;
Tags

Saham

( 1722 )

Aturan Baru MSCI: Tantangan Baru Bursa RI

HR1 14 Apr 2025 Kontan (H)

Pasar saham Indonesia tengah dihantam oleh gelombang sentimen negatif, salah satunya berasal dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tidak memasukkan tiga saham Grup Barito—PT Barito Renewables Energy (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan PT Petrosea (PTRO)—dalam tinjauan indeks Mei 2025. Keputusan ini menyusul kekhawatiran MSCI terkait rendahnya tingkat investabilitas saham tersebut akibat dominasi pengendali serta aktivitas pasar yang tidak wajar (unusual market activity/UMA).

Kriteria baru MSCI yang lebih ketat, termasuk pencoretan saham yang masuk papan pemantauan khusus (PPK), dikhawatirkan akan membuat investor asing menarik dananya. Hingga pertengahan April 2025, aliran dana asing keluar dari pasar saham domestik sudah mencapai Rp 35,86 triliun, sementara dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 13,5 triliun, turut menekan nilai tukar rupiah.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy, and Planning di Kiwoom Sekuritas, menilai bahwa kebijakan MSCI dapat menjadi sentimen negatif berkepanjangan bagi bursa Indonesia, bahkan berpotensi mengalihkan bobot saham dari Indonesia ke negara seperti China atau India. Hal ini akan menurunkan eksposur Indonesia di kancah pasar global dan mempersempit peluang masuknya dana asing.

Sementara itu, Daniel Agustinus, Direktur PT Kanaka Hita Solvera, memprediksi bahwa IHSG akan bergerak di kisaran 5.800–6.600 dalam jangka pendek, dan menyarankan investor untuk bersikap wait and see, sedangkan Audi mendorong pemilihan saham dengan fundamental yang kuat dan tata kelola yang transparan sebagai strategi adaptasi terhadap arah kebijakan MSCI.

Buyback Saham Diuji Efektivitasnya

HR1 12 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)

Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan kelonggaran bagi emiten untuk melakukan buyback saham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) telah dimanfaatkan oleh 21 emiten, dengan total anggaran mencapai Rp14,97 triliun. Langkah ini mencerminkan tingginya kepercayaan diri emiten terhadap fundamental bisnis mereka, namun dinilai belum cukup efektif meredakan tekanan pasar yang lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memberikan fleksibilitas dalam menghadapi volatilitas pasar dan menjaga kepercayaan investor. OJK juga berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Danantara untuk memperkuat investasi domestik, terutama dari institusi keuangan milik negara.

Namun, para analis seperti Felix Darmawan dari Panin Sekuritas dan Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas sepakat bahwa buyback hanyalah solusi jangka pendek, terutama jika dilakukan oleh emiten dengan kapitalisasi besar. Stabilitas pasar lebih bergantung pada faktor global seperti arah suku bunga The Fed, nilai tukar rupiah, dan tensi geopolitik. Buyback terbukti belum efektif, bahkan ketika dilakukan oleh bank-bank BUMN.

Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas juga menyoroti pentingnya konsistensi dan kemampuan emiten dalam melanjutkan aksi buyback di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, sejumlah emiten seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) milik Prajogo Pangestu dan PT Avia Avian Tbk. (AVIA) menilai buyback sebagai bentuk keyakinan terhadap prospek jangka panjang serta upaya menjaga kepercayaan publik dan investor.

Secara keseluruhan, buyback menjadi sinyal positif dari manajemen, tetapi masih membutuhkan dukungan sentimen eksternal dan kebijakan makro yang stabil untuk benar-benar mendorong pemulihan pasar.


Tetap Tenang Meski IHSG Naik dan Turun

KT1 12 Apr 2025 Investor Daily (H)
Perdagangan di Bursa Efek Jakarta (BEI) telah terbuka kembali setelah libur panjang Idul Fitri 28 Maret hingga 7 April 2025. Selama hari Raya, pasar global mengalami gejolak signifikan akibat kebijakan tarif impor yang diberlakukan AD dan respons balasan dari Tiongkok. Seperti diperkirakan para pelaku pasar modal, situasi yang sama terjadi pada saat perdagangan di BEI dibuka kembali pada Selasa 8 April 2025. IHSG sempat turun 9,19% dan menyentuh level 5.912,06. Sebelum libur Idul Fitri 2025, pada Kamis, 27 Maret 2025 , IHSG ditutup menguat 0,59% ke level 6.510,62. Penurunan yang terjadi pada hari pertama pasca libur Idul Fitri membuat BEI mengambil langkah untuk trading halt atau penghentian sementara perdagangan. Gejolak ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal seperti kebijakan tarif resiprokal AS terhadap sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, serta depresiasi nilai tular Rupiah yang menembus sempat menyentuh angka psikologis Rp 17.000 per dolar AS di pasar luar negeri. DI tengah kondisi pasar yang bergejolak ini, kunci utama bagi investor adalah tetap tenang dan tidak mengambil keputusan emosional. Perlu diingat, tujuan investor di pasar modal adalah jangka panjang. Pasar saham memang naik-turun dan itu normal. Gejolak harian bukan alasan untuk mengubah tujuan investasinya adalah untuk dana pensiun 10-20 tahun lagi, maka penurunan saat ini tidak akan berdampak signifikan dalam jangka panjang. (Yetede)

Geliat Bisnis Wifi Makin Terang Benderang

KT1 12 Apr 2025 Investor Daily (H)
Geliat PT Solusi Energi Digital Tbk (WIFI) mengembangkan bisnis internet murah (affordable internet) dengan menjangkau 49 juta pelanggan (household) dalam lima tahun ke depan makin terang benderang. Terbaru WIFI mempertebal modal hingga total Rp 9,8 triliun. Suntikan dana segar tersebut masing-masing berasal dari peningkatan modal (private placement) sebesar Rp 4 triliun dari Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East) dan Rp5,8 triliun akan bersumber dari aksi penambahan modal melalui  hak memesan terlebih dahulu (HMTED) atau right issue akan digunakan untuk pembangunan jaringan Fiber to The Home (FTTH) sebanyak 4 juta sambungan di Jawa dan 1,64% sisanya sebagai modal kerja. NTT East merupakan entitas anak perusahaan dari perusahaan telekomunikasi terbesar asal Jepang, Nippon Telegraph and Telephone Corporation  (NTT Group). NTT East memperbesar modal ke Grup Surge ditandai melalui perjanjian pemegang sajam dengan entitas anak WIFI yaitu PT Jaringan Infra Andalan (JIA) dan perjanjian penyertaan saham dengan entitas anak WIFI yang lain yakni PT Integrasi  Jaringan Ekosistem (IJE) atau WEAVE. "Telah terjadi kesepakatan pemegang saham di mana NTT East melakukan peningkatan modal (private placement) kepada IJE dengan nilai investasi sebesar Rp 4 triliun dalam bentuk tunai dan dalam bentuk lainnya," jelas Direktur WIFI Shannedy Ong. (Yetede)

Langkah IHSG Masih Berat Jangan Senang Dulu

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,79% atau 286,03 poin ke level 6.254 ,02 pada perdagangan Kamis (10/4/2025), didorong oleh sentimen positif dari pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda pelaksanaan tarif impor tambahan terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia, selama 90 hari Meski mampu bangkit setelah koreksi parah sejak pembukaan perdagangan perdana usai libur panjang Lebaran 2025, langkah IHSG masih menghadapi tantangan ke depan. Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana menjelaskan, keputusan Trump menunda pemberlakuan tarif resiprokal memberikan ruang nafas bagi pasar. "Kecuali untuk China, seluruh negara mitra dagang utama AS diberi penangguhan, dan ini memicu rally serentak di bursa global," ujar dia kepada Investor Daily. Namun, Hendra mengingatkan bahwa tekanan belum sepenuhnya mereda. Meskipun IHSG menguat signifikan, investor asing mencatat net sell sebesar Rp632 miliar, mencerminkan kehati-hatian terhadap ketidakpastian global. Ketegangan dagang AS-China masih tinggi, setelah Trump menaikkkan tarif impor produk China menjadi 125%, yang langsung dibalas oleh Beijing dengan tarif 84%. (Yetede)

Penundaan Tarif AS Tak Bisa Buat Terlena

HR1 11 Apr 2025 Kontan (H)
Pasar saham global, termasuk Indonesia, sempat bergairah usai keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda penerapan tarif impor balasan selama 90 hari—kecuali terhadap China. Penundaan ini menjadi katalis positif jangka pendek, mendorong IHSG naik 4,79% ke level 6.254,02 pada Kamis (10/4), sejalan dengan penguatan di bursa Asia lainnya seperti Jepang dan Taiwan.

Namun, para analis memperingatkan agar euforia ini tidak dianggap sebagai sinyal pemulihan permanen. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menyebut bahwa sentimen ini hanya bersifat temporer. Jika tidak ada progres nyata dalam negosiasi perdagangan selama masa tenggang, maka indeks kemungkinan akan kembali tertekan.

Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas memandang strategi Trump kemungkinan bertujuan melemahkan ekonomi China dalam jangka panjang, namun penundaan tarif ini tetap bisa membawa efek positif bagi Indonesia, seperti pemulihan IHSG dan penguatan rupiah ke kisaran Rp 16.400–Rp 16.600 per dolar AS.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo memperkirakan IHSG bisa menembus kisaran 6.500–6.800 selama kuartal kedua 2025, dengan sektor barang konsumsi primer menjadi pilihan aman bagi investor.

Liza juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap harga komoditas seperti batubara dan CPO, serta arah kebijakan The Fed. Ia menyarankan saham di sektor konsumen, perbankan, dan emiten dengan dividen tinggi sebagai alternatif defensif di tengah volatilitas yang diperkirakan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Penundaan tarif oleh Trump memang memantik optimisme pasar, namun investor disarankan tetap berhati-hati dan fokus pada strategi jangka menengah dengan mempertimbangkan risiko global dan volatilitas yang masih tinggi.

Potensi Impor Naik Bisa Ganggu Industri Lokal

HR1 11 Apr 2025 Kontan
Meskipun kebijakan pemerintah untuk menghapus kuota impor komoditas strategis menimbulkan potensi tantangan, prospek PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) tetap dinilai positif di tahun 2025, terutama karena dukungan dari stabilitas harga bahan baku dan peluang besar dari program pemerintah.

Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa pembukaan keran impor bisa menekan harga jual akibat melimpahnya pasokan daging, yang berpotensi menurunkan pendapatan JPFA. Namun, pada level nilai tukar rupiah saat ini, dampaknya masih dianggap terbatas.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis dari Kiwoom Sekuritas, juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa impor dapat menurunkan harga ayam, yang sudah terlihat pada kuartal pertama 2025. Meski demikian, penurunan harga tersebut berhasil diimbangi oleh kestabilan harga bahan baku seperti jagung.

Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas menyoroti bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pendorong utama pertumbuhan JPFA ke depan. Dengan target 82,9 juta penerima manfaat pada 2027, JPFA sebagai pemain utama dalam program ini berada dalam posisi yang sangat strategis. Ia memproyeksikan pendapatan JPFA tumbuh 9,03% menjadi Rp 60,84 triliun, dengan laba bersih naik tipis 0,93% ke Rp 3,24 triliun.

Ezaridho dan Edvisor merekomendasikan saham JPFA dengan rating buy, target harga di kisaran Rp 2.400–Rp 2.500. Sementara Aziz menyarankan strategi trading jangka pendek hingga menengah, dengan target harga lebih konservatif di Rp 2.000–Rp 2.010.

Namun, para analis juga menekankan risiko dari ketergantungan impor kedelai, potensi kelebihan pasokan unggas, dan keberlanjutan program MBG yang masih bergantung pada realisasi anggaran dan implementasi pemerintah.

Prospek JPFA tetap menjanjikan, dengan catatan perlunya perhatian pada fluktuasi harga bahan baku dan kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap pasar domestik.

Menaksir Dividen Emiten MIND ID

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pergerakan harga komoditas yang berfluktuasi sepanjang tahun 2024, berimbas pada kinerja keuangan emiten anggota BUMN holding pertambangan MIND ID, yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Meski mencatatkan penurunan laba bersih 18,41% ke level Rp10,92 triliun pada 2024, emiten-emiten MIND ID diyakini akan tetap membagikan dividen dalam jumlah besar. Tahun lalu, jumlah dividen yang dibagikan  emiten MIND ID mencapai Rp 7,65 trliun, yang dikontribusi dari dividen Antam sebesar Rp 3,07 triliun dan Bukit Asam Rp4,58 triliun, sementara vale Indonesia dan Timah tidak membagikan dividen. Dividen yang dibagikan Antam mencapai 100% laba bersih 2023, dan Bukit Asam sebesar 75% dari total laba bersih perseroan. "Untuk dividen yield tahun buku 2024 yang akan dibagikan, kemungkinan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena emiten-emiten MIND ID ini masih memiliki komitmen kuat dalam membagikan dividen," kata senior Market Chartist Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta kepada Investor Daily. Nafan meyakini. Walaupun kinerja laba secara keseluruhan mengalami penurunan, emiten-emiten anggota MIND ID tersebut cukup loyal dalam membagikan dividen kepada negara dan pemegang saham ritel. (Yetede)

Kondisi Inflasi hingga Maret 2025 Masih Terkendali Sebesar 1,03%

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily (H)

Kondisi inflasi hingga Maret 2025 masih terkendali sebesar 1,03% secara year on year (yoy), setelah bulan sebelumnya mencatatkan deflasi. Pemerintah optimistis inflasi pada tahun ini berada di kisaran 2,5%, kurang lebih 1% dengan terus menjaga stabilitas harga bahan pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idul Fitri. Langkah pemerintah menjalankan paket kebijakan pada Ramadan turut berkontribusi untuk menjaga stabilitas inflasi.

"Berbagai insentif yang diberikan seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP tiket pesawat di masa HBKN Ramadan dan Idul Fitri berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025," ucap Febrio. Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat pada level 2,48% (yoy). Sebagian besar kelompok pengeluaran meningkat, terutama kelompok pakaian dan alas kaki seiring meningkatnya permintaan jelang Idul Fitri. Komponen inflasi pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang didorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas. Meskipun demikian, beberapa komoditas pangan tercatat meningkat secara bulan ke bulan  karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. (Yetede)

Jalan Tol Melambat, Kinerja Jasa Marga Terpengaruh

HR1 10 Apr 2025 Kontan
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menghadapi tantangan perlambatan pertumbuhan kinerja pada tahun 2025, terutama disebabkan oleh stagnasi volume lalu lintas di jalan tol. Meskipun pendapatan JSMR tumbuh signifikan sebesar 35% yoy menjadi Rp 28,70 triliun pada 2024, laba bersih justru turun 33% yoy ke angka Rp 4,5 triliun, terutama karena hilangnya keuntungan dari revaluasi investasi di Tol Trans Jawa.

Andhika Cipta Labora, analis dari Kanaka Hita Solvera, memproyeksikan trafik kendaraan tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, ditandai dengan penurunan jumlah pemudik saat Lebaran 2025—momen penting bagi peningkatan trafik. Sementara itu, Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menyebut tren lalu lintas yang datar sebagai faktor penekan utama, dan memperkirakan dua ruas tol baru yang akan dioperasikan JSMR tidak akan memberikan dampak signifikan.

Namun, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas masih optimistis. Ia menilai bahwa penyesuaian tarif tol yang dilakukan JSMR akan menjadi sumber pertumbuhan pendapatan di tahun ini, karena efeknya baru akan terasa penuh pada 2025. Sukarno memperkirakan pendapatan JSMR bisa tumbuh hingga 7% menjadi Rp 30,93 triliun, meski laba bersih diprediksi tetap menurun sebesar 18%.

Dari sisi rekomendasi saham, Aqil menurunkan rekomendasi dari buy menjadi hold dengan target harga Rp 4.200 per saham, menimbang potensi kinerja yang melambat. Sebaliknya, Sukarno dan Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas tetap memberikan rekomendasi buy, masing-masing dengan target harga Rp 5.500 dan Rp 4.180.

Meskipun JSMR masih memiliki peluang dari penyesuaian tarif, para analis menyoroti stagnasi trafik sebagai hambatan utama bagi pertumbuhan laba perusahaan di 2025.