;
Tags

Saham

( 1722 )

Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan

HR1 14 May 2025 Kontan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tengah mengandalkan strategi ekspansi ke luar Pulau Jawa dan rebranding toko menjadi AZKO untuk mendorong pertumbuhan penjualan pada 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% yoy dan SSSG (same store sales growth) sebesar 1%.

Menurut Jocelyn Santoso, analis Maybank Sekuritas, strategi ekspansi ACES dengan pembukaan 25–30 toko baru, termasuk tiga toko di luar Jawa pada kuartal I-2025, berpotensi mendorong SSSG hingga 3%, lebih tinggi dari target internal perusahaan. Ia juga menilai ekspansi ke wilayah dengan kompetisi rendah dapat meningkatkan margin laba. Meski begitu, Jocelyn memperkirakan pertumbuhan penjualan ACES hanya akan mencapai 4,45% yoy pada akhir tahun.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo memperingatkan bahwa ekspansi bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat menaikkan beban operasional dan pemasaran. Ia menekankan pentingnya kontrol pengeluaran agar margin tetap terjaga.

ACES juga menghadapi tekanan dari proses rebranding toko menjadi AZKO. Jocelyn mencatat, beban operasional meningkat karena rebranding dan tunjangan Lebaran, yang menyebabkan penurunan laba bersih 31,1% yoy pada kuartal I-2025, meski penjualan naik 7,2% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan penjualan ACES dapat mencapai 5,6% yoy ke Rp 9,06 triliun di akhir 2025. Ia menilai valuasi saham ACES menarik, dengan sebagian besar risiko sudah tercermin dalam harga saham.

Dari sisi rekomendasi, Jocelyn dan Azis memberikan rating buy dengan target harga masing-masing Rp 750 dan Rp 645, sedangkan Indy merekomendasikan hold dengan target Rp 935.

Ekspansi dan rebranding ACES dinilai menjanjikan namun penuh tantangan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin di tengah tekanan operasional dan ketatnya persaingan ritel.

Lonjakan Likuiditas Bisa Panaskan Harga Saham

HR1 13 May 2025 Kontan (H)

Untuk meredam tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan membuka pendaftaran bagi anggota bursa yang ingin menjadi liquidity provider (LP). Menurut Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, sejauh ini sudah ada sembilan anggota bursa yang siap menjadi LP, termasuk lima dari luar negeri.

Kehadiran LP, yakni institusi yang menyediakan likuiditas dengan memperdagangkan saham-saham tertentu secara aktif, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan volume transaksi saham, khususnya saham-saham dengan likuiditas rendah seperti BDMN, BYAN, dan IMAS. Namun, peran LP ini tetap terbatas, tidak mencakup seluruh saham di pasar modal, melainkan hanya yang memenuhi kriteria tertentu.

Meski kebijakan ini mendapat dukungan sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga likuiditas, sejumlah pengamat mengingatkan risiko yang muncul. Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama, menyatakan bahwa LP dapat membuat harga saham bergerak tidak alami dan tidak mencerminkan fundamental emiten. Menurutnya, dominasi LP bisa menjadikan pasar seperti "mainan bandar" dan kurang berpihak pada investor ritel.

Sejalan dengan itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, menilai kebijakan ini bisa membuka ruang manipulasi harga oleh pihak-pihak tertentu. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa kehadiran LP bisa menimbulkan tiga risiko: distorsi harga, ketergantungan pasar pada LP, dan kegagalan LP berfungsi optimal pada emiten dengan free float rendah dan potensi konflik kepentingan dengan pemegang saham pengendali.

Meskipun langkah BEI menunjukan upaya aktif untuk meningkatkan likuiditas dan stabilitas IHSG, implementasi liquidity provider harus diawasi ketat agar tidak menimbulkan distorsi harga dan mengabaikan kepentingan investor ritel.

Prospek Cerah tapi Penuh Tantangan untuk Telkom Group

HR1 13 May 2025 Kontan

Kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pada kuartal I 2025 menunjukkan pertumbuhan yang moderat, bahkan mengalami penurunan pendapatan sebesar 2,1% year-on-year akibat melemahnya segmen layanan data. Meskipun IndiHome mencatat pertumbuhan pelanggan, kontribusinya belum mampu mengimbangi penurunan tersebut. EBITDA juga turun 6,1% yoy, namun perbaikan terjadi secara kuartalan.

Steven Gunawan, analis dari KB Valbury Sekuritas, menyatakan bahwa pencapaian TLKM masih berada di bawah ekspektasi pasar, dengan laba bersih yang juga menurun, meski margin laba bersih membaik berkat penurunan beban bunga.

Ranjan Sharma, analis J.P. Morgan, menilai awal tahun yang lemah bisa menjadi katalis negatif bagi TLKM sepanjang 2025. Namun, ia tetap optimistis terhadap potensi perbaikan melalui efisiensi biaya dan restrukturisasi IndiHome, terutama dengan dukungan infrastruktur jaringan TLKM yang kuat.

Di sisi lain, Hans Kwee, Co-Founder Pasar Dana, menyoroti bahwa layanan fixed broadband (FBB) seperti IndiHome bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan TLKM, seiring meningkatnya permintaan di sektor tersebut.

Namun, TLKM juga menghadapi tantangan non-operasional, seperti kasus hukum yang melibatkan anak dan cucu usaha, termasuk investasi kontroversial melalui MDI Ventures di TaniHub. Direktur Utama TLKM, Ririek Adriansyah, mengakui adanya masalah substansi dan menegaskan komitmen perusahaan untuk memperbaiki tata kelola ke depan.

Rumor terkait divestasi saham Telkomsel di GOTO juga menambah ketidakpastian. Namun, Oky Prakarsa, VP Investor Relation TLKM, membantah adanya rencana perubahan kepemilikan dalam waktu dekat.

Meskipun kinerja keuangan TLKM pada awal 2025 melemah dan dibayangi berbagai isu hukum serta persaingan di sektor mobile dan fixed broadband, para analis seperti Steven, Ranjan, dan Hans masih melihat potensi positif, terutama dari lini IndiHome. Perlu adanya efisiensi dan restrukturisasi agar TLKM tetap kompetitif di tengah dinamika industri dan tekanan eksternal.

Chandra Asri Caplok Aset Chevron

KT1 08 May 2025 Investor Daily (H)
Aster Chemicals and Energy, perusahaan patungan milik emiten konglomerat Prajoyo Pangestu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) pabrik Glencore Asian Holdings Pte Ltd, mencaplok aset petrokimia berupa dioperasikan Chevron Philips Singapore Chemicals Pte Ltd (CSPC). Aster sebelumnya dikenal dengan nama Shell Energy dan Chemicals Park (SECP) dan resmi berubah nama menjadi Aster  setelah TPIA menuntaskan akusisi 100% saham milik Shell Singapore Pte. Ltd (SSPL) di SECP senilai US$ 253,7 juta. Pengambilalihan aset dilakukan Aster lewat entitas afiliasinya, Chandra Asri Capital Pte Ltd., setelah Aster mencapai kesepakatan jual beli dengan CSPC, yang merupakan perusahaan patungan antara Chevron Philips Chemical, EDB Investment Pte Ltd, dan Sumitomo Chemicals Company Ltd. CEO Grup Aster, Erwin Ciputra, menyampaikan akuisisi tersebut merupakan tonggak penting bagi Aster dalam upaya mendukung tujuan strategis. Berbekal kemampuan baru, dirinya meyakini, layanan  Grup Aster kepada pelanggan bakal semakin kuat. "Operasi manufaktur CPPSC akan memperkaya  ekosistem kami dan membuka peluang baru untuk inovasi dan kolaborasi. Kami menantikan bergabungnya CPSC dalam keluarga besar Aster, dan bersama tim yang mumpuni, kami akan mencapai pertumbuhan baru yang signifikan di industri," tutur Erwin. (Yetede)

Saham Antam Melaju Rp 3.000

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)
Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu saham favorit pelaku pasar, dengan kenaikan agresif selama sebulan terakhir hingga 81,43% ke level Rp2.540 di penutupan perdagangan Selasa (6/5/2025). Fundamental solid dengan lonjakan laba hingga 10 kali lipat, tren bullish harga emas, serta valuasi yang murah,  membuat analis percaya, saham produsen logam mulia ini akan terus melaju hingga Rp 3.000. "Melihat pola historis, arah pergerakan (ANTM) selanjutnya secara teknikal berpotensi menguji kembali level psikologis 3.00, yang merupakan area tertinggi pada tahun 2022. Jika momentum saat ini terus terjaga, level tersebut menjadi target rasional selanjutnya dalam jangka pendek hingga menengah," kata Invesment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan kepada Investor Daily. Topan melihat, kenaikan harga saham ANTM dalam sebulan terakhir didorong oleh beberapa sentimen utama. Pertama, lonjakan harga emas global yang mencapai rekor US$ 3.400 per troy ounce pada April 2025. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko resesi global. Sebagai produsen emas terintegrasi, Antam secara langsung mendapatkan keuntungan dari kondisi tersebut. (Yetede)

IHSG Siap Uji Level 7.000

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)
IHSG semakin mendekati level psikologis 7.000, seiring dengan solidnya sentimen domestik dan dukungan dari kinerja emiten kuartal 1-2025. Meski tetap dibayangi potensi aksi ambil untung dan tekanan global, analis menilai tren positif masih akan berlanjut hingga akhir kuartal II-2025. Pada perdagangan Selasa (06/05/2025), IHSG ditutup menguat sebesar 66,24 poin (0,97%) ke level 6.898,19. Ini reli penguatan selama tujuh hari beruntun. Di saat yang sama, ada lima saham menjadi mesin cuan pemodal ini, dan masuk daftar top gainers hari ini, bahkan ada tiga yang mentok batas auto rejection atas (ARA). Berdasarkan data RTI, sebanyak 333 saham terpanntau naik, 268 saham turun, dan 205 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 16,7 triliun. Volume perdagangan sebanyak 23,18 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.249.292 kali. Mayoritas sektor saham menguat pada penutupan pasar. Penguatan terbesar terjadi pada sektor baku 3,1%. Diikuti penguatan di sektor barang energi 2%, sektor konsumsi non primer 1,2%, dan sektor infrastruktur 0,8%. Sedangkan pelemahan terjadi pada sektor teknologi 0,5%, sektor properti 0,2%, sektor transportasi 0,1%, dan sektor industrian 0,1%. (Yetede)

Saham Telekomunikasi Masih Belum Bangkit

HR1 07 May 2025 Bisnis Indonesia

Melansir laporan keuangan kuartal I/2025, sejumlah emiten telekomunikasi mencatatkan kinerja yang beragam di tengah tantangan ekonomi dan kompetisi industri yang ketat. Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Rajeev Sethi, menyampaikan bahwa EXCL berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,93% menjadi Rp8,6 triliun, namun laba bersih justru turun drastis 28,93% menjadi Rp384,5 miliar, dipengaruhi oleh persaingan ketat dan proses merger dengan Smartfren.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (TLKM) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 4,01% menjadi Rp5,81 triliun dan penurunan pendapatan sebesar 2,11%. Meski begitu, manajemen TLKM menyebut perusahaan tetap menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan pada segmen digital, enterprise, dan data center.

Di sisi lain, PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatat penurunan pendapatan menjadi Rp13,57 triliun, namun berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 1,31% menjadi Rp1,31 triliun. CEO Indosat, Vikram Sinha, menekankan pentingnya fokus pada pelanggan kelas menengah ke bawah dalam kondisi daya beli yang melemah, sambil mengoptimalkan pengalaman pelanggan.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, dan Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai prospek sektor telekomunikasi tetap moderat hingga positif dengan peluang perbaikan di kuartal selanjutnya seiring kompetisi yang tidak terlalu agresif dan efisiensi operasional pasca-merger, khususnya pada ISAT. Tantangan utama yang masih dihadapi meliputi stagnasi ARPU, tekanan harga, dan kebutuhan investasi berkelanjutan dalam transformasi digital.

Serapan belanja modal (capex) juga menunjukkan komitmen terhadap penguatan jaringan dan digitalisasi: EXCL sebesar Rp1,24 triliun, ISAT Rp2,62 triliun (naik 22,8%), dan TLKM Rp5 triliun, dengan fokus pada jaringan dan layanan digital. Strategi capex ini mempertegas arah industri menuju penguatan infrastruktur dan layanan berbasis teknologi guna menjaga daya saing di tengah tekanan ekonomi dan dinamika pasar.


Saham BUMN Hijau, Investor Antusias

HR1 07 May 2025 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun proses pemulihan fundamental korporasi BUMN belum sepenuhnya merata, stabilnya pergerakan indeks IDX BUMN20 mencerminkan optimisme pasar terhadap kinerja emiten-emiten pelat merah. Mayoritas emiten dalam indeks tersebut menunjukkan pertumbuhan laba pada kuartal I/2025 tanpa ada yang merugi, bahkan indeks hanya turun tipis sebesar -0,51% secara year-to-date, mengungguli kinerja IHSG dan indeks lainnya.

Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, menilai pemulihan BUMN masih dibayangi tantangan seperti pelemahan daya beli dan harga komoditas. Namun, ia menaruh harapan besar pada peluncuran Danantara sebagai katalis positif, selama implementasi dan tata kelolanya dijalankan dengan baik.

Senada, Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menyatakan bahwa keberhasilan Danantara akan bergantung pada transparansi dan keseimbangan antara misi komersial dan pelayanan publik. Ia juga menilai bahwa kinerja positif BUMN mencerminkan efektivitas strategi pemerintah dalam memperkuat peran BUMN sebagai motor ekonomi.

Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset menambahkan bahwa penguatan saham BUMN ke depan akan dipengaruhi oleh penurunan suku bunga, efektivitas Danantara, dan arus masuk investor asing, dengan catatan BUMN harus konsisten menerapkan prinsip good corporate governance.

Dari sisi pelaku industri, Nicolas D. Kanter (Dirut ANTM), Fina Eliani (Direktur Keuangan TINS), dan Hery Gunardi (Dirut BRI) menegaskan komitmen emiten BUMN dalam menjaga efisiensi, memperkuat strategi pasar, dan menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan struktural dan risiko eksternal, optimisme terhadap BUMN tetap tinggi karena dukungan pemerintah, kinerja keuangan yang solid, dan strategi efisiensi yang terus diperkuat oleh masing-masing korporasi. Namun, efektivitas implementasi kebijakan serta konsistensi dalam tata kelola akan menjadi kunci keberlanjutan pemulihan dan pertumbuhan sektor BUMN ke depan.



Maraknya Kecelakaan Lalul Lintas jalan Yang Melibatkan Angkutan Truk

KT1 05 May 2025 Investor Daily

Maraknya kecelakaan lalul lintas jalan yang melibatkan angkutan truk karena dugaan pelanggaran overdimension dan overload (ODOL) harus disikapi tegas melalui rekomondasi perlunya pendirian sekolah pengemudi angkutan. Pelaksana tugas (PL) Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan, kontribusi kecelakaan akibat ODOL diantaranya karena para pengemudi truk tidak terdidik dengan baik. "Pengemudi truk di Indonesia belajar secara otodidak. Tidak ada yang belajar secara struktur sebagaimana di moda lainnya. Oleh sebab itu KNKT membuat rekomondasi ke Pemerintah agar segera membuat sekolah pengemudi bagi pengemudi bus dan truk," ujarnya.

Adapun, mekanisme sertifikatasi pengemudi bisa dilakukan seperti halnya sertifikasi pilot pesawat yang dimulai dari proses belajar untuk memperoleh lisensi pilot selanjutnya diizinkan membawa pesawat pribadi dan bisa terbang  dengan jumlah jam tertentu bisa menerbangkan pesawat komersial,"  Wildan menegaskan, setelah dapat sertifikasi lisensi pilot, tidak serta merta bisa menerbangkan semua pesawat, namun harus memperoleh sertifikasi untuk setiap jenis pesawat yang akan diterbangkan. "Ini karena setiap pesawat beda merek beda tipe sehingga teknologinya bisa berbeda. Jadi sertifikasi jelas untuk setiap merek kendaraan," ungkapnya. (Yetede)

Laba Emiten MIND ID Melesat

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Emiten-emiten anggota BUMN Holding Industri Pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) mencatatkan kinerja keuangan yang solid, dengan laba bersih naik 158,68% menjadi Rp2,9 triliun pada tiga bulan  pertama 2025 dibandingkan periode  sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp 1,2 triliun. Pertumbuhan bottom line tersebut ditopang oleh kenaikan sebagian harga komoditas pertambangan terutama segmen emas  dan timah, dibarengi dengan pengendalian biaya secara optimal oleh PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sehingga mampu mengangkat kinerja pendapatan MIND ID sebesar 74,17% dari sebelumnya Rp 23,8 triliun, menjadi Rp41,6 triliun pada kuartal 1-2025. Pendapatan ATNM misalnya, melambung signifikan mencapai 203,6% dari Rp 8,6 triliun menjadi Rp 26,1 triliun dari Rp 8,6 triliun menjadi Rp26,1 triliun pada kuartal 1-2025 yang mayoritas berasal dari penjualan di dalam negeri berkat strategis Antam memperkuat basis pelanggan dari produk emas, bijih nikel, dan produksi bijih bauksit di pasar domestik. Terutama segmen emas, logam mulia Antam tersebut berhasil mencetak pertumbuhan sebesar 1-2025 dibanding penjualan emas pada periode sama tahun lalu Rp7,6 triliun. (Yetede)