Ekspor
( 1055 )Freeport Akan Ajukan Relaksasi Ekspor hingga Akhir Tahun
Penurunan Kinerja Ekspor Bikin Ekonomi RI Tumbuh Melambat
Agar Tak Tumpang Tindih Mengelola Industri Sawit
Plt Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat
Sinaga mengatakan, Indonesia punya potensi untuk terus mengembangkan industri
sawit. Dengan tanah yang subur dan kebun yang masif dan luas, masih banyak
potensi yang bisa terus dikembangkan. Namun, potensi pengembangan itu sering
kali tidak maksimal, salah satunya terhambat masalah kelembagaan di Indonesia.
Tak kurang ada 30 kementerian dan lembaga negara yang membina dan meregulasi
industri ini. Kementerian tersebut seperti Kemenperin, Kementan, Kemendag,
serta KLHK. Setiap lembaga mempunyai tugas pokok dan fungsi berbeda sehingga banyak
sekali regulasi yang harus dipatuhi pelaku industri sawit. Pembinaan industri
sawit, berada di bawah pengawasan Kemenperin, namun, peremajaan dan tata kelola
tanaman berada di bawah Kementan. Lantas, persoalan ekspor dan hambatan
perdagangan internasional berada di bawah Kemendag.
”Banyak sekali kementerian dan lembaga yang ikut cawe-cawe
dan meregulasi industri sawit, membuat pengambilan keputusan kurang cepat dan sering
tumpang tindih satu sama lain,” kata Sahat dalam lokakarya wartawan tentang
industri hilir sawit, Bandung, Kamis (1/2). Ia mengusulkan, sebaiknya dibentuk
badan khusus untuk membina dan meregulasi industri sawit, mulai dari hulu
hingga hilir. Menurut dia, Indonesia bisa belajar dari Malaysia yang memiliki
Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang menata dengan baik kebijakan soal sawit
sehingga tidak lagi semrawut. Ketua Kompartemen Relasi Media Gabungan Pengusaha
Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fenny Sofyan mengatakan, tantangan pengembangan
industri sawit ini dihadapkan pada kepastian hukum dan kebijakan yang kerap
berubah, karena banyaknya kementerian dan lembaga yang punya ketentuan dan
aturan untuk industri sawit. (Yoga)
Sultra Ekspor Perdana Pinang ke Iran
RI Belum Terdampak Anjloknya Harga Nikel Dunia
Nikel yang tengah didera kelebihan pasokan diperkirakan akan
terus mengalami penurunan harga dalam beberapa tahun ke depan. Situasi ini
perlu diwaspadai pelaku usaha pengolahan meskipun diprediksi tidak akan terlalu
merugikan Indonesia. Harga komoditas tambang yang tercatat di Bursa London Metal
Exchange, Jumat (26/1) itu sebesar 16.648 USD per ton. Nilai itu terus merosot
dari harga rata-rata di tahun 2023 yang 21.521 USD per ton. Bahkan, kini lebih anjlok
daripada harga nikel di 2022 yang berada di kisaran 25.834 USD per ton. Ketua
Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan,
ini bukan kali pertama harga nikel merosot. Siklus harga komoditas di pasar
global pernah membuat harga nikel jatuh ke level 9.595 USD per ton pada tahun
2016.
”Harga nikel saat ini diperkirakan cenderung akan turun lagi
dalam 2-3 tahun ke depan sampai tercapai keseimbangan harga yang baru. Harga
komoditas lebih banyak ditentukan oleh supply dan demand sehingga bila
kelebihan pasok, harga cenderung turun,” katanya saat dihubungi Kompas, Jumat. Masalah
kelebihan pasokan kerap dihubungkan dengan rendahnya penyerapan nikel untuk
produksi baterai kendaraan listrik. Perusahaan konsultan global Woodmac melaporkan,
kebutuhan nikel untuk industri baterai 480.000 ton atau 15 % kebutuhan nikel
global saat ini. Rendahnya pemanfaatan nikel untuk produksi baterai diduga
karena munculnya teknologi-teknologi baru untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.
Sebagai contoh, lithium ferro phosphate (LFP) yang dikembangkan tanpa kandungan
nikel dan kobalt. (Yoga)
Belut Hidup dan Ruminer Masuki Pasar Ekspor
The Marketing of Indonesia Public Companies
Ekspor Produk Hijau Butuh Keberpihakan Pemerintah
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang dapat
dioptimalkan untuk menggenjot ekspor produk hijau yang dapat mengurangi dampak
perubahan iklim. Untuk mengembangkan potensi yang ada tersebut, kebijakan
pemerintah perlu berpihak kepada sektor industri berkelanjutan. Kepala Badan Kebijakan
Perdagangan Kemendag, Kasan mengatakan, Pemerintah Indonesia akan
mengoptimalkan sumber daya alam untuk meningkatkan kontribusi produk Indonesia
di rantai pasok perdagangan produk hijau global. Produk hijau atau barang ramah lingkungan (environmental goods)
mengacu pada produk yang dirancang untuk menggunakan lebih sedikit sumber daya
atau menghasilkan lebih sedikit emisi.
”Diharapkan upaya menggenjot perdagangan hijau dapat mengurangi
dampak perubahan iklim juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,”
ujarnya dalam forum yang diselenggarakan Bank Dunia bertema ”Peran Kebijakan
Perdagangan dalam Transformasi Hijau di Indonesia”, Kamis (18/1/2023), di Jakarta.
Kasan mencontohkan, salah satu komitmen tersebut tercermin dari ekspor
komoditas bijih nikel yang menjadi bahan baku penting bagi produk kendaraan
listrik. Di tingkat global, peringkat Indonesia sebagai eksportir sudah naik drastis
dari urutan ke-8 pada 2021 menjadi urutan pertama pada 2022. Produksi bijih
nikel Indonesia 1,6 juta ton pada tahun 2022, terpaut jauh dengan Filipina yang
menduduki peringkat kedua dunia dengan produksi 330.000 ton. Ke depan, pemerintah
akan mengandalkan program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas
primer. Ekspor produk hilirisasi komoditas nikel dan komoditas primer lainnya
akan ditujukan untuk mengutamakan perdagangan hijau yang turut berpihak kepada lingkungan
dan perubahan iklim. (Yoga)
Asal Efisien dan Kompetitif, Ekonomi RI Tak Terpengaruh China
Perekonomian China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat. Kendati demikian, pelaku usaha optimistis kontraksi China tidak serta-merta melumpuhkan ekonomi Indonesia selama iklim usaha dan investasi dapat semakin efisien dan kompetitif untuk investor. Dalam laporan terbaru Bank Dunia bertajuk ”Prospek Ekonomi Global 2024” yang terbit Januari ini, ekonomi China sepanjang 2024 diproyeksi hanya tumbuh 4,5 %, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,2 %. Berdasarkan laporan itu, negara dengan perekonomian terbesar nomor dua di dunia ini tengah memasuki masa kritis dan sedang bergulat dengan perlambatan struktural yang ditandai dengan pelemahan daya beli, sulitnya warga untuk mendapatkan pekerjaan, dan terpuruknya kepercayaan investor.
Dari kacamata dunia usaha dalam negeri, perlambatan ekonomi China yang terjadi dalam satu hingga dua tahun belakangan turut memperlambat putaran roda ekonomi Indonesia. Sebab, di sektor perdagangan, China menjadi penyuplai terbesar bahan baku dan bahan penolong untuk Indonesia. Selain itu, China juga menjadi negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia. BPS mencatat China sebagai mitra dagang utama baik dari sisi impor dengan nilai perdagangan 62,18 miliar USD (Rp 972 triliun) maupun ekspor yang mencapai 64,94 miliar USD (Rp 1.015 triliun) sepanjang 2023.
KomiteTetap Kebijakan Publik Kadin, Chandra Wahjudi, mengatakan, meski pelemahan ekonomi China dapat mengurangi volume ekspor Indonesia ke ”Negeri Tirai Bambu” tersebut, surplus neraca perdagangan tetap bisa terjaga tahun ini jika kebijakan hilirisasi industri diimplementasikan secara tepat. ”Neraca perdagangan akan tetap surplus bergantung pada implementasi kebijakan hilirisasi industri yang memberikan tambahan nilai yang lebih tinggi,” ujarnya, Rabu (17/1) di Jakarta. Selain menggelontorkan insentif untuk memacu hilirisasi industri, Chandra menilai pemerintah harus melakukan penyederhanaan regulasi dan perizinan ekspor untuk setiap produk ekspor.untuk memacu kinerja ekspor. (Yoga)
Ekspor Manufaktur Tembus US$ 187 Miliar
Ekspor industri manufaktur sepanjang 2023 berhasil menembus US$ 186,98 miliar atau menyumbang 72,24% dari total nilai ekspor nasional sebesar US$ 258,82 miliar. Hasil tersebut juga melampaui target ekspor sebesar US$ 186,40 miliar. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, ditengah kondisi dunia yang sedang tidak stabil, industri manufaktur tetap agresif untuk memperluas pasar ekspornya. "Untuk 2024, kami menargetkan US$ 193,4 miliar. Kami optimis segera tercapai," ungkap dia. Menperin menyebutkan, beberapa sektor yang menjadi penyumbang paling besar terhadap capaian nilai ekspor industri manufaktur nasional, antara lain industri logam dasar, industri makanan, industri bahan kimia, industri kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer, industri komputer kertas dan barang dari kertas. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022









