Saham
( 1717 )Potensi Impor Naik Bisa Ganggu Industri Lokal
Menaksir Dividen Emiten MIND ID
Kondisi Inflasi hingga Maret 2025 Masih Terkendali Sebesar 1,03%
Kondisi inflasi hingga Maret 2025 masih terkendali sebesar 1,03% secara year on year (yoy), setelah bulan sebelumnya mencatatkan deflasi. Pemerintah optimistis inflasi pada tahun ini berada di kisaran 2,5%, kurang lebih 1% dengan terus menjaga stabilitas harga bahan pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idul Fitri. Langkah pemerintah menjalankan paket kebijakan pada Ramadan turut berkontribusi untuk menjaga stabilitas inflasi.
"Berbagai insentif yang diberikan seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP tiket pesawat di masa HBKN Ramadan dan Idul Fitri berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025," ucap Febrio. Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat pada level 2,48% (yoy). Sebagian besar kelompok pengeluaran meningkat, terutama kelompok pakaian dan alas kaki seiring meningkatnya permintaan jelang Idul Fitri. Komponen inflasi pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang didorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas. Meskipun demikian, beberapa komoditas pangan tercatat meningkat secara bulan ke bulan karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. (Yetede)
Jalan Tol Melambat, Kinerja Jasa Marga Terpengaruh
Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan
Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan
Saham Masih Atraktif, Saatnya untuk Cicil Beli
Chandra Asri Group Raksasa Energi dan Kimia Asia Tenggara
IHSG Runtuh, Sinyal Buruk untuk Ekonomi Nasional
Pada 8 April 2025, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indonesia mengalami penurunan signifikan, turun hingga 10% yang menyebabkan penghentian perdagangan saham untuk kedua kalinya setelah kejadian serupa pada 18 Maret 2025. Penurunan ini dipicu oleh dampak kebijakan tarif tinggi Presiden Amerika, Donald Trump, yang diberlakukan terhadap beberapa negara termasuk Indonesia, menyebabkan panik di kalangan investor.
Menurut Warren Buffet, dalam situasi ini di mana banyak investor "takut" dan menjual saham, justru merupakan kesempatan untuk membeli, karena harga saham utama Indonesia saat ini sedang terdiskon dan relatif murah. Indikator P/E ratio dan PBV menunjukkan bahwa saham-saham utama Indonesia berada pada posisi yang menarik untuk dibeli, meskipun terjadi penurunan.
Faktor eksternal, terutama kebijakan protektif Amerika, memengaruhi iklim ekonomi global dan berimbas pada penurunan indeks saham, baik di Indonesia maupun Amerika. Meskipun demikian, dalam jangka panjang, Indonesia diprediksi akan kembali bangkit seiring dengan adanya kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk mendorong stabilitas ekonomi.
Secara keseluruhan, meski mengalami penurunan tajam, potensi kenaikan saham dalam jangka panjang tetap ada, terutama karena secara fundamental, saham-saham Indonesia masih menunjukkan kinerja yang bagus. Oleh karena itu, saat ini bisa menjadi waktu yang tepat bagi para investor untuk membeli saham dengan harga yang relatif murah dan berpotensi memberikan keuntungan di masa depan.
Stimulus Ekonomi Jadi Harapan Investor
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022








