;
Tags

Saham

( 1722 )

Kontrak Baru PT PP Naik 32%

KT1 19 Apr 2025 Investor Daily
PT PP Tbk (PTPP) mencatatkan kontrak baru senilai Rp 6,27 triliun pada kuartal 1-2025, meningkat 32% dibandingkan periode sama tahun lalu. "Perolehan nilai kontrak baru PTPP sampai dengan bulan Maret 2025 berhasil melebihi 151% dari yang di targetkan pada kuartal awal 2025, dan telah mencapai 21% dari target akhir tahun 2025," kata Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo. Joko menyebutkan, perolehan nilai kontrak baru itu didominasi oleh proyek dengan sumber dana BUMN sebesar 52,1% swasta 28,6%, dan pemerintah 19,3%. Adapaun raihan  kontrak baru tertinggi yaitu pada sektor pelabuhan sebesar 37,2%, gedung 32,9%, jalan dan jembatan 22,6%, bendungan 4,3%, irigasi 2,8%, serta minyak dan gas 0,3%. "Capaian kontrak baru yang berhasil diraih PPTP pada bulan Maret 2025 diantaranya yaitu Proyek New Priok East Access (NPEA) seksi II senilai Rp 2,33 triliun dan proyek mandiri Financial Center PIK senilai Rp878,3 miliar," ujar dia. Joko mengungkapkan bahwa terdapat proyek dengan nilai kontrak jumbo yang berhasil diperolah  PTPP diakhir kuartal 1-2025. Sehingga, terdapat kenaikan signifikan pada pencapaian nilai kontrak baru dari sebelumnya yang dilaporkan pada bulan februari 2025. (Yetede)

Harga Emas Cetak Rekor Baru

KT1 17 Apr 2025 Investor Daily (H)
Harga emas kembali mencatatkan rekor baru di US$ 3.315 per ons pada Rabu (16/4/2025), melampaui puncak tertinggi sepanjang masa di Senin (14/4/2025). Harga emas yang diyakini bakal terus menanjak dan menembus US$ 4.00 per ons, membuat saham emitem logam mulia tersebut kian diburu di pasar, dengan potensi gain hingga 32,5%. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas kembali menyentuh level tertinggi baru US$ 33,315 pada perdagangan rabu (16/4/2025), di tengah ketidakpastian perekonomian dunia akhirat kebijakan perdagangan AS. Goldman Sachs bahkan memperkirakan, harga emas naik ke US$ 4.000 per ons pada pertengahan 2026. Meroketnya harga emas, membuat saham-saham emiten logam mulia di lantai bursa terus diakumulasi oleh investor. Tercatat, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memuat 3,49% pada perdagangan Rabu (16/4/2025) ke level Rp 1.925. Saham anggota BUMN Holding pertambangan MIND ID ini bahkan mencatatkan  net buy asing hingga Rp 109 miliar, dan masuk menjadi salah satu top gainer dari sisi nilai, pada perdagangan kemarin. Di hari yang sama, saham emiten emas lainnya, yakni PT J Resources Asia pasifik Tbk (PSAB) juga melesat 10,34% ke posisi Rp320, disusul PT Hardinata Abadi Tk (HRTA) menanjak 7,14% ke Rp600, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) bertambah 4,73% ke Rp310, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) meningkat 2,78% ke Rp 730, dan PT Amman Minerals Internasional Tbk (AMMN) naik 0,41% ke Rp 6.075. (Yetede)

Tekanan Operasional Menghambat Kinerja

HR1 17 Apr 2025 Kontan

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengalami penurunan profitabilitas meskipun penjualan sepanjang tahun 2024 tumbuh solid sebesar 13,6% year-on-year (yoy), mencapai Rp 37,8 triliun. Tekanan berasal dari peningkatan beban operasional seperti gaji dan sewa yang masing-masing naik 7,4% dan 17,1% yoy, serta strategi diskon agresif yang menekan margin laba kotor. Akibatnya, laba bersih MAPI turun 6,7% menjadi Rp 1,76 triliun.

Analis Bahana Sekuritas, Laras Nadira, menyebut bahwa kenaikan tarif sewa pusat perbelanjaan akan terus menjadi tantangan bagi profitabilitas MAPI. Ia memproyeksikan margin laba kotor akan membaik ke 43,8% pada 2025 dan 2026 melalui strategi pengelolaan merchandise dan fokus pada produk unggulan. Namun, Laras tetap mengambil pendekatan konservatif dengan memangkas target harga saham menjadi Rp 1.600 dan memberikan rekomendasi hold.

Analis JP Morgan, Benny Kurniawan, justru melihat kinerja MAPI pada 2024 lebih baik dari ekspektasi pasar, dan memberikan rating overweight dengan target harga Rp 1.760 per saham. Sementara itu, Indy Naila, Investment Analyst di Provina Visindo, masih optimistis dengan potensi pertumbuhan MAPI di 2025 karena daya beli masyarakat menengah atas yang tangguh serta prospek sektor food and beverage, dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.850 per saham.

Meskipun menghadapi tekanan margin dan risiko konsumsi yang melemah, MAPI tetap memiliki prospek pertumbuhan terbatas dengan proyeksi pertumbuhan penjualan sebesar 9% untuk 2025 dan 2026.

Korporasi Beri Sinyal Positif Terhadap Pasar Modal

KT1 16 Apr 2025 Investor Daily (H)
Di tengah gempuran perang dagang global yang menyebabkan pasar finansial dunia dan Indonesia bergejolak, sejumlah emiten Tanah Air mantap untuk terus menjalankan aksi korporasi berupa penawaran umum perdanaan (initial public offering/IPO) saham, penerbitan surat utang (obligasi), hingga penambahkan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD/right issue). Bahkan, puluhan emiten telah mengumumkan rencana mereka  untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai fantastis, yang menunjukkan keyakinan mereka terhadap prospek pasar modal Indonesia. PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) dan PT Medela Potentia Tbk (MDLA) menjadi perusahaan terbaru yang mencatatkan (listing) saham perdana di BEI pada Senin (14/4/2025) dan Selasa (15/4/2025). FORE bahkan membukukan kelebihan permintaan (oversubscibed) hingga 200 kali, dan MDLA lebih dari 6 kali, dengan total penghimpunan dana keduanya mencapai Rp1,04 triliun. Beberapa emiten juga tetap percaya diri untuk menghimpun pendanaan dari pasar modal melalui penerbitan surat utang. Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu PT Petrosea Tbk (PTRO) menerbitkan obligasi senilai Ro 1 triliun dan sukuk Rp 1,5 triliun. Emiten lainnya yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga menerbitkan obligasi senilai Rp 2,8 triliun. (Yetede)

Lembaga Riset IDC Mencatat, Pengiriman Ponsel Tumbuh 1,5% Yoy

KT1 16 Apr 2025 Investor Daily
Sepanjang kuartal 1-2025, terjadi pertumbuhan pengiriman  (shipment) telpon seluler (ponsel) global. Lembaga riset IDC mencatat, pengiriman ponsel tumbuh 1,5% yoy, sementara lembaga riset Counterpoint mencatat pertumbuhan 3% yoy. Sayangnya, pertumbuhan pengiriman tersebut bukan dipicu  oleh permintaan pasar  yang kuat, tetapi lebih kepada faktor kepanikan atas kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan Presiden Donald Trump. Meskipun, akhirnya kebijakan tersebut ditinjau ulang, terutama untuk segmen ponsel, PC, hingga barang elektronik lainnya, kekhawatiran pasar tetap saja menghantui perjalanan pasar sepanjang tahun ini. Wakil Presiden Client Devices IDC Francisco Jerenimo mengatakan, eskalasi ketidakpastian geopolitik, serta ancaman kenaikan tarif AS terhadap barang-barang yang diimpor dari China, membuat para vendor secara strategis  mempercepat jadwal produksi dan mempercepat volume pengiriman yang signifikan, khususnya ke pasar AS dan pasar penting lainnya selama kuartal 1-2025. "Lonjakan sisi penawaran ini utamanya ditujukan untuk mengurangi potensi kenaikan biaya dan gangguan. Ini secara efektif meningkatkan angka pengiriman pada kuarta 1-2025, melampaui level yang diantisipasi, berdasarkan tren permintaan konsumen yang mendasar," kata Jerenimo. (Yetede)

KLBF Redam Risiko Kurs Lewat Strategi Efisiensi

HR1 16 Apr 2025 Kontan

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memasang target pertumbuhan yang lebih konservatif di tahun 2025, yakni 8%-10% untuk pendapatan dan laba. Strategi baru difokuskan pada ekspansi produk, komersialisasi alat kesehatan, serta diversifikasi transaksi pembelian bahan baku menggunakan mata uang yuan sebagai langkah mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Analis Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai langkah penggunaan yuan sebagai strategi diversifikasi risiko yang cerdas di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski ada tantangan berupa pelemahan daya beli masyarakat, Azis masih menilai target KLBF dapat dicapai dengan strategi yang telah disiapkan, dan memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 1.240–Rp 1.245 per saham.

Sementara itu, menurut Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas, pertumbuhan KLBF di kuartal IV-2024 sangat didorong oleh segmen distribusi-logistik dan consumer health, terutama dari produk preventif dan dialyzer. Dia juga mencermati bahwa strategi pengembangan alat kesehatan serta kemitraan dengan pihak ketiga akan menjadi penopang pertumbuhan ke depan. Sarkia memberi rekomendasi buy, meski menurunkan target harga dari Rp 1.700 ke Rp 1.350.

Dari sudut pandang Willy Goutama (Maybank Sekuritas), peningkatan margin kotor dan laba bersih KLBF yang didorong penurunan biaya produksi menunjukkan efisiensi operasional yang kuat. Ia memproyeksikan laba bersih KLBF mencapai Rp 3,5 triliun di 2025, dan terus naik hingga Rp 4,5 triliun di 2027, dengan rata-rata pertumbuhan EPS 12% per tahun. Namun, ia juga menyesuaikan target harga menjadi Rp 1.450 per saham dengan rekomendasi buy.

Meskipun menghadapi tekanan daya beli dan tantangan ekonomi global, KLBF tetap menunjukkan prospek positif melalui strategi efisiensi, ekspansi produk, dan diversifikasi risiko mata uang, seperti disampaikan oleh ketiga tokoh analis tersebut.

CIMB Niaga Bagikan Dividen Senilai Rp 3,9 Triliun

KT1 15 Apr 2025 Investor Daily (H)
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPST) PT Bank CIMB Tbk (BNGA) menyetujui penggunaan laba bersih untuk didistribusikan sebagai dividen tunai sebesar-besarnya 60% dari laba bersih atau setara Rp3,9 triliun. Rapat menyetujui pembagian dividen tunai senila Rp3,9 triliun (gross) dari laba bersih bank only tahun buku 2024 sebesar Rp6,5 triliun. Sehingga, pemegang saham BNGA akan memperoleh Rp 155,73 per saham. Dividen tunai tersebut akan dibayarkan selambatnya 30 hari kalender setelah putusan RUPST. Sisa laba bersih tahun buku 2024 setelah dikurangi pembagian dividen tunai, dibukukan sebagai laba ditahan untuk membiayai kegiatan usaha bank. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, penetapam dividen tunai telah memperhitungkan tingkat permodalkan untuk ekspansi ke depan. "Betul. Sudah dengan mempertimbangkan investasi yang konsisten untuk terus tumbuh dengan meningkatkan customer experience lewat digitalization untuk pelayanan yang SBF (simpler, Better, faster) serta mempertahankan tingkat permodalan yang kuat," jelas Lani. Salah satu hal yang menjadi daya tarik utama bagi investor adalah  imbal hasil dividen BNGA tercatat mencapai 8,66%, yang jauh lebih tinggi dari rata-rata industri yang hanya sekitar 3,66%, yang jauh lebih tinggi dari rata-rata industri yang hanya sekitar 3,99%. (Yetede)

Dana Besar Kabur dari Aset Berisiko

HR1 15 Apr 2025 Kontan (H)

Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, stabilitas ekonomi dalam negeri, dan ketegangan global seperti perang tarif, mendorong sebagian kalangan kaya di Indonesia untuk merelokasi dananya. Data OJK menunjukkan adanya penurunan nilai efek rupiah milik investor lokal di KSEI pada Februari 2025 menjadi Rp 4,42 kuadriliun dari Rp 4,65 kuadriliun pada Desember 2024, mencerminkan penurunan bulanan pertama dalam beberapa bulan terakhir.

Penurunan terutama terjadi pada aset berisiko tinggi seperti saham dan kripto. Nilai saham yang tercatat menurun dari Rp 3,68 kuadriliun menjadi Rp 3,44 kuadriliun, sementara transaksi kripto menyusut menjadi Rp 32,7 triliun.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan justru tumbuh, terutama dari segmen kaya dan korporasi. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan di atas Rp 5 miliar tumbuh 7,5% secara tahunan per Februari 2025. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menyebut bahwa dalam situasi volatil ini, bank bisa menarik lebih banyak DPK.

Henny Eugenia dari BNI menyatakan bahwa minat investasi nasabah masih tinggi, terutama pada obligasi. Bahkan, nilai tabungan nasabah segmen Emerald naik 16% dan aset kelolaan investasi tumbuh 18% secara tahunan. Ivan Adrian Jaya dari Danamon juga menekankan bahwa belum ada tanda signifikan pemindahan dana ke luar negeri, meski investasi reksadana sedikit melambat.

Namun, Trioksa Siahaan dari LPPI mengingatkan bahwa realokasi aset tetap bisa menjadi pintu awal pemindahan dana, baik melalui reksadana global, family office, maupun mekanisme lain sesuai preferensi nasabah kaya.

Peluang Ditengah Turbulensi Pasar Saham

KT1 14 Apr 2025 Investor Daily (H)
Turbulensi pasar saham belum berakhir, kendati AS menunda pelaksanaan tarif resiprokal ke 75 negara selama 90 hari. Namun, keadaan ini justru membuka peluang untuk meraup return besar dari saham. Sejumlah kalangan menilai, IHSG BEI bakal bangkit cepat, begitu tensi perang dagang berkurang. Artinya, sejarah setelah krisisi finansial global 2008-2009 dan pandemi Covid-19 pada 2020 bisa terulang lagi. Kala itu, indeks langsung melejit dan mengungguli (ourperform) indek regional, bahkan dunia. Apalagi, valuasi pasar saham Indonesia saat ini sangat murah, akibat koreksi masif sepanjang tahun ini. Bahkan, harga saham sekarang terdiskon besar dari saat pandemi Covid-19. Padahal, fundamental jauh lebih baik. Hitungan Mandiri Sekuritas (mansek), price to earning ratio (PER) IHSG kini 9 kali, di bawah rata-rata 10 tahun 15-16 kali. Adapun price to book (PBV) -1,7 standar deviasi (SD), sedangkan PBV -1,6 SD. Sebalinya, return malah meningkat. Imbal hasil laba bersih (aerning yield) mencapai 10% atau 3,3 SD, equity risk premium mencapai 8,2% lebih tinggi dari saat Covid-106,2% dan yield dividen 2,9SD. Dari sisi fundamental, analis menilai kebijakan pemerintah baru bakal membuahkan hasil dan direspons positif oleh pasar. Apalagi jika BI bisa menurunkan suku bunga acuan BI Rate dan mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah BI (SRBI) yang bakal menggenjot likuiditas ke saham, jika institusi keuangan besar, seperti dana pensiun didorong masuk bursa. (Yetede)

Emiten MIND ID Bernafas Panjang

KT1 14 Apr 2025 Investor Daily
Peran komoditas mineral yang dinilai krusial memberikan nafas panjang bagi prospek emiten-emiten Holding BUMN Industri Pertambangan alis MIND ID. Ditambah lagi, keputusan AS menunda kebijakan tarif resiprokal bakal semakin mendorongg kinerja emiten MIDN ID bergerak ke atas. Rapor emiten MIND ID sepanjang tahun buku 2024  memang tidak secerah seperti tahun sebelumnya. Sebagian kalangan berpendapat, sejumlah faktor seperti penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan kenaikan cost terlah terdampak pada laba bersih empat emiten MIND ID yaitu T Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Tercatat, laba bersih  empat MIND ID secara keseluruhan terkoreksi 18,41% menjadi Rp10,92 triliun pada 2024, yang terdiri dari Antam Rp 3,65 triliun, Bukit Asam Rp 5,1 triliun, Timah Rp 1,19 triliun, dan vale Indonesia US$ 57,8 juta atau setara Rp979 miliar. Direktur Eksekutif Reformider Institute Komaida Notonegoro mengamati, emiten-emiten MIDN ID secara prospek masih cukup bagus kendati mengalami koreksi dari sisi kaba bersih. Ini karena, sebagian besar dari emiten-emiten MIND ID bergerak di bisnis komoditas mineral yang notabene akan banyak dibutuhkan dalam konteks energi, perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), manufaktur, dan industri lainnya. "Jadi, artinya prospek (emiten-emiten MIND ID) masih cukup baik," Ujar Komaidi kepada Investor Daily. (Yetede)