;
Tags

Ekspor

( 1055 )

Target Pertumbuhan Ekonomi 2022, Kawal Kinerja Ekspor

KT1 18 Aug 2021 Bisnis Indonesia

Kinerja positif Indonesia pada paruh pertama tahun ini diharapkan terus berlanjut dan dapat menopang target pertumbuhan ekonomi sampai 5,5%, pada 2022. Meskipun tren ekspor Indonesia masih kokoh, kalangan pelaku usaha, tetap memberi sejumlah catatan terkait kinerja perdagangan pada masa pemulihan ekonomi. 

Wakil Ketua Umum Assosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta.W Kamdani mengatakan terdapat beberapa faktor yang harus menjadi pertimbangan soal kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, meski harga komoditas bisa naik, Shinta mengatakan kenaikan tetap akan terbatas, "Bila ekspor komoditas yang mendominasi postur ekspor nasional memiliki volume yang sama dengan tahun lalu, besaran kontribusi  penghasilannya terhadap APBN 2022 kurang lebih akan sama dengan tahun ini," katanya Selasa (17/8)

Ekspor produk berbasis komoditas, lanjutnya, juga perlu ditingkatkan demi memastikan pertumbuhan ekspor bisa lebih tinggi dibanding dengan potensi pertumbuhan impor bahan baku atau penolong dan barang modal pada 2022. Pengalihan permintaan sendiri terjadi akibat keberhasilan pabrik di dalam negeri memenuhi permintaan meskipun terjadi pendemi.

Ketua 1 Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gakindo) Jongkie Sugiarto mengingatkan peningkatan ekspor otomotif Indonesia hanya bisa terwujud selama  perusahaan prinsipal memberi izin bagi pabrik di Indonesia untuk memperluas ekspor.

Di sisi lain, target untuk menjadikan ekspor sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi pada 2022 beresiko menghadapi kendala jika  pola perdagangan luar negeri Indonesia tak berubah. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, "Dari sisi tujuan, memang harus lebih banyak didorong keluar China. Sekarang masih didorong penyerapan China dan di luar itu masih terbatas. Kalau di China menurun, akan mempengaruhi ekspor kita sehingga dampaknya bisa terasa," katanya." (YTD)


60 Ribu Ton Hasil Pertanian Diekspor

Sajili 18 Aug 2021 Banjarmasin Post

Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan, Safrizal ZA bersama Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin, Nur Hartanto dan jajaran Forkompimda Kalsel melepas ekspor komoditas pertanian senilai Rp. 868,82 miliar di Pelabuhan Laut Trisakti Banjarmasin. Kegiatan pelepasan ekspor komoditas pertanian asal Kalsel ini merupakan bagian dari rangkaian Merdeka Ekspor yang digelar serentak oleh Kementerian Pertanian RI di 17 pintu merdeka ekspor di seluruh Indonesia dan dilepas secara daring oleh Presiden RI Joko Widodo dari Istana Bogor.

Menurut Pj Gubernur Kalsel, yang turut hadir melepas ekspor komoditas pertanian tersebut, satu di antara indikator keberhasilan pembangunan pertanian adalah dengan meningkatnya nilai ekspor komoditas pertanian. Hingga akhir Juli 2021, Kinerja ekspor komoditas pertanian asal Kalsel meningkat sebesar 106,22 persen dengan nilai mencapai Rp 4.97 triliun dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya senilai Rp 2,41 triliun.

Sementara, secara teknis Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin, Nur Hartanto, Minggu (15/8) mengatakan, komoditas pertanian yang diekspor pada kegiatan merdeka ekspor kali ini terdiri dari Karet Lempengan, Daun Gelinggang, RBD Palm Olein, CPO, Palm Kernel Expeller dan Kayu Olahan (Plywood) dengan 9 negara tujuan ekspor. Komoditas pertanian ini terdiri dari enam ragam jenis dengan total volume lebih dari 60 ribu ton dan 1.922 meter kubik menuju ke sembilan negara tujuan seperti India, Cina, Rusia, Vietnam, Korea Selatan, Brasil, Thailand, Philipina dan USA. Keberhasilan ekspor komoditas pertanian dapat menjadi bukti, produk pertanian Indonesia khususnya Kalimantan Selatan selalu hadir dan dibutuhkan hingga ke pasar dunia.


Industri Hilir Kehutanan, Potensi Ekspor Tinggi

HR1 16 Aug 2021 Bisnis Indonesia

Industri hilir kehutanan diyakini mampu mencapai nilai ekspor hingga US$12 miliar pada tahun ini.Adapun, sepanjang tahun lalu, industri hilir yang terdiri dari sembilan produk hasil hutan itu telah mencatat kinerja ekspor senilai US$11 miliar. Kesembilan produk tersebut, yakni bangunan prefabrikasi, woodchip atau serpih kayu, furnitur kayu, kerajinan, panel, paper, pulp, veneer, dan woodworking.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan sampai Juli 2021, ekspor industri hilir sudah mencapai US$7,5 miliar. Alhasil, jika rata-rata ekspor US$900 juta per bulan, maka akan ada tambahan US$4,5 miliar lagi.“Insyaallah ekspor bisa tembus US$12 miliar tahun ini karena bisa juga dilihat dari produksi hutan alam yang naik 16,6% per Juli 2021 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” katanya kepada Bisnis, Minggu (15/8).

(Oleh - HR1)

Merdeka Ekspor, Produk Pertanian Jadi Andalan

HR1 16 Aug 2021 Bisnis Indonesia

Provinsi Sumatra Selatan berkontribusi terhadap program Merdeka Ekspor dengan melepas ekspor hasil pertanian ke 11 negara tujuan. Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan komoditas yang diekspor adalah produk pertanian senilai Rp138 miliar melalui Pelabuhan Boom Baru Palembang, Sabtu (14/8). “Yang diekspor karet, kelapa dan CPO. Petani di Sumsel tetap bisa produktif selama pandemi, dalam waktu seminggu saja bisa kita bisa ekspor sebanyak Rp138 miliar,” katanya. Deru meminta kepada semua pihak, termasuk petani, untuk terus semangat dan menjadikan ekspor tersebut sebagai acuan untuk mengembangkan komoditas pertanian. Oleh karena itu, menurutnya, program Merdeka Ekspor yang digalakkan pemerintah pusat tersebut dinilai tepat untuk menjaga semangat petani di tengah pandemi. “Kalau bisa ini tidak hanya setahun sekali, agar ada semangat yang tumbuh di kalangan petani, bahwa mereka mendapat perhatian dari semua pihak,” katanya.

Dalam perkembangan lain, Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang mencatat Sumbar turut mengekspor sejumlah komoditas produk pertanian unggulan daerah ke sejumlah negara di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika senilai Rp383,8 miliar.“Ini adalah bukti bahwa sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang tetap bisa bertahan dan mendukung perekonomian daerah di tengah pandemi,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi, saat melepas ekspor produk pertanian secara virtual, Sabtu (14/8). Produk pertanian yang diekspor diantaranya kayu manis, sawit, karet, pinang, pala, gambir, biji kopi, petai cina, kecombrang, jengkol dan beberapa produk lain yang memiliki pasar cukup luas di beberapa negara.

(Oleh - HR1)

Plt Gubernur Bersyukur,Ekspor Pertanian Sulsel Meningkat

Sajili 16 Aug 2021 Tribun Timur

Tingginya ekspor menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis oleh BPS Sulsel pada 5 Agustus 2021, mencatat ekonomi Sulsel pada triwulan II tahun 2021 tumbuh dengan angka 7,66 persen (y-on-y). 

Total nilai ekspor Sulsel selama semester l atau periode bulan Januari hingga Juni tahun 2021 sebesar US$ 614 juta. Dibandingkan tahun 2020 pada semester 1, maka nilai ekspor semester 1 tahun 2021 naik 13,28 persen. Untuk Januari-Juni 2020 total ekspor senilai US$ 542,03 juta. 

Sebagian besar Ekspor Juni 2021 ditujukan ke negara Jepang, Tiongkok, Taiwan, Malaysia, dan Australia. Terpisah, Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman merasa bersyukur atas pencapian ekspor yang kian meningkat. Khususnya komoditi hasil pertanian. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat Sulsel kaya akan hasil pertanian. Menurutnya, ekspor pertanian memberikan dampak positif bagi para petani, salah satunya dalam meningkatkan kesejahteraan.

Terbaru, pada 14 Agustus 2021 Sulsel kembali melakukan ekspor dalam kegiatan Ekspor Merdeka yang dilepas oleh Presiden RI , Jokowi. Sulsel melepas ekspor komoditi unggulan pertanian senilai Rp98 Miliar ke 6 negara.


Larangan Ekspor Ganggu Kinerja BUMI

Sajili 16 Aug 2021 Banjarmasin Post

Adanya larangan ekspor batubara bagi 36 perusahaan dari Kementerian Energi Sumber Daya Minerba (ESDM) yang satu di antaranya menerpa anak perusahaan PT BUMI Resources Tbk yaitu PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Hal ini membuat produsen batu bara terbesar di Indonesia itu buka suara mengenai larangan ekspor yang dikenakan Kementerian ESDM kepada anak usaha, PT Arutmin Indonesia, tersebut.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT BUMI Resources Tbk, Dileep Srivastava menjelaskan, pada dasarnya Arutmin telah memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) lebih dari 25 persen sampai dengan bulan Juli. Berdasarkan penilaian Minerba, Arutmin belum memenuhi kontrak penjualan batu bara dengan PLN sesuai dengan alokasi tahunan. Dileep mengatakan, dengan pelarangan ekspor ini, PT Arutmin tidak bisa mengirimkan batu bara kalori tinggi (HCV) yang sudah terikat kontrak dengan pembeli luar negeri. Batu bara tersebut tidak dapat dijual di dalam negeri karena spesifikasinya tidak sesuai dengan kebutuhan PLN dan pembeli dalam negeri lainnya. Dampaknya Arutmin akan kehilangan pendapatan, potensi denda dan klaim dari pembeli.

Kemudian, menurut Dileep, Kredibilitas Arutmin sangat dipertaruhkan di mata pembeli luar negeri hingga penjualan batu bara lainnya di kemudian hari. Arutmin juga akan terganggu kredibilitasnya di mata pembeli luar negeri dan akan berdampak pada penjualan batubara di kemudian hari. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk menjatuhkan sanksi larangan ekspor batu bara kepada 34 perusahaan. Sanksi itu sendiri dijatuhkan lantaran perusahaan itu gagal memenuhi kewajiban pasokan batu bara yang sesuai dengan kontrak penjualan dengan PT PLN (Persero) dalam periode 1 Januari hingga 31 Juli 2021.


Ekspor Produk Pertanian RI Rp 282,86 Triliun, Jokowi Merasa Bangga

Sajili 16 Aug 2021 Sinar Indonesia Baru

Presiden Joko Widodo mengapresiasi kegiatan Merdeka Ekspor yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan) pada 17 pintu di 17 Provinsi Indonesia. Jokowi kegiatan tersebut penting, sebab sektor pertanian adalah sektor tangguh dan punya potensi besar mendukung pertumbuhan ekonomi.

Jokowi mengatakan ekspor pertanian pada semester pertama tahun 2021, yakni dari Januari sampai Juli juga cukup membanggakan, yaitu mencapai Rp 282,86 triliun atau naik 14.05% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang hanya Rp 202,05 triliun.

Peningkatan ekspor pertanian dinilai cukup memuaskan karena sejauh ini mampu berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan. Hal ini bisa dilihat dari angka Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang mencapai 99,60% pada Juni 2020 dan secara konsisten meningkat hingga Desember 2020 sebesar 103. 25% serta Juni 2021 mencapai 103,59%.


Peluang Tetap Terbuka

KT2 13 Aug 2021 Kompas

Indonesia dinilai tetap berpeluang mengekspor produk perikanannya ke China kendati ada sejumlah temuan kontaminasi virus korona tipe baru atau SARSCoV2 pada produk dan kemasan ikan. Isu keamanan pangan perlu disikapi dengan serius agar Indonesia tidak kehilangan momentum pertumbuhan permintaan pasar, SARSCoV2 terdeteksi oleh Otoritas Bea dan Cukai China. Per 9 Agustus 2021, GACC mencatat 37 kasus kontaminasi virus pada produk dan kemasan ikan asal Indonesia.

Menurut Duta Besar Indonesia untuk China Djauhari Orat mangun dalam webinar ”Strategi Ekspor Produk Perikanan Menembus Pasar China Tanpa Hambatan,   Indonesia telah menorehkan sejumlah prestasi dalam ekspor perikanan ke China. Meski demikian, China tengah memperketat peraturan impor produk perikanan dari sejumlah negara guna memastikan kualitas dan keamanan produk pangannya.

Jaminan keamanan pangan sangat penting sebagai syarat produk masuk ke pasar China. Para pelaku usaha diharapkan menerapkan protokol kesehatan secara optimal dalam rantai proses hulu hilir perikanan sesuai pedoman keamanan pangan yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia per 7 April 2020. Di sisi lain, ekonomi China tumbuh tinggi, sedangkan pendapatan masyarakat kelas menengah tumbuh pesat. Permintaan China diperkirakan terus tumbuh seiring peningkatan pendapatan penduduknya sehingga peluang ekspor ke China tetap terbuka lebar.

Ekspor ke China tumbuh 3,8 persen secara tahunan pada semester I 2021. Komoditas unggulannya, antara lain, kelompok krustasea, moluska, dan invertebrata air , termasuk jenis cumi, sotong, dan gurita yang ekspornya melonjak 1.042 persen. Adapun produk rumput laut asal Indonesia menempati peringkat pertama dari 21 negara pengekspor ke China.

Sejak Desember 2020, China memperketat syarat pembelian produk perikanan asal Indonesia, antara lain, mencantumkan nama kapal penangkap dan lokasi tangkapan serta nama lokasi budidaya oleh unit pengolahan ikan. Anak buah kapal, pekerja budidaya, dan pekerja pabrik olahan beserta produk yang dikirim wajib diuji Covid19 berupa tes reaksi berantai polimerase .

CEO China Academy of Inspection and Quarantine Test Innovation Malaysia Service Center Ch’ng Soo Ee mengemukakan, pengetatan persyaratan keamanan pangan berupa uji Covid19 merupakan upaya China untuk mencegah dan mengendalikan penularan Covid19 melalui produk pangan rantai dingin impor. Hingga 25 Februari 2021, China telah menguji 1,49 juta sampel makanan rantai dingin yang diimpor dan 79 sampel dinyatakan positif. China juga menangguhkan pasokan dari 129 eksportir asal 21 negara yang pekerjanya terinfeksi virus. Sebanyak 110 perusahaan secara sukarela menghentikan ekspor ke China.

Kini pemerintah tengah mempercepat vaksinasi untuk nelayan serta pekerja tambak budidaya. Adapun kewajiban persyaratan uji tes PCR masih belum disepakati sepenuhnya oleh pelaku usaha atau eksportir karena kendala biaya. Pihaknya berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di China untuk negosiasi dengan GACC. Dari 664 unit pengolahan ikan yang boleh ekspor ke China saat ini tersisa 475 perusahaan.  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia Budhi Wibowo, Indonesia selama ini bergantung pada pasar China. Lima tahun terakhir, volume ekspor perikanan ke China tumbuh rata-rata 12,4 persen. 

Kinerja Perdagangan, Ekspor Karet Perlahan Bangkit

KT2 13 Aug 2021 Bisnis Indonesia

Membaiknya kondisi perekonomian di sejumlah negara membuat pasar ekspor komoditas karet kembali bergairah tecermin dari perbaikan harga jual dan kuantitas. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumatera Selatan yang diperoleh Bisnis, ekspor karet sepanjang enam bulan pertama tahun ini mencapai 501.651 ton atau naik 20% dibandingkan dengan semester I/2020 sebanyak 414.956 ton. Dia memaparkan produksi pabrik karet di Sumsel lebih dari 90% diserap oleh pasar ekspor. "Kondisi sekarang berbeda dengan PSBB , industri karet masih diizinkan produksi normal dengan protokol kesehatan ketat." Namun demikian, kata Alex, para pengusaha karet optimistis kinerja produksi maupun ekspor sepanjang tahun ini sesuai target.

Pada tahun lalu, ekspor karet asal Sumsel tercatat sebanyak 918.674 ton. Tahun ini diharapkan kinerja ekspor bisa menembus di atas 900.000 ton. Kepala BPS Sumsel Zulkipli mengatakan laju pertumbuhan industri tersebut sejalan dengan peningkatan produksi crumb rubber serta peningkatan ekspor. "Tentu saja peningkatan ekspor karet itu berdampak signifikan terhadap komponen ekspor di PDRB Sumsel.

Ekspor komoditas andalan Sumsel, yakni karet, batu bara dan minyak sawit tercatat tumbuh positif pada kuartal II/2021," katanya. Zulkipli mengatakan ekspor merupakan sumber pertumbuhan terbesar, yakni 5,64% pada pertumbuhan ekonomi Sumsel kuartal II/2021. Dalam perkembangan lain, kinerja ekspor Sulawesi Selatan perlu akselerasi karena nilai ekspor Sulsel pada Juni 2021 sebesar US$101,85 juta atau mengalami penurunan 4,81% dibandingkan dengan ekspor Mei 2021 sebesar US$106,99 juta. Pemerintah Provinsi Sulsel berupaya memaksimalkan potensi yang dimiliki guna membangkitkan kembali kinerja ekspor, salah satunya dengan berkontribusi dalam program Merdeka Ekspor yang akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia pada 14 Agustus 2021.

"Khusus Sulsel sendiri, setelah update terakhir data kita, progres nilai ekspor terus bergerak naik dari Rp28 miliar menjadi Rp51 miliar. " Pelaksanaan Merdeka Ekspor akan dilepas secara bersamaan oleh Presiden RI Joko Widodo dari Istana Bogor. Sementara itu, di Sulsel pelepasan ekspor akan dilakukan di Makassar New Port . Kepala Dinas Perdagangan Sulsel Ashari Fakhsirie Radjamilo mengatakan Merdeka Ekspor akan menjadi momen yang baik bagi Sulsel untuk kembali memacu kinerja ekspor karena akan mendukung perbaikan iklim ekonomi setempat. Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mendukung rencana ekspor sejumlah komoditas tersebut dan dapat berjalan secara berkelanjutan. Dia berharap agar ekspor komoditas asal Sulsel bisa terus berkembang, baik dari segi volume maupun jenisnya.

Peluang Akselerasi Ekspor Serat Rayon ke India

Sajili 13 Aug 2021 Koran Tempo

Directorate General of Trade Remedies India pada 31 Juli lalu merekomendasi untuk tidak lagi mengenakan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap bahan baku pembuatan tekstil, yakni serat rayon atau viscose fiber, asal Indonesia. Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menilai India merupakan pasar yang sangat penting bagi serat rayon Indonesia.

Menurut dia, potensi besar produk serat rayon di India ditopang oleh kekurangan pasokan akibat ekspansi industri pemintaan. Dampaknya, kebutuhan serat rayon akan naik cukup besar, termasuk dari Indonesia. Redma menjelaskan, industri dalam negeri selalu menjunjung tinggi asas kejujuran dalam melakukan perdagangan dengan negara mana pun.

Direktur PT Asia Pacific Rayon, Basrie Kamba, berujar kapasitas produksi serat rayon di dalam negeri sebenarnya diprioritaskan untuk memasok kebutuhan dalam negeri yang meningkat setiap tahun. Namun mengamankan pasar ekspor juga sangat penting karena nilai ekspor serat rayon Indonesia setiap tahun sekitar US$ 400 juta.

Direktur Keuangan PT South Pacific Viscose, Rahadian Ratmawijaya, menyatakan India merupakan pasar yang sangat penting bagi rayon Indonesia, sehingga keputusan ini akan membantu produsen lokal mengamankan pasar ekspor. Kapasitas produksi pemintalan di India mencapai lebih dari 40 juta mata pintal atau 4 kali lipat lebih banyak dibanding Indonesia.