Ekspor
( 1055 )Kasus Covid-19 Meledak, Indonesia Tetap Ekspor ke India
Indonesia tetap
melakukan kegiatan ekspor ke
India, meski negara tersebut
tengah melakukan karantina
wilayah (lockdown) akibat lonjakan kasus Covid-19. Dalam
gelombang kedua serangan
virus Covid-19, India mencatatkan 18,3 juta kasus infeksi
dan 204 ribu orang yang meninggal, dengan rekor 3.645
kematian dalam satu hari.
“Secara umum, tidak ada
kendala dalam kegiatan fasilitasi ekspor impor antara Indonesia dan India. Protokol
kesehatan diterapkan untuk
mencegah warga negara asing masuk, termasuk India.
Namun hal ini tidak mengganggu kelancaran bongkar
muat barang,” kata Menteri
Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dalam keterangan resmi, Kamis (29/4).
“Pelabuhan Dumai merupakan salah satu pelabuhan
dengan terminal curah cair
terbesar di Indonesia. Di tengah pandemi Covid-19, Dumai tetap menjadi pelabuhan
umum yang tertinggi dalam
pengapalan CPO dan turunannya di Indonesia. Kebanyakan
ekspor Indonesia ke India saat
ini adalah produk liquid atau
cair yang perpindahannya
lebih banyak melalui saluran
pipa, jadi sangat minimal keterlibatan orang,” terang Direktur Jenderal Perdagangan
Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi
Sumedi.
(Oleh - HR1)
Vaksinasi Topang Ekspor
Prospek kinerja ekspor Indonesia akan sangat bergantung pada perkembangan vaksinasi di negara mitra dagang utama. Selain ekspor ke China dan Amerika Serikat yang perekonomiannya membaik seiring penanganan Covid-19 dan vaksinasi yang cepat, Indonesia bisa mendapat momentum dari kondisi India yang tengah bergumul dengan penanganan pandemi.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam kunjungannya ke Kompas, Rabu (28/4/2021), menyatakan, perkembangan penanganan Covid-19 dan laju vaksinasi di negara-negara mitra dagang utama akan menentukan kinerja perdagangan dan prospek ekonomi RI ke depan.
Terkait hal itu, China dan Amerika Serikat (AS) terbilang cepat di antara 10 negara utama tujuan ekspor Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang diolah Kementerian Perdagangan, per 24 April 2021, China sudah memvaksin 28 persen populasinya, sementara AS telah memvaksin 50 persen populasinya.
Menurut Lutfi, pada Mei 2021, AS bahkan diprediksi sudah bisa menuntaskan vaksinasinya hingga 100 persen. Pertumbuhan produk domestik bruto AS diprediksi mencapai 5,1 persen pada 2021. Adapun nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2020 mencapai 18,62 miliar dollar AS. Sementara ekonomi China diproyeksikan tumbuh 8,4 persen tahun ini. Nilai ekspor Indonesia ke China tahun 2020 mencapai 31,78 miliar dollar AS.
Akan tetapi, lepas dari kondisi China dan AS, Indonesia patut mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 di India. Kementerian Perdagangan mencatat, meski Indonesia masih mengalami surplus perdagangan dengan India, ada pelemahan ekspor ke India pada dua bulan pertama tahun 2021. Surplus RI dengan India tercatat turun dari 1,4 miliar dollar AS pada Januari-Februari 2020 menjadi 790 juta dollar AS pada Januari dan Februari 2021.
Lutfi menambahkan, ada beberapa produk unggulan yang akan diandalkan untuk ekspor tahun ini. Pertama, besi dan baja yang pangsa pasar terbesarnya adalah China (69 persen), minyak kelapa sawit dengan pangsa pasar terbesar China (17 persen) dan India (15 persen), serta perhiasan dengan pangsa pasar terbesarnya Singapura (36 persen).
Produk unggulan lainnya adalah produk otomotif dan suku cadangnya dengan pangsa pasar terbesar Filipina (24 persen) serta produk elektronik dengan pangsa pasar terbesar AS (20 persen) dan Singapura (17 persen). Periode super siklus atau kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan yang saat ini terjadi ikut menguntungkan RI.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economy Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, meski ekspor ke India dapat terganggu, prospek ekspor ke AS dan China masih jauh lebih besar. ”Jadi, terlepas dari kondisi India saat ini, potensi ekspor RI setahun ini masih tinggi karena negara-negara lain permintaannya masih tinggi,” ujarnya.
Gapki: Ekspor Sawit RI ke India Masih Normal
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa lonjakan kasus Covid-19 di India yang terjadi sejak
pekan lalu belum mempengaruhi kinerja ekspor
minyak sawit nasional. Ekspor sawit Indonesia
ke India hingga saat ini masih berjalan normal.
Pada 2020, India merupakan pasar ekspor
terbesar kedua untuk sawit Indonesia dengan
volume 4,65 juta ton setelah Tiongkok yang
sebesar 5 juta ton.
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, pekan lalu,
India memang mengalami kasus
lonjakan Covid-19 gelombang
kedua. Namun sejauh ini dampak
lonjakan kasus tersebut belum
dirasakan Indonesia, kecuali
terjadi tambahan kasus hingga
selama satu bulan baru hal itu
nantinya akan berdampak, termasuk terhadap kinerja ekspor sawit
nasional. “Sikap Indonesia masih
memasang status wait and see
dan terus melihat perkembangan
India. Kami berharap kasus Covid-19 di India segera turun,” kata
Joko Supriyono saat buka puasa
Gapki bersama media di Jakarta,
Rabu (28/4).
Joko menjelaskan, India memang pasar terbesar ekspor sawit
Indonesia. Saat ini, Pemerintah
India tengah dihadapi kepanikan
karena jumlah kematian dalam
sehari sangat banyak. Lonjakan
kasus Covid-19 di India diduga
terjadi karena masyarakatnya
menganggap remeh Covid-19 pascavaksinasi.
Ekspor minyak sawit RI Maret
2021 mencapai 3,24 juta ton atau
62,70% lebih tinggi dari Februari
yang hanya 1,99 juta ton. Kenaikan
harga dan volume menghasilkan
nilai ekspor sawit Maret 2021 sebesar U$ 3,74 miliar atau lebih tinggi
dari Februari 2021 yang hanya US$
2,08 miliar. Konsumsi domestik
pada Maret 2021 mencapai 1,59
juta ton atau sedikit terkoreksi dari
Februari 2021 yang sebesar 1,61
juta ton, konsumsi minyak sawit
untuk biodiesel pada Maret 2021
turun 0,50% menjadi 625 ribu ton
dari 635 ribu ton pada Februari,
oleokimia juga turun 3,40% menjadi
168 ribu ton dari 174 ribu ton. Secara year on year (yoy) sampai Maret
2021, konsumsi dalam negeri 3,80%
lebih tinggi dari 2020.
(Oleh - HR1)
Sektor Manufaktur Sumbang 79,66 Persen Ekspor RI di Triwulan I 2021
Neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas sepanjang Januari-Maret 2021 mengalami surplus sebesar US$ 3,69 miliar.Secara kumulatif, nilai ekspor industri pengolahan nonmigas pada Januari-Maret 2021 adalah sebesar US$ 38,96 miliar atau naik 18,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
Industri manufaktur masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Sepanjang tiga bulan tahun ini, sektor manufaktur memberikan kontribusi terbesarnya hingga 79,66 persen dari total nilai ekspor nasional yang menyentuh US$ 48,90 miliar.
Jatim Siap Perbesar Ekspor Sarang Walet
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), siap mendukung pengembangan ekspor Sarang Burung Walet (SBW). Mengingat potensinya yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor dan meningkatkan penghasilan devisa negara.
Nilai ekspor Sarang Burung Walet Jatim pada tahun 2020 adalah 99.43 juta dolar AS dengan total berat 209,5 kilogram. China merupakan pasar utama ekspor SBW disusul Hongkong, Amerika Serikat, dan Singapura.
Untuk mendukung hal tersebut, Disperindag Jatim telah menerapkan sejumlah strategi antara lain memfasilitasi standarisasi, fasilitasi kelancaran proses ekspor melalui koordinasi dengan instansi sektoral terkait kegiatan ekspor. Dengan berbagai strategi maupun kebijakan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor Jatim utamanya pada komoditas Sarang Burung Walet.
Perdagangan Daerah, Kinerja Ekspor Kopi Kebal Di Tengah Pandemi
Bisnis, SURABAYA — Tren permintaan pasar ekspor komoditas kopi tahun ini diprediksi mengalami peningkatan meskipun masih di tengah pandemi Covid-19. Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Jawa Timur memprediksi kinerja ekspor mampu meningkat hingga 20%.
Sekretaris Gaeki Jatim Ichwan Nursidik mengatakan peningkatan itu seiring dengan adanya potensi sejumlah pengembangan pasar baru. Pasar baru yang potensial bagi komoditas kopi Jatim yakni Irak, Iran, Lebanon, UEA, Filipina, Malaysia, dan China terutama untuk jenis kopi olahan.
Data Gaeki menyebutkan bahwa ekspor kopi Jatim pada 2020 mencapai 64.621 ton dengan total nilai US$138,5 juta atau turun dibandingkan dengan 2019 yang mampu mencapai 70.238 ton atau US$148,9 juta.
Kinerja ekspor kopi 2019 lebih tinggi jika dibandingkan dengan kinerja ekspor 2018 yang mencapai 66.881 ton atau US$154,8 juta.
Ichwan menyatakan dengan mulai bergeraknya roda perekonomian, awal tahun ini ekspor kopi Jatim juga menunjukan tren yang positif.
Pada kuartal I/2021 tercatat sudah ada ekspor kopi sebanyak 23.102 ton dengan nilai US$46,3 juta. Volume ekspor itu meningkat 52% dibandikan dengan kuartal I/2020 yakni 15.193 ton atau US$33,5 juta.
Bahkan, lanjut Ichwan, jika melihat kinerja dari bulan ke bulan, ada tren peningkatan yang bagus, dari Januari 2021 ekspornya 6.693 ton atau US$13,7 juta
Kemudian Februari meningkat menjadi 7.227 ton atau US$14,6 juta, dan pada Maret naik lagi menjadi 9.236 ton atau US$17,8 juta.
“Pasar ekspor pada Maret lalu ini cukup bagus, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, bahkan dibandingkan Maret 2020 ada tren kenaikan sampai 101%, karena Maret tahun lalu volumenya hanya terealisasi 4.606 ton,” imbuhnya.
Ichwan menambahkan dari data kinerja ekspor kopi Jatim selama kuartal I/2021, sebanyak 17,8 juta kg dikontribusi oleh kopi jenis Robusta dengan nilai US$31,9 juta, disusul kopi olahan 4,51 juta kg dengan nilai US$11,4 juta, serta kopi jenis Arabika sebanyak 669.330 kg dengan nilai US$2,95 juta.
Berdasarkan data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, volume ekspor biji kopi melalui Pelabuhan Belawan hingga Februari 2021 menuju Amerika Serikat adalah 4.263 ton atau memberi andil sebesar 44,77% terhadap ekspor kopi Sumut.
Adapun nilai ekspornya mencapai US$17,33 juta atau memberi andil sebesar 43,12% terhadap total nilai ekspor kopi Sumut.
Sementara itu, volume ekspor kopi Sumut sepanjang 2020 menuju Negeri Paman Sam adalah 28.824 ton.
(Oleh - HR1)
Cheil Jedang Ekspor Produk Bioteknologi US$ 580 Juta
JAKARTA – PT Cheil Jedang Indonesia (CJI), perusahaan bioteknologi ternama asal
Korea Selatan, menargetkan
ekspor sebesar US$ 580 juta atau
setara Rp 8,41 triliun pada tahun
2021. Seluruh produk ekspor
CJI merupakan produk yang
sangat dibutuhkan dalam mata
rantai perdagangan global untuk
produk pakan dan makanan.
“Target kami bisa menguasai
pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS), karena memang permintaan pasar untuk produk dengan konsep alam dan ramah
lingkungan ini sedang meningkat
di negara tersebut,” kata Wakil
Presiden CJI Plant Pasuruan
Yoon Tae Sang dalam keterangan
resmi, belum lama ini.
Yoon Tae Sang menyampaikan,
cysteine dengan merk Flavor
Nrich™ Master C telah menjawab permintaan pasar global,
khususnya untuk industri makanan. Produk ini merupakan
asam amino alami yang dapat
dipergunakan oleh siapapun,
termasuk para kelompok vegan.
Pada 2021, CJI menargetkan
penjualan produk FlavorNrich™
Master C dapat menembus negara-negara di Eropa dan AS.
Presiden Direktur CJ Indonesia Group Shin Hee Sung mengungkapkan, total investasi untuk
produk asam amino, khususnya
cysteine mencapai US$ 100 juta.
Selain itu, saat ini CJI mengembangkan produksi polihidroksialkanoat (PHA) yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan
pakan yang bisa dikembangkan
sebagai bahan biopolimer untuk
produksi plastik ramah lingkungan senilai US$ 50 juta dan segera
dipasarkan dalam waktu dekat.
(Oleh - HR1)
Ekspor Perdana L-Cysteine ke AS
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendampingi Menteri Perdagangan (Mendag) RI Muhammad Lutfi meluncurkan ekspor perdana produk L-Cysteine ke Amerika Serikat. Peluncuran tersebut dilaksanakan di PT. Cheil Jedang (CJ) Indonesia, Pasuruan, Selasa (20/4).
Mendag RI Muhammad Lutfi pun menyampaikan, produk yang diekspor adalah olahan vegetarian dengan rasanya seperti daging, Karena memiliki pasar ekspor premium, harganya Rp9 miliar per kontainer. Prosesnya pun dikemas dengan temperatur kontrol sesuai standar agar tidak mudah hancur.
CEO PT Integra Indocabinet, Halim Rusli, mengklaim permintaan ekspor meubel meningkat meski di saat pandemi Covid-19. Setiap bulan PT Integra mampu mengekspor 1.000 kontainer furniture, dengan pasar utamanya Amerika Serikat.
Mendag Lutfi menilai keberadaan PT Integra sangat penting karena termasuk salah satu pabrik penghasil furniture terbesar di Indonesia dengan pasar utamanya adalah luar negeri. Lutfi menambahkan peluang Amerika Serikat semakin terbuka lebar karena kompetitor Indonesia yakni Vietnam saat ini tengah menghadapi sanksi dari Amerika Serikat.
Ekspor Perikanan Capai US$ 1,27 Miliar
Jakarta - Ekspor hasil perikanan sepanjang Januari - Maret 2021 mencapai US$ 1,27 miliar atau naik 1,40% dari periode sama tahun sebelumnya. Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong produk-produk perikanan dalam negeri bisa bersaing di pasar global, sejumlah langkah telah dijalankan KKP di antaranya mempermudah layanan perizinan serta spesifikasi yang menjadi syarat produk perikanan bisa dipasarkan ke luar negeri.
sejalan dengan dukungan penuh dari pemerintah untuk perkembangan industri perikanan dalam negeri, KKP mengimbau eksportir perikanan untuk mengikuti pemerintah, baik itu soal pajak hingga jaminan sosial bagi anak buah kapal perikanan. Diharapkan kepercayaan dan dukungan penuh dari pemerintah tidak disalahartikan dengan melanggar aturan-aturan yang ada.
(Oleh - IDS)
Kuartal I, Ekspor Mobil Capai US$ 2,34 Miliar
Jakarta - Nilai ekspor kendaraan dan bagian sepanjang kuartal I-2021 mencapai US$ 2,34 miliar atau sekitar Rp 34,25 triliun, naik 15,48% dibanding periode sama tahun lalu US$ 2,02 miliar. EKspor produk bernomor HS 87 ini mengontribusi 5,05% dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan, ekspor sepanjang Januari-Maret 2021 terdiri dari 107.995 unit kendaraan dan 22,39 juta unit komponen otomotif.
Ekspor kendaraan tersebut naik 13,87% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 94.838 unit kendaraan. Sebanyak 78.820 unit kendaraan diekspor dalam bentuk kendaraan utuh (completely built up/CBU), dan 29.175 unit dalam bentuk kendaraan terurai (completely knock down/CKD). Ekspor CBU sepanjang kuartal I-2021 naik tipis 0,3% dibanding periode sama 2020 yang sebanyak 78.576 unit. Sementara itu, ekspor kendaraan dalam bentuk CKD melonjak 79,4% pada Januari-Maret 2021 menjadi 29.175 unit dibanding periode sama 2020 yang sebanyak 16.262 unit. Tak hanya kendaraan, ekspor komponen otomotif juga mengalami peningkatan pada kuartal awa 2021. Ekspor komponen dalam periode tersebut tumbuh 28,8% menjadi 22.389.796 pieces dibanding sebelumnya 17.384.410 pieces.
Meskipun digempur pandemi Covid-19, industri otomotif mampu menyumbang ke PDB nonmigas sebesar 4,24% sepanjang tahun 2020. Saat ini, tercatat ada 21 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang ada di Indonesia. Nilai investasi mereka menyentuh hingga Rp 71,35 triliun, dengan total kapasitas produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun dan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 38 ribu orang. Pemerintah berupaya mendorong percepatan transformasi industri otomotif menuju green technology.
(Oleh - IDS)
Pilihan Editor
-
Maskapai Bersiap Terbangkan Penumpang Non-Mudik
07 May 2020 -
Otomotif Global Bersiap untuk Pulih
02 May 2020 -
Penyebab Kenaikan Harga Gula
30 Apr 2020 -
Penjualan Video Game Melejit
29 Apr 2020 -
20.018 WP Badan Ajukan Insentif Pajak
27 Apr 2020









