Ekspor
( 1055 )Ekspor Sekar Bumi Naik Hampir 50 Persen di Kuartal I/2021
Pandemi covid 19 yang berlangsung sejak tahun 2020 lalu ternyata mampu mendorong peningkatan penjualan ekspor produk dari PT Sekar Bumi Tbk. Terbukti di kuartal I tahun 2021, perseroan yang melantai di pasar bursa dengan kode SKBM tersebut mampu mencatatkan peningkatan penjualan hingga 44,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 lalu. Yaitu mencapai Rp 855,9 miliar dari periode yang sama tahun 2020 yang hanya Rp 592,8 miliar.
Presiden Direktur SKBM, Harry Lukmito mengatakan, hal ini didorong adanya peningkatan permintaan dari pasar ekspor yang lumayan tinggi. Terutama di Amerika Serikat (AS) Eropa dan negara-negara Asia. Peningkatan penjualan di kuartal 1/2021 ini akan berdampak pada prediksi penjualan hingga akhir tahun 2021 yang mencapai 15 persen dibanding tahun 2020.
Menurut Harry, perseroan lebih optimistis dengan proyeksi pertumbuhan penjualan tahun ini sebab adanya permintaan pasar luar negeri yang cukup tinggi bahkan di tengah pandemi. Rencana bisnis kami tahun ini masih terkonsentrasi untuk pasar ekspor, dan memang kami berusaha untuk meningkatkan kapasitas sesuai permintaan pasar yang masih terbuka, khususnya di AS. Hal itu mendorong perseroan juga melakukan peningkatan produksi.
Luhut Pandjaitan Sebut RI Dapat Tekanan Saat Mau Kembangkan Nikel Jadi Baterai
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah mendapat tekanan usai melarang ekspor nikel, Menurutnya, nikel dibutuhkan untuk pengembangan industri baterai lithium di Indonesia. Dia mengatakan ketika pemerintah mulai membangun industri baterai, banyak pihak yang menekan, banyak pihak yang meminta Luhut untuk mengizinkan kembali nikel diekspor.
Indonesia sendiri memang sudah melarang nikel untuk diekspor, sebagai gantinya nikel akan fokus untuk dikembangkan alias memaksimalkan proses hilirisasi. Salah satunya, dikembangkan untuk membuat bateral lithium Luhut pernah mengatakan indonesia akan bisa memproduksi baterai lithium di 2023.
Pemerintah akan mengembangkan industri dan ekosistem kendaraan listrik melalui pembentukan holding BUMN baterai indonesia atau indonesia Battery Corporation (IBC) kerja sama dengan produsen mobil listrik dunia yaitu LG Chem (Korea) dan CATL (China).
Pabrik baterai mobil listrik milik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG serta CATL untuk mobil listrik akan mulai melakukan peletakan batu pertama akhir Juli 2021.
Mendag Bangga Ekspor RI Melonjak
Neraca perdagangan periode Juni 2021 mencatatkan surplus sebesar 1,32 millar dolar AS. Surplus ini menunjukkan tren surplus neraca perdagangan bulanan terus berlanjut sejak Mei 2020. Selain itu, kinerja ekspor periode Juni 2021 mencatatkan rekor baru sejak Agustus 2011 dengan mencatatkan nilai sebesar18,55 millar dolar AS.
Menurut Mendag Lutfi, surplus neraca perdagangan bulan Juni 2021 ditopang oleh surplus neraca non-migas sebesar 2,38 millar dolar AS dan terkontraksi defisit neraca migas sebesar 1,07 miliar dolar AS. Selain itu Mendag Lutfi juga mengatakan, Indonesia mencatatkan surplus dengan beberapa negara mitra dagang utama pada Juni 2021.
Dari sisi ekspornya, nilai total ekspor Indonesia pada Juni 2021 tercatat sebesar 18,55 miliar dolar AS. Angka ini naik 9,52 persen secara bulanan (MoM) dan secara tahunan naik sebesar 54,46 persen (YoY). Peningkatan kinerja ekspor pada Juni 2021 ini didorong oleh peningkatan ekspor sektor migas sebesar 27,23 persen (MoM) dan peningkatan ekspor nonmigas sebesar 8,45 persen (MoM).
Berkilau di Pasar Ekspor
Kinerja ekspor mobil, baik dalam bentuk utuh maupun terurai, meningkat pada paruh pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan ekspor mobil utuh mencapai 146.985 unit pada semester I tahun ini; atau naik 39,7 persen dari semester I 2020 yang sebanyak 105.229 unit. Sementara itu, total ekspor mobil dalam bentuk terurai mencapai 52.816 unit; atau naik 135,2 persen dari 22.457 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Toyota Motor Manufacturing Indonesia, yang merupakan agen pemegang merek Toyota, berhasil mencatatkan ekspor terbesar di Indonesia. Total mobil utuh yang diekspor Toyota Manufacturing mencapai 31.506 unit sepanjang semester I tahun ini. Angka itu naik 8,5 persen dari penjualan tahun lalu yang hanya 29.042 unit. Ekspor mobil terurai pun naik 65,3 persen menjadi 34.490 unit dari sebelumnya 16.910 unit.
Adapun Honda Prospect Motor berhasil membukukan ekspor sebanyak 3.750 unit pada semester I 2020 dari yang sebelumnya hanya 2.400 unit atau naik 56,3 persen. Khusus pada Juni lalu, ekspor mobil utuh Honda tercatat sebanyak 780 unit.
Direktur Pemasaran dan Penjualan Honda Prospect, Yusak Billy, berujar Honda mengekspor mobil utuh Honda Brio ke Filipina dan Vietnam. "Ekspor mobil Honda Prospect menuju dua negara tersebut masih berjalan sesuai dengan rencana, " ujar Billy.
Ia pun memastikan target ekspor mobil utuh Honda masih sama dengan target yang ditetapkan pada awal tahun ini. Menurut Billy, tingkat produksi saat ini masih sejalan dengan permintaan dari negara importir. Untuk ekspor, kami mengikuti semua permintaan dari importir yang sejalan dengan pertumbuhan tiap-tiap negara.
Ekspor Komoditas Pertanian RI Meningkat
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor sektor pertanian pada Juni 2021 mengalami kenaikan sebesar 33,04% (M-to-M) atau sebesar 15,19 persen secara (yoy). Kenaikan terjadi setelah komoditas tanaman obat, aromatik, rempah, kopi, dan sarang burung walet memberi sumbangsih besar dalam kinerja ekspor kita selama Juni 2021.
BPS mencatat nilai ekspor pertanian mencapai US$ 0,32 miliar, Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pertanian RI Harvick Hasnul Qolbi menyampaikan bahwa capaian itu harus disyukuri dan terus optimistis untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.
Harvick menambahkan, pemerintah juga menyiapkan dukungan untuk sektor pertanian. Presiden Jokowi mengharapkan sektor pertanian dapat menyerap 1/3 dari dana KUR yang tersedia. Menurut data hingga bulan ini sudah Rp 40 triliun yang sudah tersalurkan.
Ekspor Impor Juni Cetak Rekor Tertinggi
Ekspor dan impor Indonesia pada Juni 2021 terlihat membaik. Neraca perdagangan pun kembali surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Juni 2021 sebesar US$ 18,55 miliar, naik 9,52% dibanding dengan Mei atau naik 54,56% year on year (yoy). Bahkan, nilai ekspor ini paling tinggi sejak Agustus 2011. Pada saat itu, ekspor mencapai US$ 18,64 miliar. "Ekspor secara total maupun ekspor non migas ini meningkat selama 2021. Semoga tren ini terjadi di bulan-bulan berikutnya sehingga ekonomi menuju pemulihan," kata Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono, Kamis (15/7).
Kenaikan ekspor sejalan dengan meningkatnya harga komoditas seperti minyak mentah Indonesia di pasar dunia atau Indonesian Crude Price (ICP) naik 7,24% month to month (mtm) atau naik 91,47% yoy. Beberapa komoditas non migas yang mengalami peningkatan harga seperti batubara naik 21,42% mtm dan secara tahunan meroket 148,94% yoy. Lalu nikel naik 2,29% mtm dan 41,27% yoy, dan timah naik 0,79% mom dan 93,03% yoy. Nilai impor Juni, tercatat sebesar US$ 17,23 miliar. Angka ini juga naik signifikan sebesar 21,03% mtm dan naik 60,12% yoy. Nilai impor ini merupakan yang tertinggi setelah Oktober 2018 yang pada saat itu mencetak nilai impor sebesar US$ 18,64 miliar. Peningkatan impor tersebut didorong oleh peningkatan berbagai impor Indonesia menurut penggunaan barangnya, termasuk impor bahan baku atau penolong yang naik signifikan 19,15% mom dan 72,09% yoy menjadi US$ 13,04 miliar.Wamendag Ungkap 3 Produk Pangan RI yang Paling Diincar Pasar Ekspor
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga melansir tiga produk makanan olahan asal indonesia teratas atau yang paling dicari di pasar ekspor yaitu udang kemasan, kopi instan, dan makanan olahannya.
Kita dapat lihat bahwa tiga produk makanan olahan teratas tujuan ekspor ini sangat memengaruhi kinerja ekspor kita secara keseluruhan di mancanegara.
Wamendag memaparkan untuk produk udang kemasan, pangsa pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat yang mencapai 78,8 persen. Selanjutnya Jepang sebesar 11 persen diikuti Belanda, Puerto Rico, hingga inggris.
Produk selanjutnya yakni kopi instan dengan tujuan utama ekspor atau sebesar 72,9 persen ke Filipina. Kemudian 7,2 persennya ke Malaysia, Uni Emirat Arab (3,3 persen), Singapura (1,6 persen), dan China (1,5 persen).
Ekonomi China Membaik
Perekonomian China membaik di tengah pandemi Covid-19. Hal ini ditandai dengan meningkatnya ekspor dan impor walau belum drastis.Meskipun demikian, para pakar ekonomi di dalam dan di luar negeri tetap mewanti-wanti agar Pemerintah China jangan berpuas diri. Situasi masih belum menentu. Kasus penularan masih tinggi di banyak negara.
Pengumuman tentang perkembangan ekonomi itu disampaikan juru bicara Bea dan Cukai Pemerintah China, Li Kuiwen, Selasa (13/7/2021), melalui berbagai media utama negara tersebut. Ia mengatakan, faktor semakin masifnya proses imunisasi Covid-19 secara global membuat banyak negara mulai melonggarkan pembatasan sosial. Ini berpengaruh positif pada perdagangan China.
Ekspor China pada Juni 2021 naik 32,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 281,4 miliar dollar AS. Ini lebih tinggi dari kenaikan ekspor sebesar 28 persen pada Mei 2021 dibandingkan dengan Mei 2020. Impor juga tumbuh 36,7 persen pada Juni 2021 menjadi 229,9 miliar dollar AS meskipun turun dibandingkan dengan kenaikan 51 persen pada Mei 2021 dari Mei 2020. Namun, hal ini tetap dipandang positif. Impor minyak pada semester pertama 2021 turun 3 persen dari periode serupa 2020. Ini penurunan semesteran pertama sejak 2013. Namun, impor gas alam, bijih besi, dan kedelai naik.
Virus Covid-19 pertama kali muncul di China pada akhir 2019. Pembatasan ketat mampu menurunkan penularan dan virus bisa dikendalikan. Langkah itu membuat China menjadi satu-satunya negara dengan perekonomian besar yang bisa berkembang sepanjang 2020. Selama pandemi, mitra dagang terbesar China adalah negara-negara anggota ASEAN. Secara kumulatif, jumlah ekspor dan impor China-ASEAN relatif seimbang dibandingkan dengan negara ataupun kawasan lain. Ekspor China ke ASEAN naik 33,1 persen pada semester pertama 2021 dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu. Impor China dari ASEAN juga naik 33,69 persen. Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kedua China. Ekspor China ke UE naik 27,2 persen dan impornya naik 34,1 persen. Peringkat ketiga sebagai mitra dagang terbesar China diduduki Amerika Serikat. Hubungan dagang kedua negara memang lebih kompleks karena Presiden AS periode 2017-2021, Donald Trump, menerapkan tarif yang tinggi terhadap produk-produk impor dari China. Secara keseluruhan, China mencatatkan surplus perdagangan sebesar 51,53 miliar dollar AS pada Juni 2021.Harum Aroma Rempah Indonesia di India
Pecinta masakan India atau penggemar film India pasti tidak asing lagi dengan beragam masakan khas India. Ya, kekhasan mayoritas kuliner India adalah kaya rempah nan beraroma kuat, seperti rogan josh, tikka masala, kofta, atau chole bhature. Dan rempah bagi rakyat India adalah budaya. Rempah hadir di beragam hal, mulai dari makanan hingga obat-obatan. Tak heran, ketika gelombang pandemi menerjang, kebutuhan rempah-rempah kian melonjak. Sebagai salah satu pengekspor rempah, diantaranya cengkeh, Indonesia merasakan efek positifnya. ”Permintaan akan cengkeh melonjak saat pandemi dan cengkeh merah populer dan paling dicari di India. Bagi India, cengkeh merah itu komoditas premium. India juga impor dari Afrika, tetapi utamanya dari Indonesia,” kata Konsul Jenderal RI di Mumbai Agus Prihatin Saptono dalam satu sesi wawancara khusus, Sabtu (10/7/2021).
Selain cengkeh, rempah-rempah seperti lada, pala, jahe, kayu manis, dan vanila termasuk dalam 20 besar komoditas ekspor Indonesia ke India. Pada tahun 2020 total impor rempah-rempah India sekitar 206.000 ton. ”Kue” itu begitu besar. Namun, dari total impor itu, Indonesia baru memasok sekitar 31.000 ton saja, dengan nilai sebesar 111 juta dollar AS. Di pasar rempah India, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar ke-2 di India setelah Vietnam.
Pada tahun 2020 total impor rempah-rempah India sekitar 206.000 ton. ”Kue” itu begitu besar. Namun, dari total impor itu, Indonesia baru memasok sekitar 31.000 ton saja, dengan nilai sebesar 111 juta dollar AS. Di pasar rempah India, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar ke-2 di India setelah Vietnam. Tingginya kebutuhan India akan rempah-rempah, kata Agus, merupakan pasar potensial bagi Indonesia. Apalagi, jumlah penduduk India besar lebih dari 1,3 miliar dan pada tahun 2040-2050 India diprediksi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah China. ”Potensi ini belum dilirik Indonesia. Untuk itu, kami dorong terus. Kami berusaha menghubungkan UKM dan berbagai organisasi terkait rempah untuk meningkatkan industri domestik kita,” kata Agus.Dongkrak Produksi dari Kluster Udang
Pemerintah berencana mengembangkan percontohan kluster udang atau shrimp estate di tiga wilayah di Indonesia. Pembentukan kluster udang merupakan salah satu upaya menggenjot peningkatan ekspor udang hingga 250 persen sampai tahun 2024. Pelaksana Tugas Direktur Pakan dan Obat Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Tri Hariyanto mengemukakan, upaya peningkatan produksi dan ekspor udang akan dilaksanakan melalui pengembangan kluster udang, revitalisasi tambak dan kluster kawasan budidaya udang, serta penyederhanaan perizinan tambak udang.
Tiga lokasi kluster udang itu meliputi Kebumen di Jawa Tengah, dengan potensi 350 hektar, Sumbawa Barat di Nusa Tenggara Barat dengan potensi 5.060 hektar, dan Sulawesi Tenggara dengan potensi seluas 2.487 hektar. Luas kluster udang di tiap wilayah ditetapkan minimal 1.000 hektar. Pada 2022, alokasi program kluster udang direncanakan senilai Rp 250 miliar untuk area 100 hektar atau 33 persen dari pagu anggaran sektor perikanan budidaya.
Upaya lain adalah revitalisasi tambak udang yang akan dilaksanakan di delapan lokasi, meliputi Tanggamus di Lampung; Belitung di Kepulauan Bangka Belitung; Cilacap di Jawa Tengah; Sumbawa di Nusa Tenggara Barat; Tarakan di Kalimantan Utara; serta Pinrang, Luwu, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan. Selain itu, sistem integrasi tambak udang dibentuk dengan mengadopsi kawasan industri perikanan yang ada di Mesir. Di Mesir, luas tambak 1.200 hektar memproduksi 2 miliar ekor udang per satu siklus, yakni empat bulan, dan ditopang teknologi canggih.
Perizinan juga akan disederhanakan dari 21 izin menjadi tiga izin saja. Pemerintah menargetkan kenaikan bertahap ekspor udang hingga 250 persen dalam kurun tahun 2019-2024. Target itu sejalan dengan rencana kenaikan nilai ekspor dari 1,7 miliar dollar AS menjadi 4,25 miliar dollar AS. Secara tahunan, nilai ekspor udang diharapkan tumbuh rata-rata 20 persen, sedangkan pertumbuhan volume ekspor diharapkan rata-rata 15 persen per tahun.Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









