;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Sarang Burung Walet, Izin Ekspor Langsung Butuh Dukungan

Ayutyas 25 Mar 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis - Pelaku usaha sarang burung walet di Provinsi Nusa Tenggara Barat memperjuangkan izin ekspor komoditas tersebut bisa langsung ke negara tujuan agar tidak perlu melalui daerah lain. Potensi ekspor Sarang Burung Walet di NTB cukup besar yakni mencapai 20 ton per tahun. Tetapi selama ini pengirimannya masih dititipkan melalui kota yang memiliki izin langsung untuk melakukan ekspor diantaranya lewat Surabaya, Medan, dan Jakarta. Pengusaha Sarang Burung Walet NTB Lalu Ading ber­harap Pemerintah Provinsi NTB bergerak cepat mengurus izin ekspor mengingat potensinya cukup besar.

Pengusaha yang memiliki budi daya Sarang Burung Walet di Praya Lombok Tengah tersebut memjelaskan bahwa setiap tahun ada 20 ton sarang burung walet NTB yang dieskpor ke China, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Malaysia. Nilai jual sarang Burung Walet tersebut mencapai Rp440 miliar per tahun dengan estimasi harga Rp22 juta per kilogram. “Yang kami ekspor harga sarang burung walet bersih Rp22 juta hingga Rp25 juta per kilogram. Sedangkan burung walet kotor Rp13 juta sampai Rp15 juta,” ungkapnya.

(Oleh - HR1)

Suap Izin Ekspor dan Budi Daya Benur, Komitmen Rp 5 Miliar Bisa Dicicil

Ayutyas 25 Mar 2021 Bisnis Indonesia

JAKARTA — Terdakwa Suharjito yang merupakan pemilik sekaligus Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP) mengaku diminta uang komitmen Rp5 miliar saat mengurus izin ekspor dan budi daya Benih Bening Lobster (BBL) atau benur. Dalam surat dakwaan disebutkan pada Juni 2020, Manager Operasional Kapal PT DPPP Agus Kurniyawanto menemui dua orang staf khusus Menteri KKP sekaligus menjadi ketua dan wakil ketua tim uji tuntas ekspor dan budi daya benih lobster Andreau Misanta Pribadi dan Safri. Dalam pertemuan itu, Andreau dan Safri menyebutkan untuk mendapatkan izin yang dimaksud, PT DPPP harus memberikan uang komitmen kepada Edhy Prabowo melalui Safri sebesar Rp5 miliar yang dapat diberikan secara bertahap sesuai kemampuan perusahaan.

“Saudara Agus bertanya ke anak buah Dirjen Budi Daya, lalu Agus diminta bertanya ke stafsus dan di situ letak komitmen yang diminta, kemudian disampaikan ke saya, ‘Tolong sampaikan ke Harto ini ada komitmen yang lainnya juga begitu, nilainya Rp5 miliar dan bisa dicicil’,” ujar Suharjito dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (24/5). Dalam perkara ini, Suharjito didakwa memberikan suap senilai total Rp2,146 miliar yang terdiri dari 103.000 dolar AS (sekitar Rp1,44 miliar) dan Rp706.055.440 kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Suharjito mengaku perusahaan miliknya sudah 5 tahun memiliki usaha budi daya udang. Dia menyambut gembira peraturan yang diterbitkan Edhy Prabowo pada 4 Mei 2020, yang mengizinkan dilakukannya budi daya dan ekspor benur.  Setelah ada peraturan itu, PT DPPP mengajukan izin ekspor dan budi daya benur ke KKP pada 4 Mei—18 Juni 2020. Tapi dalam perjalanannya, menurut Suharjito, proses perizinan itu mengalami hambatan dan berjalan lambat. Dia kemudian meminta Agus menelusuri lambatnya perizinan dan mengetahui bahwa perlu ada komitmen sebesar Rp5 miliar.

Dalam sidang dengan agenda mendengarkan keterangan ahli, yaitu ahli hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Mudzakir, Suharjito mempertanyakan apakah dirinya selaku penyuap aktif atau pasif. Dalam perkembangan lain, tim penyidik KPK telah menyelesaikan berkas penyidikan Mantan Menteri KKP Edhy Prabowo dalam kasus suap izin ekspor benur. Selain Edhy, berkas penyidikan dua stafsus Edhy yakni Safri dan Andreau Pribadi Misanta, sekretaris pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin, pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK) Siswadi, dan staf istri Edhy bernama Ainul Faqih juga sudah tuntas.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, berkas penyidikan enam tersangka penerima suap dari eksportir benur itu telah dinyatakan lengkap atau P21. Untuk itu, tim penyidik melimpahkan berkas perkara, barang bukti dan keenam tersangka ke tahap penuntutan atau tahap II.

(Oleh - HR1)

Ekspor Perikanan Ditarget Naik 15,31 persen

Sajili 24 Mar 2021 Kompas

Pemerintah menargetkan ekspor perikanan Indonesia tahun 2021 mencapai 6 miliar dollar AS atau naik 15,31 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2020 yang 5,203 miliar dollar AS. Lobster hasil budidaya jadi salah satu komoditas unggulan yang dibidik untuk ekspor.

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikanan Machmud Sutedja, Selasa (23/3/2021), mengatakan, komoditas unggulan yang dibidik untuk ekspor tahun ini, antara lain, ialah udang, tuna-tongkol-cakalang, rajungan, kepiting, rumput laut, dan lobster hasil budidaya. Pasar utamanya adalah Amerika Serikat, China, dan Jepang.


Freeport Siap Ekspor 2 Juta Ton Konsentrat

Sajili 24 Mar 2021 Kontan

PT Freeport Indonesia mendapatkan berkah dari kebijakan pemerintah membuka keran ekspor tujuh komoditas mineral mentah. Satu dari tujuh komoditas itu adalah konsentrat tembaga.

Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama menyatakan, pihaknya menyambut baik kebijakan pemerintah mengeluarkan izin ekspor untuk satu tahun ke depan.

Dalam catatan KONTAN, rekomendasi ini meningkat dari tahun lalu yang mencapai 1.069.000 wet ton konsentrat tembaga pada 16 Maret 2020 untuk satu tahun. Pada 2019, Freeport hanya mengantongi kuota ekspor 746.953 wet ton konsentrat tembaga.

Sebelumnya Kementerian ESDM menerbitkan kebijakan untuk membuka ekspor tujuh mineral mentah. Ketujuh komoditas itu adalah konsentrat tembaga, konsentrat besi, konsentrat timbal, konsentrat seng, konsentrat mangan, bauksit dan nikel.


Ekspor Perikanan Ditarget Naik 15,31 Persen

Ayutyas 24 Mar 2021 Kompas

Pemerintah mendorong ekspor perikanan tahun ini meningkat 15,31 persen. Sejumlah komoditas unggulan akan digenjot untuk ekspor.

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menargetkan nilai ekspor perikanan Indonesia pada tahun ini mencapai 6 miliar dollar AS atau tumbuh 15,31 persen dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sebesar 5,203 miliar dollar AS. Lobster hasil budidaya merupakan salah satu komoditas unggulannya.

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikanan Machmud Sutedja menyampaikan, komoditas unggulan yang dibidik untuk peningkatan ekspor perikanan tahun ini antara lain udang; tuna, tongkol, dan cakalang; rajungan; kepiting; rumput laut; dan lobster hasil budidaya. Adapun tujuan ekspor pada 2021 masih fokus pada pasar utama, yakni Amerika Serikat, China, dan Jepang.

Pada 2020, ekspor udang sebanyak 239.227 ton atau senilai 2,04 miliar dollar AS. Volume ekspor itu berkontribusi 7,15 persen terhadap ekspor dunia. Target ekspor udang antara lain Amerika Serikat, China, Jepang, Uni Eropa, Korea Selatan, dan Timur Tengah.

Rantai dingin

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Artati Widiarti memaparkan perlu upaya hulu-hilir untuk mendorong ekspor hasil perikanan. Upaya itu di antaranya memetakan peluang pasar dan tren ekspor di pasar utama dan pasar potensial. Selain itu, meningkatkan produksi hilir dan mengembangkan produk bernilai tambah.

Upaya meningkatkan daya saing produk perikanan perlu ditopang logistik ikan nasional. Penopang logistik itu, antara lain, penyediaan sarana pergudangan dan distribusi ikan yang dilengkapi pendingin, yakni gudang pendingin dan truk berpendingin.

”Banyak nelayan mitra yang di daerahnya tidak memiliki akses listrik. Dengan ketersediaan listrik, maka rantai dingin akan terjaga,” katanya.

Selama ini, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk menyediakan gudang pendingin sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Kerja sama juga dijalin dengan pemerintah dalam menyalurkan bantuan generator listrik ke desa-desa nelayan. (LKT)
(Oleh - HR1)

Ekspor Mineral Mentah Dibuka Lagi

Ayutyas 23 Mar 2021 Kontan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dibukanya keran ekspor mineral mentah turut memberi sentimen positif bagi prospek emiten tambang mineral ke depan. Hanya saja, meski menguntungkan dampaknya dirasa belum akan signifikan, kecuali untuk emiten yang berkaitan dengan komoditas tembaga.

Sebagai informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membuka kembali keran ekspor mineral mentah untuk konsentrat tembaga, konsentrat besi, konsentrat timbal, konsentrat seng, dan konsentrat seng, dan bauksit. Adapun khusus untuk bijih nikel yang dibuka keran ekspornya adalah bijih nikel yang belum memenuhi batas minimum pemurnian tidak boleh diekspor.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menilai dari sisi dampak kenaikan ekspor mineral mentah tidak terlalu signifikan. Itu lantaran, volume untuk mineral mentah yang dibuka keran ekspornya tidak terlalu besar, kecuali untuk tembaga.

Chris juga mengungkapkan, kehadiran aturan ekspor mineral mentah tersebut turut membantu perusahaan-perusahaan mineral mentah untuk menjual konsentrat mineralnya yang memiliki kadar di bawah batas minimum pemurnian. Sehingga, harapannya emiten mineral ke depan bisa memperoleh pendapatan tambahan dari hasil ekspor konsentrat.

Di sisi lain, dia juga memandang prospek emiten sektor komoditas masih cukup baik ke depannya. Apalagi, tren meningkatnya bunga obligasi Amerika Serikat (US Treassury) 10 tahun yang sempat menekan harga-harga komoditas global cenderung tertahan di level 1,75 sehingga harga komoditas cenderung masih stabil di area saat ini.

(Oleh - HR1)

Butuh Terobosan Biar Ekspor Sarang Burung Walet RI Makin Moncer

Sajili 22 Mar 2021 Sinar Indonesia Baru

Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) meminta pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang setara (Equel Treatment) terhadap eksportir SBW (Sarang Burung Walet) nasional. Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Benny Hutapea mengatakan, salah satu kesulitan pelaku usaha di dalam mengekspor sarang burung walet adalah adanya kewajiban dimana eksportir SBW harus teregistrasi dengan teknis otoritas karantina China 'General Administration Of Customs China (GACC) dan memiliki sertifikat ekspor sebagai eksportir terdaftar (ET-SBW).

“PPSWN berharap pemerintah membuat terobosan untuk mempermudah ekspor SBW ke China,” katanya.

PPSWN meminta agar pemerintah dapat membantu menerbitkan Sertifikat sebagai Eksportir Terdaftar (ET-SBW) kepada pelaku eksportir baru, khususnya eksportir SBW, yang terintegrasi dengan ''General Administration Of Customs China (GACC)'' sehingga saat SBW telah diperiksa Karantina RI, tidak perlu diperiksa kembali oleh GACC.

Pengusaha Sarang Burung Walet Minta Kemudahan Ekspor

Ayutyas 22 Mar 2021 Investor Daily, 23 Maret 2021

Jakarta - Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) meminta pemerintah segera mengeluarkan kebijakan kemudahan ekspor sarang burung walet (SBW) ke Tiongkok. Sebab, regulasi ekspor SBW dinilai menyulitkan dunia usaha. Indonesia adalah sentra komoditas SBW dunia, karena mampu memproduksi sekitar 80% dari pasar dunia. Namun, regulasi ekspor kerap menyulitkan pemain komoditas ini. Keinginan Presiden memacu ekspor dengan menyederhanakan regulasi. Keinginan Presiden ini seharusnya disambut dan dijalankan oleh seluruh jajarannya terutama kementrian teknis.

Salah satu kesulitan ekspor SBW, adalah kewajiban eksportir teregistrasi dengan teknis otoritas karantina Tiongkok, General Administration Of Customs (GACC) dan memiliki sertifikat ekspor sebagai eksportir terdaftar (ET-SBW). Alhasil, hingga kini, belum ada ekspor SBW ke Tiongkok. Salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah dari sumber kekayaan alam dan perdagangan. Dengan demikian, guna menyelamatkan perdagangan Indonesia, PPSWN meminta pemerintah menerapkan perlakuan yang setara terhadap kegiatan ekspor SBW ke Tiongkok.

(Oleh - IDS)


Kirim 20 Ribu Liter Reduktan ke Malaysia

Sajili 19 Mar 2021 Surya

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melepas ekspor perdana produk reduktan herbisida produksi PT Pandawa Agri Industri (PAI), Sebanyak 20 ribu liter cairan pengurang dosis obat-obatan kimia pertanian tersebut dikirim ke Malaysia. Pelepasan tersebut dilakukan di pusat pabrik PAI di Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Rabu (17/3). Bupati Ipuk mengapresiasi ekspor produk reduktan herbisida ini yang digawangi oleh tiga putra daerah asal Banyuwangi. Produk inovatif ini menjadi bukti bahwa inovasi bisa melahirkan banyak peluang bisnis prospektif.

CEO dan Founder PT Pandawa Agri Industri Kukuh Roka Putra mengatakan, perusahaannya telah mendapatkan pesanan perdana produk reduktan herbisida 'Weed Solution' dari perusahaan raksasa sawit asal Malaysia. Total pesanan dari Malaysia tersebut pada tahun 2021 ini mencapai 100 ribu liter. PT Pandawa Agri Industri merupakan perusahaan agrokimia pertama di Indonesia asal Banyuwangi yang saat ini menjadi satu-satunya perusahaan yang memiliki inovasi dalam pengembangan produk pereduksi (reduktan) pestisida. 

Krakatau Steel Ekspor 20.000 Ton Baja ke Eropa Maret ini

Ayutyas 18 Mar 2021 Sinar Indonesia Baru

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) akan mengekspor 20.000 ton baja ke Eropa pada Maret 2021.Direktur Utama KRAS, Silmy Karim mengatakan pada periode Januari-Februari 2021 penjualan produk baja Krakatau Steel mengalami peningkatan menjadi 311.758 ton dibandingkan volume penjualan di periode yang sama di tahun 2020 sebesar 290.645 ton. 

Secara keseluruhan, dari total volume penjualan HRC dan CRC sebesar 1.603.732 ton di tahun 2020, porsi ekspor sebesar mencapai 12% yaitu 128.341,9 ton. Di 2021 diperkirakan Krakatau Steel akan dapat meningkatkan volume penjualan HRC dan CRC hingga 2.040.000 ton dengan target ekspor sebesar 155.000 ton atau meningkat 17,20% dibandingkan tahun 2020. Secara spesifik, target pengiriman ekspor baja Krakatau Steel ke Eropa sebesar 100.000 ton di tahun 2021.

"Melalui Pelabuhan Cigading yang dimiliki PT KBS, Eksport baja ke eropa sudah berjalan dengan baik. pengiriman ke Negara tujuan Portugal adalah negara dengan tujuan pengiriman ekspor terbanyak ke Eropa yakni sebesar 7.500 ton, kemudian Spanyol dengan total hampir 7.000 ton, serta Italia sebesar 6.000 ton," kata Akbar Djohan, Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera (KBS). 

(Oleh - HR1)