Saham
( 1717 )Investor Asing Masih Lanjutkan Aksi Jual Saham Bank
Masih Tingginya Volatilitas Pasar Saham
Volatilitas pasar saham diperkirakan cukup tinggi pada pekan ini. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam rentang lebar di kisaran 6.370-6.630. "Pasar modal Indonesia tengah menghadapí periode volatilitas tinggi, setelah IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 1,98% ke level 6.515 pada akhir pekan lalu. Sejumlah faktor, baik eksternal maupun domestik, menjadi pemicu utama tekanan jual yang membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (16/3/2025). Dari sisi eksternal, pelemahan pasar saham global, khususnya S&P 500 yang telah kehilangan US$ 5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, turut memberikan dampak negatif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait suku bunga semakin memperburuk sentimen investor. "Jika inflasi AS masih tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga untuk memberi stimulus ekonomi, yang pada gilirannya bisa memperlambat pemulihan pasar saham, yang pada akhirnya berpotensi memperpanjang tekanan di pasar saham," ujar dia. Sementara dari dalam negeri, tekanan fiskal mulai terasa setelah pemerintah mencatat defisit APBN per Februari 2025 sebesar Rp 31,2triliun. Defisit ini dapat membatasi ruang gerak pemerintah. Di sisi lain, investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih (netsell). Dalam satu pekan terakhir,net sell asing mencapai Rp1,77triliun. (Yetede)
Prospek Saham Bank di Tengah Dinamika Pasar
Turunnya saham perbankan besar memberikan tekanan signifikan terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG), yang mempengaruhi kapitalisasi pasar bank buku IV yang mencapai Rp2.303 triliun, atau lebih dari 20% dari total market cap IHSG sebesar Rp11.302 triliun. Penurunan saham perbankan ini dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang lebih terbatas, yang menyebabkan dolar AS menguat dan memukul rupiah, mengurangi minat investor asing, serta menyebabkan likuiditas pasar semakin ketat.
Selain itu, kebijakan pemerintah terkait Bank BUMN, seperti konsolidasi Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih yang kurang dikomunikasikan dengan jelas, menambah ketidakpastian di pasar. Meskipun demikian, kalangan perbankan dan analis tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan kinerja perbankan pada 2025. Beberapa perusahaan juga tetap berkomitmen untuk memberikan dividen kepada pemegang saham, yang menjadi faktor pendorong untuk mempertahankan minat investor.
Di tengah sentimen negatif tersebut, para pemimpin pasar atau "market movers" tetap memainkan peran penting dalam menjaga kepercayaan pasar dan memastikan bahwa perbankan dapat menghadapi tantangan ini dengan fokus pada potensi pertumbuhan dan stabilitas di masa depan.
Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO
Pelemahan pasar saham saat ini
memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham
perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO,
sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di
bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun
sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO
sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu
menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja
Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.
Pengamat pasar modal Alfred
Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah
korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan
dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang
mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak
lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat
ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham
tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak
mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana
di pasar modal.
Data BEI per akhir Februari menunjukkan,
ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut,
sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred
menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena
mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh
dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain
itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu
mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam
penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)
Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO
Pelemahan pasar saham saat ini
memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham
perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO,
sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di
bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun
sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO
sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu
menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja
Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.
Pengamat pasar modal Alfred
Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah
korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan
dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang
mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak
lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat
ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham
tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak
mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana
di pasar modal.
Data BEI per akhir Februari menunjukkan,
ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut,
sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred
menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena
mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh
dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain
itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu
mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam
penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)
Ekonomi Sulit, Emas Kian Dilirik Investor
Prediksi 2025: Kinerja Ekonomi Cenderung Landai
Avian Fokus Merebut Pasar dengan Menyasar Ritel
Produsen cat terintegrasi PT Avia
Avian Tbk berencana tetap agresif memenangi pasar, di antaranya memperkuat lini
distribusi dan terus mengembangkan produk cat ramah lingkungan. Sepanjang 2024,
kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan dengan daya beli masyarakat yang
lemah. Kondisi pasar yang menantang itu diprediksi berlanjut hingga tahun ini. Head
of Investor Relations PT Avia Avian Tbk Andreas Timothy Hadikrisno
mengemukakan, lemahnya pasar diprediksi berlanjut hingga semester I
(Januari-Juni) 2025. Namun, perseroan menargetkan mampu menaikkan volume
penjualan di kisaran 4-8 % pada tahun ini serta pendapatan (marketing sales)
tumbuh 6-10 % melalui sejumlah strategi.
Pada tahun 2024, Avian mencatat
pertumbuhan pendapatan 6,5 % secara tahunan menjadi Rp 7,5 triliun, sejalan dengan
volume penjualan yang tumbuh 5 % secara tahunan. Laba bersih emiten berkode
saham AVIA, yang juga masuk emiten Kompas100, itu tercatat Rp 1,66 triliun atau
naik tipis 1,22 %. Menurut Andreas, keberhasilan perseroan dalam mencapai
pertumbuhan penjualan pada tahun 2024 didorong strategi berkelanjutan yang difokuskan
pada upaya merebut pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan cat lain. Strategi itu
di antaranya inovasi produk, ekspansi pusat distribusi, strategi pemasaran yang
terarah, peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan, serta program loyalitas
kepada konsumen.
”Kami agresif mengambil pangsa
pasar dari kompetitor melalui inovasi produk dan strategi pemasaran. Kami memiliki
jaringan distribusi terbesar yang merupakan advantage dalam merebut pasar,”
ujar Andreas, Rabu (12/3/2025) sore. Inovasi produk digencarkan melalui
produk-produk yang ramah lingkungan. Sebagian produk cattelah beralih ke
”water-based” yang memiliki keunggulan ramah lingkungan dan tidak bau. Avian
menyasar sektor ritel, dengan pasar terbesarnya adalah toko bahan bangunan dan
tukang cat. Upaya memperkenalkan merek agar dikenal sampai ke kalangan tukang
cat hingga merebut pasar diakui membutuhkan waktu hingga belasan tahun. (Yoga)
Indikator Perekonomian yang Memburuk patut Diwaspadai
Beberapa indikator makroekonomi
pada awal tahun 2025 menunjukkan perekonomian Indonesia tengah menghadapi
tekanan, baik dari eksternal maupun domestik. Terjadinya deflasi, tertekannya
nilai tukar rupiah, amblasnya pasar saham, serta anomali penerimaan APBN menjadi
alarm bagi pemerintah untuk bertindak. BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK)
pada Februari 2025 mengalami deflasi sebesar 0,09 % secara tahunan. Sementara,
nilaitukar rupiah menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) awal
tahun berada di kisaran Rp 16.200-Rp 16.500 per USD, menyentuh Rp 16.575 pada
28 Februari 2025, terlemah sejak lima tahun terakhir. Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada awal tahun sebesar 7.163 dan pada akhir Februari 2025
anjlok ke 6.300. Angka ini menjadi level terendah sejak 2021.
Indikator lainnya, Kemenkeu
melaporkan pendapatan negara per Februari 2025 adalah Rp 316,9 triliun atau
terealisasi 10,5 % dari target APBN 2025. Pada periode yang sama tahun lalu
penerimaan mencapai 14,29 % dari target. Dibandingkan periode yang sama tahun
lalu, total penerimaan negara tahun ini turun 20,85 % secara tahunan. Turunnya
pendapatan negara pada awal tahun disebabkan oleh penerimaan pajak yang lebih
rendah, khususnya setoran pajak. Penerimaan pajak pada Februari 2025 ialah Rp
187,8 triliun atau terealisasi 8,6 % dari target APBN 2025, anjlok 30,19 %
dibanding penerimaan pajak tahun lalu, yakni Rp 269,02 triliun atau 13,53 %
dari target APBN 2024.
Direktur Eksekutif Center of Reform
on Economics (CORE) Indonesia. Mohammad Faisal berpendapat, berbagai indikator
tersebut mengindikasikan kondisi perekonomian yang memburuk. Terlepas permasalahan
tersebut juga merupakan warisan dari rezim sebelumnya, kebijakan pemerintah
saat ini justru tidak tepat dan berpotensi menimbulkan permasalahan baru. ”Misalnya,
pelemahan kelas menengah yang sudah terjadi sebelum 2024. Ketika pemerintahan
Prabowo masuk, ini di-handle dengan kebijakan yang tidak tepat sehingga masalah
yang ada tidak selesai, tetapi muncul permasalahan- permasalahan baru, mulai
dari fiskal, belanja yang melebihi kapasitas, ditambah penerimaan yang anjlok,”
katanya, Kamis (13/3). (Yoga)
Emas Masih Jadi Andalan Kinerja Emiten
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022








