Properti Lesu Dihantam Lemahnya Daya Beli
Meskipun sektor properti Indonesia pada 2024 masih menunjukkan kinerja positif berkat kebijakan bebas PPN untuk rumah hingga Rp 5 miliar, tekanan ekonomi dan likuiditas global mulai membayangi prospek ke depan. Hal ini terlihat dari penurunan target pra penjualan 2025 oleh beberapa emiten besar seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).
Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, analis dari Maybank Sekuritas, menilai bahwa meski kebijakan relaksasi pajak membantu meningkatkan pra penjualan 2024, hal itu belum cukup untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Mereka mencermati kondisi makroekonomi yang makin menantang dan memperkirakan penurunan pendapatan dan laba untuk SMRA dan CTRA di 2025, meski ada proyeksi rebound pada 2026–2027.
Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas juga mengantisipasi tekanan pada pendapatan dan laba BSDE tahun ini karena melambatnya Indeks Harga Properti Residensial (IHPR), yang menurut Bank Indonesia, menunjukkan tren pelemahan di pasar primer pada kuartal IV 2024.
Walau begitu, sepanjang 2024, ketiga emiten mencatat pertumbuhan solid: BSDE mencetak laba Rp 4,4 triliun (naik 124% yoy), SMRA Rp 1,37 triliun (naik 79,3% yoy), dan CTRA Rp 2,12 triliun (naik 15% yoy). Hal ini menandakan sektor properti masih tangguh dalam jangka pendek, meski perlu waspada terhadap tekanan di tahun-tahun mendatang.
Analis tetap optimistis, dengan Kevin merekomendasikan beli CTRA (target Rp 1.050) dan Aqil merekomendasikan beli BSDE (target Rp 1.000), menandakan kepercayaan terhadap potensi jangka panjang sektor ini.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023