Saham
( 1722 )Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan
Lonjakan Likuiditas Bisa Panaskan Harga Saham
Untuk meredam tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan membuka pendaftaran bagi anggota bursa yang ingin menjadi liquidity provider (LP). Menurut Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, sejauh ini sudah ada sembilan anggota bursa yang siap menjadi LP, termasuk lima dari luar negeri.
Kehadiran LP, yakni institusi yang menyediakan likuiditas dengan memperdagangkan saham-saham tertentu secara aktif, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan volume transaksi saham, khususnya saham-saham dengan likuiditas rendah seperti BDMN, BYAN, dan IMAS. Namun, peran LP ini tetap terbatas, tidak mencakup seluruh saham di pasar modal, melainkan hanya yang memenuhi kriteria tertentu.
Meski kebijakan ini mendapat dukungan sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga likuiditas, sejumlah pengamat mengingatkan risiko yang muncul. Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama, menyatakan bahwa LP dapat membuat harga saham bergerak tidak alami dan tidak mencerminkan fundamental emiten. Menurutnya, dominasi LP bisa menjadikan pasar seperti "mainan bandar" dan kurang berpihak pada investor ritel.
Sejalan dengan itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, menilai kebijakan ini bisa membuka ruang manipulasi harga oleh pihak-pihak tertentu. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa kehadiran LP bisa menimbulkan tiga risiko: distorsi harga, ketergantungan pasar pada LP, dan kegagalan LP berfungsi optimal pada emiten dengan free float rendah dan potensi konflik kepentingan dengan pemegang saham pengendali.
Meskipun langkah BEI menunjukan upaya aktif untuk meningkatkan likuiditas dan stabilitas IHSG, implementasi liquidity provider harus diawasi ketat agar tidak menimbulkan distorsi harga dan mengabaikan kepentingan investor ritel.
Prospek Cerah tapi Penuh Tantangan untuk Telkom Group
Kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pada kuartal I 2025 menunjukkan pertumbuhan yang moderat, bahkan mengalami penurunan pendapatan sebesar 2,1% year-on-year akibat melemahnya segmen layanan data. Meskipun IndiHome mencatat pertumbuhan pelanggan, kontribusinya belum mampu mengimbangi penurunan tersebut. EBITDA juga turun 6,1% yoy, namun perbaikan terjadi secara kuartalan.
Steven Gunawan, analis dari KB Valbury Sekuritas, menyatakan bahwa pencapaian TLKM masih berada di bawah ekspektasi pasar, dengan laba bersih yang juga menurun, meski margin laba bersih membaik berkat penurunan beban bunga.
Ranjan Sharma, analis J.P. Morgan, menilai awal tahun yang lemah bisa menjadi katalis negatif bagi TLKM sepanjang 2025. Namun, ia tetap optimistis terhadap potensi perbaikan melalui efisiensi biaya dan restrukturisasi IndiHome, terutama dengan dukungan infrastruktur jaringan TLKM yang kuat.
Di sisi lain, Hans Kwee, Co-Founder Pasar Dana, menyoroti bahwa layanan fixed broadband (FBB) seperti IndiHome bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan TLKM, seiring meningkatnya permintaan di sektor tersebut.
Namun, TLKM juga menghadapi tantangan non-operasional, seperti kasus hukum yang melibatkan anak dan cucu usaha, termasuk investasi kontroversial melalui MDI Ventures di TaniHub. Direktur Utama TLKM, Ririek Adriansyah, mengakui adanya masalah substansi dan menegaskan komitmen perusahaan untuk memperbaiki tata kelola ke depan.
Rumor terkait divestasi saham Telkomsel di GOTO juga menambah ketidakpastian. Namun, Oky Prakarsa, VP Investor Relation TLKM, membantah adanya rencana perubahan kepemilikan dalam waktu dekat.
Meskipun kinerja keuangan TLKM pada awal 2025 melemah dan dibayangi berbagai isu hukum serta persaingan di sektor mobile dan fixed broadband, para analis seperti Steven, Ranjan, dan Hans masih melihat potensi positif, terutama dari lini IndiHome. Perlu adanya efisiensi dan restrukturisasi agar TLKM tetap kompetitif di tengah dinamika industri dan tekanan eksternal.
Chandra Asri Caplok Aset Chevron
Saham Antam Melaju Rp 3.000
IHSG Siap Uji Level 7.000
Saham Telekomunikasi Masih Belum Bangkit
Melansir laporan keuangan kuartal I/2025, sejumlah emiten telekomunikasi mencatatkan kinerja yang beragam di tengah tantangan ekonomi dan kompetisi industri yang ketat. Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Rajeev Sethi, menyampaikan bahwa EXCL berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,93% menjadi Rp8,6 triliun, namun laba bersih justru turun drastis 28,93% menjadi Rp384,5 miliar, dipengaruhi oleh persaingan ketat dan proses merger dengan Smartfren.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia (TLKM) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 4,01% menjadi Rp5,81 triliun dan penurunan pendapatan sebesar 2,11%. Meski begitu, manajemen TLKM menyebut perusahaan tetap menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan pada segmen digital, enterprise, dan data center.
Di sisi lain, PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatat penurunan pendapatan menjadi Rp13,57 triliun, namun berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 1,31% menjadi Rp1,31 triliun. CEO Indosat, Vikram Sinha, menekankan pentingnya fokus pada pelanggan kelas menengah ke bawah dalam kondisi daya beli yang melemah, sambil mengoptimalkan pengalaman pelanggan.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, dan Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai prospek sektor telekomunikasi tetap moderat hingga positif dengan peluang perbaikan di kuartal selanjutnya seiring kompetisi yang tidak terlalu agresif dan efisiensi operasional pasca-merger, khususnya pada ISAT. Tantangan utama yang masih dihadapi meliputi stagnasi ARPU, tekanan harga, dan kebutuhan investasi berkelanjutan dalam transformasi digital.
Serapan belanja modal (capex) juga menunjukkan komitmen terhadap penguatan jaringan dan digitalisasi: EXCL sebesar Rp1,24 triliun, ISAT Rp2,62 triliun (naik 22,8%), dan TLKM Rp5 triliun, dengan fokus pada jaringan dan layanan digital. Strategi capex ini mempertegas arah industri menuju penguatan infrastruktur dan layanan berbasis teknologi guna menjaga daya saing di tengah tekanan ekonomi dan dinamika pasar.
Saham BUMN Hijau, Investor Antusias
Meskipun proses pemulihan fundamental korporasi BUMN belum sepenuhnya merata, stabilnya pergerakan indeks IDX BUMN20 mencerminkan optimisme pasar terhadap kinerja emiten-emiten pelat merah. Mayoritas emiten dalam indeks tersebut menunjukkan pertumbuhan laba pada kuartal I/2025 tanpa ada yang merugi, bahkan indeks hanya turun tipis sebesar -0,51% secara year-to-date, mengungguli kinerja IHSG dan indeks lainnya.
Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, menilai pemulihan BUMN masih dibayangi tantangan seperti pelemahan daya beli dan harga komoditas. Namun, ia menaruh harapan besar pada peluncuran Danantara sebagai katalis positif, selama implementasi dan tata kelolanya dijalankan dengan baik.
Senada, Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menyatakan bahwa keberhasilan Danantara akan bergantung pada transparansi dan keseimbangan antara misi komersial dan pelayanan publik. Ia juga menilai bahwa kinerja positif BUMN mencerminkan efektivitas strategi pemerintah dalam memperkuat peran BUMN sebagai motor ekonomi.
Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset menambahkan bahwa penguatan saham BUMN ke depan akan dipengaruhi oleh penurunan suku bunga, efektivitas Danantara, dan arus masuk investor asing, dengan catatan BUMN harus konsisten menerapkan prinsip good corporate governance.
Dari sisi pelaku industri, Nicolas D. Kanter (Dirut ANTM), Fina Eliani (Direktur Keuangan TINS), dan Hery Gunardi (Dirut BRI) menegaskan komitmen emiten BUMN dalam menjaga efisiensi, memperkuat strategi pasar, dan menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan struktural dan risiko eksternal, optimisme terhadap BUMN tetap tinggi karena dukungan pemerintah, kinerja keuangan yang solid, dan strategi efisiensi yang terus diperkuat oleh masing-masing korporasi. Namun, efektivitas implementasi kebijakan serta konsistensi dalam tata kelola akan menjadi kunci keberlanjutan pemulihan dan pertumbuhan sektor BUMN ke depan.
Maraknya Kecelakaan Lalul Lintas jalan Yang Melibatkan Angkutan Truk
Maraknya kecelakaan lalul lintas jalan yang melibatkan angkutan truk karena dugaan pelanggaran overdimension dan overload (ODOL) harus disikapi tegas melalui rekomondasi perlunya pendirian sekolah pengemudi angkutan. Pelaksana tugas (PL) Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan, kontribusi kecelakaan akibat ODOL diantaranya karena para pengemudi truk tidak terdidik dengan baik. "Pengemudi truk di Indonesia belajar secara otodidak. Tidak ada yang belajar secara struktur sebagaimana di moda lainnya. Oleh sebab itu KNKT membuat rekomondasi ke Pemerintah agar segera membuat sekolah pengemudi bagi pengemudi bus dan truk," ujarnya.
Adapun, mekanisme sertifikatasi pengemudi bisa dilakukan seperti halnya sertifikasi pilot pesawat yang dimulai dari proses belajar untuk memperoleh lisensi pilot selanjutnya diizinkan membawa pesawat pribadi dan bisa terbang dengan jumlah jam tertentu bisa menerbangkan pesawat komersial," Wildan menegaskan, setelah dapat sertifikasi lisensi pilot, tidak serta merta bisa menerbangkan semua pesawat, namun harus memperoleh sertifikasi untuk setiap jenis pesawat yang akan diterbangkan. "Ini karena setiap pesawat beda merek beda tipe sehingga teknologinya bisa berbeda. Jadi sertifikasi jelas untuk setiap merek kendaraan," ungkapnya. (Yetede)
Laba Emiten MIND ID Melesat
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









