Peraruhan untuk Stempel Layak Investasi
Investor menilai
potensi keuntungan berinvestasi di Indonesia semakin menurun. Tanpa perbaikan
struktural dan pendekatan teknokratis dalam kebijakan pemerintah, berbagai
risiko baru bisa muncul. Status layak investasi atau investment grade, jadi taruhan. Demikian pesan dan aspirasi yang mengemuka pada
Kompas Collaboration Forum (KCF) di Jakarta, Jumat(21/3). Komisaris Utama PT
Pan Brothers Tbk Benny Soetrisno dan pengajar di Universitas Katolik Indonesia
Atma Jaya Jakarta, A Prasetyantoko, menjadi narasumber dalam acara bertema ”Ada
Apa dengan Perekonomian Nasional?” tersebut. Prasetyantoko mengatakan, kondisi
pasar keuanga domestik, terutama pasar saham, dalam beberapa waktu terakhir
mengalami koreksi yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Maret
2025 turun hingga ke level 6.270 atau terkoreksi 21 % dibanding level tertingginya,
7.900 pada September 2024.
Hal itu
terjadi karena, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital
International (MSCI) dan Goldman Sachs, revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi
Indonesia 2025 oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD),
dari 5 % menjadi 4,9 %. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan
profitabilitas emiten di Indonesia akan turun seiring outlook pertumbuhan ekonomi
yang lebih rendah. Selain itu, kebijakan pemerintah, seperti efisiensi
anggaran, Danantara, dan program tiga juta rumah, dipandang dapat berdampak
pada keberlanjutan fiskal ke depan. Alhasil, aliran modal asing di pasar
keuangan domestic selama 17-20 Maret 2025 tercatat jual neto sebesar Rp 4,25
triliun, yang menekan nilai tukar rupiah yang cenderung bergerak dalam kisaran
Rp 16.300-Rp 16.500 per USD.
Di sisi
lain, investor asing masih menaruh keyakinan pada pasar obligasi negara,
mengingat peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia masih
dipertahankan pada level investment grade alias layak investasi. ”Sudah bunyi,
sinyal di equitymarket (pasar saham). Perlu
dijaga jangan sampai merembet memengaruhi soverign rating-nya. Kalau itu sampai
terjadi, kemungkinan terjadinya krisis yang lebih kompleks akan lebih besar,” kata
Prasetyantoko. Apabila peringkat kredit Indonesia turun, likuiditas akan
semakin mengetat dan berpotensi memicu krisis ekonomi. Dengan kata lain,
perkembangan dinamika di pasar keuangan akan mendahului sektor riil. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023