Ekspor
( 1055 )Ekspor Industri Tumbuh 30%
JAKARTA - Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama Januari-Mei 2021, ekspor industri pengolahan mencapai US$ 66,7 miliar, naik 30,53% dibandingkan periode sama 2020 sebesar US$ 51,10 miliar. Itu artinya, industri pengolahan berkontribusi paling tinggi terhadap ekspor nasional, yakni 79,42% dari total US$ 83,99 miliar. Membaiknya kinerja ekspor selama lima bulan ini memicu surplus perdagangan US$ 10,17 miliar. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai, besarnya proporsi ekspor produk industri pengolahan sekaligus menggambarkan telah terjadi pergeseran ekspor Indonesia dari komoditas primer ke produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Hal ini dinilai dapat menghindarkan ekspor dari gejolak harga komoditas primer.Kebijakan pro-investasi dan pro-ekspor, kata dia, juga perlu dibarengi dengan kebijakan peningkatan daya tahan dan daya saing industri dalam negeri. Sebagai salah satu upaya peningkatan daya tahan dan daya saing industri dalam negeri, Kemenperin telah menginisiasi kebijakan substitusi impor sebesar 35% pada tahun 2022.
(Oleh - HR1)
Ekspor Kendaraan Capai US$ 3,65 Miliar
Nilai ekspor kendaraan dan bagiannya sepanjang Januari-Mei 2021 mencapai US$ 3,65 miliar atau setara Rp 51,95 triliun, naik 44,96% dibanding periode sama tahun lalu US$ 2,52 miliar. Ekspor tersebut berupa 165.959 unit kendaraan dan 37.965.242 unit komponen otomotif. Ekspor dilakukan oleh 10 pabrikan otomotif, yakni PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Suzuki Indomobil Motor, PT Hino Motors Manufacturing Indonesia, PT Honda Prospect Motor, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, PT Handal Indonesia Motor, PT Sokonnindo Automobile, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Isuzu Astra Motor Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kendaraan tersebut
mengontribusi 4,59% terhadap total
ekspor nonmigas Indonesia dalam lima
bulan pertama tahun ini. Ekspor produk
dengan nomor HS 87 tersebut dilakukan
baik dalam bentuk kendaraan utuh (completely build up/CBU), kendaraan terurai
(completely knock down/CKD), dan suku
cadang kendaraan (spare part).
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam situs
resminya, Minggu (20/6) menyebutkan, ekspor CBU dilakukan oleh sembilan perusahaan, yakni PT Toyota Motor
Manufacturing Indonesia, PT Astra
Daihatsu Motor, PT Suzuki Indomobil
Motor, PT Hino Motors Manufacturing
Indonesia, PT Honda Prospect Motor,
PT Mitsubishi Motors Krama Yudha
Indonesia, PT Handal Indonesia Motor,
PT Sokonnindo Automobile, dan PT
SGMW Motor Indonesia. Selama lima
bulan 2021, pabrikan-pabrikan tersebut
mengekspor 121.326 unit CBU, naik
25,8% dibanding periode sama tahun
lalu yang sebanyak 96.480 unit.
Sementara itu, ekspor komponen
otomotif pada Januari-Mei 2021 tumbuh
68,1% menjadi 37.965.242 unit dibanding
periode sama tahun lalu 22.586.311 unit.
Ekspor komponen itu dilakukan oleh
empat pabrik, yakni PT Honda Prospect
Motor, PT Suzuki Indomobil Motor, PT
Toyota Motor Manufacturing Indonesia,
dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia. Beberapa negara tujuan ekspor
sparepart tersebut adalah Argentina,
India, Malaysia, Myanmar, Pakistan,
Filipina, Afrika Selatan, Thailand, Venezuela, Australia, Brasil, Taiwan, Vietnam,
Jepang, dan Meksiko.
(Oleh - HR1)
Revitalisasi Tambak dan Pakan Jadi Tantangan
Pemerintah optimistis produksi dan ekspor udang, yang merupakan andalan perikanan nasional, bisa tumbuh signifikan. Namun, upaya untuk menggenjot produksi udang yang berkelanjutan masih menghadapi tantangan baik di hulu maupun di hilir. Pemerintah menargetkan kenaikan bertahap ekspor udang hingga 250 persen dalam kurun tahun 2019-2024 atau dari 1,7 miliar dollarAS menjadi 4,25 miliar dollar AS. Secara tahunan, nilai ekspor udang diharapkan tumbuh rata-rata 20 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan volume ekspor rata-rata 15 persen per tahun.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengemukakan, Indonesia menempati peringkat kelima sebagai eksportir udang dunia pada 2019, setelah India, Ekuador, Vietnam, dan China. Namun, kontribusi udang Indonesia terhadap pasar dunia masih kecil, yakni 7,1 persen. ”Potensi pasar harus digarap, terutama pasar yang memberikan nilai tambah tinggi,” kata Trenggono, dalam Shrimp Talks, yang diselenggarakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran, Bandung, Senin (14/6/2021) di Bandung. Trenggono mengatakan, Upaya mencapai target produksi dan ekspor udang harus dengan menggunakan pendekatan hulu-hilir. Tantangan yang muncul adalah aspek keberlanjutan. Dari kunjungan ke beberapa lokasi tambak, pihaknya masih menemukan tambak udang di pinggiran laut yang tidak dilengkapi dengan instalasi pengolahan air limbah sehingga dikhawatirkan menimbulkan kerusakan yang fatal. ”Pembangunan tambak udang nasional harus memperhatikan kaidah ekonomi biru. Kesehatan laut menjadi tujuan utama,” kata Trenggono. Persoalan lain adalah kebutuhan pakan yang merupakan komponen biaya terbesar. Sinergi dengan perguruan tinggi diperlukan untuk mencapai komponen pakan yang efisien serta mengurangi ketergantungan pada pakan impor dan pakan dari hasil tangkapan.
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia Rokhmin Dahuri mengemukakan bahwa target peningkatan produksi udang menjadi 2 juta ton dan kenaikan nilai ekspor hingga 250 persen pada 2024 hanya bisa dicapai melalui revitalisasi tambak dan pembukaan tambak baru. Pembukaan tambak baru tidak selalu identik dengan perusakan habitat bakau karena bisa dilakukan di luar lahan bakau. Ia menilai revitalisasi tambak udang kadang gagal akibat persoalan teknis ataupun sosiokultural. Peningkatan produksi udang harus ditopang sistem manajemen rantai suplai yang terintegrasi, cara budidaya yang baik, dan produksi udang yang berkelanjutan. Selain itu, diperlukan penguatan industri pengolahan udang. ”Hancurnya tambak selama ini karena tidak mematuhi tata ruang dan daya dukung. Jangan pernah mengembangkan tambak dengan melampaui daya dukungnya,” kata Rokhmin.
Ketua Divisi Akuakultur Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Harris Muhtadi mengemukakan, produsen pakan siap menyuplai kebutuhan pakan untuk pencapaian target produksi udang. Dibutuhkan 3 juta ton pakan udang untuk memproduksi 2 juta ton udang pada 2024. Pabrik pakan ikan pun siap melakukan konversi untuk menghasilkan pakan udang. Produksi pakan budidaya perikanan di Indonesia menempati peringkat keempat dunia, yakni 1,7 juta ton pada 2020. Dari jumlah itu, sebanyak 400.000 ton berupa pakan udang dan 1,3 juta ton pakan ikan.Model Baru Misi Dagang
Pandemi Covid-19 tak menyurutkan misi dagang antarpulau dan
daerah, bahkan lintas negara. Pandemi yang membatasi perdagangan fisik
melahirkan model baru jaringan perdagangan dan bisnis secara virtual dan hibrida.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sekolah Ekspor, Kementerian Perdagangan,
dan Kementerian Luar Negeri bekerja sama memanfaatkan momentum pandemi untuk memperkuat
jaringan perdagangan dan bisnis secara virtual. Salah satunya ialah mempertemukan
diaspora Indonesia di luar negeri dengan pelaku usaha di dalam negeri pada
ruang virtual.
Akhir Mei 2021, misalnya, ruang interaksi virtual ini direalisasikan melalui Seri Dialog Global 500K Eksportir Baru ”Diaspora Eksportir Baru Wilayah Amerika Serikat”. Diaspora yang memiliki bisnis di sejumlah wilayah AS dihadirkan. Mereka bergerak di sektor ritel, logistik, pergudangan terintegrasi, dan distribusi. Selain berbagi pengalaman dan membagikan kondisi pasar AS, para diaspora Indonesia itu juga berkomitmen menjadi aggregator atau penghubung dengan pebisnis dan konsumen di AS.
Adapun Balai Besar Pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Ekspor dan Sekolah Ekspor bekerja sama mengurasi dan memetakan diaspora-diaspora Indonesia di beberapa negara. Hal itu dalam rangka membangun jaringan ekspor dari hulu hingga hilir dan pembuatan peta jalan pengembangan ekspor bagi 500.000 eksportir baru dari kalangan UKM.
Pandemi juga membuat pemerintah ”menyulap” pameran perdagangan internasional tahunan Trade Expo Indonesia (TEI) menjadi TEI Virtual Exhibition (TEI-VE) pada 2020. Sebulan digelar, pameran yang merupakan bagian dari misi dagang dan investasi ini membukukan transaksi senilai 1,2 miliar dollar AS. Pameran ini menghadirkan 690 pelaku usaha dan 7.459 pembeli yang meliputi 3.352 pembeli dari 127 negara mitra dagang dan 4.107 pembeli lokal.
Untuk menggerakkan perdagangan antardaerah dan pulau, pemerintah daerah menggalakkan misi dagang dan investasi baik secara virtual maupun hibrida (daring dan luring). Pada akhir September 2020, misalnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar misi dagang hibrida dengan Pemprov Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Maluku. Total transaksi yang dibukukan dalam misi dagang hibrida itu senilai Rp 168,22 miliar. Pada 3 Juni 2021, DKI Jakarta dan Jatim menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan pembentukan komunitas kebutuhan pangan. Acara ini juga menghadirkan pelaku usaha dari DKI Jakarta dan Jatim dan berhasil membukukan transaksi senilai Rp 750,439 miliar.
Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar yang berbasis di India dan AS, mencatat, pasar acara virtual global bernilai 77,98 miliar dollar AS pada 2019 dan 94,04 miliar dollar AS pada 2020. Laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate) dari 2020 hingga 2027 diperkirakan sebesar 23,2 persen. Acara virtual ini antara lain mencakup konferensi video, streaming, dan penyiaran langsung, bursa kerja, pameran dagang, serta komunikasi atau pertemuan bisnis perdagangan dan investasi.Januari-April, Ekspor Perikanan US$ 1,75 M
JAKARTA – Ekspor hasil kelautan dan perikanan
sepanjang Januari-April
menunjukkan tren positif yakni naik 4,15% dari
periode sama tahun sebelumnya menjadi US$
1,75 miliar. Kementerian
Kelautan dan Perikanan
(KKP) telah menargetkan
peningkatan kualitas produk kelautan dan perikanan (KP) demi menggenjot
volume dan nilai ekspor
2021. Bahkan, Menteri KP
Sakti Wahyu Trenggono
mencanangkan kenaikan
sekitar US$ 1 miliar untuk
tahun ini menjadi US$ 6,05
miliar.
Dirjen Penguatan Daya
Saing Produk Kelautan
dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti
mengatakan, selama Januari-April (catur wulan
I-2021) ekspor komoditas
KP menunjukkan kinerja positif. Merujuk data
Badan Pusat Statistik
(BPS), dibanding tahun
lalu, peningkatan nilai
ekspor produk KP naik
4,15% selama Januari-April 2021 (480 kode HS 8
digit). “Total nilai ekspor
selama caturwulan I-2021
sebesar US$ 1,75 miliar.
Pandemi Covid-19 selain
menjadi tantangan juga
memberikan kita peluang
mengingat kenaikan permintaan seafood di pasar
global di situasi seperti
saat ini,” tegas Artati Widiarti dalam keterangan
KKP, Kamis (3/6).
Direktur Pemasaran
Ditjen PDSPKP KKP Machmud memaparkan, Amerika Serikat (AS) menjadi negara tujuan utama
ekspor produk KP dari
Indonesia, ini terlihat dari
kontribusi sebesar US$
772,59 juta atau 44,23%
terhadap total nilai ekspor
Januari-April 2021. Disusul Tiongkok dengan US$
246,69 juta atau 14,12%
dari total nilai ekspor dan
Jepang US$ 190,70 juta
atau 10,92%. Selanjutnya
negara-negara Asean sebesar US$ 189,89 juta
(10,87%), Uni Eropa US$
83,64 juta (4,79%), dan
Australia sebesar US$
38,29 juta (2,19%).
(Oleh - HR1)
Ekspor Feronikel Sultra Tembus Rp 6,2 Triliun
Ekspor feronikel dari Sulawesi Tenggara mencapai nilai tertinggi dalam periode dua tahun terakhir. Ekspor olahan nikel, yang sebagian besar dikirim ke China, mencapai 429 juta dollar AS (Rp 6,2 triliun), naik 260 persen dari periode sama tahun 2020.
Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra Surianti Toar dalam pernyataan pers virtual di Kendari, Rabu (2/6/2021), menuturkan, ”Nilai fantastis karena terjadi kenaikan yang sangat signifikan. Secara volume juga meningkat, di mana nilai dan volume ekspor ini didominasi oleh industri pengolahan besi dan baja yang menjadi primadona Sultra”.
Kepala Laboratorium Ilmu Ekonomi Universitas Halu Oleo Syamsir Nur berpendapat, tingginya ekspor nikel Sultra didorong pulihnya perekonomian China. Salah satu yang mendorong tingginya nilai ekspor feronikel Sultra adalah kenaikan harga nikel dunia.Budi Daya, Pemda Diminta Kembangkan Perikanan Ekspor
PADANG — Pemerintah daerah didorong untuk memanfaatkan peluang pasar ekspor perikanan yang mencapai US$162 miliar. Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung pembinaan dari hulu sampai hilir kepada nelayan dan petambak. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan pengembangan perikanan ekspor daerah maka diharapkan ekspor secara nasional juga diharapkan terus meningkat. Selain turut memberikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang cukup besar, Indonesia juga mempunyai peluang besar untuk mengekspor hasil perikanannya.
Trenggono menambahkan potensi perikanan di Sumbar cukup baik tecermin dari adanya perusahaan ikan tuna namun skalanya masih kecil. Sedangkan untuk mendorong indstri, dari sisi nelayan perlu ditingkatkan alat tangkapnya sehingga pada akhirnya dapat menaikkan nilai tukar. Kepala DKP Sumbar Yosmeri mengatakan untuk ekspor kerapu sempat terhenti akibat kebijakan pemerintah serta adanya pandemi Covid-19. Kini ekspor ikan kerapu kembali hidup sejak akhir November 2020. “Jadi untuk ekspor ikan kerapu di Sumbar itu, ada kapal dari Hong Kong yang langsung menjemput ke Mandeh Pesisir Selatan. Karena ikan kerapu yang dijual itu dalam kondisi hidup,” sebutnya. Ikan kerapu yang diekspor mencapai 15—18 ton terdiri dari jenis ikan kerapu hasil budidaya masyarakat yakni kerapu cantik dan kerapu bebek. Keinginan itu juga telah dimasukan ke dalam program untuk pengembangan dan peningkatan budi daya yang orientasi ekspor. Salah satu potensi budi daya yang bagus untuk dikembangkan di Sumbar adalah ikan kerapu.
(Oleh - HR1)Biaya Logistik, ALFI Protes Ongkos Rawat Kontainer
Bisnis, Makassar - Para pengusaha logistik dan forwarder yang tergabung dalam ALFI memprotes rencana perusahaan pelayaran memberlakukan tarif baru pembersihan dan perawatan peti kemas yang akan diterapkan mulai Juni 2021. Pengenaan tarif pembersihan dan perawatan peti kemas atau cleaning and maintenance container akan menjadi beban dalam upaya pemulihan industri logistik. Pengenaan tarif itu bertentangan dengan sejumlah program pemerintah yang berupaya memulihkan ekonomi seluruh sektor setelah terdampak Covid-19.
Tarif cleaning and maintenance container seperti sebuah siasat dari operator pelayaran untuk membebankan biaya teknis kepada pengguna jasa, yakni pelaku usaha forwarding. Pengenaan tarif tersebut bersifat ambigu karena seharusnya komponen pembersihan dan perawatan kontainer itu integral dengan pengenaan uang pengapalan kontainer atau freight container yang dikenakan selama ini kepada pengguna jasa. Seharusnya, operator pelayaran memasukkan biaya pembersihan dan perawatan peti kemas dalam tarif pengapalan atau freight container dan tidak membuat komponen tarif baru.
Perusahaan pelayaran sebaiknya segera menghapus komponen baru tersebut yang terkesan mengada-ada serta aneh dengan besaran tarif yang kompak ditentukan perusahaan pelayaran. Disarankan agar perusahaan tidak membuat komponen tarif baru yang hanya akan berdampak kenaikan biaya logistik
(Oleh - IDS)
SKPT Biak Ekspor Perdana ke Jepang dan Tiongkok
JAKARTA – Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP)
menyatakan, Sentra Kelautan
dan Perikanan Terpadu (SKPT)
Biak tengah bersiap untuk
melakukan ekspor perdana
ke Jepang dan Tiongkok. Rencananya, produk yang diekspor
ke Negeri Sakura meliputi tuna
fresh whole, tuna loin fresh,
kepiting, lobster, udang tiger
frozen, ikan demersal, unagi, dan
kerapu sunu hidup.
Dirjen Penguatan Daya Saing
Produk Kelautan dan Perikanan
(PDSPKP) KKP Artati Widiarti,
Sabtu (22/5), saat meninjau kesiapan ekspor dari SKPT Biak
juga melihat langsung produk
yang akan diekspor ke Negeri Tirai Bambu berupa ikan
cakalang. “Ekspor perdana
berupa multiproducts mengingat saat ini baru mulai terjadi
musim timur yang diperkirakan
berlangsung hingga Agustus
2021.Ini buah dari kerja keras
berbagai pihak, kita melakukan
pendampingan dan akan ada
ekspor perdana dari Biak. Tentu
ini kebanggaan bagi Papua, bagi
Indonesia," tutur Artati.
Sejak 2017, Ditjen PDSPKP
sebagai penanggung jawab
SKPT Biak telah membangun
sejumlah sarana dan prasarana
meliputi ICS, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), 100 unit
kapal 3 GT lengkap dengan alat
tangkap, penyediaan sarana rantai dingin untuk nelayan berupa
sarana cool box dan chest freezer.
Seluruh sarana dan prasarana
telah dimanfaatkan dengan baik.
KKP melalui Ditjen PDSPKP
juga melakukan pembangunan
sumber daya manusia melalui edukasi seperti pelatihan
dan bimbingan teknis kepada
masyarakat perikanan berupa
peningkatan kapasitas kelembagaan dari sebelumnya bersifat
soliter, kemudian berkelompok
dan saat ini telah bergabung
dalam lembaga koperasi perikanan.
(Oleh - HR1)
Ekspor Manufaktur Melonjak 52,65%
Nilai ekspor industri manufaktur pada April 2021 mencapai US$ 14,92 miliar, melonjak 52,65% dibanding April 2020 (year on year/yoy). Ekspor industri manufaktur berkontribusi 80,73% terhadap total nilai ekspor yang mencapai US$ 18,48 miliar pada April 2021, melesat 51,94% (yoy) dan merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. pertumbuhan ekspor jauh lebih tinggi dibanding impor, yakni 51,94% berbanding 29,93%. Sejalan dengan itu, neraca perdagangan pada April 2021 mencatatkan surplus US$ 2,19 miliar, melanjutkan tren surplus berturut-turut selama 12 bulan terakhir. Selain ditopang peningkatan kinerja, membaiknya nilai ekspor pada April 2021 ditunjang oleh kenaikan harga komoditas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, kinerja ekspor manufaktur pada April 2021 sangat mengesankan, baik secara bulanan (month to month/mtm) maupun secara tahunan (yoy). “Performa ekspor pada April 2021 sangat bagus. Secara bulanan meningkat 0,56% dan secara tahunan naik 52,65%. Ini menunjukan bahwa sektor manufaktur mulai menggeliat,” ujar Suhariyanto dalam telekonferensi pers di Jakarta, Kamis (20/5). Secara kumulatif atau dari Januari sampai April 2021, menurut Suhariyanto, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 25,96% menjadi US$ 53,87 miliar dibanding US$ 42,77 miliar pada periode sama tahun silam.
Suhariyanto mengatakan, nilai
ekspor April 2021 yang mencapai US$
18,48 miliar merupakan yang tertinggi
dalam 10 tahun terakhir atau sejak
Agustus 2011. Pada Agustus 2011 nilai
ekpsor mencapai US$ 18,64 miliar.
Seiring meningkatnya ekspor, menurut dia, neraca perdagangan mengalami surplus US$ 2,19 miliar pada April
2021 dan surplus US$ 7,72 miliar pada
Januari-April 2021 (kumulatif).
Sementara itu, peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia,
Yusuf Rendy Manilet yang dihubungi
Investor Daily, mengungkapkan,
surplus perdagangan April 2021 tak
terlepas dari meningkatnya harga
komoditas.
Yusuf mencontohkan, harga komoditas unggulan Indonesia, seperti
minyak sawit mentah (crude palm
oil/CPO), batu bara, dan tembaga
merambat naik. Selain itu, pada
April ada momentum Ramadan dan
Idulfitri. Alhasil, negara-negara muslim meningkatkan impor CPO dari
Indonesia.
Dari sisi eksternal, menurut dia, beberapa negara yang merupakan mitra dagang utama Indonesia, seperti India, Malaysia, dan Singapura kembali mengalami peningkatan kasus Covid-19. Itu berpotensi mendorong mereka kembali melakukan lockdown yang akan akan menekan permintaan ekspor dari negara-negara tersebut. Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang membuat kinerja perdagangan April 2021 sangat baik. Faktor pertama adalah pulihnya permintaan dari pasar global, khususnya AS, Tiongkok, dan Uni Eropa (UE). Faktor kedua, yaitu meningkatnya harga komoditas global yang dipimpin rebound harga komoditas energi akibat dorongan permintaan dan terjadinya kelangkaan pasokan pada April akibat kemacetan di Terusan Suez.
Di sisi lain, Direktur PT Toyota
Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menilai pemulihan
pasar ekspor lebih cepat dibanding
pasar domestik. Tahun lalu, realisasi
ekspor Toyota mencapai 70% dari
realisasi ekspor 2019, sedangkan domestik hanya 59%. Tahun ini, volume
ekspor Toyota diproyeksikan mencapai 80% dari realisasi ekspor 2019.
Bob mengemukakan, per April
2021, ekspor mobil utuh tak terurai
(CBU) naik 14,5% menjadi 102 ribu
unit. Itu tanpa insentif relaksasi pajak
penjualan barang mewah (PPnBM).
Pada periode sama, penjualan mobil
domestik mencapai 265.934 unit,
tumbuh 9,8% dari periode sama tahun
lalu 242.058 unit. Gabungan Industri
Kendaraan Bermotor Indonesia
(Gaikindo) mematok target penjualan
2021 sebanyak 750 ribu unit, naik dari
2020 sebanyak 532 ribu unit.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
CEO di Pentas Politik Tanah air
23 May 2020 -
LADANG STARTUP MAKIN SUBUR
19 May 2020 -
Geliat Ekonomi dari Rumah
23 May 2020 -
BANK SYARIAH TETAP SOLID
19 May 2020









