Pasar Modal Tak Bisa Dipoles, Investor Tak Bisa Dibeli
Presiden
Prabowo, dalam Sidang Paripurna Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan
Jakarta, Jumat (21/3) berseloroh tentang volatilitas harga saham di bursa
Indonesia. Menurut dia, harga saham boleh saja naik turun, yang terpenting,
pangan dan negara tetap aman. Pernyataan ini menanggapi penurunan Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 5 % ke level 6.073 dalam waktu kurang dari sehari
pada 18 Maret 2025. Media nasional hingga media sosial memviralkan kabar ”IHSG
Anjlok”, yang mengingatkan publik pada situasi serupa di awal masa pandemi
Covid-19. Aksi jual oleh investor asing yang membuat pasar melemah sejak
Oktober 2024 pada hari itu memuncak.
Justru di
tengah tren positif pasar saham di banyak negara. Tak heran jika publik
kemudian menuding faktor internal sebagai penyebab utama. Pasar yang dibangun
atas dasar kepercayaan itu belakangan terusik oleh sejumlah kebijakan ekonomi
dan politik pemerintahan baru. Mulai dari penambahan kementerian dan lembaga,
efisiensi anggaran ASN demi program Makan Bergizi Gratis, konsolidasi aset BUMN
untuk Danantara, rumor pergantian Menkeu Sri Mulyani, hingga pengesahan revisi UU
TNI yang menghidupkan kembali nostalgia dwifungsi ABRI. Di sisi lain,
masyarakat menengah ke bawah tengah dilanda kekhawatiran akibat penurunan
pendapatan dan ancaman PHK yang semakin meluas.
Kondisi
ini tecermin dalam survei Indeks Kepercayaan Konsumen oleh BI yang terus
menurun sejak November dan mencapai angka 126,4 pada Februari 2025. Gejala
pemburukan ekonomi juga tampak dari sisi fiskal. Hingga Februari 2025, penerimaan
negara dilaporkan turun 20,85 % disbanding periode yang sama tahun sebelumnya,
disebabkan merosotnya penerimaan perpajakan sebesar 30,19 % dibanding capaian
dua bulan pertama tahun 2024. Ketika kondisi tersebut memperburuk kinerja IHSG,
pemerintah mengklaim bahwa kondisi fiskal negara masih kuat. Pasar tidak bisa
diminta untuk berpura-pura bahwa ekonomi sedang baik-baik saja ketika
kenyataannya tidak demikian.
Menurut
ekonom Agustinus Prasetyantoko, pasar memiliki inteligensinya sendiri. Karena itu,
investor tidak bisa ”dibeli” hanya dengan narasi atau optimisme sepihak. Pelaku
pasar, khususnya investor, cenderung lebih cepat dan cerdas dalam membentuk ekspektasi
terhadap prospek ekonomi, membaik maupun memburuk. Tak heran jika respons
pelaku sektor keuangan hampir selalu mendahului kenyataan di sektor riil. Ketika
ekspektasi telah dijawab oleh realitas di lapangan, strategi membentuk persepsi
positif saja tidak lagi memadai. Terlebih jika sosok kunci dalam perekonomian,
seperti Presiden, justru bersikap berseberangan terhadap reaksi pasar yang
telah lebih dahulu membaca kondisi riil. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023