;
Tags

Saham

( 1722 )

Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan

HR1 10 Apr 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan berat, ditandai dengan penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15,71% sejak awal tahun 2025. Di tengah volatilitas tinggi dan aksi jual besar-besaran oleh investor asing senilai Rp 34,89 triliun, banyak investor mulai mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman seperti emas, yang justru mencatatkan kenaikan harga lebih dari 14% secara tahunan.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, menilai bahwa di tengah ketidakpastian dan ancaman resesi, banyak investor memilih mengamankan dana dalam bentuk cash, termasuk dengan menjual emas sebagai likuiditas cadangan. Ketika pasar saham mencapai titik rendahnya, uang tunai ini bisa dimanfaatkan untuk membeli saham berharga murah.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyarankan agar investor tetap berinvestasi di saham yang menawarkan dividen besar, menggunakan dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat. Ia melihat posisi IHSG yang sudah menjauh dari angka 6.000 menandakan bahwa harga saham sudah relatif murah.

Oktavianus Audi, VP Kiwoom Sekuritas, menekankan agar investor menghindari saham dengan utang dalam dolar AS yang tinggi, serta perusahaan dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) di atas 1x. Ia juga menyarankan untuk melakukan diversifikasi aset ke instrumen bebas risiko seperti obligasi pemerintah dan emas.

Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, mengingatkan investor untuk tidak menempatkan dana di instrumen berisiko tinggi dalam situasi pasar seperti sekarang. Ia merekomendasikan alokasi dana yang proporsional tergantung pada profil risiko, dengan fokus utama pada cash dan emas.

Meski pasar saham belum menarik, para ahli sepakat bahwa strategi investasi yang hati-hati, berbasis likuiditas tinggi dan diversifikasi ke aset safe haven seperti emas, adalah kunci menghadapi tekanan pasar saat ini.

Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan

HR1 10 Apr 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan berat, ditandai dengan penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15,71% sejak awal tahun 2025. Di tengah volatilitas tinggi dan aksi jual besar-besaran oleh investor asing senilai Rp 34,89 triliun, banyak investor mulai mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman seperti emas, yang justru mencatatkan kenaikan harga lebih dari 14% secara tahunan.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, menilai bahwa di tengah ketidakpastian dan ancaman resesi, banyak investor memilih mengamankan dana dalam bentuk cash, termasuk dengan menjual emas sebagai likuiditas cadangan. Ketika pasar saham mencapai titik rendahnya, uang tunai ini bisa dimanfaatkan untuk membeli saham berharga murah.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyarankan agar investor tetap berinvestasi di saham yang menawarkan dividen besar, menggunakan dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat. Ia melihat posisi IHSG yang sudah menjauh dari angka 6.000 menandakan bahwa harga saham sudah relatif murah.

Oktavianus Audi, VP Kiwoom Sekuritas, menekankan agar investor menghindari saham dengan utang dalam dolar AS yang tinggi, serta perusahaan dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) di atas 1x. Ia juga menyarankan untuk melakukan diversifikasi aset ke instrumen bebas risiko seperti obligasi pemerintah dan emas.

Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, mengingatkan investor untuk tidak menempatkan dana di instrumen berisiko tinggi dalam situasi pasar seperti sekarang. Ia merekomendasikan alokasi dana yang proporsional tergantung pada profil risiko, dengan fokus utama pada cash dan emas.

Meski pasar saham belum menarik, para ahli sepakat bahwa strategi investasi yang hati-hati, berbasis likuiditas tinggi dan diversifikasi ke aset safe haven seperti emas, adalah kunci menghadapi tekanan pasar saat ini.

Saham Masih Atraktif, Saatnya untuk Cicil Beli

KT1 09 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pasar saham nasional masih atraktif dalam jangka menengah dan panjang, mengingat valuasinya kini sudah terdiskon dalam akibat koreksi masif pada perdagangan pertama setelah Lebaran. Investor disarankan mulai mencicil beli saham-saham unggulan berfundamental bagus yang sedang murah. Kemarin IHSG BEI tutup 7,9% ke level 5.996,14. Ini menjadi penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menempatkan indeks di bawah level psikologis 6.000. Pelemahan tajam terjadi sejak pembukaan pasar pagi, dimana IHSG sempat terkoreksi hingga 9,19% dan level menyentuh level terendah di 5.912. Kondisi tersebut memicu penghentian seiring tekanan jual yang kian besar di tengah sentimen global yang memburuk. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah. Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.8921 per dolar AS, melemah 69,5 poin atau 0,41% dibandingkan hari  perdagangan sebelumnya. Penurunan indeks dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi kebijakan proteksionis AS. Keputusan Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor, termasuk ke Indonesia menjadi 32%, mendorong aksi jual besar-besaran di pasar saham domestik. (Yetede)

Chandra Asri Group Raksasa Energi dan Kimia Asia Tenggara

KT1 09 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) segera bertransformasi menjadi pemain utama sektor energi dan kimia di kawasan Asia Tenggara  seusai resmi menuntaskan akuisisi saham Shell Singapore Pte. Ltd (SSPL) di Shell Energy and Chemicals Park (SECP) yang kini berubah nama menjadi  Aster Energy and Chemicals Park di Singapura. Aster yang disebut mam[u menghasilkan pendapatan US$ 8-10 miliar atau setara Rp168 triliun per  tahun akan mulai terkonsolidasi ke Chandra Asri roup pada 1 Juli atau awal kuartal III-2025. Transformasi gigantis TPIA selepas akisisi Aster akan dapat terindentifikasi salah satunya dari sinergi yang terbangun. Di mana, Chandra Asri Group dan Glencore-perusahaan sumber daya alam terbesar yang manjadi mitra TPIA dalam mengambilalih Aster- bakal mampu memanfatatkan dan offtake Aster, serta mencari peluang baru guna meningkatkan keuntungan. Direktur TPIA Suryandi menyebut, ada tiga inisiatif utama untuk memastikan sinergi tersebut berjalan. Pertama, sinergi dan optimisasi basket minyak mentah. Artinya, sinergi ini akan membuat Glencore dapat menawarkan minyak mentah paling optimal atau termurah dari 31 jenis minyak mentah dan Shell International Eastern Tranding Company (SIETCO) sebagai cabang perdagangan perusahaan energi Shell dapat membawa sembilan jenis minyak mentah. (Yetede)

IHSG Runtuh, Sinyal Buruk untuk Ekonomi Nasional

HR1 09 Apr 2025 Bisnis Indonesia

Pada 8 April 2025, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indonesia mengalami penurunan signifikan, turun hingga 10% yang menyebabkan penghentian perdagangan saham untuk kedua kalinya setelah kejadian serupa pada 18 Maret 2025. Penurunan ini dipicu oleh dampak kebijakan tarif tinggi Presiden Amerika, Donald Trump, yang diberlakukan terhadap beberapa negara termasuk Indonesia, menyebabkan panik di kalangan investor.

Menurut Warren Buffet, dalam situasi ini di mana banyak investor "takut" dan menjual saham, justru merupakan kesempatan untuk membeli, karena harga saham utama Indonesia saat ini sedang terdiskon dan relatif murah. Indikator P/E ratio dan PBV menunjukkan bahwa saham-saham utama Indonesia berada pada posisi yang menarik untuk dibeli, meskipun terjadi penurunan.

Faktor eksternal, terutama kebijakan protektif Amerika, memengaruhi iklim ekonomi global dan berimbas pada penurunan indeks saham, baik di Indonesia maupun Amerika. Meskipun demikian, dalam jangka panjang, Indonesia diprediksi akan kembali bangkit seiring dengan adanya kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk mendorong stabilitas ekonomi.

Secara keseluruhan, meski mengalami penurunan tajam, potensi kenaikan saham dalam jangka panjang tetap ada, terutama karena secara fundamental, saham-saham Indonesia masih menunjukkan kinerja yang bagus. Oleh karena itu, saat ini bisa menjadi waktu yang tepat bagi para investor untuk membeli saham dengan harga yang relatif murah dan berpotensi memberikan keuntungan di masa depan.


Stimulus Ekonomi Jadi Harapan Investor

HR1 09 Apr 2025 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan pertama setelah libur Lebaran, Selasa (8/4), sebagai dampak langsung dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). IHSG sempat turun lebih dari 9% hingga menyebabkan trading halt, sebelum ditutup melemah 7,90% di level 5.996,14. Dana asing pun keluar dari pasar sebesar Rp 3,87 triliun.

Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan berbagai stimulus seperti penyesuaian batas auto rejection, relaksasi buyback, dan penundaan short selling, langkah ini dinilai belum cukup oleh para pengamat pasar.

Hendra Wardhana, Pengamat Pasar Modal, menekankan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi dari pemerintah serta otoritas terkait untuk mengembalikan kepercayaan investor. Menurutnya, pernyataan resmi atau intervensi langsung lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan sistem otomatis.

Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, juga mengungkapkan bahwa investor masih khawatir terhadap kondisi fundamental ekonomi, meski hubungan perdagangan Indonesia-AS relatif kecil. Ia menyatakan bahwa kebijakan Presiden AS Donald Trump tetap berdampak besar terhadap pasar Indonesia.

Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management, menambahkan bahwa dominasi sentimen ketakutan di pasar saat ini tidak bisa dilawan hanya dengan stimulus yang tidak terpadu. Ia menyoroti pentingnya koordinasi yang solid antar lembaga.

Sementara itu, Daniel Agustinus dari Kanaka Hita Solvera menyarankan agar pemerintah menginstruksikan lembaga dana besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan dana pensiun untuk meningkatkan porsi investasinya di saham sebagai langkah stabilisasi.

Secara teknikal, analis Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melemah hingga level support mayor di kisaran 5.370 jika tekanan pasar berlanjut.

Dengan kondisi ini, kepercayaan investor dan tindakan cepat dari pemerintah akan menjadi kunci untuk membalikkan arah pasar yang sedang lesu.

Lemahnya Daya Beli Jadi Ancaman untuk ISAT

HR1 09 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) pada tahun 2024 menunjukkan hasil yang positif dengan pendapatan yang meningkat 9,1% secara year on year (yoy), mencapai Rp 55,88 triliun, serta laba bersih yang tumbuh 11,41% menjadi Rp 5,27 triliun. Peningkatan pendapatan data sebesar 7,4% menjadi Rp 44,2 triliun menjadi pendorong utama meskipun terdapat tekanan akibat persaingan ketat, terutama terkait dengan SIM murah.

Menurut Angga Septianus, Analis IPOT, meskipun pasar telekomunikasi menghadapi persaingan yang ketat, permintaan data yang terus meningkat memberikan potensi bagi ISAT untuk tumbuh, meskipun ruang untuk peningkatan terbatas. Paulus Jimmy, Analis Sucor Sekuritas, juga melihat bahwa meskipun persaingan semakin ketat, tren penggunaan SIM murah yang membebani ISAT mulai mereda, memberikan harapan bagi kestabilan kinerja perusahaan.

Namun, Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menurunkan target harga ISAT dari Rp 2.750 menjadi Rp 2.400 per saham, sementara Angga dan Paulus mematok target harga masing-masing Rp 2.200 dan Rp 2.350 per saham. Meskipun begitu, potensi pertumbuhan pendapatan masih terjaga, dengan proyeksi pendapatan 2025 meningkat menjadi Rp 60,1 triliun, dan laba bersih diperkirakan naik menjadi Rp 5,3 triliun.

ISAT juga mengandalkan strategi untuk menjaga profitabilitas dengan memperluas jaringan 5G dan berfokus pada peningkatan kualitas melalui teknologi AI, berkolaborasi dengan perusahaan global NVIDIA. Secara keseluruhan, meskipun tantangan persaingan dan kondisi ekonomi dapat membatasi laju pertumbuhannya, ISAT diperkirakan tetap memiliki peluang untuk terus tumbuh di tengah permintaan data yang semakin tinggi.

Lemahnya Daya Beli Jadi Ancaman untuk ISAT

HR1 09 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) pada tahun 2024 menunjukkan hasil yang positif dengan pendapatan yang meningkat 9,1% secara year on year (yoy), mencapai Rp 55,88 triliun, serta laba bersih yang tumbuh 11,41% menjadi Rp 5,27 triliun. Peningkatan pendapatan data sebesar 7,4% menjadi Rp 44,2 triliun menjadi pendorong utama meskipun terdapat tekanan akibat persaingan ketat, terutama terkait dengan SIM murah.

Menurut Angga Septianus, Analis IPOT, meskipun pasar telekomunikasi menghadapi persaingan yang ketat, permintaan data yang terus meningkat memberikan potensi bagi ISAT untuk tumbuh, meskipun ruang untuk peningkatan terbatas. Paulus Jimmy, Analis Sucor Sekuritas, juga melihat bahwa meskipun persaingan semakin ketat, tren penggunaan SIM murah yang membebani ISAT mulai mereda, memberikan harapan bagi kestabilan kinerja perusahaan.

Namun, Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menurunkan target harga ISAT dari Rp 2.750 menjadi Rp 2.400 per saham, sementara Angga dan Paulus mematok target harga masing-masing Rp 2.200 dan Rp 2.350 per saham. Meskipun begitu, potensi pertumbuhan pendapatan masih terjaga, dengan proyeksi pendapatan 2025 meningkat menjadi Rp 60,1 triliun, dan laba bersih diperkirakan naik menjadi Rp 5,3 triliun.

ISAT juga mengandalkan strategi untuk menjaga profitabilitas dengan memperluas jaringan 5G dan berfokus pada peningkatan kualitas melalui teknologi AI, berkolaborasi dengan perusahaan global NVIDIA. Secara keseluruhan, meskipun tantangan persaingan dan kondisi ekonomi dapat membatasi laju pertumbuhannya, ISAT diperkirakan tetap memiliki peluang untuk terus tumbuh di tengah permintaan data yang semakin tinggi.

Kebijakan Tarif Resiprokal Donald Trump Diproyeksikan Menghantam Pasar Saham Indonesia

KT1 08 Apr 2025 Investor Daily
Kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diproyeksikan turut menghantam pasar saham Indonesia saat kembali memulai perdagangan perdana pada Selasa (8/5/2025) usai libur panjang Lebaran 2025. Ditengah kondisi pasar yang diperkirakan mengalami kontraksi, dengan IHSG BEI diperkirakan mengalami trading halt dan menguji level support psikologis 6.000, kalangan analis menyarankan agar investor melakukan diversifikasi aset dan selektif pada saham berfundamental solid yang memiliki good corporate governance (GCG) bagus. Vi Marketin, Startegy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi Kasmarandana mengatakan, di tengah kondisi pasar yang tertekan saat ini, pelaku pasar diharapkan bisa lebih bijak dalam memilih porfolio investasi.

"Investor  dapat wait and see saat ini, dengan melakukan diversifikasi aset, khusunya safe havens asset," ujar dia kepada Investor Daily. Meski demikian, Audi melihat, masih ada potensi untuk mengakumulasi saham tertentu. "Kami meyakini jika kinerja kuartal 1-2025 emiten blue chip masih resilen, dapat menjadi peluang akumulasi," tutur dia. Dalam pandangan Audi, pasar akan mengimplementasikan dampak dari kejadian pengenaan tarif resiprokal Trump di hari pertama pembukaan pasar pada Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran panjang.  "IHSG kami perkirakan bergerak cenderung melemah di tengah tekanan, dengan support psikologis di rentang 6,00-6.100, dan resitance 6.600-6.670. Tekanan asing juga berpotensi berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastitan ekonomi," ungkap dia. (Yetede)

Aprindo Optimis Bahwa Bisnis Ritel Tetap Tumbuh di Tengah Kondisi Sulit

KT1 08 Apr 2025 Investor Daily
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) masih optimis bahwa penjualan ritel dapat tumbuh di tengah-tengah tantangan yang ada. Ketua Umum Aprindo Solihin menargetkan pertumbuhan penjualan ritel mencapai 8-10% di tahun ini. "Angka 8-10% itu ada kenaikan dibandingkan waktu yang sama tahun sebelumnya," jelas dia. Solihin optimistis bahwa penjualan ritel bisa tercapai di tengah-tengah tantangan yang ada, Hal ini tercermin dari adanya lonjakan penjualan ritel selama masa Ramadan. "Masa festive di bulan Ramadan dan jelang Idul Fitri, ini masa-masa yang memang akan terjadinya lonjakan penjualan, ya hampir di semua lini," jelas dia. Solihin melihat sektor fast moving goods (FMCG) terjadi lonjakan dari biasanya. "Lonjakan-lonjakan memang memang sudah kita perkirakan akan terjadi, persiapan kita untuk menyediakan barang kebutuhan itu dengan segala upaya agar konsumen tidak sulit untuk mencari barang itu selalu tersedia. "Jadi kalau same store atau toko yang sama katakan dibandingkan memang ada kenaikan juga rata-rata nggak sampai dua digit," kata Solihin. Selama momen Ramadan atau Lebaran terjadinya pergeseran pola beli masyaralat terhadap produk-produk. Oleh karenanya, Aprindo melakukan beberapa strategi dalam menyesuaikan pergeseran tersebut di masa-masa sulit seperti ini. (Yetede)