kontrak Tertinggi Sebesar Rp64,3 triliun
Inovasi Teknologi Mitra Keluarga Dorong Gaya Hidup Sehat
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022








