;
Tags

Saham

( 1717 )

THR Lebaran: BRI Siapkan Rp 51,74 Triliun

HR1 25 Mar 2025 Kontan
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 51,74 triliun atau Rp 343,4 per saham, yang mencerminkan 86,02% dari laba bersih tahun 2024 sebesar Rp 60,15 triliun. Keputusan ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan menunjukkan komitmen BRI dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.

Catur Budi Harto, Wakil Direktur Utama BBRI, menjelaskan bahwa pembagian dividen ini dilakukan dengan memperhatikan struktur modal dan kesiapan likuiditas untuk ekspansi bisnis, serta menjaga rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat di angka 19%.

Kinerja keuangan BRI pada Februari 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dengan laba bersih Rp 4,6 triliun, tumbuh 42% secara tahunan dan 129% secara bulanan. Hal ini memunculkan optimisme terhadap prospek saham BBRI.

Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas, melihat prospek perbaikan kinerja BRI sebagai sinyal positif, dan merekomendasikan hold dengan target harga Rp 4.400. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Analis Teknis Senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai pembagian dividen akan menjadi katalis positif, dan menyarankan buy dengan target harga Rp 3.830.

Dengan fundamental yang menguat dan pembagian dividen besar, saham BBRI diproyeksi memiliki potensi pemulihan dan pertumbuhan ke depan.

THR Lebaran: BRI Siapkan Rp 51,74 Triliun

HR1 25 Mar 2025 Kontan
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 51,74 triliun atau Rp 343,4 per saham, yang mencerminkan 86,02% dari laba bersih tahun 2024 sebesar Rp 60,15 triliun. Keputusan ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan menunjukkan komitmen BRI dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.

Catur Budi Harto, Wakil Direktur Utama BBRI, menjelaskan bahwa pembagian dividen ini dilakukan dengan memperhatikan struktur modal dan kesiapan likuiditas untuk ekspansi bisnis, serta menjaga rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat di angka 19%.

Kinerja keuangan BRI pada Februari 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dengan laba bersih Rp 4,6 triliun, tumbuh 42% secara tahunan dan 129% secara bulanan. Hal ini memunculkan optimisme terhadap prospek saham BBRI.

Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas, melihat prospek perbaikan kinerja BRI sebagai sinyal positif, dan merekomendasikan hold dengan target harga Rp 4.400. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Analis Teknis Senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai pembagian dividen akan menjadi katalis positif, dan menyarankan buy dengan target harga Rp 3.830.

Dengan fundamental yang menguat dan pembagian dividen besar, saham BBRI diproyeksi memiliki potensi pemulihan dan pertumbuhan ke depan.

Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG

KT3 24 Mar 2025 Kompas

IHSG anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut, saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar. Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.

“Saya berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging. Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem (28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan. Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas koruptor.”  (Yoga)

Naiknya Harga Cabai

KT3 24 Mar 2025 Kompas
Seorang pedagang terlihat sedang menyortir cabai merah keriting di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, pada hari Minggu (23/3/2025). Merangkak naiknya harga cabai selalu terjadi menjelang Lebaran dari tahun ke  tahun. Harga cabai merah keriting saat ini sekitar Rp 50.000 per kilogram, padahal sekitar dua pekan lalu, harga komoditas itu berkisar Rp 30.000 per kilogram. (Yoga)

Pasar Modal Tak Bisa Dipoles, Investor Tak Bisa Dibeli

KT3 24 Mar 2025 Kompas

Presiden Prabowo, dalam Sidang Paripurna Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (21/3) berseloroh tentang volatilitas harga saham di bursa Indonesia. Menurut dia, harga saham boleh saja naik turun, yang terpenting, pangan dan negara tetap aman. Pernyataan ini menanggapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 5 % ke level 6.073 dalam waktu kurang dari sehari pada 18 Maret 2025. Media nasional hingga media sosial memviralkan kabar ”IHSG Anjlok”, yang mengingatkan publik pada situasi serupa di awal masa pandemi Covid-19. Aksi jual oleh investor asing yang membuat pasar melemah sejak Oktober 2024 pada hari itu memuncak.

Justru di tengah tren positif pasar saham di banyak negara. Tak heran jika publik kemudian menuding faktor internal sebagai penyebab utama. Pasar yang dibangun atas dasar kepercayaan itu belakangan terusik oleh sejumlah kebijakan ekonomi dan politik pemerintahan baru. Mulai dari penambahan kementerian dan lembaga, efisiensi anggaran ASN demi program Makan Bergizi Gratis, konsolidasi aset BUMN untuk Danantara, rumor pergantian Menkeu Sri Mulyani, hingga pengesahan revisi UU TNI yang menghidupkan kembali nostalgia dwifungsi ABRI. Di sisi lain, masyarakat menengah ke bawah tengah dilanda kekhawatiran akibat penurunan pendapatan dan ancaman PHK yang semakin meluas.

Kondisi ini tecermin dalam survei Indeks Kepercayaan Konsumen oleh BI yang terus menurun sejak November dan mencapai angka 126,4 pada Februari 2025. Gejala pemburukan ekonomi juga tampak dari sisi fiskal. Hingga Februari 2025, penerimaan negara dilaporkan turun 20,85 % disbanding periode yang sama tahun sebelumnya, disebabkan merosotnya penerimaan perpajakan sebesar 30,19 % dibanding capaian dua bulan pertama tahun 2024. Ketika kondisi tersebut memperburuk kinerja IHSG, pemerintah mengklaim bahwa kondisi fiskal negara masih kuat. Pasar tidak bisa diminta untuk berpura-pura bahwa ekonomi sedang baik-baik saja ketika kenyataannya tidak demikian.

Menurut ekonom Agustinus Prasetyantoko, pasar memiliki inteligensinya sendiri. Karena itu, investor tidak bisa ”dibeli” hanya dengan narasi atau optimisme sepihak. Pelaku pasar, khususnya investor, cenderung lebih cepat dan cerdas dalam membentuk ekspektasi terhadap prospek ekonomi, membaik maupun memburuk. Tak heran jika respons pelaku sektor keuangan hampir selalu mendahului kenyataan di sektor riil. Ketika ekspektasi telah dijawab oleh realitas di lapangan, strategi membentuk persepsi positif saja tidak lagi memadai. Terlebih jika sosok kunci dalam perekonomian, seperti Presiden, justru bersikap berseberangan terhadap reaksi pasar yang telah lebih dahulu membaca kondisi riil. (Yoga)

Peraruhan untuk Stempel Layak Investasi

KT3 24 Mar 2025 Kompas (H)

Investor menilai potensi keuntungan berinvestasi di Indonesia semakin menurun. Tanpa perbaikan struktural dan pendekatan teknokratis dalam kebijakan pemerintah, berbagai risiko baru bisa muncul. Status layak investasi atau investment grade, jadi taruhan.  Demikian pesan dan aspirasi yang mengemuka pada Kompas Collaboration Forum (KCF) di Jakarta, Jumat(21/3). Komisaris Utama PT Pan Brothers Tbk Benny Soetrisno dan pengajar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, A Prasetyantoko, menjadi narasumber dalam acara bertema ”Ada Apa dengan Perekonomian Nasional?” tersebut. Prasetyantoko mengatakan, kondisi pasar keuanga domestik, terutama pasar saham, dalam beberapa waktu terakhir mengalami koreksi yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Maret 2025 turun hingga ke level 6.270 atau terkoreksi 21 % dibanding level tertingginya, 7.900 pada September 2024.

Hal itu terjadi karena, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Goldman Sachs, revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dari 5 % menjadi 4,9 %. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan profitabilitas emiten di Indonesia akan turun seiring outlook pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Selain itu, kebijakan pemerintah, seperti efisiensi anggaran, Danantara, dan program tiga juta rumah, dipandang dapat berdampak pada keberlanjutan fiskal ke depan. Alhasil, aliran modal asing di pasar keuangan domestic selama 17-20 Maret 2025 tercatat jual neto sebesar Rp 4,25 triliun, yang menekan nilai tukar rupiah yang cenderung bergerak dalam kisaran Rp 16.300-Rp 16.500 per USD.

Di sisi lain, investor asing masih menaruh keyakinan pada pasar obligasi negara, mengingat peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia masih dipertahankan pada level investment grade alias layak investasi. ”Sudah bunyi, sinyal  di equitymarket (pasar saham). Perlu dijaga jangan sampai merembet memengaruhi soverign rating-nya. Kalau itu sampai terjadi, kemungkinan terjadinya krisis yang lebih kompleks akan lebih besar,” kata Prasetyantoko. Apabila peringkat kredit Indonesia turun, likuiditas akan semakin mengetat dan berpotensi memicu krisis ekonomi. Dengan kata lain, perkembangan dinamika di pasar keuangan akan mendahului sektor riil. (Yoga)

Nasib Bank BUMN Ditentukan RUPS

HR1 24 Mar 2025 Kontan
Menjelang libur panjang Lebaran, pergerakan saham bank-bank BUMN diperkirakan sangat dipengaruhi oleh hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang kali ini menjadi sorotan karena melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk pertama kalinya. Keputusan penting seperti pembagian dividen dan pergantian direksi berpotensi menjadi katalis utama bagi kinerja saham-saham perbankan pelat merah yang tengah tertekan.

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menjadi salah satu figur yang diperkirakan akan digantikan dalam RUPS, dengan Putrama Wahju Setyawan disebut-sebut sebagai calon pengganti. Posisi Sunarso, Direktur Utama BRI, juga dikabarkan akan diganti, meski masa jabatannya belum berakhir. Nama Catur Budi Harto dan Hery Gunardi muncul sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut.

Dari sisi kebijakan, pembagian dividen menjadi perhatian utama investor. BNI mengusulkan rasio dividen sebesar 60% dari laba, dan BRI bahkan menaikkan hingga minimal 85%. Namun, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa rasio dividen yang terlalu tinggi bisa menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kinerja bank. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan fundamental dan prospek jangka panjang bank.

Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menambahkan bahwa tekanan pada saham bank tak lepas dari faktor politik domestik dan ketidakpastian terhadap program pemerintah baru, khususnya terkait efektivitas Danantara, yang membuat investor bersikap lebih hati-hati atau risk off terhadap saham sektor perbankan.

Investor menantikan arah kebijakan dan kepastian dari RUPS sebagai sinyal penting untuk menentukan kembali strategi investasi mereka di sektor perbankan BUMN.

Pekan Depan Struktur Kepengurusan Danantara akan Diumumkan

KT3 22 Mar 2025 Kompas

Susunan lengkap kepengurusan Badan Pengelola Investasi Danantara dijadwalkan akan diumumkan pada Senin (24/3/2025) pekan depan. Pengumuman struktur tim inti operasional ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap persepsi publik, termasuk sentimen investor di pasar modal. Hal itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani. ”Ya, tunggu saja hari Senin pukul 12.00,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3). Sejak pukul 14.30 hingga sekitar pukul 16.00, Presiden Prabowo mengadakan pertemuan tertutup dengan sejumlah menteri, kepala lembaga, dan direktur utama bank pemerintah di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal, PP yang mengatur inbreng atau pengalihan saham BUMN ke BPI Danantara diupayakan terbit sesuai waktu yang sudah dijadwalkan, yakni pada pekan ini. Wakil Menteri BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria mengatakan, target inbreng seluruh BUMN ke Danantara selesai akhir Maret 2025. Pelaksanaan inbreng ini, menurut rencana, dilakukan sebelum rapat umum pemegang saham (RUPS) sejumlah BUMN yang akan bergabung dengan Danantara.

”Sebelum RUPS, sudah kita lakukan inbreng. Beberapa RUPS akan mulai pada akhir bulan ini (Maret 2025),” ujar Dony seusai rapat konsultasi secara tertutup dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/3). Terkait dengan struktur organisasi Danantara, nama sejumlah tokoh yang akan mengisi struktur kepengurusan BPI Danantara dilaporkan oleh Rosan Roeslani, Dony Oskaria, dan Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir kepada Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/3) sore. Tokoh-tokoh dimaksud tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. (Yoga)

Belum Terbendungnya Volatilitas IHSG

KT1 22 Mar 2025 Investor Daily

Gelombang aksi pembelian kembali (buyback) saham oleh sejumlah emiten kalkap belum cukup membendung volatilitas indeks harga saharn gabungan (IHSG). Padahal sebagian besar emiten berkapitalisasi jumbo sudah menguntumkan dan melangsungkan buyback saham, misalnya, Grup Barito, Grup Alarn Tri dan deretan emiten Bank Himbara. Grup Barito menyampaikan telah menyiapkan total Rp 5 triliun untuk buyback saham TPIA, BREN, BRPT dan CUAN. Sedangkan Grup Alamn Tri mengalokasikan total Rp 4 triliun untuk melakukan buyback saham. Bahkan, Boy Thohir sudah memborong total 7,3 juta saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) secara pribadi maupun melalui perusahaan keluarganya, PT Trinugraha Thohir (TNT).

Konglomerat Prajogo Pangestu, juga sudah mengakumulasi 4,57juta saham BREN, termasuk PT PetrindoJaya Kreasi Tbk (CUAN) lewat PT Kreasi Jasa Persada yang mengakumulasi PTRO dengan total 273,84 juta saham. Transaksi buyback saham emiten Grup Barito akan terus berlanjut sebesar Rp 2 triliun untuk mengguyur saham TPIA dan BREN dan Rp 500 miliar untuk saham BRPT dan Rp 500 miliar CUAN. Emiten bank-bank BUMN seperti BBNI juga sudah ancang-ancang dengan menyiapkan Rp 1,5 triliun untuk buyback saham. BMRI menyisihkan Rp1,1 triliun dan BBRI sudah melangsungkan periode buyback saham dengan mengalokasikan dana Rp 3 triliun.

Aksi gelombang buyback, sekaligus menjadi isyarat dari para konglomerat dan emiten besar dalam menindaklanjuti kebijakan baru OJK yang mengizinkan emiten untuk melakukan buybeck tanpa perlu meminta persetujuan Rapat Umum Pernegang Saham (RUPS) sebagai upaya mengatasi kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan. Meski stimulus OJK itu disambut meriah dengan ramainya aksi buyback oleh para emiten, namun hal tersebut belum cukup mampu membuat pasar saham bergerak stabi. Buktinya, IHSG kembah terkoreksi sebanyak 123,49 poin (1,94%) ke level 6.258,1 pada perdagangan Jumat (21/3/2025) kemarin. (Yetede)


Langkah Baru Setelah Melepas Bisnis Supermarket

HR1 22 Mar 2025 Kontan
PT DFI Retail Nusantara Tbk (sebelumnya PT Hero Supermarket Tbk) kini memfokuskan strategi bisnisnya pada dua lini utama: Guardian (ritel kesehatan dan kecantikan) dan IKEA (furnitur rumah tangga), setelah resmi menghentikan operasional Hero Supermarket di akhir 2024.

Hadrianus Wahyu Trikusumo, Presiden Direktur DFI Retail Nusantara, menegaskan bahwa fokus baru ini bertujuan mendorong pertumbuhan jangka menengah hingga panjang secara berkelanjutan. Ia mencatat bahwa kinerja keuangan perusahaan mulai membaik, dengan kerugian tahun 2024 berhasil ditekan hingga 95,77% menjadi Rp 5,85 miliar dari tahun sebelumnya yang mencatat rugi bersih Rp 132,16 miliar. Perbaikan ini didorong oleh peningkatan kinerja Guardian serta keuntungan dari divestasi Hero Supermarket dan penjualan aset non-inti.

Diky Risbianto, Head of Communications and Corporate Affairs DFI Retail, mengungkap bahwa Guardian kini menjadi kontributor utama pendapatan dan akan terus diperluas ke kota-kota tier 2 dan 3. Sementara IKEA akan difokuskan pada efisiensi operasional dan peningkatan daya tarik toko, dengan harapan bisa mendongkrak performa di tengah tantangan permintaan furnitur rumah tangga yang masih lesu.

Perubahan arah bisnis ini menunjukkan langkah strategis DFI Retail dalam menyesuaikan diri terhadap tren konsumen dan peluang pasar, sembari berupaya memulihkan kinerja keuangan secara bertahap.