;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Ekspor Pendorong Kinerja Mayora

HR1 08 Mar 2024 Kontan

Kinerja Mayora Indah Tbk (MYOR) diproyeksi bakal bertumbuh di tahun ini. Momentum musiman yakni puasa dan Lebaran bakal menciptakan lonjakan konsumsi masyarakat sebesar 20%-30% dari bulan biasa. Sehingga hal ini berimbas terhadap kinerja MYOR. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Putu Chantika Putri mengatakan, sentimen lain yang bisa mendorong kinerja MYOR di tahun ini yaitu harga bahan baku yang mulai stabil di tengah daya beli yang masih terjaga. Sehingga manajemen MYOR menargetkan pertumbuhan pendapatan bisa mencapai 10% di tahun ini. MYOR mengakhiri tahun 2023 dengan kinerja yang kuat di kuartal IV 2023. Ini didorong oleh peningkatan marjin ditambah operating expenditure (opex) di kuartal IV yang lebih rendah terhadap penjualan sebesar 9,2%. Penjualan pada kuartal IV 2023 sebesar Rp 8,6 triliun atau naik 1,8% yoy. Utamanya didorong oleh penjualan ekspor yang tumbuh 7% year on year (yoy). "Sementara penjualan lokal turun 2% yoy yang disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat. Namun penjualan pada Januari 2024 telah menunjukkan peningkatan, sejalan dengan tren industri," kata Putu, dalam riset Ciptadana Sekuritas Asia, 1 Maret 2024. Pertumbuhan kuat dalam penjualan ekspor didorong oleh peningkatan inventaris untuk Tahun Baru Imlek 2024. Kinerja kuat muncul dari negara-negara Asia Tenggara. Sehingga mengimbangi melemahnya penjualan di Tiongkok dan Vietnam. Berdasarkan segmen, penjualan pengolahan makanan kemasan (termasuk biskuit dan wafer) relatif datar. Sementara penjualan pengolahan minuman kemasan (kopi dan sereal sarapan) tumbuh 10% yoy.

Secara kumulatif, total penjualan di 2023 sesuai ekspektasi sebesar Rp 31,4 triliun atau naik 2,7% yoy. Realisasi tersebut masuk dalam batas bawah kisaran panduan penjualan perusahaan ini tahun 2023 sebesar 3%-5%. Sehingga laba bersih MYOR secara kumulatif di 2023 mencapai Rp 3,2 triliun, naik 64% yoy. Harga komoditas Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi memproyeksi, konsumsi masyarakat bahkan bisa tumbuh 40% dibandingkan pada bulan biasanya pada momen puasa. Tapi harga bahan baku utama MYOR seperti gandum dan gula yang mengalami penurunan karena oversupply, faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen yang akan mempengaruhi kinerja MYOR ke depan. Kemudian, kenaikan harga kopi dan kakao karena kekhawatiran tentang cuaca El Nino juga akan jadi sentimen bagi MYOR. Menurut Reza, program bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dapat mendukung daya beli masyarakat dan berdampak positif pada kinerja MYOR. Reza menilai, target yang ditetapkan oleh manajemen MYOR dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% yoy bisa tercapai mengingat penjualan MYOR pada kuartal keempat 2023 cukup kuat. Selaras dengan hal ini, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan turunnya harga gandum juga diprediksi dapat menurunkan beban bisnis MYOR di tahun ini. Namun, Azis menyebutkan, saat ini saham MYOR sedang tertekan. MYOR turun sebesar 3,66% dalam sepekan, dan turun 0,84% dalam sebulan terakhir. Sehingga dia menyarnakan para investor untuk wait and see terlebih dulu dan bisa masuk jika ada teknikal rebound. Kami merekomendasikan trading buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.460 - Rp 2.480 per saham, dan dengan potensi upside 5%-7% jika ada rebound, ujar Azis, Kamis (7/3). Reza merekomendasikan buy MYOR dengan target harga Rp 3.000 per saham. Putu juga merekomendasikan buy MYOR, dengan target harga 3.300 per saham. nPenjualan MYOR di dalam negeri pada tahun 2023 masih relatif lemah.

Jangan Tersandung di Negeri Sendiri

KT3 06 Mar 2024 Kompas

Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis Kemenparekraf disebutkan, sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu menyerap sekitar 19,2 juta tenaga kerja, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Perputaran ekonominya terlihat dari kontribusi terhadap PDB yang mencapai Rp 1.153,4 triliun. Dalam neraca ekspor nasional, kontribusi ekraf terhadap ekspor nasional sebesar 19,6 juta USD atau 11,9 % pada 2019. Sejak 2011, nilainya berfluktuasi pada kisaran 15,6 juta USD hingga 20,3 juta USD dengan besaran tertinggi pada 2018. Meski berkontribusi besar, sektor ini dinilai belum cukup mendapat perhatian pemerintah. Sebagai gambaran, anggaran definitif Kemenparekraf pada 2024 hanya Rp 3,53 triliun, jauh lebih kecil dari sejumlah kementerian lainnya. Total alokasi belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.090,8 triliun. Padahal, efek pengganda pada sektor ekraf terhitung besar.

Pendiri sekaligus CEO Naruna Ceramic Roy Wibisono, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/3) menilai, potensi ekraf dengan perputaran ekonominya tergolong besar. Naruna merasakan permintaan keramik di pasar begitu tinggi. Kala pandemi Covid-19, Naruna yang memasok alat-alat makan buatan tangan justru tumbuh pesat. Harga per barang dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 500.000. Naruna bahkan berhasil mengekspor barang-barang keramiknya ke 16 negara, mulai dari Singapura hingga AS. Selain desain yang unik, metode pemasaran juga menjadi perhatian. Roy menggunakan beragam jalur penjualan, secara perorangan, melalui pengecer (reseller), dan penjualan barang dari penyuplai ke konsumen (dropshipper). ”Naruna itu memang riil ekraf. Bagaimana membuat sesuatu yang biasa dengan sentuhan kreativitas sehingga harganya bisa jauh lebih kuat,” kata Roy.

Di balik beragam potensinya, para pelaku usaha ekraf masih bergulat dengan sejumlah hambatan. Salah satunya birokrasi yang berbelit menyulitkan proses ekspor, yang menunjukkan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap para pelaku ekraf. Roy mengatakan, sertifikasi di dalam negeri juga jadi ”bumerang” bagi keberlangsungan usaha ekraf. Banyak auditor negara lain membuat penilaian menyesuaikan standar Indonesia, yang menyebabkan barang ditolak karena tak memenuhi detail persyaratan standar dalam negeri ketimbang ketentuan negara calon importir. ”Banyak sekali perizinan itu yang membuat industri di Indonesia tak bisa bergerak dengan bebas. Saya pernah melihat perizinan untuk suatu industri hampir 50 (unsur), seperti limbah, kebisingan, dan lain-lain. Itu semua ada masanya, ada perpanjangan yang butuh duit juga,” kata Roy. (Yoga)

Perpanjangan Rileksasi Ekspor PTFI Bersifat Fleksibel

KT1 01 Mar 2024 Investor Daily

Perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat bersifat akan flleksibel. Saat ini Pemerintah sedang menyusun intrusmen bea keluar konsentrat tembaga pasca Mei 2024. Hanya saja relaksasi ekspor diberikan jika PT Freeport Indonesia (PTFI) memenuhi komitmennya menyelesaikan smelter pada Mei mendatang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan potensi penyimpanan karbon nasional mencapai 572, miliar ton CO2 pada saline aquifer, dan sebesar 4,85 miliar ton CO2 pada depleted oil and gas reservoir. Potensi penyimpanan yang besar tersebut akan cukup signifikan dalam mendukung target penurunan emisi jangka panjang. "Perhitungan potensi penyimpanan karbon pada seline aquifer sekitar 572 miliar ton itu skalanya cekungan migas. Kalau perhitungan potensi pada depleted oil and gas reservoir sekitar 4,85 ,iliar ton itu skalanya sudah lapangan migas," kata Kepala Balai Besar Penguji Minyak dan Gas bumi LEMIGAS Ariana Soemanto. (Yetede)

Ekspor Terancam Resesi dan Konflik Geopolitik

KT1 19 Feb 2024 Investor Daily
Ekspor Indonesia terancam oleh resesi ekonomi di sejumlah negara dan konflik geopolitik. Pemerintah diminta menerapkan strategi jitu untuk menyelamatkan ekspor, salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. Jepang, mitra dagang nomor empat Indonesia, masuk jurang resesi tahun lalu, setelah ekonomi kontraksi selama dua kuartal beruntun. Pada 2023, ekspor Indonesia ke Jepang mencapai  US$ 18,8 miliar, sedangkan investasi asing langsung (foreign direct invesment/FDI). Perusahaan Jepang di negara ini mencapai US$ 4,63% miliar, berada di posisi keempat. Sementara itu, ekonomi Inggris pun turun 0,3% pada kuartal IV-2023, lebih buruk dari kuartal sebelum kontraksi 0,1%. Tekanan ekspor semakin berat, seiring prahara di Laut Merah yang membuat ekspor Indonesia ke Eropa terganggu. Hingga kini, konflik di kawasan itu tak kunjung mereda, melainkan semakin panas. Berdasarkan riset S&P Global, sekitar 12% pelayaran dunia melewati laut Merah. Kini, beberapa kapal besar memilih menempuh jarak yang lebih jauh mengitari Afrika untuk sampai Eropa demi menghindari Laut Merah. (Yetede)

Deflasi China Turut Picu Penurunan Kinerja Ekspor RI

KT3 16 Feb 2024 Kompas

China tengah mengalami deflasi dan diperkirakan akan mengakhiri era pertumbuhan ekonomi tinggi. Kondisi itu dipandang turut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia lantaran China merupakan pasar utama ekspor Indonesia. Pada Januari 2024, China mengalami deflasi 0,8 % secara tahunan. Penurunan Indeks Harga Konsumen pada Januari itu merupakan penurunan terbesar dalam 14 tahun terakhir. Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga mengalami deflasi sebesar 2,5 % secara tahunan. Meskipun sedikit membaik dari Desember 2023 yang sebesar 2,7 %, Indeks Harga Produsen tersebut masih melanjutkan tren deflasi selama 16 bulan berturut-turut atau sejak Oktober 2022. Deflasi di China turut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2024. BPS, Kamis (15/2) merilis, total ekspor migas dan nonmigas Indonesia pada Januari 2024 senilai 20,52 miliar USD, turun 8,34 % secara bulanan dan 8,06 % secara tahunan. Ekspor nonmigas turun paling dalam, sebesar 8,54 % secara bulanan, menjadi 19,13 miliar USD.

Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pada Januari 2024 nilai ekspor nonmigas Indonesia ke tiga pasar utama, yakni China, AS, dan India, menurun. Porsi ketiga negara tersebut terhadap total ekspor nonmigas RI sebesar 43,64 %. ”Dari ketiga negara itu, nilai ekspor ke China turun cukup signifikan sebesar 23,9 % secara bulanan dan 12,92 % secara tahunan menjadi 4,57 miliar USD. Komoditas yang menyumbang penurunan ekspor tersebut adalah bahan bakar mineral, termasuk batubara sebesar 3,85 %; bijihlogam,terak, dan abu 2,21 %.; serta lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk minyak sawit (CPO),” ujar Amalia dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. BPS juga mencatat, penurunan kinerja ekspor RI ke China itu menyebabkan defisit neraca perdagangan RI terhadap negara tersebut semakin besar, yaitu defisit 1,38 miliar USD. (Yoga) 

Transaksi Benih Lobster lewat BLU Berpotensi Konflik

KT3 13 Feb 2024 Kompas

Pemerintah sedang menggodok aturan mekanisme pemasaran benih bening lobster. Badan Layanan Umum (BLU) KKP disiapkan untuk menyerap, menjual, hingga mengendalikan pemasaran benih bening lobster ke luar negeri. Mekanisme ekspor benih itu masih menuai kontroversi. Mekanisme penjualan benih bening lobster ke luar negeri, antara lain, dipaparkan dalam konsultasi publik ketiga terkait harga patokan terendah benih bening lobster (Puerulus) yang digelar KKP, di Lombok, Senin (12/2). Hingga awal Februari 2024, tercatat lima perusahaan asal Vietnam siap masuk dan berinvestasi budidaya lobster di Indonesia sekaligus mengirim benih bening lobster ke luar negeri. Untuk mendapatkan benih bening lobster asal Indonesia, investor asing, harus merupakan pembudidaya terdaftar di negara asal dan membentuk PT berbadan hukum Indonesia.

Di samping itu, bekerja sama dengan BLU Perikanan Budidaya (BLU PB) membeli benih bening lobster dari BLU PB, melakukan alih teknologi budidaya lobster, dan sanggup melepas liar lobster. Negara asal investor juga memiliki perjanjian dengan Pemerintah Indonesia. KKP menyiapkan harga patokan terendah benih bening lobster ditingkat nelayan, Rp 8.500 per ekor. Harga patokan itu mempertimbangkan biaya variabel produksi, biaya tetap produksi, dan margin keuntungan. Nelayan penangkap benih bening lobster wajib terdaftar di BLU PB. Tiga BLU PB yang ditunjuk KKP adalah BLU di Jepara, Situbondo, dan Karawang, Founder dan CEO Ocean Solutions Indonesia Zulficar Mochtar, saat dihubungi di Jakarta, berpendapat, mekanisme penjualan benih ke luar negeri berpotensi melahirkan konflik ditingkat nelayan yang berebut mencari rekomendasi dan benih bening lobster untuk tujuan ekspor. Akibatnya, tujuan awal pemerintah untuk mengembangkan budidaya lobster di dalam negeri berpotensi terabaikan.

Peran BLU PB yang ditunjuk sebagai satu-satunya pengekspor benih bening lobster rawan menimbulkan konflik kepentingan. Di sisi lain, banyak instrumen, petunjuk teknis, dan SDM harus disiapkan untuk mengendalikan dan mengimplementasikan ekspor benih. ”Tanpa pengalaman sebelumnya, (peran BLU) bisa bermasalah,” ujarnya. Ia mengingatkan, rekomendasi dan kuota tangkapan benih bening lobster untuk tujuan ekspor belum ditunjang data yang kuat. Hingga kini, kajian stok benih bening lobster belum pernah dimutakhirkan. Skema ekspor benih bening lobster hanya akan memberikan keuntungan terbesar ke pemain kunci dan dominan lobster, yakni Vietnam, yang selama ini mengandalkan pasokan benih bening lobster dari Indonesia. Sebaliknya, hilirisasi atau bdidaya lobster di dalam negeri semakin sulit terwujud. (Yoga)

Ekspor Konsentrat Tembaga Disesuaikan Daya Serap Smelter

KT1 09 Feb 2024 Investor Daily
Pemerintah diminta menetapkan kuota ekspor konsentrat tembaga sesuai dengan daya serap smelter. Kuota yang diberikan ini terkait dengan perpanjangan relaksasi ekspor tersebut diberikan pemerintah dengan periode Juni 2023-Mei 2024. Adapun relaksasi ekspor tersebut diberikan pemerintah dengan periode Juni 2023-Mei 2024. Pada paruh pertama tahun ini ditargetkan dua smelter tembaga memasuki tahap commisioning. Smelter tersebut digarap oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral Industri. Hanya saja kedua smelter ini  belum bisa langsung berproduksi penuh. Alias membutuhkan waktu bertahap untuk  menyerap konsentrat tembaga. Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan operasi smelter secara berahap (ramp-up) merupakan fase yang dilalui dalam  pengoperasian peralatan baru. Ia pun berharap proyek kedua smelter dapat rampung sesuai dengan rencana kerja. (Yetede)

Freeport Akan Ajukan Relaksasi Ekspor hingga Akhir Tahun

KT1 03 Feb 2024 Investor Daily (H)
PT Freeport Indonesia berencana mengajukan perpanjangan (relaksasi) ekspor konsentrat tembaga yang saat ini berlaku hingga Mei 2024, menjadi Desember 2024. Hal ini sesuai dengan target pembangunan smelter yang akan beroperasi penuh pada akhir tahun. Hingga Desember 2023, progres pembangunan smelter mencapai 90,6%. Ekspor untuk saat ini masih sampai Mei, tentu nanti dipertengahan tahun kita akan revisi lagi sesuai dengan progres smelter. Kalau sudah 100% selesaikan  harusnya boleh ekspor.  Tapi itu nanti administratif dengan pemerintah, dengan kementerian ESDM," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas. "Smelter kita akhir Desember Alhamdulillah, puji Tuhan, sudah mencapai 90,6%, jadi masih sesuai dengan Kurva  S yang disetujui pemerintah. Dan rencananya di akhir Mei akan bisa mulai operasi. Agustus harapannya begitu (bisa diresmikan oleh Pak Jokowi)," katanya. (Yetede)

Penurunan Kinerja Ekspor Bikin Ekonomi RI Tumbuh Melambat

HR1 03 Feb 2024 Kontan
Penurunan kinerja ekspor RI berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 diramal melambat dibandingkan dengan angka pertumbuhan di 2022. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu sebesar 5,04% year on year (yoy), atau melambat dari pertumbuhan di tahun sebelumnya mencapai 5,31%. Penyebabnya,  "Net ekspor pada sepanjang 2023 akan cenderung menurun, sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas ekspor," ujar Josua kepada KONTAN, Jumat (2/2). Sedangkan pertumbuhan konsumsi rumahtangga pada tahun lalu, Josua perkirakan, sebesar 4,99% yoy, naik tipis dari capaian di tahun sebelumnya 4,93% yoy. Pun pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga lebih tinggi, mencapai 4,94% yoy, setelah pada 2022 lalu hanya tumbuh 4,51% yoy. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 sebesar 5,04% yoy. Namun, ia meyakini, pertumbuhan konsumsi rumahtangga akan lebih tinggi, yakni 5% yoy. Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual meramalkan pertumbuhan ekonomi 2023 akan melambat dari pencapaian di 2022. Dari perhitungannya, pertumbuhan ekonomi 2023 di kisaran 5,03% yoy. Begitu juga Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Kurniawati Yuli Ashari memperkirakan, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 akan tumbuh di kisaran 5,04% yoy. Sementara Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu berada di kisaran 5,10% yoy.

Agar Tak Tumpang Tindih Mengelola Industri Sawit

KT3 02 Feb 2024 Kompas

Plt Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, Indonesia punya potensi untuk terus mengembangkan industri sawit. Dengan tanah yang subur dan kebun yang masif dan luas, masih banyak potensi yang bisa terus dikembangkan. Namun, potensi pengembangan itu sering kali tidak maksimal, salah satunya terhambat masalah kelembagaan di Indonesia. Tak kurang ada 30 kementerian dan lembaga negara yang membina dan meregulasi industri ini. Kementerian tersebut seperti Kemenperin, Kementan, Kemendag, serta KLHK. Setiap lembaga mempunyai tugas pokok dan fungsi berbeda sehingga banyak sekali regulasi yang harus dipatuhi pelaku industri sawit. Pembinaan industri sawit, berada di bawah pengawasan Kemenperin, namun, peremajaan dan tata kelola tanaman berada di bawah Kementan.  Lantas, persoalan ekspor dan hambatan perdagangan internasional berada di bawah Kemendag.

”Banyak sekali kementerian dan lembaga yang ikut cawe-cawe dan meregulasi industri sawit, membuat pengambilan keputusan kurang cepat dan sering tumpang tindih satu sama lain,” kata Sahat dalam lokakarya wartawan tentang industri hilir sawit, Bandung, Kamis (1/2). Ia mengusulkan, sebaiknya dibentuk badan khusus untuk membina dan meregulasi industri sawit, mulai dari hulu hingga hilir. Menurut dia, Indonesia bisa belajar dari Malaysia yang memiliki Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang menata dengan baik kebijakan soal sawit sehingga tidak lagi semrawut. Ketua Kompartemen Relasi Media Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fenny Sofyan mengatakan, tantangan pengembangan industri sawit ini dihadapkan pada kepastian hukum dan kebijakan yang kerap berubah, karena banyaknya kementerian dan lembaga yang punya ketentuan dan aturan untuk industri sawit. (Yoga)