;
Tags

Saham

( 1717 )

Tidak Semestinya Harga Saham Rontok

KT3 27 Mar 2025 Kompas

Pada Selasa (18/3) IHSG terjun 6,1 % ke level 6.076 pada penutupan sesi I, penurunan terdalam sejak masa Covid-19 tahun 2020. Koreksi ini diawali anjloknya saham-saham unggulan, terutama perbankan besar dan perusahaan teknologi raksasa milik konglomerat. Menilik kondisi perekonomian global dan domestik saat ini, seharusnya tak ada alasan bagi IHSG untuk ambles hanya dalam hitungan menit sampai-sampai BEI harus menghentikan perdagangan sesi I pada pukul 11.19. Ini langkah tepat untuk meredam kepanikan yang merebak di kalangan pelaku pasar saat itu. Pelemahan IHSG lebih dipicu faktor domestik. Artinya, sentimen negatif pada kondisi ekonomi dalam negeri menjadi pemicu utama, bukan tekanan eksternal. Anjloknya IHSG secara signifikan pada 18 Maret memunculkan pertanyaan : mengapa pasar bisa begitu panik, padahal secara fundamental, kondisi ekonomi Indonesia masih cukup solid?

Meski ada tantangan berupa pelemahan daya beli kelas menengah bawah, secara keseluruhan aktivitas ekonomi tetap tumbuh, didukung konsumsi rumah tangga dan investasi yang relatif terjaga. Inflasi juga dalam level yang terkendali. Bahkan, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, di mana harga pangan biasanya melonjak, inflasi tetap moderat. Pasokan komoditas pangan bergejolak (volatile food) relatif aman selama bulan puasa. Cadangan devisa tercatat 154,5 miliar USD, memadai untuk membiayai 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan ketiga faktor ini, logikanya pasar tidak merespons secara berlebihan.

Artinya, penurunan IHSG bukan cerminan dari kerentanan ekonomi makro, melainkan lebih pada gejolak sentimen di pasar keuangan yang dipicu informasi yang kurang akurat, kepanikan yang menyebar cepat, atau ketiadaan kontrol psikologis pelaku pasar terhadap dinamika sesaat. Di sini pentingnya membangun ekosistem pasar modal yang lebih resilien. Peran regulator dalam memastikan komunikasi yang jernih, transparansi informasi, dan edukasi investor jadi kian krusial agar gejolak sementara tak berubah menjadi krisis kepercayaan. Dengan fondasi ekonomi kuat dan koordinasi kebijakan yang efektif, seharusnya kita mampu meredam efek domino sentimen negatif jangka pendek. Communication is policy. Sebagus apa pun kebijakan, jika tidak dikomunikasikan dengan baik, hasilnya bisa mengecewakan. Jika komunikasi terjalin dengan baik, tidak semestinya harga saham rontok. (Yoga)


IHSG Diprediksi 6.700, Didukung Buyback dan Dividen Saham

KT1 27 Mar 2025 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah tekanan beberapa pekan terakhir. Analis menilai pelemahan sebelumnya memberi peluang bagi investor, mengakumulasi saham berfundamental kuat yang tengah terdiskon. Sejalan dengan itu, IHSG diproyeksikan mampu menembus level 6.700 dalam waktu dekat, didukung aksi buyback emiten dan pembagian dividen besar dari bank-bank BUMN. Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyebut, aturan buyback tanpa RUPS yang telah disetujui OJK memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk membeli kembali sahamnya dengan cepat dan meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang terutama ritel.

Karena menunjukkan keyakinan emiten terhadap valuasi sahamnya. Selain itu, kehadiran Danantara-sovereign wealth fund (SWF) baru memberikan sentimen positif bagi saham-saham BUMN, terutama sektor infrastrukur. Danantara berpotensi mengisi kekosongan pendanaan proyek infrastruktur setelah anggaran Kementerian PUPR dipangkas dalam APBN 2025. Sementara itu, momentum pembagian dividen dari bank-bank Himbara turut menjadi katalis utama. Beberapa bank besar menawarkan dividen yield yang tinggi, seperti BBRI sebesar 9%, BMRI 9,8%, dan BBNI 8,8%. Resistance IHSG di level 6.455, membukapeluang penguatan lebih lanjut ke level 6.673-6.707. (Yetede)


IHSG Menguat, Tapi Masih Rentan Koreksi

HR1 27 Mar 2025 Kontan (H)
Menjelang libur Lebaran 2025, IHSG mencatatkan penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut. Pada Selasa (25/3) IHSG naik 1,21% ke 6.235,62, lalu melonjak 3,8% ke 6.472,36 pada Rabu (26/3). Kenaikan ini didorong oleh arus masuk dana asing (net buy) sebesar Rp 2,58 triliun, terutama pada saham perbankan besar seperti BMRI, BBCA, dan BBRI. Saham-saham ini menarik minat karena pembagian dividen dengan yield tinggi, seperti dijelaskan oleh Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas.

Meski tren positif ini menggembirakan, analis seperti Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisory dan Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo mengingatkan bahwa secara historis IHSG cenderung melemah usai libur panjang. Valdy Kurniawan dari Phintraco Sekuritas juga mewanti-wanti potensi profit-taking di hari perdagangan terakhir sebelum libur.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyoroti perlunya peran institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Taspen dalam menopang pasar saham saat kondisi bearish. Namun, aturan investasi yang kaku menjadi kendala utama yang perlu direvisi.

Meski IHSG menunjukkan penguatan, investor tetap perlu waspada terhadap potensi tekanan pasca-libur dan ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintah.

RS Hermina Tetap Mencatat Kinerja Positif

HR1 27 Mar 2025 Kontan
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksikan tetap mencatat pertumbuhan positif di tahun 2025, meskipun menghadapi tekanan margin akibat kenaikan beban operasional dan bunga. Analis Bahana Sekuritas, Arvin Lienardi, mencatat bahwa meski pendapatan dan laba bersih HEAL tumbuh masing-masing 16% dan 23% yoy di 2024, penurunan signifikan terjadi di kuartal IV akibat peningkatan beban pokok penjualan dan belanja operasional.

Namun demikian, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo optimistis terhadap prospek HEAL ke depan berkat rencana ekspansi rumah sakit baru dan membaiknya kondisi ekonomi domestik. Sementara itu, Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas menyoroti peluang peningkatan margin melalui skema Coordination of Benefit (CoB) dari program JKN serta implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).

Alvin juga memperkirakan HEAL akan mencetak pendapatan Rp 7,64 triliun dan laba bersih Rp 694 miliar pada 2025, didorong oleh penambahan kapasitas tempat tidur dan potensi peningkatan pasien CoB. Meski saham HEAL sedang tertekan, ketiga analis tersebut tetap menyematkan rekomendasi buy dengan target harga berbeda, mencerminkan keyakinan terhadap fundamental jangka panjang perusahaan, meskipun dibayangi tantangan tarif JKN dan kondisi makroekonomi.

Bank Bermodal Besar Catatkan Kenaikan Laba

HR1 26 Mar 2025 Kontan (H)
Kinerja bank KBMI 4 (BCA, BRI, Mandiri, dan BNI) menunjukkan perbaikan di dua bulan pertama tahun ini, dengan mayoritas mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan yang positif. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan non-bunga yang kompak naik dua digit.

Bank Central Asia (BCA) mencetak laba tertinggi sebesar Rp 8,97 triliun (naik 8,46% yoy), meskipun laba bulanan di Februari menurun karena turunnya pendapatan bunga dan non-bunga. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyatakan bahwa profitabilitas BCA didorong oleh pertumbuhan kredit berkualitas dan efisiensi operasional.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat lonjakan laba bulanan Februari sebesar 129%, meski secara tahunan laba masih turun 18,11%. Bank Mandiri dan BNI masing-masing mencatat pertumbuhan laba tahunan sebesar 6,01% dan 6,25%.

Para direktur utama bank optimistis akan prospek 2025. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menyebut fokus pada penguatan dana murah dan layanan digital. Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, yakin inovasi digital dapat menopang bisnis berkelanjutan.

Dari sisi analis, Indy Naila melihat saham perbankan mulai menarik karena efek penurunan suku bunga dan momentum pembagian dividen, meskipun ia memperingatkan bahwa penguatan saham hanya bersifat jangka pendek karena risiko politik domestik. Ia menargetkan harga saham BBRI di Rp 5.025 dan BMRI di Rp 6.100. Nico Demus dari Pilarmas Investindo juga menekankan pentingnya kepercayaan pasar terhadap pemerintah dalam menjaga stabilitas saham bank dalam jangka panjang.

Meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan politik, prospek kinerja bank KBMI 4 tetap positif dengan strategi bisnis yang adaptif dan dukungan fundamental yang kuat.

GOTO Optimistis Lanjutkan Pertumbuhan

HR1 26 Mar 2025 Kontan
Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diproyeksikan terus membaik di tahun 2025, didorong oleh pertumbuhan pesat di segmen layanan on-demand dan fintech, khususnya bisnis pinjaman digital. Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas menyoroti bahwa lini lending GOTO menunjukkan pertumbuhan pesat dengan rasio NPL yang rendah, menjadikannya pendorong utama profitabilitas jangka panjang.

Etta Rusdiana Putra dari Maybank Sekuritas menyebut EBITDA disesuaikan GOTO pada 2024 berhasil melampaui ekspektasi, menunjukkan efisiensi kinerja dan sinergi antar unit bisnis. Ia memperkirakan pendapatan fintech GOTO akan tumbuh 48% secara tahunan pada 2025.

Sementara itu, Peter Miliken dari Deutsche Bank mencatat bahwa setelah merger dengan TikTok, GOTO mampu membalikkan kerugian menjadi keuntungan pada kuartal IV 2024. Ia juga menilai posisi finansial GOTO saat ini jauh lebih kuat dibanding tahun sebelumnya, dan menaikkan target harga saham GOTO menjadi Rp 115 dengan rating buy.

GOTO diprediksi mencatat pendapatan sebesar Rp 17,57 triliun dan laba bersih Rp 361 miliar pada 2025, dengan potensi EBITDA disesuaikan mencapai hingga Rp 1,6 triliun.

Dividen BMRI Berikan Imbal Hasil Menarik

HR1 26 Mar 2025 Kontan
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan membagikan dividen sebesar Rp 43,5 triliun atau 78% dari laba bersih tahun 2024, dengan nilai Rp 466 per saham. Ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya dan memberikan dividend yield sebesar 9,83% berdasarkan harga saham Rp 4.740.

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa keputusan pembagian dividen besar ini mencerminkan dukungan pemegang saham terhadap rencana ekspansi bisnis bank ke depan.

BPI Danantara, melalui BKI sebagai holding, juga akan mendapat dividen signifikan sebesar Rp 22,61 triliun.

Sementara itu, Handiman Soetoyo dari Mirae Aset Sekuritas menilai dividen BMRI menarik untuk investor jangka panjang, namun tidak cocok bagi pemburu dividen jangka pendek. Prospek pertumbuhan sektor perbankan dinilai tetap menjanjikan dalam jangka panjang.

BRI Gelar RUPTS 2025, Membagikan Dividen dan Buyback Saham

KT1 25 Mar 2025 Investor Daily (H)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin, 24 Maret 2025, di Jakarta. Pada RUPST ini, BRI menyetujui untuk membagikan dividen sebesar-besarnya Rp 51,73 triliun, meningkat dibandingkan dividen yang dibayarkan tahun 2024 sebesar Rp 48,10 triliun. BRI juga akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan jumlah sebesar-besarnya Rp3 triliun. Pada RUPST BRI 2025 ini terdapat 10 mata acara rapat yang diputuskan dan telah disetujui, tiga diantaranya dijelaskan oleh Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, diantaranya Penetapan Penggunaan Laba Bersih Perseroan (penetapan dividen tunai), Rencana Pembelian Kembali Saham (buyback) dan Perubahan Pengurus Perseroan.

Penggunaan Laba Bersih Perseroan (Penetapan Dividen Tunai) untuk tahun buku 2024, BRI mencatat laba bersih konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 60,15 triliun. Dari jumlah tersebut, perseroan menetapkan total dividen tunai yang dibagikan sebesar-besarnya mencapai Rp 51,73 triliun. Atas nilai dividen tersebut, pada 15 Januari 2025, BRI telah membagikan dividen interim sebesar Rp 20,33 triliun atau Rp 135 per lembar saham. Sisa dividen yang akan dibayarkan adalah sebesar besarnya Rp31,40 triliun. Dari total nilai dividen tunai diatas, BRI menyetorkan dividen kepada negara Rp27,68 triliun (termasuk dividen interim yang telah dibagikan pada 15 Januari 2025 sebesar Rp10,88 triliun). Sisanya dibayarkan secara proporsional kepada setiap Pemegang Saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada tanggal pencatatan (recording date). (Yetede)


Investor Pasar Saham Agar Fokus ke Fundamental

KT1 25 Mar 2025 Investor Daily (H)

Pasar saham kembali terempas pada perdagangan Senin (24/3/2025), begitu struktur pengurus Badan pengelola Investasi (BPI) Dayanagata Nusantara (Danantara) diumumkan ke publik. Namun, sejumlah analis dan Bursa Efekndonesia (BEI) menyebut danantara bukan penyebab penurunan indeks, karena manajemen diisi kalangan professional. Analis menilai, penurunan indeks lebih disebabkan persepsi pertumbuhan Indonesia yang lebih rendah tahun ini. Selain itu,kondisi global belum kondusif dalam menopang penguatan indeks. Investor diminta fokus ke fundamental ekonomi nasional sekaligus emiten dalam berinvestasi saham, bukan ke persepsi. Berdasarkan data BEI, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 1,55% ke level 6.161.

Bahkan, indeks sempat merosot hingga jebol di bawah 6.000, tepatnya 5.967 pada sesi pertama. Asing kembali net sell Rp 160 miliar, sehingga akumulasinya sampai kemarin mencapai Rp 33,3 triliun sepanjang 2025. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham likuid berkinerja baik terpangkas 17,62%. Indeks regional ditutup mixed, kemarin. Indeks FTSE Malaysia turun 0,11%, PSEi Index Filipina turun 1,1%, Strait Times Index STI Singaputa naik 0,25%, SET Thailand naik 0,29%, dan VN-Index Vietnam turun 0,15%. Indeks SSE Composite China naik 0,15%, Hang Seng 0,9%, Kospi Korea Selatan turun 0,42%, dan TSE Taiwan terpangkas 0,46%. (Yetede)


Gelombang Merger Bawa Optimisme Baru

HR1 25 Mar 2025 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang telah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemegang saham Axiata Group diyakini akan memperkuat posisi keduanya dalam industri telekomunikasi Indonesia. Aksi korporasi ini diharapkan tidak hanya memperluas spektrum dan jaringan infrastruktur digital, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya dan meningkatkan margin profitabilitas.

Indy Naila, analis dari Edvisor Profina Visindo, menilai merger ini dapat memperkuat konektivitas digital dan meningkatkan ruang belanja modal EXCL untuk ekspansi. Senada, analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja menyoroti potensi penghematan Rp 1,7 triliun per tahun dari penonaktifan 12.000–15.000 menara yang tumpang tindih serta peluang pertumbuhan di sektor Fixed Broadband (FBB) dan layanan 5G.

Paulus Jimmy dari Sucor Sekuritas melihat merger ini akan menghasilkan entitas baru dengan 94 juta pelanggan, pendapatan gabungan US$ 2,8 miliar, dan EBITDA US$ 1,4 miliar. Namun, ia juga mengingatkan tantangan ke depan, terutama terkait persaingan harga dan ARPU yang stagnan akibat tekanan ekonomi serta persaingan ketat di pasar data.

Kendati menghadapi tantangan, para analis tetap optimistis. Paulus menetapkan rating buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp 3.200, sementara Indy dan Daniel masing-masing menargetkan Rp 2.700 dan Rp 2.900. Merger ini diyakini sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan pertumbuhan jangka panjang di industri telekomunikasi.