Saham
( 1737 )BCA Fokus Jaga Kinerja Fundamental
IDXCarbon Kuasai dan Unggul di Asia Tenggara
Dana Lokal Jadi Andalan Investasi
Efisiensi Tak Menghambat Ekspansi Bisnis
Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas
Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas
Emiten Ini Menarik Meski Belum Untung
Persaingan Kian Sengit di Tengah Pemain yang Menyusut
Opsi Safe Haven Kian Terbatas
Harga emas terus mengalami tren kenaikan yang signifikan, dengan harga mencapai rekor tertinggi di pasar spot pada US$ 3.370,7 per ons troi pada 17 April 2025. Tiffani Safinia dari ICDX mengungkapkan bahwa lonjakan harga emas ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti meningkatnya ketegangan geopolitik, penurunan aktivitas ekonomi global, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga. Meski demikian, ada potensi koreksi harga dalam jangka pendek.
Salah satu faktor yang mendukung kenaikan harga emas adalah permintaan besar dari bank sentral, terutama dari China, yang turut mendorong harga. Selain itu, lemahnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi AS menyebabkan banyak investor beralih dari instrumen safe haven seperti US Treasury dan dolar AS ke emas.
Ibrahim Assuabi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, menyatakan bahwa kenaikan harga emas pada tahun ini sangat luar biasa, jauh melampaui kenaikan normal. Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia, menilai harga emas sudah melampaui batas kewajaran, namun penguatan bisa terus berlanjut jika aliran dana dari investor, terutama China, terus berlanjut. Budi memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 3.750 per ons troi, dan emas Antam bisa tembus Rp 2,5 juta per gram.
Meskipun ada potensi koreksi, arus beli besar dari investor institusi, khususnya China, masih dapat mendukung kenaikan harga emas ke depannya.
Distributor Alat Kesehatan Percepat Langkah Ekspansi
PT Medela Potentia Tbk (MDLA) resmi mencatatkan diri sebagai perusahaan tercatat ke-13 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2025. Perusahaan ini bergerak di bidang distribusi dan pemasaran produk farmasi, alat kesehatan, serta platform digital komersial. Meskipun didirikan pada 2011, perjalanan usaha Medela dimulai sejak 1980 melalui pendirian Anugrah Argon Medica dan dilanjutkan dengan beberapa akuisisi serta pendirian perusahaan baru untuk memperluas jaringan distribusi.
Direktur Utama MDLA, Krestijanto Pandji, mengungkapkan keunggulan perusahaannya dalam hal distribusi yang cepat, dengan produk yang dapat dikirim dalam waktu 24 jam ke lebih dari 70.000 titik penjualan di seluruh Indonesia. Medela juga tengah memperluas ekspansinya ke pasar internasional, terutama di ASEAN, dan menjalin kerja sama dengan perusahaan luar negeri, termasuk di China dan Filipina.
MDLA baru saja melaksanakan IPO, yang berhasil menghimpun dana sebesar Rp 685 miliar untuk mendukung ekspansi bisnis, termasuk pengembangan pabrik, pembelian gudang, dan peningkatan kapasitas produksi. Krestijanto menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit pada 2025, dengan proyeksi pendapatan mencapai Rp 16 triliun dan laba bersih sekitar Rp 370 miliar.
Meskipun harga saham MDLA setelah IPO tidak banyak bergerak, perusahaan ini tetap optimis dalam mencapai tujuan ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksinya untuk memperkuat posisinya di pasar domestik maupun internasional.
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022








