;
Tags

Saham

( 1722 )

RI Terpukul, Hadapi Tarif AS Tanpa Daya Tawar

HR1 08 Apr 2025 Kontan (H)
Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 2 April 2025 telah memicu kepanikan di pasar keuangan global. Bursa saham dunia berguguran, dengan indeks Hang Seng dan Shanghai Composite mengalami penurunan tajam masing-masing sebesar 13,22% dan 7,34%. Bahkan indeks saham di AS seperti Dow Jones dan S&P 500 pun ikut anjlok.

Indonesia sempat terlihat "aman" karena Bursa Efek Indonesia (BEI) masih libur Lebaran hingga 7 April, namun IHSG diproyeksi mengalami trading halt saat perdagangan dibuka kembali pada 8 April. Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, menilai risiko trading halt tinggi akibat tekanan sentimen negatif dari perang dagang dan tarif impor tinggi yang mulai berlaku pada 9 April 2025.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, juga menyatakan bahwa tekanan jual di pasar saham global bisa menyeret IHSG ke level 5.800 dalam waktu dekat, seperti saat krisis moneter 1997. Ia mengaitkan pelemahan IHSG dengan ancaman resesi global dan perang dagang yang makin memanas, terutama setelah China membalas kebijakan tarif AS.

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam merespons gejolak ini. Ia menyambut positif rencana Presiden Prabowo Subianto untuk bertemu pelaku pasar dan membahas mitigasi risiko akibat tarif AS sebagai langkah membangun kembali kepercayaan investor.

Efisiensi Energi Jadi Senjata Utama

HR1 08 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) pada tahun 2025 diprediksi akan menghadapi tekanan akibat penurunan permintaan dari pasar ritel dan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang masih menghantui industri semen domestik. Meski demikian, perusahaan masih memiliki prospek pertumbuhan laba berkat upaya efisiensi energi, terutama melalui pengoperasian pabrik Semen Grobogan.

Menurut Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, analis dari Maybank Sekuritas, peningkatan margin EBITDA INTP pada 2024 didorong oleh kontribusi pabrik Grobogan dan penurunan harga batubara. Mereka menilai bahwa peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif bisa memperkuat efisiensi dan mendorong margin EBITDA hingga 21,9% di tahun 2025, dengan proyeksi kenaikan laba sebesar 10%.

Manajemen INTP sendiri menargetkan penggunaan bahan bakar alternatif bisa mencapai 20% pada akhir tahun 2025, naik signifikan dari hanya 1% saat ini, meski masih terkendala pasokan sekam padi dan jagung sebagai bahan baku energi.

Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menyoroti lemahnya penjualan semen ritel, terutama di Pulau Jawa, dan menurunkan target harga saham INTP menjadi Rp 5.500. Sebaliknya, Richard Jonathan dari Ciptadana Sekuritas tetap optimis dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 6.800, sejalan dengan Kevin dan Jeff yang menetapkan target Rp 7.200 per saham.

Meskipun menghadapi tekanan permintaan, INTP dinilai masih solid berkat kas yang sehat dan peluang efisiensi dari inovasi energi serta pengembangan produk semen ramah lingkungan.

Saham Bank Diprediksi Melemah Pasca Libur Panjang

HR1 08 Apr 2025 Kontan
Saham perbankan Indonesia diprediksi akan mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan pasca libur panjang, terutama akibat sentimen negatif dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump. Sebelum libur, saham-saham bank besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Central Asia (BBCA) mengalami penguatan karena sentimen pembagian dividen.

Namun, menurut Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, penguatan tersebut kemungkinan tidak akan berlanjut. Ia menilai bahwa saat ini pasar mulai dihantui oleh ketidakpastian ekonomi global, potensi inflasi, serta arah suku bunga acuan. Indy memperkirakan koreksi akan terjadi pada saham BMRI dan BBNI, meski fundamental kedua bank dinilai masih kuat.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning dari Kiwoom Sekuritas, juga mengingatkan risiko capital outflow akibat tekanan eksternal, termasuk tarif resiprokal AS sebesar 32%. Ia menilai hal ini dapat menghambat penurunan suku bunga dan berdampak pada penyaluran kredit serta pendapatan bunga bank, terutama dari potensi penghapusan piutang UMKM bermasalah.

Meski penuh tekanan, Audi tetap merekomendasikan pembelian saham BBCA dengan target harga Rp 9.250 dan BMRI di Rp 5.450, menunjukkan bahwa peluang jangka panjang masih ada bagi investor yang selektif dan berhati-hati.

Properti Lesu Dihantam Lemahnya Daya Beli

HR1 07 Apr 2025 Kontan
Meskipun sektor properti Indonesia pada 2024 masih menunjukkan kinerja positif berkat kebijakan bebas PPN untuk rumah hingga Rp 5 miliar, tekanan ekonomi dan likuiditas global mulai membayangi prospek ke depan. Hal ini terlihat dari penurunan target pra penjualan 2025 oleh beberapa emiten besar seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, analis dari Maybank Sekuritas, menilai bahwa meski kebijakan relaksasi pajak membantu meningkatkan pra penjualan 2024, hal itu belum cukup untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Mereka mencermati kondisi makroekonomi yang makin menantang dan memperkirakan penurunan pendapatan dan laba untuk SMRA dan CTRA di 2025, meski ada proyeksi rebound pada 2026–2027.

Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas juga mengantisipasi tekanan pada pendapatan dan laba BSDE tahun ini karena melambatnya Indeks Harga Properti Residensial (IHPR), yang menurut Bank Indonesia, menunjukkan tren pelemahan di pasar primer pada kuartal IV 2024.

Walau begitu, sepanjang 2024, ketiga emiten mencatat pertumbuhan solid: BSDE mencetak laba Rp 4,4 triliun (naik 124% yoy), SMRA Rp 1,37 triliun (naik 79,3% yoy), dan CTRA Rp 2,12 triliun (naik 15% yoy). Hal ini menandakan sektor properti masih tangguh dalam jangka pendek, meski perlu waspada terhadap tekanan di tahun-tahun mendatang.

Analis tetap optimistis, dengan Kevin merekomendasikan beli CTRA (target Rp 1.050) dan Aqil merekomendasikan beli BSDE (target Rp 1.000), menandakan kepercayaan terhadap potensi jangka panjang sektor ini.

Sentimen Positif Pasar Modal Imbas Kebijakan Himbara

KT3 28 Mar 2025 Kompas

Pergerakan pasar saham Indonesia beberapa waktu terakhir terbilang cukup dinamis. Ada semacam obat penenang yang membuat sentimen negatif terhadap pasar mereda. Pada perdagangan Kamis (27/3) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ke level 6.510,62 atau menguat 0,59 % dibandingkan hari sebelumnya. Tiga hari beruntun IHSG mencatatkan tren positif, bahkan sudah berbalik ke titik sebelum perdagangan sesi I dihentikan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Maret 2025. Saat itu, IHSG menyentuh level terendahnya sejak pandemi Covid-19, yakni ke level 6.076 atau anjlok 6,1 %. Apa yang terjadi di pasar saham memang kerap kali mencerminkan ekspektasi sekaligus sentimen pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian.

Kini, sentimen berbalik positif seiring dengan beberapa agenda besar yang terjadi sejak awal pekan ini, seperti pengumuman kepengurusan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada 24 Maret 2025. Ada pula rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) bank-bank BUMN (Himbara) selama 24-26 Maret 2025. Agenda itu menghasilkan keputusan yang turut berpengaruh terhadap pasar, seperti penetapan direksi dan komisaris, pembelian kembali (buyback) saham, serta pembagian dividen. RUPST tersebut dimulai dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pada 24 Maret 2025, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada 25 Maret 2025, dan ditutup PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN pada 26 Maret 2025.

Hasilnya, BRI akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 51,73 triliun atau setara Rp 345 per lembar saham, Mandiri sebesar Rp 43,51 triliun atau Rp 466,18 per saham, BNI sebesar Rp 13,45 triliun atau Rp 374 per saham, serta BTN sebesar Rp 751,83 miliar atau Rp 53,57 per lembar saham. Keempat bank BUMN itu menyetorkan dividennya kepada negara Rp 59,12 triliun. Terdiri dari setoran BRI sebesar Rp 27,68 triliun, Mandiri Rp 22,62 triliun, BNI Rp 8,37 triliun, dan BTN Rp 454,73 miliar. Sejumlah bank BUMN juga menyetujui melakukan pembelian saham kembali pada 2025. BRI mengalokasikan dana Rp 3 triliun, Mandiri Rp 1,17 triliun, dan BNI Rp 1,5 triliun. Selain itu, terdapat pula perubahan pengurus perseroan dan pergantian pucuk kepemimpinan bank-bank BUMN.

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono berpendapat, keputusan dalam RUPST Himbara memberikan sentimen positif terhadap industri perbankan dan pasar modal. Pengumuman jajaran direksi dan komisaris, pembagian dividen, serta keputusan pembelian kembali saham diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor. ”Aksi korporasi semacam itu akan menjadi sentimen positif pula bagi pasar saham. Figur yang terpilih menjadi direksi dan komisaris bank BUMN diharapkan dapat mengerek tingkat kepercayaan pasar di tengah gejolak pasar saham,” katanya. Momentum positif itu patut dijaga. (Yoga)


Sentimen Positif Pasar Modal Imbas Kebijakan Himbara

KT3 28 Mar 2025 Kompas

Pergerakan pasar saham Indonesia beberapa waktu terakhir terbilang cukup dinamis. Ada semacam obat penenang yang membuat sentimen negatif terhadap pasar mereda. Pada perdagangan Kamis (27/3) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ke level 6.510,62 atau menguat 0,59 % dibandingkan hari sebelumnya. Tiga hari beruntun IHSG mencatatkan tren positif, bahkan sudah berbalik ke titik sebelum perdagangan sesi I dihentikan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Maret 2025. Saat itu, IHSG menyentuh level terendahnya sejak pandemi Covid-19, yakni ke level 6.076 atau anjlok 6,1 %. Apa yang terjadi di pasar saham memang kerap kali mencerminkan ekspektasi sekaligus sentimen pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian.

Kini, sentimen berbalik positif seiring dengan beberapa agenda besar yang terjadi sejak awal pekan ini, seperti pengumuman kepengurusan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada 24 Maret 2025. Ada pula rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) bank-bank BUMN (Himbara) selama 24-26 Maret 2025. Agenda itu menghasilkan keputusan yang turut berpengaruh terhadap pasar, seperti penetapan direksi dan komisaris, pembelian kembali (buyback) saham, serta pembagian dividen. RUPST tersebut dimulai dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pada 24 Maret 2025, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada 25 Maret 2025, dan ditutup PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN pada 26 Maret 2025.

Hasilnya, BRI akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 51,73 triliun atau setara Rp 345 per lembar saham, Mandiri sebesar Rp 43,51 triliun atau Rp 466,18 per saham, BNI sebesar Rp 13,45 triliun atau Rp 374 per saham, serta BTN sebesar Rp 751,83 miliar atau Rp 53,57 per lembar saham. Keempat bank BUMN itu menyetorkan dividennya kepada negara Rp 59,12 triliun. Terdiri dari setoran BRI sebesar Rp 27,68 triliun, Mandiri Rp 22,62 triliun, BNI Rp 8,37 triliun, dan BTN Rp 454,73 miliar. Sejumlah bank BUMN juga menyetujui melakukan pembelian saham kembali pada 2025. BRI mengalokasikan dana Rp 3 triliun, Mandiri Rp 1,17 triliun, dan BNI Rp 1,5 triliun. Selain itu, terdapat pula perubahan pengurus perseroan dan pergantian pucuk kepemimpinan bank-bank BUMN.

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono berpendapat, keputusan dalam RUPST Himbara memberikan sentimen positif terhadap industri perbankan dan pasar modal. Pengumuman jajaran direksi dan komisaris, pembagian dividen, serta keputusan pembelian kembali saham diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor. ”Aksi korporasi semacam itu akan menjadi sentimen positif pula bagi pasar saham. Figur yang terpilih menjadi direksi dan komisaris bank BUMN diharapkan dapat mengerek tingkat kepercayaan pasar di tengah gejolak pasar saham,” katanya. Momentum positif itu patut dijaga. (Yoga)


Tidak Semestinya Harga Saham Rontok

KT3 27 Mar 2025 Kompas

Pada Selasa (18/3) IHSG terjun 6,1 % ke level 6.076 pada penutupan sesi I, penurunan terdalam sejak masa Covid-19 tahun 2020. Koreksi ini diawali anjloknya saham-saham unggulan, terutama perbankan besar dan perusahaan teknologi raksasa milik konglomerat. Menilik kondisi perekonomian global dan domestik saat ini, seharusnya tak ada alasan bagi IHSG untuk ambles hanya dalam hitungan menit sampai-sampai BEI harus menghentikan perdagangan sesi I pada pukul 11.19. Ini langkah tepat untuk meredam kepanikan yang merebak di kalangan pelaku pasar saat itu. Pelemahan IHSG lebih dipicu faktor domestik. Artinya, sentimen negatif pada kondisi ekonomi dalam negeri menjadi pemicu utama, bukan tekanan eksternal. Anjloknya IHSG secara signifikan pada 18 Maret memunculkan pertanyaan : mengapa pasar bisa begitu panik, padahal secara fundamental, kondisi ekonomi Indonesia masih cukup solid?

Meski ada tantangan berupa pelemahan daya beli kelas menengah bawah, secara keseluruhan aktivitas ekonomi tetap tumbuh, didukung konsumsi rumah tangga dan investasi yang relatif terjaga. Inflasi juga dalam level yang terkendali. Bahkan, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, di mana harga pangan biasanya melonjak, inflasi tetap moderat. Pasokan komoditas pangan bergejolak (volatile food) relatif aman selama bulan puasa. Cadangan devisa tercatat 154,5 miliar USD, memadai untuk membiayai 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan ketiga faktor ini, logikanya pasar tidak merespons secara berlebihan.

Artinya, penurunan IHSG bukan cerminan dari kerentanan ekonomi makro, melainkan lebih pada gejolak sentimen di pasar keuangan yang dipicu informasi yang kurang akurat, kepanikan yang menyebar cepat, atau ketiadaan kontrol psikologis pelaku pasar terhadap dinamika sesaat. Di sini pentingnya membangun ekosistem pasar modal yang lebih resilien. Peran regulator dalam memastikan komunikasi yang jernih, transparansi informasi, dan edukasi investor jadi kian krusial agar gejolak sementara tak berubah menjadi krisis kepercayaan. Dengan fondasi ekonomi kuat dan koordinasi kebijakan yang efektif, seharusnya kita mampu meredam efek domino sentimen negatif jangka pendek. Communication is policy. Sebagus apa pun kebijakan, jika tidak dikomunikasikan dengan baik, hasilnya bisa mengecewakan. Jika komunikasi terjalin dengan baik, tidak semestinya harga saham rontok. (Yoga)


IHSG Diprediksi 6.700, Didukung Buyback dan Dividen Saham

KT1 27 Mar 2025 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah tekanan beberapa pekan terakhir. Analis menilai pelemahan sebelumnya memberi peluang bagi investor, mengakumulasi saham berfundamental kuat yang tengah terdiskon. Sejalan dengan itu, IHSG diproyeksikan mampu menembus level 6.700 dalam waktu dekat, didukung aksi buyback emiten dan pembagian dividen besar dari bank-bank BUMN. Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyebut, aturan buyback tanpa RUPS yang telah disetujui OJK memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk membeli kembali sahamnya dengan cepat dan meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang terutama ritel.

Karena menunjukkan keyakinan emiten terhadap valuasi sahamnya. Selain itu, kehadiran Danantara-sovereign wealth fund (SWF) baru memberikan sentimen positif bagi saham-saham BUMN, terutama sektor infrastrukur. Danantara berpotensi mengisi kekosongan pendanaan proyek infrastruktur setelah anggaran Kementerian PUPR dipangkas dalam APBN 2025. Sementara itu, momentum pembagian dividen dari bank-bank Himbara turut menjadi katalis utama. Beberapa bank besar menawarkan dividen yield yang tinggi, seperti BBRI sebesar 9%, BMRI 9,8%, dan BBNI 8,8%. Resistance IHSG di level 6.455, membukapeluang penguatan lebih lanjut ke level 6.673-6.707. (Yetede)


IHSG Menguat, Tapi Masih Rentan Koreksi

HR1 27 Mar 2025 Kontan (H)
Menjelang libur Lebaran 2025, IHSG mencatatkan penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut. Pada Selasa (25/3) IHSG naik 1,21% ke 6.235,62, lalu melonjak 3,8% ke 6.472,36 pada Rabu (26/3). Kenaikan ini didorong oleh arus masuk dana asing (net buy) sebesar Rp 2,58 triliun, terutama pada saham perbankan besar seperti BMRI, BBCA, dan BBRI. Saham-saham ini menarik minat karena pembagian dividen dengan yield tinggi, seperti dijelaskan oleh Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas.

Meski tren positif ini menggembirakan, analis seperti Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisory dan Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo mengingatkan bahwa secara historis IHSG cenderung melemah usai libur panjang. Valdy Kurniawan dari Phintraco Sekuritas juga mewanti-wanti potensi profit-taking di hari perdagangan terakhir sebelum libur.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyoroti perlunya peran institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Taspen dalam menopang pasar saham saat kondisi bearish. Namun, aturan investasi yang kaku menjadi kendala utama yang perlu direvisi.

Meski IHSG menunjukkan penguatan, investor tetap perlu waspada terhadap potensi tekanan pasca-libur dan ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintah.

RS Hermina Tetap Mencatat Kinerja Positif

HR1 27 Mar 2025 Kontan
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksikan tetap mencatat pertumbuhan positif di tahun 2025, meskipun menghadapi tekanan margin akibat kenaikan beban operasional dan bunga. Analis Bahana Sekuritas, Arvin Lienardi, mencatat bahwa meski pendapatan dan laba bersih HEAL tumbuh masing-masing 16% dan 23% yoy di 2024, penurunan signifikan terjadi di kuartal IV akibat peningkatan beban pokok penjualan dan belanja operasional.

Namun demikian, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo optimistis terhadap prospek HEAL ke depan berkat rencana ekspansi rumah sakit baru dan membaiknya kondisi ekonomi domestik. Sementara itu, Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas menyoroti peluang peningkatan margin melalui skema Coordination of Benefit (CoB) dari program JKN serta implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).

Alvin juga memperkirakan HEAL akan mencetak pendapatan Rp 7,64 triliun dan laba bersih Rp 694 miliar pada 2025, didorong oleh penambahan kapasitas tempat tidur dan potensi peningkatan pasien CoB. Meski saham HEAL sedang tertekan, ketiga analis tersebut tetap menyematkan rekomendasi buy dengan target harga berbeda, mencerminkan keyakinan terhadap fundamental jangka panjang perusahaan, meskipun dibayangi tantangan tarif JKN dan kondisi makroekonomi.