Ekspor Mebel Naik Pesat
Selama setahun terakhir, ekspor furnitur Indonesia ke sejumlah negara, terutama Amerika Serikat, tumbuh pesat. Hal ini merupakan buah dari keberhasilan pelaku industri memanfaatkan ceruk perang dagang Amerika Serikat dengan China serta gaya hidup masyarakat di sejumlah negara tujuan ekspor. Namun, masih banyak tantangan yang perlu diatasi. Kementerian Perdagangan mencatat, pada 2020 nilai ekspor produk furnitur Indonesia tembus 1,65 miliar dollar AS atau tumbuh sebesar 9,93 persen dari 2019 yang sebesar 1,49 miliar dollar AS. Sementara pada triwulan I-2021, nilai ekspor furnitur tercatat senilai 536,52 juta dollar AS, tumbuh 28,16 persen dari periode sama 2020.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri,Rabu (19/5/2021), mengatakan, pertumbuhan tertinggi ekspor furnitur Indonesia adalah ke AS dengan pangsa pasar sebesar 52,97 persen dari total nilai ekspor 2020. Ekspor furnitur ke negara tersebut tumbuh 20,96 persen dari 721,2 juta dollar AS pada 2019 menjadi 872,37 juta dollar AS pada 2020. Pertumbuhan ekspor furnitur ke AS tersebut berlanjut dalam tiga bulan pertama 2021. Pada triwulan I-2021, nilai ekspornya mencapai 299,5 juta dollar AS, tumbuh 38,28 persen dari periode sama 2020 yang sebesar 216,3 juta dollar AS. ”Produk-produk furnitur yang banyak diminati baik oleh AS maupun sejumlah negara lainnya adalah beragam furnitur dalam dan luar ruangan yang terbuat dari kayu,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.
Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menuturkan, pasar AS memang sangat besar dan momentum pertumbuhannya selama masa pandemi ini perlu dimanfaatkan secara optimal. Tak hanya itu, ceruk perang dagang AS-China juga telah berhasil dibidik dan diisi oleh Indonesia dengan baik. Sebelumnya, China merupakan eksportir furnitur terbesar ke AS dengan nilai ekspornya rata-rata sekitar 33 miliar dollar AS. Lantaran perang dagang dengan AS, nilai ekspor furnitur China ke AS turun drastis menjadi 7,9 miliar dollar AS pada 2019. ”Ada ceruk sekitar 25 miliar dollar AS di pasar AS yang bisa diisi oleh Indonesia. Pesaing Indonesia adalah Vietnam, Kanada, dan Meksiko,” ujarnya.
HIMKI mencatat, impor furnitur Indonesia senilai 355 juta dollar AS pada 2015. Pada 2019, nilai impornya sudah hampir berlipat menjadi 594 miliar dollar AS. Sekitar 60 persen dari impor tersebut adalah produk-produk furnitur asal China. Sejak berseteru dengan AS, China juga banyak menggulirkan produk-produknya, termasuk furnitur, ke negara-negara berkembang. Situasi tersebut membuat HIMKI yang juga fokus menggarap pasar domestik kewalahan.Postingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
China Meminta Dukungan Lebih Besar dari AIIB
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Pasar Dalam Tekanan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023