Ekspor
( 1052 )Harga Melonjak, Ekspor Digenjot
Sejumlah produsen batu bara menaikkan target produksi untuk memenuhi permintaan, terutama dari pasar global. Rencana ekspor di tengah tren kenaikan harga batu bara akan membantu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. PT Indika Energy Tbk merupakan salah satu perusahaan yang tak ingin melewatkan momentum tersebut.
Ricky mengatakan, selama semester I 2021 emiten berkode INDY ini telah mengekspor 11,8 juta ton batu bara. Sebanyak 11,7 juta ton diantaranya berasal dari Kideco dan 900 ribu ton lainnya dari Multi. Sebagian besar diekspor ke Cina, yaitu 33 persen. Sisanya mengalir ke India serta negara-negara Asia Tenggara.
Ekspor tersebut menjadi salah satu pemicu perusahaan mencatat pendapatan sebesar US$ 1,2 miliar atau naik 14,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sebabnya adalah kenaikan harga jual rata-rata batu bara Kideco yang mencapai 21,9 persen dari US S 39,8 menjadi US$ 48,6 per ton. Harga jual rata-rata batu bara Multi juga naik 30,4 persen dari US$ 63,1 menjadi US$ 82,3 per ton.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk juga merevisi rencana kerja tahun ini dengan menambah produksi menjadi 30 juta ton dari awalnya 29,5 juta ton. "Kami optimistis target ini bisa tercapai, mengingat realisasi produksi di semester I 2021 naik menjadi 13,27 juta ton, " kata Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Apollonius Andwie. Pada paruh pertama 2020, produksi perusahaan sebanyak 12 juta ton.
Apollonius optimistis rencana kerja tersebut akan berdampak signifikan pada kinerja keuangan perusahaan. Sebab, saat ini harga batu bara masih dalam tren naik. Hingga kemarin, harga batu bara telah mencapai kisaran US$ 154 per ton. Harganya terpaut jauh dari posisi akhir tahun lalu yang berada di kisaran US$ 80 per ton.
Perdagangan Daerah, Kendala Ekspor Perlu Ditangani
Kinerja ekspor produk manufaktur maupun komoditas di sejumlah daerah mengalami kenaikan seiring mulai bangkitnya ekonomi negara tujuan. Namun, pelaku industri menghadapi tantangan berat untuk melanjutkan kinerja ekspor tetap moncer.Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan kinerja ekspor di Jawa Tengah pada Juni 2021 sebagai indikator mulai pulihnya ekonomi di sejumlah negara.“Juni tahun 2021, ekspor Jawa Tengah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan bulan Mei 2021 maupun dibandingkan dengan Juni 2020,” ujar Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono, Senin (2/8).Lima komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan nilai ekspor adalah pakaian jadi bukan rajutan US$38,91 juta, barang-barang rajutan US$30,88 juta, kayu dan barang dari kayu US$16,31 juta, serat stafel US$14,32 juta, dan mesin peralatan listrik US$12,26 juta.Sentot menjelaskan, moncernya kinerja ekspor juga diperngaruhi oleh kenaikan aktivitas ekonomi negara tujuan utama ekspor Jateng misalnya Amerika Serikat yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi 6% (YoY) pada kuartal II/2021.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah Frans Kongi mengatakan kendati sudah ada tanda-tanda recovery, industri manufaktur Jawa Tengah masih menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan freight cost yang mencapai 500% serta kelangkaan kontainer jadi kendala. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah Arif Sambodo menjelaskan terkait keluhan pelaku industri sudah dilakuka koordinasi dengan pemerintah pusat. “Kami dengan Pak Gubernur sudah membuat surat ke Kementerian Perdagangan. Pemerintah Provinsi sudah mengusulkan bahwa untuk biaya-biaya kontainer, ekspor, dan sebagainya mohon ada kebijakan khusus,” jelasnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Adapun, peningkatan ekspor karet Sumut pada Januari—April 2021 sejalan dengan membaiknya permintaan dari negara konsumen, diantaranya Jepang, Amerika Serikat, China, dan India. Sedangkan pada Mei dan Juni turun karena buyer melakukan penjadwalan ulang pengapalan akibat terkendala operasional dari perusahaan pelayaran lantaran kapasitas kapal yang tidak optimal dan kelangkaan kontainer
Kinerja Semester I/2021, Emiten Komoditas Raup Berkah
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, 112 dari 140 emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2021 membukukan kenaikan pendapatan. Kenaikan pendapatan pun mengangkat laba bersih perseroan 23,88% secara tahunan menjadi US$32,57 juta.Kenneth Ronald Kennedy Crichton, Presiden Direktur Archi Indonesia, mengatakan kinerja positif perseroan pada semester I/2021 ditopang oleh harga emas yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga rata-rata penjualan emas ARCI naik menjadi US$1.802 per ons dibandingkan dengan US$1.656 per ons.“Kami berharap keadaan akan jauh lebih baik pada 2022 seiring dengan ekspansi pabrik pengolahan kami yang telah mencapai efisiensi penuh dan akan berdampak secara langsung terhadap kenaikan produksi emas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/8).ARCI tengah fokus meningkatkan aktivitas eksplorasi di Tambang Emas Toka Tindung yang dioperasikan oleh entitas anak perseroan yaitu PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN), baik di Koridor Timur dan Koridor Barat.Tujuannya adalah untuk mempercepat penemuan sumber daya mineral dan cadangan bijih yang baru dengan harapan dapat mencerminkan pertumbuhan 5%—10% dari jumlah produksi emas pada tahun lalu.
Selain itu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk emiten bersandi saham TPIA itu mencapai US$164,38 juta pada semester I/2021, berbalik positif dari rugi bersih US$40,12 juta pada periode yang sama 2020. Indika mencetak laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$12,0 juta, dibandingkan dengan rugi bersih US$21,9 juta pada semester I/2020.Azis Armand, Wakil Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, mengatakan sepanjang semester pertama 2021 perseroan mencatatkan kinerja yang solid dan mencapai target produksi yang ditetapkan. “Meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan batu bara telah meningkatkan harga jual rata-rata batu bara yang turut berperan dalam peningkatan laba bersih perseroan.”
Dari kalangan analis, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menjelaskan kepada Bisnis, Jumat (30/7) bahwa realisasi kinerja mayoritas emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan per semester I/2021 masih sesuai dengan proyeksi pelaku pasar. Hal yang terlihat jelas, lanjutnya, adalah perbaikan performa pendapatan para emiten. Beberapa emiten mampu mencatatkan pertumbuhan top line yang signifikan dan ada pula yang membalikkan rugi pada periode yang sama tahun lalu menjadi laba.Melihat kinerja emiten pada semester I/2021 ini, Alfred menilai emiten sektor komoditas, industri dasar untuk subsektor kimia dasar, konsumer nonsiklikal subsektor peternakan, infrastruktur telekomunikasi, dan perbankan akan mampu melanjutkan kinerja moncer hingga akhir tahun.Untuk perusahaan di sektor komoditas seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan logam terlihat kenaikan signifikan pada pos laba bersih pada periode Januari—Juni 2021. Adapun, kontribusi terbesar peningkatan laba disebut Alfred berasal dari kenaikan harga komoditas yang mendorong ASP (average selling price), sehingga membuat marjin laba naik signifikan.Adapun emiten subsektor kimia dasar khususnya baja dan besi, kata Alfred, terpantau melanjutkan tren perbaikan performa yang memang sudah terlihat sejak tahun lalu.
Berdayakan Masyarakat , UMKM Pasarkan Kopi Pengalengan Sampai ke AS
Pengalengan merupakan salah satu daerah penghasil komoditas kopi di Jawa Barat. Sejumlah masyarakat di sana menggantungkan hidup sebagai petani atau pekerja di perkebunan kopi.
Melihat adanya potensi ekonomi yang menjanjikan dari Industri pengolahan kopi, Wildan Mustofa memilih menekuni bisnis tersebut sejak 2012 dengan membuat badan usaha CV Frinsa Agrolestari Wildan memasarkan biji kopi green bean dari Pangalengan dengan merek Java Frinsa.
la melakukan riset untuk menemukan metode produksi yang paling baik untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi. Saat ini, ada 10 varietas kopi Pangalangan yang diolah menjadi green bean oleh Java Frinsa.
Kopi green bean Java Frinsa diperoleh setelah lima tahap pengolahan kering dan 11 tahap pengolahan basah Produk kopi green bean tersebut dipasarkan ke berbagai negara, di antaranya Australia, Norwegia, Amerika Serikat, dan China.
Wildan turut memberdayakan para petani kopi di lingkungannya untuk memenuhi permintaan pasar. Saya memberikan deposit untuk petani dan kemudian nantinya petani akan menanam kopi sesuai pesanan.
Kementan Pacu Peningkatan Ekspor Porang dan Sarang Burung Walet
Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Kasdi Subagyono mengatakan pemerintah fokus meningkatkan ekspor pertanian, khususnya untuk komoditas yang memiliki peluang besar seperti porang dan sarang burung walet.
Kasdi mengungkapkan fokus pemerintah adalah meningkatkan produktivitas hasil pertanian untuk dilakukan ekspor dalam jumlah yang lebin besar. Salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas yaitu dengan membuka peluang investasi di sektor pertanian bagi pelaku usaha dalam dan luar negeri.
Dia menyebutkan saat ini pasar ekspor untuk komoditas sarang burung walet dari Indonesia adalah China. Sementara untuk komoditas umbi porang paling besar diekspor ke China dan Jepang.
Berdasarkan data Badan Karantina Pertanian, ekspor porang indonesia mencapai 14,8 ribu ton pada semester 2021. ini melampaui angka ekspor pada semester 2019 (yoy) dengan jumlah 2,7 ribu ton atau meningkat 160 persen, Sedangkan volume ekspor sarang burung walet terus mengalami peningkatan sejak 2015 hingga 2020, yaitu mulai dari 800 ton pada 2015 menjadi 1300 tan di tahun 2020.
Kinerja Perdagangan, Ekspor Besi dan Baja Menjanjikan
Ekspor besi dan baja berpeluang terus menguat seiring dengan tren kinerja perdagangan komoditas tersebut yang positif dalam beberapa tahun terakhir.Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana menjelaskan ekspor besi dan baja menunjukkan kinerja positif dalam kurun 5 tahun belakangan. Perdagangan,Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ekspor pada 2017 masih berada di angka US$3,3 miliar dan terus naik hingga menyentuh US$10,8 miliar pada 2020. Dia melanjutkan ekspor besi dan baja kembali menorehkan pertumbuhan signifikan, yakni sebesar 92,74% pada periode Januari–Juni 2021 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Pada Mei dan Juni 2021 secara berturut-turut nilai ekspor besi dan baja Indonesia sebesar US$1,5 miliar dan US$1,9 miliar. Pertumbuhan ekspor besi dan baja menempati posisi kedua tertinggi ekspor nonmigas Indonesia semester I/2021. Melihat angka tersebut kami optimistis ekspor besi dan baja dapat terus meningkat ke depannya,” tambahnya.Ekspor besi dan baja pada Juni 2021 juga menggeser nilai yang dicapai oleh ekspor produk minyak sawit yang turun ke peringkat ketiga dengan nilai US$1,89 miliar. Terlepas dari capaian tersebut, Wisnu tidak memungkiri produk besi dan baja masih dihadapkan dengan sejumlah hambatan perdagangan berupa trade remedies.Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan besi dan baja, terutama produk dalam kelompok stainless steel, akan menjadi barang yang sangat penting bagi ekspor Indonesia pada masa mendatang. Meski menghadapi sejumlah hambatan dagang, produk ini mencatatkan pertumbuhan yang menurutnya tidak sedikit.Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengatakan kenaikan ekspor besi dan baja yang signifikan tidak terlepas dari kehadiran investasi pada komoditas logam dasar nikel. Komoditas ini merupakan bahan baku untuk produk stainless steel.
(Oleh - HR1)Ekspor Daerah, Komoditas Potensial Dipacu
Selanjutnya, kuantitas atau volume produksi harus ditingkatkan sehingga bisa memenuhi permintaan pasar yang besar. Dia menjelaskan, saat ini produk-produk unggulan di Sumbar, seperti kayu manis, minyak atsiri, pala, cassiavera, bahkan kopi belum memiliki luasan kebun yang memadai sehingga secara volume masih terbatas. "Untuk produk-produk unggulan ini perlu ditambah luasan lahan agar bisa memenuhi permintaan pasar," katanya. Adrian eksportir asal Sumbar sekaligus pemilik PT Cas-sia Coop, selama ini sukses mengembangkan pabrik kulit manis dengan kualitas ekspor yang merambah pasar Eropa dan Amerika Serikat " Sumbar punya lahan yang subur, petani yang tangguh, bahkan pelabuhan untuk pengapalan produk keluar negeri."
Pengalamannya di dunia ekspor produk kayu manis dan nilam, kualitas adalah hal yang tidak bisa ditawar dalam perdagangan internasional. Ada standar yang harus diikuti agar produk bisa dilirik oleh pembeli. "Saat ini kualitas produk rempah yang dihasilkan petani sebagian belum bisa mencapai standar. " Selain penyuluh dari pemerintah, lanjutnya, dibutuhkan akademisi dan Balai Riset dan Standardisasi Industri untuk mendukung standarisasi produk.
Kepala BPS Sumbar Herum Fajarwati mengatakan ekspor Sumbar Januari-Mei 2021 mencapai US$1,1 miliar atau melambung 94,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor asal Sumbar yang dikirim melalui pela-buhan di Sumbar pada Mei 2021 tercatat US$229,14 juta, naik 6,85% dibandingkan bulan sebelumnya. PUSAT EKSPOR Sementara itu, dari Sumatra Utara, Pemprov setempat mengusulkan agar Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle memiliki pusat ekspor produk-produk usaha kecil menengah . Dia berharap UKM yang secara ekonomi terdampak signifikan selama pandemi, mampu bangkit dengan pusat ekspor IMT-GT.
"Kerja sama yang erat di antara negara-negara IMT-GT akan mempercepat pemulihan ekonomi di ketiga negara dan salah satunya dengan mempermudah ekspor-impor produk-produk UKM," kata Afifi . Selain pusat ekspor, bidang kerja sama ekonomi lainnya yang diusulkan Pemprov Sumut adalah mempromosikan program Beli Kreatif Danau Toba dan memperkuat kerja sama di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei. Menurut Afifi, untuk memperlancar konektivitas ini perlu transportasi yang tepat, yaitu kapal laut.
Sementara itu, Chairman CMGF ke-18 IMT-GT Dato Mohd Amar bin Abdullah yang merupakan Menteri Besar Kelantan berharap anggota IMT-GT memperkuat partisipasinya pada kerja sama ini. Selain itu, bersama-sama membahas isu-isu yang berkenaan dengan Indonesia-Malaysia-Thailand untuk kebaikan bersama. Dalam kesempatan lain, PT Bank Sumut bersama Dekranasda Provinsi Sumatra Utara menggandeng Direktorat Jenderal Kekayaan Negara sumut untuk menggelar lelang produk-produk UMKM secara online melalui Kedai Lelang. Sebanyak 53 produk-produk UMKM berupa tenunan dan kain khas budaya Melayu diikutsertakan dalam lelang produk UMKM yang dilakukan secara virtual tersebut.
Selama ini Bank Sumut telah memiliki Sentra Usaha Kecil dan Mikro yang difokuskan untuk mengembangkan pembinaan kepada pelaku UMKM. "Dekranasda Provinsi Sumatra Utara berkomitmen untuk terus mendukung pelaku ekonomi kreatif agar dapat mencapai keberhasilan pemasaran produk kerajinan daerah ke tingkat yang lebih tinggi, "ujarnya. Kepala Kanwil DJKN Sumut Tedy Syandriadi menyampaikan pelaksanaan lelang ini bertujuan memperkenalkan branding lelang, menggali potensi pasar produk UMKM, dan meningkatkan penerimaan negara.
Ancaman Ganda dari Ekonomi AS
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah harus mewaspadai ancaman ganda dari pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang bisa mendorong Bank Sentral AS mengetatkan kebijakan moneter. Hal itu bisa memicu penurunan harga komoditas dan keluarnya dana asing.
Managing Director Political Economy and Policy Studies(PEPS) Anthony Budiawan Minggu , mengatakan, saat ini Indonesia sedang menikmati kenaikan penerimaan negara bukan pajak pada pos pendapatan sumber daya alam . Ini disebabkan lonjakan harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia seiring tingginya permintaan dari negara-negara yang ekonominya telah pulih, seperti AS dan China. Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor Indonesia pada bulan Juni 2021 sebesar 18,55 miliar dollar AS, naik 54,46 persen secara tahunan. Crude Price yang naik 91,47 persen dan batubara yang naik 148,94 persen secara tahunan. Mengutip data Kementerian Keuangan, PNBP pos pendapatan SDA sampai dengan Juni sebesar Rp 59,73 triliun, tumbuh 9,58 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Saat ini APBN banyak ditunjang harga komoditas yang tengah naik. Namun, ia mengingatkan, keadaan itu tidak akan berlangsung lama. Sentral AS berencana memperketat kebijakan moneter dengan mengurangi gelontoran likuiditas ke pasar dan menaikkan suku bunga.
Langkah ini akan mengerem pertumbuhan ekonomi AS. Permintaan komoditas dari AS akan turun sehingga harga bakal terkoreksi. Dampaknya, ekspor komoditas dan PNBP negara dari SDA juga akan turun. Selain itu, langkah The Fed tersebut juga berpotensi memicu keluarnya arus modal dari Indonesia. Kenaikan suku bunga acuan akan diikuti oleh naiknya suku bunga berbagai instrumen investasi di AS. Kondisi ini tentu akan membuat portofolio investasi di AS menjadi lebih menarik dibandingkan dengan portofolio keuangan di negara-negara lain, terutama negara berkembang. Pada gilirannya, dana asing jangka pendek yang ditanam di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan lari ke AS. Ini akan memicu sejumlah persoalan di Indonesia, antara lain kejatuhan kurs rupiah dan anjloknya harga surat utang negara.
Kemenperin : Utilisasi Industri Mamin Capai 89 Persen Meski Pandemi
Pit Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan utilisasi industri makanan dan minuman (mamin) tetap tinggi, bahkan mencapai 89 persen meski di tengah pandemi.
la mengatakan saat meninjau PT Unilever Indonesia (Walls Factory) dan Mondeléz indonesia (pabrik biskuit Oreo dan Ritz) kemarin utilisasi kedua perusahaan selama masa pandemi sama-sama menyentuh di angka kisaran 89 persen. Artinya produktivitas tetap berjalan baik dan justru permintaannya semakin meningkat, baik di pasar domestik maupun mancanegara.
Putu memberikan apresiasi kepada kedua produsen mamin tersebut, karena di masa pandemi tetap mengapalkan produknya ke pasar ekspor. Hal ini memberikan dampak terhadap peningkatan devisa dan menunjukkan bahwa produk industri nasional berdaya saing di kancah global.
Kemenperin mencatat, industri merupakan salah satu sektor primadona yang membuat kinerja ekspor manufaktur nasional meroket sepanjang semester tahun 2021. Total nilai ekspor industri pengolahan nonmigas pada Januari-Juni 2021 mencapai 19,58 miliar dolar AS atau naik 21.68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain berorientasi ekspor, industri mamin juga tergolong sektor padat karya dan menjalankan hilirisasi atau meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri.
Potensi Ekspor Tanaman Hias Sangat Besar tapi Minim yang Mau Garap
Permintaan tanaman hias secara internasional sangat besar. Namun, menurut Menteri Perdagangan M Lutfi potensi ini belum banyak digarap di Indonesia. Potensi nilai ekspor tanaman hias senilai US$ 7,8 juta di dunia atau sekitar Rp 113 trilliun Namun, indonesia cuma memiliki market share sekitar 0,08% saja di seluruh dunia.
Minaqu, menjadi salah satu UMKM yang melihat potensi tersebut. Menuruti lutfi, unit usaha ini jeli memanfaatkan peluang bisnis yang besar dan baru digarap secara minim di Indonesia.
Sebagai gambaran besarnya potensi ekspor tanaman hias, CEO Minaqu Home Nature Ade Wardhana Adinata mengatakan saat ini pihaknya sudah berhasil melakukan ekspor ke 6 negara di Eropa dan Amerika Serikat.
Dia mengatakan Minaqu berhasil bekerja sama dengan 7 distributor tanaman hias di 6 negara tersebut. Totalnya ada 15 juta tanaman hias yang akan diekspor selama dua tahun, dengan nilai kontrak mencapai Rp 2,3 triliun. Ade mengatakan Minaqu berhasil cuma dimulai dengan modal sebesar Rp 500 ribu di bulan November 2019, dan dalam 10 bulan awal usahanya ini, Minaqu menembus Rp 5 miliar sebulan.
Pilihan Editor
-
Penjualan Sepeda Melonjak
09 Jul 2020 -
Ponsel Pintar Menggerus Penjualan Kamera Digital
06 Jul 2020 -
Sepeda Listrik SLIS Ngebut di New Normal
07 Jul 2020









