;
Tags

Saham

( 1717 )

Bisnis Rumah Sakit Dukung Pertumbuhan Emiten

HR1 24 Apr 2025 Kontan
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) tengah menjalankan ekspansi bisnis agresif di tahun 2025 dengan pembangunan dua rumah sakit baru, salah satunya di BSD City yang akan fokus pada segmen premium dengan teknologi medis canggih, serta pengembangan layanan kesehatan hewan melalui MediVet. Dengan capex sekitar Rp 800 miliar–Rp 1 triliun, MIKA menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit, melanjutkan kinerja positif tahun lalu yang mencapai pertumbuhan pendapatan 14,3% dan laba bersih 25,1% yoy.

Analis dari BNI Sekuritas, Laksmita Febriyanti, menilai ekspansi ini akan mendukung pertumbuhan kinerja MIKA, terutama dari segmen rumah sakit. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa tren meningkatnya minat memelihara hewan menjadi peluang bagi MediVet untuk menyumbang 3%-5% pendapatan dalam lima tahun ke depan. Meskipun ada risiko seperti regulasi dan persaingan, analis MNC Sekuritas, M. Rudy Setiawan, memperkirakan MIKA tetap akan tumbuh dengan valuasi saham yang saat ini undervalued dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.850 per saham.

Selangkah Lagi Meraup Dividen dari Pertambangan Batu Bara

KT1 24 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berpeluang kembali menyecap manisnya dividen dari emiten pertambangan batu bara ini, setelah rencana kuasi reorganisasi bisa dieksekusi. Emiten Grup Bakrie dan Salim tersebut, terakhir membagikan dividen pada 2009 atau 16 tahun yang lalu, sebesar Rp50,6 per saham dengan dividen pay out ratio 15% dari laba bersih tahun 2008, US$ 645,36 juta. Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada harian Investor Daily, Selasa (22/4/2025), manajemen Bumi Resources mengungkapkan bahwa perseroan bermaksud melakukan rencana kuasi reorganisasi dengan cara mengeliminasi akumulasi rugi (defisit) dengan mengunakan posisi agio saham yang merupakan selisih lebih antara  setoran modal dengan nilai nominal saham. Adapun rencana kuasi reoganisasi akan diminta persetujuan kepada pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan pada 2 Juni 2025. Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai, langkah kuasi reorganisasi ini bersifat strategis, bukan hanya sebagai perbaikan kosmetik laporan keuangan, tetapi juga sebaai fondasi untuk membuka peluang  pembagian dividen tunai kepada para pemegang saham. Dengan eliminasi defisit melalui kuasi reorganisasi, saldo laba akan kembali positif dan memungkinkan BUMI secara hukum untuk membagikan dividen. (Yetede)

BCA Fokus Jaga Kinerja Fundamental

KT1 24 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menegaskan  komitmennya untuk menjaga kinerja fundamental sebagai prioritas utama di tengah gejolak pasar yang sempat menekan harga saham  emiten perbankan. Perseroan meyakini, selama performa bisnis bagus, nantinya kinerja saham pun otomomatis akan mengikuti Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan, pada awal pembukaan perdagangan  setelah libur panjang Idulfitri, banyak saham perbankan yang anjlok. Bukan hanya terjadi pada BBCA , tetapi juga bank besar lainya seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan bank-bank swasta lainnya. Pihaknya menilai, pada saat libur panjang ada kejutan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengumumkan tarif resiprokal kepada negara-negara yang dianggap merugikan AS, termasuk Indonesia yang dikenakan tarif 32% saat ini. Sehingga, ketika pasar modal dibuka pada 8 April 2025, terjadi koreksi besar di semua bank. Menurutnya ini hal yang wajar, lantaran naluri investor ketika mendengar berita ketidakpastian yang belum bisa dimitigasi dampaknya memberikan risiko. Alhasil, nomor satu yang dilakukan para investor adalah cepat-cepat menjual. "Nanti sampai di bottom, baru lihat bagaimana respons bank, bukan hanya bank ya, perusahaan fundamentalnya bagus itu mulai diserok (investor) lagi. Maka terjadilah rebound," tutur Jahja. (Yetede)

IDXCarbon Kuasai dan Unggul di Asia Tenggara

KT1 23 Apr 2025 Investor Daily (H)
Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon mencatatkan total nilai dan volume transaksi masing-masing sebesar Rp77,91 miliar dan 1,59 juta ton CO2 ekuivalen (tCO2e) dari sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 17 April 2025. Pencapaian ini menjadikan IDXCarbon unggul dibanding sejumlah bursa karbon regional, termasuk Jepang, Malaysia, dan Thailand. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan, capaian tersebut menunjukkan daya tarik kuat IDXCarbon, baik dari pelaku domestik  maupun internasional. Bahkan permintaan dari pemilik proyek carbon  luar negeri untuk mendaftarkan kredit karbon mereka di Indonesia terus meningkat. "Transaksi kita dua kali lipat lebih  tinggi dibandingkan bursa karbon di Jepang. IDXCarbon juga unggul dibandingkan dengan bursa karbon di Thailand  dan Vietnam," kata Iman. Iman mengungkapkan  jasa bursa karbon di IDXCarbon meningkat drastis sebesar 58% dari 16 partisipan saat peluncuran, menjadi 111 partisipan pada April 2025. Volume transaksi pada kuartal I-2025 saja telah mencapai 690.675 tCI2e, melampaui total transaksi tahun 2024 sebesar 413.764 tCO2e dan 494.254 tCO2e pada tahun 2023. (Yetede)

Dana Lokal Jadi Andalan Investasi

HR1 23 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)
Pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca anjloknya pasar usai libur Lebaran menjadi bukti ketangguhan investor domestik dalam meredam tekanan global, terutama di tengah arus keluar investor asing yang mencapai Rp20 triliun selama periode tersebut. Tokoh-tokoh pasar seperti Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset dan Liza Camelia Suryanata dari Kiwoom Sekuritas menekankan pentingnya insentif pajak, edukasi keuangan, serta perlindungan hukum untuk memperkuat partisipasi investor lokal.

Sementara itu, Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK, menyoroti pentingnya peran institusi keuangan milik negara dalam memperkuat investasi domestik, didukung oleh langkah proaktif BEI yang diwakili oleh Jeffrey Hendrik. Analis Felix Darmawan dari Panin Sekuritas turut menambahkan bahwa konsistensi regulasi, perluasan produk investasi, serta insentif pajak bagi institusi seperti dana pensiun sangat krusial untuk menciptakan pasar modal yang lebih mandiri dan tahan terhadap gejolak global.

Efisiensi Tak Menghambat Ekspansi Bisnis

HR1 23 Apr 2025 Kontan
Di tengah tekanan harga energi global, prospek PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) masih dinilai solid oleh para analis. Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas menyoroti langkah efisiensi MEDC, seperti penerbitan obligasi Rp 1 triliun untuk refinancing utang, dan penggunaan belanja modal (capex) untuk mempertahankan produksi serta efisiensi operasional.

Meskipun diperkirakan akan terjadi penurunan pendapatan sebesar 8% dan laba bersih 4% pada 2025, diversifikasi portofolio energi dan kontribusi segmen gas memberikan bantalan terhadap fluktuasi harga minyak. Selain itu, Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menilai fundamental MEDC tetap kuat, terutama karena kontribusi laba dari entitas asosiasi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 141% yoy pada 2024.

Andhika juga menekankan keberhasilan efisiensi operasional MEDC, dengan penurunan rasio Opex terhadap penjualan dari 11% menjadi 9%. Ia tetap optimistis pada prospek MEDC meskipun harga minyak dan logam diprediksi fluktuatif.

Arief Budiman dari Ciptadana Sekuritas menambahkan bahwa pencapaian pengiriman gas di atas target, rencana ekspor listrik ke Singapura, serta program buyback saham senilai US$ 50 juta menjadi katalis positif lainnya. Ia menilai penurunan laba dari anak usaha PT Amman Mineral Nusa Tenggara bersifat sementara karena transisi produksi.

Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas

HR1 23 Apr 2025 Kontan (H)
Tahun 2025 diprediksi menjadi masa keemasan bagi industri emas global dan domestik, didorong oleh lonjakan harga emas yang luar biasa. Harga emas spot global tercatat melonjak 66,52% sejak awal tahun, sementara di Indonesia, emas Antam meningkat 39,18%, dan harga saham emiten seperti ANTM dan HRTA turut meroket.

Menurut Muhammad Thoriq Fadilla, analis dari Lotus Andalan Sekuritas, lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat gejolak geopolitik dan pelemahan dolar AS. Salah satu penggerak penting adalah aksi beli emas besar-besaran oleh bank sentral, terutama Bank Sentral China (PBoC) yang telah menambah cadangan emasnya secara signifikan dan kini menjadi pemilik cadangan emas terbesar keenam di dunia.

Kiwoom Sekuritas Indonesia menegaskan bahwa tren kenaikan ini bukan hanya euforia sesaat, melainkan berbasis fundamental ekonomi yang kuat dan meningkatnya kehati-hatian pasar. Diperkirakan harga emas bisa menembus US$ 4.000 per ons troi dalam waktu dekat.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, menyatakan bahwa tren ini membuka peluang besar bagi emiten produsen emas untuk ekspansi dan meningkatkan produksi. Salah satunya, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) menargetkan produksi emas meningkat menjadi lebih dari 75.000 ons troi pada 2025, seiring harga emas yang telah menembus US$ 3.000 per ons troi.

Praska juga menambahkan bahwa dalam jangka pendek hingga menengah, saham emiten emas berpotensi memberikan keuntungan besar, sedangkan logam mulia tetap menjadi pilihan investasi jangka panjang yang aman dan bernilai warisan.

Dengan dukungan faktor global seperti kebijakan bank sentral dan kondisi geopolitik, harga emas yang terus naik memberikan dorongan besar bagi kinerja sektor pertambangan emas dan menarik minat luas dari investor, sebagaimana ditegaskan oleh tokoh-tokoh seperti Thoriq Fadilla, Praska Putrantyo, dan Herwin Wahyu Hidayat.

Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas

HR1 23 Apr 2025 Kontan (H)
Tahun 2025 diprediksi menjadi masa keemasan bagi industri emas global dan domestik, didorong oleh lonjakan harga emas yang luar biasa. Harga emas spot global tercatat melonjak 66,52% sejak awal tahun, sementara di Indonesia, emas Antam meningkat 39,18%, dan harga saham emiten seperti ANTM dan HRTA turut meroket.

Menurut Muhammad Thoriq Fadilla, analis dari Lotus Andalan Sekuritas, lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat gejolak geopolitik dan pelemahan dolar AS. Salah satu penggerak penting adalah aksi beli emas besar-besaran oleh bank sentral, terutama Bank Sentral China (PBoC) yang telah menambah cadangan emasnya secara signifikan dan kini menjadi pemilik cadangan emas terbesar keenam di dunia.

Kiwoom Sekuritas Indonesia menegaskan bahwa tren kenaikan ini bukan hanya euforia sesaat, melainkan berbasis fundamental ekonomi yang kuat dan meningkatnya kehati-hatian pasar. Diperkirakan harga emas bisa menembus US$ 4.000 per ons troi dalam waktu dekat.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, menyatakan bahwa tren ini membuka peluang besar bagi emiten produsen emas untuk ekspansi dan meningkatkan produksi. Salah satunya, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) menargetkan produksi emas meningkat menjadi lebih dari 75.000 ons troi pada 2025, seiring harga emas yang telah menembus US$ 3.000 per ons troi.

Praska juga menambahkan bahwa dalam jangka pendek hingga menengah, saham emiten emas berpotensi memberikan keuntungan besar, sedangkan logam mulia tetap menjadi pilihan investasi jangka panjang yang aman dan bernilai warisan.

Dengan dukungan faktor global seperti kebijakan bank sentral dan kondisi geopolitik, harga emas yang terus naik memberikan dorongan besar bagi kinerja sektor pertambangan emas dan menarik minat luas dari investor, sebagaimana ditegaskan oleh tokoh-tokoh seperti Thoriq Fadilla, Praska Putrantyo, dan Herwin Wahyu Hidayat.

Emiten Ini Menarik Meski Belum Untung

HR1 22 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengalami tekanan pada tahun 2024, dengan mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 56 juta, meningkat dari kerugian tahun sebelumnya. Meskipun demikian, prospek jangka panjang MDKA dinilai masih positif oleh para analis, berkat fundamental operasional yang tetap solid, terutama dari pertumbuhan pendapatan sebesar 31,2% yoy menjadi US$ 2,23 miliar, yang didorong oleh peningkatan penjualan nikel dan bijih limonit.

Analis Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan kinerja terutama berasal dari lonjakan beban keuangan akibat tingginya suku bunga global. Namun ia tetap merekomendasikan buy untuk saham MDKA, meski dengan penurunan target harga menjadi Rp 1.200 karena tekanan pada harga nikel dan potensi keterlambatan proyek.

Sementara itu, analis Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo melihat prospek positif MDKA didukung oleh potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian global. Ia memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 3.400–US$ 3.500 per ons troi, yang akan meningkatkan pendapatan dan margin MDKA. Indy merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.160.

Dari sisi operasional, Benny Kurniawan dari JP Morgan mencatat bahwa produksi Tambang Emas Tujuh Bukit sesuai ekspektasi dan akan meningkat pada kuartal I 2025. Ia menekankan pentingnya efisiensi pada sektor nikel dan menyebut proyek Tambang Emas Pani sebagai pilar utama pertumbuhan ke depan. Benny mempertahankan rekomendasi overweight dengan target harga Rp 1.950.

Secara keseluruhan, meski masih menghadapi risiko seperti kenaikan belanja modal dan volatilitas harga komoditas, MDKA dinilai berada di jalur pemulihan, dengan strategi fokus pada ekspansi emas dan efisiensi operasional di sektor nikel yang berpotensi memperbaiki kinerja keuangan di masa depan.

Persaingan Kian Sengit di Tengah Pemain yang Menyusut

HR1 21 Apr 2025 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang menghasilkan entitas baru PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (kode: EXCL), diyakini akan mengubah peta persaingan industri telekomunikasi Indonesia. Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisory, menilai bahwa kehadiran XLSmart dapat mengganggu dominasi operator lama seperti Telkomsel (TLKM) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), terutama dalam konteks persaingan harga dan paket bundling.

XLSmart diprediksi akan fokus pada pasar menengah-bawah dengan menawarkan paket data murah, berbeda dari Telkomsel yang menyasar pasar premium dan Indosat yang aktif di segmen urban. Menurut Ekky, langkah strategis seperti diversifikasi produk dan inovasi layanan digital akan sangat penting bagi operator incumbent agar tetap kompetitif.

Niko Margaronis dan Kafi Ananta, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menyatakan bahwa merger ini bisa membuat struktur persaingan industri menjadi lebih teratur, dengan XLSmart mengandalkan optimalisasi pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) dari total 95,3 juta pelanggan.

Namun, Aurelia Barus dan Belva Monica dari Indo Premier Sekuritas mengingatkan bahwa tantangan tetap ada. Strategi menaikkan harga kartu perdana belum cukup efektif mendongkrak kinerja perusahaan hingga kuartal II 2025. Sementara itu, perang tarif dan beban investasi jaringan 5G masih menjadi tekanan utama bagi operator.

Di sisi lain, segmen Fiber to the Home (FTTH) menjadi harapan baru, dengan Telkom dan XL Axiata diproyeksikan mampu menunjukkan pertumbuhan pelanggan di segmen ini pada kuartal I 2025. Meski sektor ini diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3% per kuartal sepanjang 2025 menurut Niko, prospeknya tetap menjanjikan seiring turunnya risiko persaingan kartu SIM baru.

Ekky menyebut valuasi saham di sektor ini cukup menarik. Ia menargetkan harga saham EXCL di Rp 2.300–2.400, TLKM di Rp 2.700–3.000, dan ISAT di Rp 2.000–2.400, dengan peluang kenaikan apabila terjadi rebound penggunaan data dan bundling serta momentum pasar yang positif.

Secara keseluruhan, merger ini memberi harapan baru bagi konsolidasi industri telekomunikasi, namun tetap harus dihadapi dengan strategi yang tepat oleh seluruh pelaku pasar untuk menjaga daya saing dan profitabilitas.