Saham
( 1722 )Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO
Pelemahan pasar saham saat ini
memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham
perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO,
sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di
bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun
sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO
sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu
menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja
Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.
Pengamat pasar modal Alfred
Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah
korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan
dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang
mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak
lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat
ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham
tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak
mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana
di pasar modal.
Data BEI per akhir Februari menunjukkan,
ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut,
sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred
menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena
mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh
dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain
itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu
mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam
penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)
Ekonomi Sulit, Emas Kian Dilirik Investor
Prediksi 2025: Kinerja Ekonomi Cenderung Landai
Avian Fokus Merebut Pasar dengan Menyasar Ritel
Produsen cat terintegrasi PT Avia
Avian Tbk berencana tetap agresif memenangi pasar, di antaranya memperkuat lini
distribusi dan terus mengembangkan produk cat ramah lingkungan. Sepanjang 2024,
kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan dengan daya beli masyarakat yang
lemah. Kondisi pasar yang menantang itu diprediksi berlanjut hingga tahun ini. Head
of Investor Relations PT Avia Avian Tbk Andreas Timothy Hadikrisno
mengemukakan, lemahnya pasar diprediksi berlanjut hingga semester I
(Januari-Juni) 2025. Namun, perseroan menargetkan mampu menaikkan volume
penjualan di kisaran 4-8 % pada tahun ini serta pendapatan (marketing sales)
tumbuh 6-10 % melalui sejumlah strategi.
Pada tahun 2024, Avian mencatat
pertumbuhan pendapatan 6,5 % secara tahunan menjadi Rp 7,5 triliun, sejalan dengan
volume penjualan yang tumbuh 5 % secara tahunan. Laba bersih emiten berkode
saham AVIA, yang juga masuk emiten Kompas100, itu tercatat Rp 1,66 triliun atau
naik tipis 1,22 %. Menurut Andreas, keberhasilan perseroan dalam mencapai
pertumbuhan penjualan pada tahun 2024 didorong strategi berkelanjutan yang difokuskan
pada upaya merebut pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan cat lain. Strategi itu
di antaranya inovasi produk, ekspansi pusat distribusi, strategi pemasaran yang
terarah, peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan, serta program loyalitas
kepada konsumen.
”Kami agresif mengambil pangsa
pasar dari kompetitor melalui inovasi produk dan strategi pemasaran. Kami memiliki
jaringan distribusi terbesar yang merupakan advantage dalam merebut pasar,”
ujar Andreas, Rabu (12/3/2025) sore. Inovasi produk digencarkan melalui
produk-produk yang ramah lingkungan. Sebagian produk cattelah beralih ke
”water-based” yang memiliki keunggulan ramah lingkungan dan tidak bau. Avian
menyasar sektor ritel, dengan pasar terbesarnya adalah toko bahan bangunan dan
tukang cat. Upaya memperkenalkan merek agar dikenal sampai ke kalangan tukang
cat hingga merebut pasar diakui membutuhkan waktu hingga belasan tahun. (Yoga)
Indikator Perekonomian yang Memburuk patut Diwaspadai
Beberapa indikator makroekonomi
pada awal tahun 2025 menunjukkan perekonomian Indonesia tengah menghadapi
tekanan, baik dari eksternal maupun domestik. Terjadinya deflasi, tertekannya
nilai tukar rupiah, amblasnya pasar saham, serta anomali penerimaan APBN menjadi
alarm bagi pemerintah untuk bertindak. BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK)
pada Februari 2025 mengalami deflasi sebesar 0,09 % secara tahunan. Sementara,
nilaitukar rupiah menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) awal
tahun berada di kisaran Rp 16.200-Rp 16.500 per USD, menyentuh Rp 16.575 pada
28 Februari 2025, terlemah sejak lima tahun terakhir. Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada awal tahun sebesar 7.163 dan pada akhir Februari 2025
anjlok ke 6.300. Angka ini menjadi level terendah sejak 2021.
Indikator lainnya, Kemenkeu
melaporkan pendapatan negara per Februari 2025 adalah Rp 316,9 triliun atau
terealisasi 10,5 % dari target APBN 2025. Pada periode yang sama tahun lalu
penerimaan mencapai 14,29 % dari target. Dibandingkan periode yang sama tahun
lalu, total penerimaan negara tahun ini turun 20,85 % secara tahunan. Turunnya
pendapatan negara pada awal tahun disebabkan oleh penerimaan pajak yang lebih
rendah, khususnya setoran pajak. Penerimaan pajak pada Februari 2025 ialah Rp
187,8 triliun atau terealisasi 8,6 % dari target APBN 2025, anjlok 30,19 %
dibanding penerimaan pajak tahun lalu, yakni Rp 269,02 triliun atau 13,53 %
dari target APBN 2024.
Direktur Eksekutif Center of Reform
on Economics (CORE) Indonesia. Mohammad Faisal berpendapat, berbagai indikator
tersebut mengindikasikan kondisi perekonomian yang memburuk. Terlepas permasalahan
tersebut juga merupakan warisan dari rezim sebelumnya, kebijakan pemerintah
saat ini justru tidak tepat dan berpotensi menimbulkan permasalahan baru. ”Misalnya,
pelemahan kelas menengah yang sudah terjadi sebelum 2024. Ketika pemerintahan
Prabowo masuk, ini di-handle dengan kebijakan yang tidak tepat sehingga masalah
yang ada tidak selesai, tetapi muncul permasalahan- permasalahan baru, mulai
dari fiskal, belanja yang melebihi kapasitas, ditambah penerimaan yang anjlok,”
katanya, Kamis (13/3). (Yoga)
Emas Masih Jadi Andalan Kinerja Emiten
Investor Asing Mulai Kembali ke Saham Perbankan
Emiten Konsumer Raup Laba Besar
Sektor konsumer di pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan akibat melemahnya daya beli masyarakat, yang tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan deflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada awal 2025. Meskipun demikian, sektor konsumer masih optimistis untuk bangkit, seiring dengan harapan terhadap momentum Ramadan, Lebaran, dan ekspansi beberapa perusahaan besar. Beberapa emiten konsumer, seperti ICBP, MYOR, dan CMRY, diperkirakan akan mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, meskipun margin mereka dapat tertekan akibat kenaikan harga bahan baku.
Analis seperti Baruna Arkasatyo dan Joanne Ong dari CGS International Sekuritas Indonesia memprediksi pemulihan konsumsi akan terjadi paling cepat pada Mei 2025, setelah musim panen dan pelaksanaan program pemerintah. Di tengah kondisi pasar yang lesu, sektor konsumer tetap menunjukkan potensi melalui rencana IPO dari beberapa perusahaan, seperti PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. yang sedang dalam proses penawaran umum. Meskipun prospek daya beli menjadi tantangan utama, sektor konsumsi masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia, yang memungkinkan perusahaan-perusahaan di sektor ini untuk tetap melaksanakan IPO.
Menurut Liza Camelia Suryanata dari Kiwoom Sekuritas, konsumsi tetap menjadi sektor yang penting meskipun kondisi ekonomi sedang sulit, dan hal ini memberikan keyakinan bahwa sektor konsumer dapat tetap menarik minat pasar meskipun pasar saham secara keseluruhan sedang tertekan.
Indeks Saham Tertekan, Kepercayaan Investor Memudar
Harga Emas Naik, Jadi Pelindung Investasi
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









