;
Tags

Saham

( 1722 )

Bank Mandiri Pimpin Deretan Bank Beraset Jumbo

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Di tengah berbagai dinamika ekonomi global dan domestik, industri perbankan nasional tetap menunjukkan kinerja positif.  Sampai dengan posisi Maret 2025, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih kokoh berada di puncak  sebagai bank beraset jumbo. Total aset dari 10 bank terbesar di Indonesia mencapai Rp. 9.290,8 triliun pada kuartal 102025, tumbuh 8,79% secara tahunan (yoy). Dimana, total aset Bank Mandiri memiliki pangsa pasar lebih dari seperempatnya atau tepatnya 26,52% dari total aset 10 bank besar tersebut atau senilai Rp 2.463,66 triliun konsolidasi, tumbuh 13,86% (yoy). Posisi kedua adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dengan total aset secara konsolidasi sebesar Rp2.098,23 triliun, tumbuh 5,49% (yoy) pada kuartal 1-2025. Aset BRI ini memiliki porsi 22,58% dari total aset 10 bank besar. Meski demikian, jika dilihat berdasarkan data bank only atau tanpa memperhitungkan perusahaan anak total aset BRI mencapai Rp1.932,39 triliun, melesat 37,55% (yoy), sehingga BRI mencapai  Rp1.932,39 triliun, melesat 37,55% (yoy), sehingga BRI menjadi bank dengan aset terbesar di Indonesia, atau bertukar tempat dengan Bank Mandiri dengan total aset bank only Rp1.919,66 triliun di peringkat runner up. (Yetede)

Tarif Trump Seret Ekonomi Merosot Tajam

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Butuh waktu 100 tahun bagi Amerika Serikat (AS) untuk menurunkan tarif rata-ratanya dari 59% pada tahun 1930. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 100 hari, Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif ke level tertinggi sejak Depresi Besar. Akibat, PDB riil AS menyusut 0,3% pada kuartal pertama 2025, menandai kontraksi ekonomi dan inflasi yang meningkat. Harga melonjak, rak-rak toko kosong, aktivitas di Pelabuhan Los Angeles anjlok 30%, dan sentimen konsumen merosot tajam. Pasar saham goyah, kepercayaan CEO menurun, dan usaha kecil serta menengah berada di ambang kehancuran. Namun bagi Trump berdampak pada 185 negara. China menghadapi tarif sebesar 245%, sementara negara lain dikenakan tarif antara 10% hingga 60%, menciptakan ketidakpastian yang meningkat. Tarif ini menargetkan ratusan miliar dolar impor, membahayakan penjualan afilaisi AS senilai US$ 8 triliun di luar negeri - mempengaruhi perusahaan besar seperti Apple, Tesla, Starlink, McDonald's, Nike, Ford, dan Intel-serta mengancam puluhan triliun dolar keuntungan korporasi AS yang terlibat dalam rantai pasok global. (Yetede)

Sinyal Kebangkitan Pasar Keuangan Domestik

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Penguatan signifikasi rupiah dan saham pada pekan lalu menjadi sinyal kuat kebangkitan pasar keuangan domestik, setelah sempat terpukul keras kebijakan tarif resiprokal AS. Tren ini diprediksi berlanjut, ditopang resilensi ekonomi nasional, kolaborasi erat otoritas moneter dan fiskal, serta potensi penurunan suku bunga AS. Rupiah yang sempat menembus Rp 17 ribu per dolar di pasar spot berbalik arah dan menguat ke level Rp16.400 per dolar AS, akhir pekan lalu. Pararel, kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) akhir pekan lalu mencapai Rp16.493 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi 8  April 2025 atau awal hari kerja setelah libur panjang Lebaran Rp 16.849 per dolar AS. Rupiah berpotensi terus menguat hingga mendekati Rp16.849 per dolar AS. Rupiah berpotensi terus menguat hingga mendekati Rp16.00 per dolar AS, sesuai asumsi APBN 2025. Bahkan, Sucor Sekuritas memprediksi rupiah menguat hingga Rp15.100 per dolar AS pada akhir tahun ini. Selain ditopang fundamental, penguatan rupiah disebabkan langkah BI melakukan intervensi total di pasar valas, baik di pasar spot, domestik nondeliverable forward (DNDF), dan surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder (triple intervention). (Yetede)

Grup Prajogo Terus Perluas Jejak Bisnis

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Grup konglomerat Prajogo Pangestu terus menunjukkan perkembangan signifikan, terutama melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang melakukan beragam aksi korporasi pada kuartal I/2025. TPIA berinvestasi besar dalam pembangunan pabrik bahan kimia Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (Pabrik CA-EDC) dengan nilai investasi mencapai Rp15 triliun, yang diharapkan dapat mengurangi impor soda kaustik dan menambah devisa negara melalui ekspor produk EDC. Selain itu, meski TPIA mencatatkan kerugian bersih sebesar US$23,6 juta, pendapatannya meningkat 31,8% YoY.

Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), salah satu emiten afiliasi Prajogo, melaporkan laba bersih sebesar US$34,2 juta, dengan pertumbuhan yang didorong oleh kinerja solid pada segmen energi terbarukan, khususnya panas bumi dan angin. Hendra Soetjipto Tan, CEO BREN, menekankan pentingnya pengelolaan biaya yang disiplin untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Grup Prajogo juga berencana melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) untuk anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI), yang akan menargetkan dana hingga Rp2,37 triliun. Dengan langkah-langkah ini, Prajogo Pangestu terus berupaya memperkuat portofolio bisnis dan meningkatkan kontribusi sektor infrastruktur, memperlihatkan prospek cerah ke depan.

Menunggu Kejutan dari Mitratel

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Kinerja PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel pada tiga bulan  pertama tahun ini tergolong solid namun  moderat. Kejutan berpotensi muncul pada  kuartal-kuartal berikutnya menyusul efektifnya PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL/XLSmart) dan menggeliatnya bisnis fiber-to-the tower (FTTT) perseroan. Rencana XLSmart untuk menggandakan skala jaringan merupakan sinyal kuat bagi MTEL untuk bisa mempertebal pundi-pundi pendapatan. Pasalnya, konsolidasi operator/MNO) akan mendorong terjadinya peningkatan kolokasi terutama di luar Jawa, peningkatan kualitas jaringan, dan tren efisiensi sekaligus fiberisasi. Katalis-katalis tersebut akan menguntungkan MTEL sebagai pemain di sektor infrastruktur telekomunikasi khususnya menara. Ini cukup terefleksi dari rekam kinerja Mitratel selama tiga  bulan pertama tahun ini. Di mana, bisnis menara entitias anak Grup Telkom tersebut menunjukkan performa positif. Riset PT Indo Premier Sekuritas Indonesia yang disusun Aurelia Barus dan Belva Monica mencatat, jumlah dan penyewa menara pada akhir kuartal  1-2025 masing-masing bertumbuh sebesar 4% secara yoy dengan penambahan jumlah penyewa bersih sebanyak 391. Rasio keterhunian menara (tenancy ratio) juga di angka 1,52x, atau stabil dibandingkan akhir 20254. (Yetede)

Waspada Lonjakan Inflasi Mencapai 1,95%

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Normalisasi tarif listrik dan kenaikan harga emas menyebabkan inflasi tahunan mencapai 1,95% pada April 2025, lebih tinggi dari posisi Maret 2025 yang sebesar 1,03%. Meski kenaikannya masih dalam kisaran target, pemerintah tetap harus mewaspadai lonjakan inflasi tersebut. Berdasarkan data BPS pada April 2025 terjadi inflasi bulanan sebesar 1,17%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi inflasi 1,95% dan secara tahun kalender atau year to date terjadi inflasi 1,56%.  Peneliti center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, lonjakan inflasi tahunan pada April 2025 bersifat temporer. Ini lantaran kebijakan diskon tarif listrik yang sempat diberlakukan untuk beberapa golongan pelanggan berpengaruh cukup besar. Selain itu, faktor musiman yakni Ramadan dan Idulfitri juga turut mendorong kenaikan harga khususnya pada kelompok makanan, transportasi, dan jalan lainnya. "Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa inflasis inti juga mengalami peningkatan. Ini menandakan adanya tekanan struktural, bukan hanya dari sisi musiman atau adminditrasi harga saja," kata Yusuf. (Yetede)

BCA Menjadi Jawara dengan Mencetak Laba Terbesar di Indonesia

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Pada kuartal 1-2025 PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi jawara dengan mencetak laba terbesar di Indonesia. Hal ini setelah bank swasta tersebut menyalip bank-bank pelat merah pada tiga bulan pertama tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, secara konsolidasian BCA mencetak laba bersih kepada pemilik (PATMI) mencapai Rp14,15% secara yoy pada kuartal 1-2025. Sementara, PT Bank rakyat Indonesia (Perssero) Tbk (BRI) di posisi runner up dengan PATMI Rp 13,67 triliun atau menyusut 13,92% (yoy) akibat pencadangan yang meningkat. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berada di peringkat ketiga dengan laba bersih konsolidasi Rp13,2 triliun, naik 3,94% (yoy) per akhir Maret 2025. Posisi keempat adalah PT bank negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) yang meraup laba bersih Rp 5,38 triliun, naik 0,94% (yoy). Peringkat kelima adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dengan laba bersih Rp1,88 triliun, tumbuh 9,94% (yoy) pada kuartal 1-2025. Apabila mundur tiga bulan ke belakang, atau di posisi Desember 2024, BRI masih menjadi pemimpin dengan laba terbesar, mencapai Rp60,15 triliun, meski tumbuh tipis 0,08% (yoy). Peringkat kedua yakni bank Mandiri dengan laba bersih Rp54,85 triliun, tumbuh dua digit. 12,77% (yoy). (Yetede)

Kinerja Solid Goto, dengan Pertumbuhan Pendapatan 37%

KT1 30 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengawali kinerja yang kuat di tiga bulan pertama tahun ini, dengan pertumbuhan pendapatan 37% serta EBITDA Grup yang berbalik positif pada kuartal 1-2025. Perseroan juga mencatatkan EBITDA yang disesuaikan tertinggi untuk unit bisnis Fintech dan On-Demand Services, serta pertumbuhan GTV inti tahunan yang berkelanjutan. "Kami memulai tahun ini dengan momentum yang kuat, mencetak rekor baru dan kinerja kuartalan yang menguntungkan," kata Direktur Utama Grup GoTo Patrick Waluyo. Patrick mengungkapkan, pihaknya terus mengoptimalkan basis pelanggan GOTO untuk mencakup segmen pengguna  premiun yang memiliki daya beli besar dengan tingkat keterlibatan tinggi, sehingga memberikan stabilitas lebih kuat bagi bisnis perseroan. Pada saat yang sama, perseroan terus meningkatkan penawaran di semua segmen yang didorong oleh inovasi produk dan investasi di bidang teknologi untuk mendorong ekspansi lebih luas. "Seluruh upaya ini memperluas jangkauan kami, meningkatkan profitabilitas, dan memposisikan  bisnis untuk pertumbuhan jangka panjang," kata dia. Patrick memaparkan, GTV Grup tumbuh 24% yoy pada kuartal 1-2025 mencapai Rp 144,6 triliun. Pendapatan bersih naik 37% yoy menjadi Rp 4,23 triliun. (Yetede)

Realisasi Investasi Terjaga di Level Tertinggi

KT1 30 Apr 2025 Investor Daily (H)

Realisasi investasi Indonesia pada kuartal 1-2025 tetap terjaga di level yang tinggi, sehingga menumbuhkan optimisme bahwa terget investasi tahun ini masih bisa dicapai  meski ketidakpastian ekonomi global kian meningkat. Selama tiga bulan  pertama 2025, realisasi investasi  mencapai Rp 465,2 triliun, meningkat 15,9% secara year on year (yoy) atau hanya turun tipis dari pertumbuhan kuartal 1-2023 yang di level 16,5% dan turun sekitar 5% poin dari kuartal 1-2424 yang dilevel 22,1%. Bahkan, realisasi investasi selama kuartal 1-2025 itu setara dengan 24,4% total target realisasi investasi secara keseluruhan pada tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp1.905,6 triliun. Proporsi pencapaian  ini lebih besar dari proporsi pencapaian realisasi investasi kuartal 1-2024 yang hanya sebanyak  23,5% dari target. Tahun lalu, target realisasi investasi ditetapkan sebesar Rp 1.650 triliun. Namun demikian, jumlah pihak mengingatkan, optimisme itu harus tetap dibarengi upaya serius penyelesaian sejumlah pekerjaan umum (PR) seperti kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif. Pemerintah pun perlu mempercepat realisasi proyek strategis nasional. Semua ini dibutuhkjan ditengah ketidakpastian global yang meningkat menyusul penerapan tarif impor resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump. Selain itu, realisasi penanaman modal asing (PMA) yang hanya sebesar Rp230,4 triliun atau 49,5% dari total investasi dengan pertumbuhan hanya 12,7% (yoy) bisa dilihat sebagai bentuk penurunan kepercayaan asing terhadap iklim investasi di Indonesia. (Yetede)

Pundi-Pundi Uang CDI

KT1 29 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Chandra Daya Investasi (CDI) anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang tengah disiapkan untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham memiliki pundi-pundi yang menjadi motor pendapatan usaha. Dua diantaranya datang dari pilar bisnis infrastruktur CDI. Sebagai special purpose vehicle Chandra Asri Group, CDI mengelola bisnis di bidang kepelabuhan dan penyimpanan (storage) yang dijalankan lewat anak usahanya, PT Redeco Petrolin Utama (RPU) dengan kepemilikan saham sebanyak 50.75%. masih di pilar infrstruktur, CDI juga memiliki anak usaha bernama PT Chandra Shipping International (CSI) yang mengoperasikan bisnis logistik maritim. RPU dan CSI berperan penting dalam rantai pasok energi khususnya sektor energi , petrokimia, dan manufaktur. Eksistensi keduanya dalam pilar bisnis infrastruktur CDI memperlihatkan betapa terintegrasinya ekonomi logistik CDI. Sebagai contoh, CDI saat ini mengoperasikan sebanyak delapan kapal milik sendiri untuk mengangkut bahan kimia cair dan minyak serta gas (chemical atau oil/gas tanker) baik untuk memenuhi kebutuhan Chandra Asri Group maupiun pelanggan di luar grup. (Yetede)