Saham
( 1717 )Kepercayaan Investor Perlu Dijaga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
pada Kamis (20/3) ditutup menguat 1,11 % ke level 6.381 dibandingkan perdagangan
hari sebelumnya. Nilai penjualan bersih saham oleh investor asing tercatat Rp
499 miliar. Aksi jual saham oleh investor asing mulai mereda, dari Rp 2,5
triliun pada Selasa (18/3) menjadi Rp 910 miliar pada Rabu (19/3). Tekanan jual
yang deras pada Selasa lalu sempat membuat IHSG terperosok hingga minus 6 % ke
level 6.076 pada sesi pertama perdagangan. Akibatnya, bursa harus menghentikan
perdagangan sementara atau trading halt, sesuai regulasi yang diberlakukan
sejak pandemi Covid-19.
Meskipun IHSG kini berangsur pulih,
pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan, menilai, pemerintahan baru perlu memberikan
perhatian lebih terhadap dinamika pasar modal. Dalam dua dekade terakhir, pasar
modal Indonesia telah berkembang pesat dan menjadi pilar penting dalam pendanaan
pembangunan ekonomi, berdampingan dengan sektor perbankan. Kesadaran masyarakat
terhadap investasi juga semakin meningkat. ”Jangan sampai ini pupus karena
pasar tidak merasakan kehadiran pemerintah,” ujarnya. Merespons koreksi pasar
saham yang terjadi, pemerintah perlu bertindak cepat dalam menangani isu-isu
besar terkait ekonomi, politik, dan pasar modal. Penurunan harga saham yang signifikan
mencerminkan kekhawatiranpasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik. (Yoga)
Di Tengah Tantangan Global dan Domestik, Bank OCBC Tumbuh Positif
Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan pertumbuhan
kuat dan kinerja yang solid. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST),
OCBC membagikan dividen tunai Rp 106 per saham atau Rp 2,43 triliun yang merupakan
50 % dari laba tahun buku 2024. Sepanjang tahun 2024, OCBC NISP membukukan laba
Rp 4,9 triliun atau naik 19 % secara tahunan. Dana sebesar Rp 100 juta juga disisihkan
untuk cadangan umum, sedangkan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba
ditahan. RUPST yang digelar pada Kamis (20/3) juga memberi persetujuan untuk pembelian
kembali saham perseroan (share buyback) dari pemegang saham publik sebesar 390.000
saham atau 0,002 % dari total modal yang telah dikeluarkan dan disetor penuh dalam
perseroan. Presdir OCBC, Parwati Surjaudaja menambahkan, akuisisi dan merger PT
Bank Commonwealth telah diselesaikan pada 2024.
Akuisisi tersebut sekaligus menjadi komplementer
dalam memperkuat pertumbuhan ke depan. Direktur OCBC Hartati menyebut, return
on equity (ROE) atau imbal hasil atas ekuitas juga naik menjadi 13 %. Total
kredit yang disalurkan bank pun tumbuh 11 % mencapai Rp 170,5 triliun dengan
kualitas yang terjaga di mana rasio NPL bruto terhitung sebesar 1,6 %, lebih
rendah dari rata-rata industri perbankan. Total simpanan nasabah atau dana
pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13 % menjadi Rp 205,9 triliun. Bank juga memiliki
modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tecermin pada rasio
kecukupan modal (CAR) sebesar 23,6 persen. Sementara margin bunga bersih
sebesar 4,4 %. Pendapatan bunga bersih bank meningkat 11,4 %, seiring pertumbuhan
kredit yang diberikan dan juga peningkatan pasar. (Yoga)
Tetap Berhati-hati walau IHSG Berangsur Stabil
Setelah sempat terpuruk, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lagi. Pada perdagangan Kamis (20/03/2025), indeks ditutup di level 6.381,6 atau naik 70,01 poin (1,11%) melanjutkan penguatan dalam dua hari beruntun. Diperkirakan indeks terus menguat, didukung Keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 5,75%, yang dinilai konsisten dengan upaya menjaga inflasi 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1%, stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Berdasar data RTI, 299 saham terpantau naik, 272 saham turun dan 233 saham stagnan. Total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 11,31 triliun. Volume perdagangan sebanyak 16,72 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.103.686 kali. Hampir seluruh sektor saham menghijau. Penguatan terbesar terjadi pada sektor teknologi 10%. Diikuti sektor transportasi 2,3%, sektor barang baku 2,1%, sektor energi 0,8%, dan sektor perindustrian 0,6%. Pelemahan terjadi pada sektor keuangan 0,8% dan sektor barang konsumsi primer 0,6%. Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap US$ juga menguat, ditopang The Fed memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS tahunannya dan memperkirakan inflasi yang lebih tinggi.
Sebelumnya, The Fed juga mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam Federal Open Market Committee atau FOMC periode Maret 2025. Rupiah ditutup menguat 46 poin (0,28%) di level Rp 16.485 per US$. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Taufikurahman mengatakan, kebijakan menahan BI-Rate mencerminkan BI berhati-hati melihat kondisi eksternal. Terutama ke depan dimungkinkan terjadi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (the Fed) yang berpotensi memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. (Yetede)
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Arah Investasi Saham Konglomerasi
Sepanjang tahun berjalan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami pelemahan sebesar 9,86% (YtD), meskipun sempat menguat 1,11% ke level 6.381. Pelemahan ini sebagian disebabkan oleh tekanan terhadap saham-saham milik para konglomerat, terutama karena gagal masuk indeks MSCI dan aksi profit taking investor.
Namun, belakangan ini terjadi fenomena menarik: para taipan dan jajaran direksi emiten besar justru gencar memborong saham mereka sendiri, yang menjadi suntikan sentimen positif bagi pasar modal.
Beberapa tokoh penting dalam fenomena ini adalah:
-
Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito, menambah kepemilikan saham di PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN). Saham BREN dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) pun melonjak signifikan.
-
Toto Sugiri, melalui PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), mencatatkan lonjakan harga saham hingga 19,99%.
-
Garibaldi Thohir, dari Grup Adaro, juga memborong 3,65 juta saham anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).
-
Jajaran direksi dari bank-bank besar seperti BRI, BNI, dan BCA turut menambah koleksi saham pribadi mereka.
Menurut Felix Darmawan, Ekonom Panin Sekuritas, aksi beli saham oleh para pemilik perusahaan menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten tersebut. Ini juga bisa meredam tekanan jual dan menjadi pemicu pemulihan IHSG, meski ia mengingatkan bahwa valuasi beberapa saham saat ini sudah tergolong premium.
Sementara itu, Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta, menyarankan agar investor berhati-hati dalam mengakumulasi saham-saham konglomerat di tengah tren bearish dan penurunan rating Indonesia.
Menambah sentimen positif, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan kebijakan baru yang memungkinkan aksi buyback saham oleh emiten tanpa melalui RUPS, sebuah langkah yang diyakini oleh Irvan Susandy dari BEI dapat membantu menopang IHSG dan meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian.
Secara keseluruhan, meskipun pasar masih dalam tekanan, aksi para taipan dan pejabat korporasi yang memborong saham sendiri menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang dan turut menjadi penopang psikologis bagi investor di bursa.
Presiden Akan Temui Investor untuk Redam Gejolak
Presiden Prabowo akan menemui investor
untuk menyikapi gejolak di pasar modal Indonesia, selain itu, disiplin fiskal
akan dijaga pemerintah untuk memastikan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG
bisa stabil dan kepercayaan investor tetap kuat. Hal ini disampaikan Ketua Dewan
Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan seusai mengikuti rapat yang
dipimpin Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (19/3). Rapat itu digelar sehari setelah penurunan
drastis IHSG, Selasa (18/3). Rata-rata penurunan yang sempat mencapai 6 %
membuat perdagangan sempat dihentikan. Luhut membantah penurunan drastis itu sebagai
indikator ketidakpercayaan investor. ”Bisa saja terjadi peristiwa semacam itu. Tapi,
hari ini sudah rebound,” ujarnya.
Presiden pun sudah menyatakan akan
berhati-hati dengan masalah disiplin fiskal. Selain membahas penurunan IHSG,
Presiden pun menyampaikan akan bertemu dengan investor pasar saham. Wakil Ketua
DEN Mari Elka Pangestu menilai, fundamental ekonomi Indonesia secara umum
relatif stabil meski ada kekhawatiran di pasar. Ia membantah kebijakan pemerintah
selama ini tidak propasar. ”Saya rasa bukan propasar. Tapi, lebih kepada persepsi,
ada ketidak jelasan yang mereka anggap menyebabkan ketidak pastian. Jadi, bagaimana
kita bisa menjelaskan dengan lebih baik beberapa hal yang menjadi concern
mereka,” ucapnya. Maka, menurut dia, pertemuan dengan para investor pasar modal
dinilai sangat penting agar Presiden bisa menjelaskan sendiri arah kebijakannya
yang dinilai tidak propasar itu. (Yoga)
Rekor Tertinggi Harga Emas
Anak Usaha Cuan Tambah Kepemilikan di PTRO sebanyak Total 865 Milyar
Anak usaha Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) yaitu PT Kreasi Jasa Persada, menambah jumlah kepemilikan saham di Petrosea, sebanyak lebih dari Rp 865 miliar, sebanyak beberapa tahap sepanjang Maret ini. “Kami memiliki keyakinan atas kinerja dan prospek Petrosea di masa yang akan datang. Sebagai salah satu perusahaan EPC dan kontraktor tambang yang memiliki serangkaian value chain yang solid, Petrosea hadir sebagai mitra usaha yang mumpuni dan dapat mendukung perkembangan berbagai industri upstream maupun downstream di Indonesia," ujar Michael, CEO Petrindo Jaya Kreasi mengenai akuisisi saham Petrosea ini. Setelah transaksi, jumlah saham PTRO yang dipegang CUAN melalui Kreasi Jasa Persada naik menjadi 4.461.485.400, setara dengan 44,234% hak suara.
Kinerja CUAN gemilang di 2024, pendapatan meningkat 718,56%. CUAN sendiri mencatatkan laba bersih US$ 160,78 juta sepanjang 2024, meningkat tajam 929,28% dari posisi laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya di level US$ 15,62 juta. Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir Desember 2024, CUAN mencatatkan pendapatan sebesar US$ 801,72 juta, lompat 718,56% dari posisi sebelumnya di angka US$ 97,94 juta. Total Nilai Kontrak Petrosea Mencapai Rp 64 Triliun Sepanjang 2024 lalu, Petrosea mencatatkan total nilai perolehan kontrak (backlog) sebesar Rp64,3 triliun di tahun 2024, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang lebih dari lima decade perusahaan beroperasi di sektor pertambangan dan konstruksi. (Yetede)
Upaya Ekstra Dongkrak IHSG
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022








