Saham
( 1717 )Investor Asing Mulai Kembali ke Saham Perbankan
Emiten Konsumer Raup Laba Besar
Sektor konsumer di pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan akibat melemahnya daya beli masyarakat, yang tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan deflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada awal 2025. Meskipun demikian, sektor konsumer masih optimistis untuk bangkit, seiring dengan harapan terhadap momentum Ramadan, Lebaran, dan ekspansi beberapa perusahaan besar. Beberapa emiten konsumer, seperti ICBP, MYOR, dan CMRY, diperkirakan akan mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, meskipun margin mereka dapat tertekan akibat kenaikan harga bahan baku.
Analis seperti Baruna Arkasatyo dan Joanne Ong dari CGS International Sekuritas Indonesia memprediksi pemulihan konsumsi akan terjadi paling cepat pada Mei 2025, setelah musim panen dan pelaksanaan program pemerintah. Di tengah kondisi pasar yang lesu, sektor konsumer tetap menunjukkan potensi melalui rencana IPO dari beberapa perusahaan, seperti PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. yang sedang dalam proses penawaran umum. Meskipun prospek daya beli menjadi tantangan utama, sektor konsumsi masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia, yang memungkinkan perusahaan-perusahaan di sektor ini untuk tetap melaksanakan IPO.
Menurut Liza Camelia Suryanata dari Kiwoom Sekuritas, konsumsi tetap menjadi sektor yang penting meskipun kondisi ekonomi sedang sulit, dan hal ini memberikan keyakinan bahwa sektor konsumer dapat tetap menarik minat pasar meskipun pasar saham secara keseluruhan sedang tertekan.
Indeks Saham Tertekan, Kepercayaan Investor Memudar
Harga Emas Naik, Jadi Pelindung Investasi
Goldman Sachs Mengingatkan akan Adanya Peningkatan Risiko Fiskal
Setelah Morgan Stanley menurunkan peringkat saham Indonesia dari equal-weight (EW) menjadi underweight bulan lalu, Goldman Sachs memangkas peringkat saham Indonesia dari underweight menjadi market weight. Goldman Sachs memperkirakan adanya peningkatan risiko fiskal atas sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo. Penurunan peringkat tersebut memberi pukulan bagi pasar saham Indonesia yang terkoreksi dalam hingga 6.270 dan mencatatkan aksi jual bersih (net sell) asing Rp 23,22 triliun sejak awal tahun 2025. Mengingat, rekomedasi keduanya biasanya menjadi rujukan investor asing dalam membenamkan investasinya.
Bloomberg, Senin (10/3/2025) juga menurunkan rekomendasi atas surat utang yang diterbitkan BUMN untuk tenor 10 sampai 20 tahun menjadi netral. Penurunan peringkat itu terjadi setelah Goldman Sachs menaikkan proyeksi defisit fiskal Indonesia dari semula 2,5% menjadi 2,9% dari PDB. Penurunan peringkat tersebut, memberi tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang ditutup melemah 0,57% ke level 6.598,21 pada perdagangan Senin (10/3/2025). Investor asing mencatatkan net sell Rp 843,43miliar pada perdagangan kemarin,dan Rp 23,22 triliun sejak awal tahun 2025. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan kondisi pasar keuangan domestik.
“Penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh MSCI dan GoldmanSachs dari overweight menjadi marketweight mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap daya tarik pasar domestik,"kata Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana, Senin (10/3/2025). Faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah ketidakpastian ekonomí global, dampak perang dagang AS-China, serta perlambatan konsumsi dalam negeri yang terlihat dari penurunan penjualan kendaraan bermotor. Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan suku bunga global juga menambah beban ekonomi domestik. Ketidak-pastian kebijakan dalam negeri dan volatilitas pasar membuat investor lebih berhati-hati. Untuk mengembalikan kepercayaan asing terhadap pasar saham Indonesia, regulator dan pemerintah perlu mengambil langkah konkret. (Yetede)
Astra International Hadapi Tantangan, tetapi Tetap Prospektif di 2025
Dividen Bank Berpotensi Hasilkan Yield Jumbo
Dividen Bank Berpotensi Hasilkan Yield Jumbo
Emiten Batu Bara siap Membagikan Dividen
Beberapa emiten batu bara yang masuk konstituen IDX High Dividend 20 mulai mengirimkan tanda-tanda pembagian dividen tahun buku 2024. Tak ketinggalan, emiten small cap juga menyebut sudah menyiapkan dana bila pemegang saham merestui pembagian dividen. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) serta PT Bukit Asam Thk (PTBA) adalah tiga diantara IDXHIDIV20 yang sudah bicara perihal dividen. Direktur Indo Tambangraya Megah, Yulius Kurniawan Gozali menyampaikan bahwa performa ITMG pada semester Il-2024 tercatat dua kali lipat lebih baik dari semester pertama. Mestinya, hal ini bisa dibaca secara jeli oleh para pelaku pasar. Di sisi lain, BNI Sekuritas dalam risetnya yang dipublikasi memperkirakan, ITMG bakalmengucurkan dividen final sebesar Rp 293 persaham dengan rasio dan yield 60% dan 12.5%.
Adapun, UNTR diprediksi membagi dividen interim sebesar Rp 729 per saham dan final Rp1.456 per saham, sehingga totalnya Rp 2.184 per saham. Total rasio dan yield dividen UNTR masing-masing 43% dan 8,8%. Merujuk laporan keuangan konsolidasian. ITMG membukukan laba bersih pada full year2024 sebesar USS 374 juta. Jika dikomparasikanberdasarkan semester, laba ITMG pada semester II-2024 mengalami pertumbuhan sebesar US$ 245 juta, daripada laba semester l-2024 sebesar US$ 129 juta. "Mudah-mudahan dividen yang diumumkan ITMG nanti cukup atraktif bagi para pemegang saham. Rencananya, kami akan menggelar RUPS pertengahan April," ujar Yulius. Besaran rasio pembayaran dividennya (dividend payout ratio/DPR) diestimasikan berada di level 60-70%. (Yetede)
Mendorong IPO, Membangun Kembali Kepercayaan Pasar
Investor di pasar saham Indonesia merasa kecewa dengan kinerja emiten baru yang melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) dalam beberapa tahun terakhir. Banyak harga saham IPO yang justru turun tajam setelah tercatat di bursa, dengan 20 dari 41 emiten baru pada 2024 mengalami penurunan harga saham, lebih banyak dibandingkan dengan 2023. Minimnya transparansi dan dugaan praktik imbalan atau gratifikasi dalam proses IPO semakin mengikis kepercayaan investor, terutama investor ritel yang menjadi pihak yang paling dirugikan.
Situasi ini berisiko merusak kredibilitas pasar saham Indonesia, apalagi di awal 2025, bursa saham sempat mengalami penurunan signifikan ke bawah level 6.300, yang merupakan level terendah sejak Oktober 2021. Oleh karena itu, investor mengharapkan perlindungan lebih baik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan memperketat seleksi IPO untuk memastikan hanya perusahaan dengan fundamental yang kuat yang dapat melantai di bursa.
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022








