Utang
( 373 )Utang Pemerintah Terus Merangkak Naik
Pemerintah terus memupuk utang. Posisi utang pemerintah pada Oktober tahun ini mencapai Rp 7.950,52 triliun, atau tumbuh dari posisi September 2023 yang senilai Rp 7.891,61 triliun.
Mengutip Buku APBN KITA Edisi November 2023, rasio utang pemerintah saat ini terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 37,68%.
Rasio utang tersebut menurun dibandingkan akhir 2022 dan berada di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. "Rasio ini juga masih lebih baik dari yang telah ditetapkan pada kisaran 40% dalam Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah 2023-2026," tulis laporan buku tersebut dikutip, Selasa (28/11).
Adapun posisi utang pada September didominasi utang dari surat berharga negara (SBN) yang nilainya mencapai Rp 7.048,9 triliun. SBN ini terdiri dari SBN domestik mencapai Rp 5.677,55 triliun dan SBN valuta asing (valas) mencapai Rp 1.371,35 triliun.
Posisi utang pemerintah diperkirakan sulit kembali ke era sebelum pandemi Covid-19 yakni Rp 4.779,28 triliun. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto bahkan meramal, posisi utang pemerintah akan melonjak pada akhir 2023.
Hal senada dikemukakan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet, yang memperkirakan, rasio utang pemerintah baru akan kembali sebelum pandemi yakni pada tahun 2027 mendatang.
"Dengan mengikuti trend perkembangan penurunan rasio utang saat ini maka paling cepat waktu yang dibutuhkan agar rasio utang kembali ke era sebelum pandemi sekitar tiga sampai empat tahun," sebut Yusuf.
Bola Salju Utang Waskita Karya
Program Populis Pemutihan Utang UMKM
Krakatau Steel Dapat Restu Restrukturisasi Utang Rp 23 Triliun
Kuartal III, Utang Luar Negeri Turun Jadi US$ 393,7 Miliar
Jaminan APBN dan Jebakan Utang Kereta Cepat
Adu Cepat Restrukturisasi Utang Wijaya Karya dan Waskita
Perbankan Paling Banyak Terbitkan Surat Utang
Utang Luar Negeri Perlu Kewaspadaan
Utang luar negeri Indonesia pada akhir Agustus 2023 menurun
0,8 % secara tahunan menjadi 395,1 miliar USD. Utang tersebut dinilai tetap sehat
dilihat dari posisi jangka waktu utang yang mayoritas berjangka panjang dan
rasio utang dengan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah ambang batas. Namun,
pengelolaan utang perlu kewaspadaan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan
suku bunga The Fed. Berdasarkan data BI, utang luar negeri (ULN) Indonesia
hingga akhir Agustus 2023 tersebut terdiri atas utang pemerintah dan bank
sentral (utang publik) sebesar 200,8 miliar USD atau 50,82 % dari total ULN.
Selebihnya berasal dari utang swasta sebesar 194,3 miliar USD atau 49,28 % dari
total ULN. Secara keseluruhan, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka
panjang dengan porsi 87,4 % dari total ULN.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, dalam
keterangan resminya, Senin (16/10) menjelaskan, ULN pemerintah pada Agustus 2023
tumbuh melambat 3,6 %. Posisi ULN pemerintah tersebut turun dari 193,2 miliar USD
pada Juli 2023 menjadi 191,6 miliar USD pada Agustus 2023. ”Perkembangan ULN
tersebut utamanya dipengaruhi oleh perpindahan penempatan dana investor nonresident
(asing) dalam pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestic seiring dengan
volatilitas di pasar keuangan global yang tinggi,” ujarnya. Direktur Eksekutif
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad berpendapat,
pemerintah tetap perlu mewaspadai adanya potensi risiko dari ULN tersebut.
Risiko tersebut meliputi pelemahan nilai tukar rupiah dan kebijakan suku bunga
tinggi untuk waktu yang lama (higher for longer) oleh The Fed, bank sentral AS.
(Yoga)
Usahawan Kian Enggan Berutang
JAKARTA,ID-Kalangan pelaku usaha swasta nasional mulai menunjukkan kecenderungan untuk mengurangi utang luar negeri (ULN) mereka lebih dari dua tahun silam. Selain bisnis yang selain akibat permintaan yang terkontraksi menyusul pandemi Covid-19, hal itu juga dipicu oleh biaya dan resiko ULN yang kian besar ditengah ketidakpastian dan fluktuasi perekonomian global. Untuk menghindari resiko utang yang harus mereka tanggung di kemudian hari, sejumlah pelaku usaha bahkan rela membiayai sebagian dari usaha mereka dengan menyisihkan diantara setoran rutin tabungan ke bank. Sementara belum banyak pelaku usaha yang kurang percaya diri menggunakan pasar modal sebagai sumber pendanaan usaha mereka. "(Ini) bukan single faktor. Kami menyinyalir interaksi dari kedua faktor, internal dan eksternal, terhadap supply-demand utang luar negeri, menciptakan tingkat utang luar negeri yang lebih rendah," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaya kepada Investor Daily, baru-baru-ini. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









