Ekspor
( 1052 )Sultra Ekspor Perdana Pinang ke Iran
RI Belum Terdampak Anjloknya Harga Nikel Dunia
Nikel yang tengah didera kelebihan pasokan diperkirakan akan
terus mengalami penurunan harga dalam beberapa tahun ke depan. Situasi ini
perlu diwaspadai pelaku usaha pengolahan meskipun diprediksi tidak akan terlalu
merugikan Indonesia. Harga komoditas tambang yang tercatat di Bursa London Metal
Exchange, Jumat (26/1) itu sebesar 16.648 USD per ton. Nilai itu terus merosot
dari harga rata-rata di tahun 2023 yang 21.521 USD per ton. Bahkan, kini lebih anjlok
daripada harga nikel di 2022 yang berada di kisaran 25.834 USD per ton. Ketua
Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan,
ini bukan kali pertama harga nikel merosot. Siklus harga komoditas di pasar
global pernah membuat harga nikel jatuh ke level 9.595 USD per ton pada tahun
2016.
”Harga nikel saat ini diperkirakan cenderung akan turun lagi
dalam 2-3 tahun ke depan sampai tercapai keseimbangan harga yang baru. Harga
komoditas lebih banyak ditentukan oleh supply dan demand sehingga bila
kelebihan pasok, harga cenderung turun,” katanya saat dihubungi Kompas, Jumat. Masalah
kelebihan pasokan kerap dihubungkan dengan rendahnya penyerapan nikel untuk
produksi baterai kendaraan listrik. Perusahaan konsultan global Woodmac melaporkan,
kebutuhan nikel untuk industri baterai 480.000 ton atau 15 % kebutuhan nikel
global saat ini. Rendahnya pemanfaatan nikel untuk produksi baterai diduga
karena munculnya teknologi-teknologi baru untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.
Sebagai contoh, lithium ferro phosphate (LFP) yang dikembangkan tanpa kandungan
nikel dan kobalt. (Yoga)
Belut Hidup dan Ruminer Masuki Pasar Ekspor
The Marketing of Indonesia Public Companies
Ekspor Produk Hijau Butuh Keberpihakan Pemerintah
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang dapat
dioptimalkan untuk menggenjot ekspor produk hijau yang dapat mengurangi dampak
perubahan iklim. Untuk mengembangkan potensi yang ada tersebut, kebijakan
pemerintah perlu berpihak kepada sektor industri berkelanjutan. Kepala Badan Kebijakan
Perdagangan Kemendag, Kasan mengatakan, Pemerintah Indonesia akan
mengoptimalkan sumber daya alam untuk meningkatkan kontribusi produk Indonesia
di rantai pasok perdagangan produk hijau global. Produk hijau atau barang ramah lingkungan (environmental goods)
mengacu pada produk yang dirancang untuk menggunakan lebih sedikit sumber daya
atau menghasilkan lebih sedikit emisi.
”Diharapkan upaya menggenjot perdagangan hijau dapat mengurangi
dampak perubahan iklim juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,”
ujarnya dalam forum yang diselenggarakan Bank Dunia bertema ”Peran Kebijakan
Perdagangan dalam Transformasi Hijau di Indonesia”, Kamis (18/1/2023), di Jakarta.
Kasan mencontohkan, salah satu komitmen tersebut tercermin dari ekspor
komoditas bijih nikel yang menjadi bahan baku penting bagi produk kendaraan
listrik. Di tingkat global, peringkat Indonesia sebagai eksportir sudah naik drastis
dari urutan ke-8 pada 2021 menjadi urutan pertama pada 2022. Produksi bijih
nikel Indonesia 1,6 juta ton pada tahun 2022, terpaut jauh dengan Filipina yang
menduduki peringkat kedua dunia dengan produksi 330.000 ton. Ke depan, pemerintah
akan mengandalkan program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas
primer. Ekspor produk hilirisasi komoditas nikel dan komoditas primer lainnya
akan ditujukan untuk mengutamakan perdagangan hijau yang turut berpihak kepada lingkungan
dan perubahan iklim. (Yoga)
Asal Efisien dan Kompetitif, Ekonomi RI Tak Terpengaruh China
Perekonomian China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat. Kendati demikian, pelaku usaha optimistis kontraksi China tidak serta-merta melumpuhkan ekonomi Indonesia selama iklim usaha dan investasi dapat semakin efisien dan kompetitif untuk investor. Dalam laporan terbaru Bank Dunia bertajuk ”Prospek Ekonomi Global 2024” yang terbit Januari ini, ekonomi China sepanjang 2024 diproyeksi hanya tumbuh 4,5 %, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,2 %. Berdasarkan laporan itu, negara dengan perekonomian terbesar nomor dua di dunia ini tengah memasuki masa kritis dan sedang bergulat dengan perlambatan struktural yang ditandai dengan pelemahan daya beli, sulitnya warga untuk mendapatkan pekerjaan, dan terpuruknya kepercayaan investor.
Dari kacamata dunia usaha dalam negeri, perlambatan ekonomi China yang terjadi dalam satu hingga dua tahun belakangan turut memperlambat putaran roda ekonomi Indonesia. Sebab, di sektor perdagangan, China menjadi penyuplai terbesar bahan baku dan bahan penolong untuk Indonesia. Selain itu, China juga menjadi negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia. BPS mencatat China sebagai mitra dagang utama baik dari sisi impor dengan nilai perdagangan 62,18 miliar USD (Rp 972 triliun) maupun ekspor yang mencapai 64,94 miliar USD (Rp 1.015 triliun) sepanjang 2023.
KomiteTetap Kebijakan Publik Kadin, Chandra Wahjudi, mengatakan, meski pelemahan ekonomi China dapat mengurangi volume ekspor Indonesia ke ”Negeri Tirai Bambu” tersebut, surplus neraca perdagangan tetap bisa terjaga tahun ini jika kebijakan hilirisasi industri diimplementasikan secara tepat. ”Neraca perdagangan akan tetap surplus bergantung pada implementasi kebijakan hilirisasi industri yang memberikan tambahan nilai yang lebih tinggi,” ujarnya, Rabu (17/1) di Jakarta. Selain menggelontorkan insentif untuk memacu hilirisasi industri, Chandra menilai pemerintah harus melakukan penyederhanaan regulasi dan perizinan ekspor untuk setiap produk ekspor.untuk memacu kinerja ekspor. (Yoga)
Ekspor Manufaktur Tembus US$ 187 Miliar
Ekspor industri manufaktur sepanjang 2023 berhasil menembus US$ 186,98 miliar atau menyumbang 72,24% dari total nilai ekspor nasional sebesar US$ 258,82 miliar. Hasil tersebut juga melampaui target ekspor sebesar US$ 186,40 miliar. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, ditengah kondisi dunia yang sedang tidak stabil, industri manufaktur tetap agresif untuk memperluas pasar ekspornya. "Untuk 2024, kami menargetkan US$ 193,4 miliar. Kami optimis segera tercapai," ungkap dia. Menperin menyebutkan, beberapa sektor yang menjadi penyumbang paling besar terhadap capaian nilai ekspor industri manufaktur nasional, antara lain industri logam dasar, industri makanan, industri bahan kimia, industri kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer, industri komputer kertas dan barang dari kertas. (Yetede)
Ekspor Batubara pada 2023 Catatkan Rekor
Ekspor RI Tertekan Perlambatan Global
Kinerja ekspor Indonesia pada 2023 menurun dibandingkan tahun
2022. Harga komoditas unggulan yang turun, ditambah perlambatan ekonomi global,
memicu turunnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Mengutip data BPSk, total
nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2023 mencapai 258,82 miliar USD,
turun 11,33 % dibandingkan tahun 2022 senilai 275,96 miliar USD. Kontributor
ekspor masih didominasi oleh ekspor nonmigas sebesar 242,89 miliar USD atau
93,85 % dari total ekspor, sisanya berasal dari ekspor migas yang nilainya 15,92
miliar USD. Dalam paparan kinerja ekspor-impor 2023, di Jakarta, Senin (15/1)
Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan,
sepanjang 2023, ada sejumlah fenomena yang memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Harga komoditas unggulan penyumbang ekspor mengalami penurunan.
Harga minyak sawit yang pada Desember 2022 berada pada level
940,4 USD per metrik ton, akhir Desember 2023 turun jadi 813,5 USD per metrik
ton. Dampaknya, kinerja ekspor lemak dan minyak hewani/nabati pada 2023 merosot
23,42 % dibandingkan 2022. Nilai ekspor komoditas ini pada 2023 sebesar 28,45 miliar
USD, turun dibandingkan nilai ekspor pada 2022 di 35,15 miliar USD. Padahal,
komoditas ini berkontribusi 11,71 % pada ekspor nonmigas atau 10,99 % dari total
ekspor. Harga batubara pada Desember 2023 senilai 141,8 USD per metrik ton, merosot
dari 379,2 USD per metrik ton pada Desember 2022, membuat kinerja ekspor
batubara menurun 19,09 % secara tahunan. Padahal, kontribusinya 13,38 % total
ekspor Indonesia.
Perlambatan ekonomi negara tujuan juga menurunkan permintaan
ekspor. Perekonomian China, misalnya, yang pada triwulan tiga 2023 tumbuh 4,9 %
turun dibandingkan triwulan dua, sebesar 6,3 %. Padahal, China adalah mitra
dagang utama RI dengan kontribusi ekspor 25,66 %, senilai 62 miliar USD. Ekonom
Bank Danamon, Irman Faiz, mengatakan, kendati mencatat penurunan ekspor, Indonesia
masih mencatat surplus neraca perdagangan, 44 bulan terakhir. Namun surplus turun
dari 3,92 miliar USD pada 2022 menjadi 3,31 miliar USD pada 2023. (Yoga)
Ekspor Terpukul Harga Komoditas
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022









