Saham
( 1737 )Kenaikan Harga CPO Jadi Momentum bagi Industri
Stimulus Dibutuhkan untuk Menjaga Stabilitas Pasar Saham
Obligasi NegaraTetap Laris Di Tengah Gejolak IHSG
Di tengah dinamika pasar saham,
kinerja lelang Surat Utang Negara atau SUN pada Selasa (18/3) menunjukkan hasil
positif dengan penawaran masuk sebesar Rp 61,75 triliun. Masih kuatnya
kepercayaan investor terhadap postur APBN disebut menjadi faktor pendorong
tingginya penawaran sehingga melebihi target indikatif. Menurut Ditjen
Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, lelang enam seri SUN pada Selasa pukul
09.00-11.00 WIB menghasilkan penawaran masuk sebesar Rp 61,75 triliun, mencapai
2,38 kali dari target indikatif sebesar Rp 26 triliun.
Keenam seri SUN yang dimenangkan
adalah SPN tenor 12 bulan senilai Rp 2 triliun dengan yield atau imbal hasil
6,25 %, seri FR0104 tenor 5 tahun senilai Rp 12,70 triliun dengan yield 6,70023
%, dan FR0103 tenor 10 tahun senilai Rp 7,15 triliun dengan yield 7,01985 %.Lalu,
untuk seri FR0106 tenor 15 tahun dengan total yang dimenangkan sebesar Rp 1,75
triliun dengan yield 7,03713 %, seri FR0107 tenor 20 tahun senilai Rp 4,1
triliun dengan yield 7,07804 %, serta FR0105 tenor 40 tahun senilai Rp 300 miliar
dengan yield 7,10892 %.
Menkeu Sri Mulyani mengatakan, dengan
kuatnya penawaran yang masuk, penawaran yang dimenangkan sebesar Rp 28 triliun,
lebih besar dari target indikatif Rp 26 triliun. Dari penawaran yang dimenangkan,
dana investor asing Rp 5,33 triliun, sisanya Rp 22,67 triliun berasal dari investor
dalam negeri. Nilai penawaran masuk dari investor asing Rp 13,95 triliun,
artinya komposisi dari investor asing terhadap total penawaran mencapai 22,59 %.
”Tingginya incoming bid dari investor asing menggambarkan investor asing
memiliki kepercayaan tinggi terhadap APBN 2025 dan pengelolaan keuangan negara,”
kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Gedung Ditjen Pajak Kemenkeu,
Jakarta, Selasa. (Yoga)
Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar
Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah
masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama
triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya
ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan
sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa
(18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator
menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan
di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di
level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus
mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.
Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level
6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam
pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama
30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja
beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi
ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi
domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh
rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025
hanya 4,9 %. (Yoga)
Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar
Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah
masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama
triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya
ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan
sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa
(18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator
menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan
di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di
level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus
mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.
Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level
6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam
pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama
30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja
beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi
ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi
domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh
rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025
hanya 4,9 %. (Yoga)
Produk yang Masih Laris Meski Daya Beli Melemah
Pasar Saham Berharap Pemangkasan Suku Bunga
Emiten Batubara Masih Tertekan
Investor Asing Masih Lanjutkan Aksi Jual Saham Bank
Masih Tingginya Volatilitas Pasar Saham
Volatilitas pasar saham diperkirakan cukup tinggi pada pekan ini. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam rentang lebar di kisaran 6.370-6.630. "Pasar modal Indonesia tengah menghadapí periode volatilitas tinggi, setelah IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 1,98% ke level 6.515 pada akhir pekan lalu. Sejumlah faktor, baik eksternal maupun domestik, menjadi pemicu utama tekanan jual yang membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (16/3/2025). Dari sisi eksternal, pelemahan pasar saham global, khususnya S&P 500 yang telah kehilangan US$ 5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, turut memberikan dampak negatif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait suku bunga semakin memperburuk sentimen investor. "Jika inflasi AS masih tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga untuk memberi stimulus ekonomi, yang pada gilirannya bisa memperlambat pemulihan pasar saham, yang pada akhirnya berpotensi memperpanjang tekanan di pasar saham," ujar dia. Sementara dari dalam negeri, tekanan fiskal mulai terasa setelah pemerintah mencatat defisit APBN per Februari 2025 sebesar Rp 31,2triliun. Defisit ini dapat membatasi ruang gerak pemerintah. Di sisi lain, investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih (netsell). Dalam satu pekan terakhir,net sell asing mencapai Rp1,77triliun. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022








