Utang
( 373 )Penerbitan Obligasi Bakal Marak Setelah Pemilu
Krisis Pembiayaan Pendidikan
Biaya pendidikan yang kian mahal menjadi keprihatinan
masyarakat, selain harga barang kebutuhan pokok. Warga mencemaskan masa depan
anak mereka. Di level pendidikan tinggi, keluhan kian tak terjangkaunya uang
kuliah terus disuarakan mahasiswa dan orangtua setiap tahun. Dukungan pemerintah
yang mengecil karena keterbatasan kemampuan APBN membuat perguruan tinggi dituntut
mandiri. Hal ini menuntun pada komersialisasi yang membuat biaya pendidikan
kian melambung dan sulit dijangkau kelompok menengah ke bawah. Kondisi ini
memperlebar ketimpangan, membatasi mobilitas vertikal sosial-ekonomi masyarakat
bawah. Dengan rasio penduduk berpendidikan S-2 dan S-3 terhadap populasi produktif
0,45 %, sulit bagi kita bicara transformasi menuju Indonesia Emas.
Upaya mengatasi ketertinggalan terus dilakukan, termasuk
memperbanyak program beasiswa dan hibah serta pengiriman mahasiswa belajar di
dalam dan luar negeri. Namun, jumlahnya masih jauh dari mencukupi. Tahun 2018,
Presiden Jokowi mendorong perbankan lebih banyak lagi menyalurkan kredit
pendidikan, termasuk menjajaki skema student loan, seperti diterapkan di AS, namun
tak jelas perkembangannya. Yang muncul justru solusi pragmatis kerja sama
perguruan tinggi dengan lembaga pinjaman daring, yang kemudian memicu polemik
dan aksi protes mahasiswa karena memberatkan dan tak etis atau berpotensi
memunculkan problem baru.
Penyaluran pinjaman pendidikan sebenarnya sudah dilakukan
segelintir bank besar, tetapi masih terbatas. Selain karena belumada
payunghukum, keengganan terhadap skema student loan juga karena ada
kekhawatiran apa yang berlangsung di AS akan terjadi di Indonesia, yaitu tingginya
gagal bayar atau kredit macet yang bisa mengancam perekonomian. Pemerintah pun
dipaksa melakukan penghapusan, penangguhan, atau keringanan utang pendidikan bermasalah
ratusan miliar dollar AS. Pinjaman pendidikan bisa dikatakan tak memberatkan
jika skemanya sederhana, syaratnya mudah, bunga rendah, dan tenor panjang.
Swedia, Jerman, Finlandia, Norwegia, Denmark, dan Perancis adalah contoh negara
yang mengenakan bunga rendah, bahkan 0 %, untuk utang pendidikan. (Yoga)
Pemerintah Baru Diwarisi Utang Jumbo Era Jokowi
Utang Biaya Kuliah, Berkah atau Kutuk
Dalam dua dekade ini, biaya kuliah naik lebih dari dua kali
lipat. Terkait kondisi itu, pemerintah dan pengelola perguruan tinggi
menawarkan utang sebagai cara membayar uang kuliah. Namun, di sebagian negara,
utang itu membelit selama puluhan tahun. Dalam risalah edisi Rabu (7/2) Federal
Reserve mencatat, total utang uang kuliah AS mencapai 1,7 triliun USD. Bank sentral
AS itu juga mencatat, total kredit kendaraan bernilai 1,5 triliun USD. Sebagai
pembanding, PDB Indonesia 1,18 triliun USD. Sementara di Inggris, total utang
biaya kuliah mencapai 206 miliar pound sterling. Menurut Education Data Initiative,
rata-rata kenaikan biaya kuliah AS dalam dua dekade terakhir mencapai 179,2 %.
Pada beberapa perguruan tinggi, kenaikannya bisa lebih tinggi. Debitor di
sejumlah negara bolak-balik mengeluhkan jumlah cicilan yang mereka bayar.
Alumni West Chester University di Pennsylvania, Broke Samuelian,
mengaku telah mencicil rutin selama sepuluh tahun. Meski demikian, nilai utang
biaya kuliahnya tetap 25.000 USD. ”Saya cemas utang ini akan terus jadi beban keuangan
saya,” kata perempuan yang belajar forensik dan toksikologi itu. Ia salah satu
dari 43 juta warga AS yang menanggung utang biaya kuliah. Seperti Sa-muelian,
94 % debitor utang itu mengaku terbebani. Bahkan, 64 % debitor mengaku akan
berhenti membayar. Sementara 9 % debitor malah sudah benar-benar berhenti
membayar karena tidak mampu lagi mencicil. Jika tidak membayar, utang semakin
besar karena ada bunga. AS menetapkan bunga 5,5 % per tahun untuk pinjaman
bersubsidi. Untuk utang yang tidak disubsidi, bunganya 7,5 %. Pinjaman yang diajukan
atas nama orangtua mahasiswa dikenai bunga 8,05 %. Tingkat bunga berubah sesuai
kondisi pasar. Bunga itu berlaku untuk pinjaman yang disediakan pemerintah.
Sementara untuk kredit dari bank atau lembaga swasta, bunganya
lebih tinggi lagi. AS memberi peluang perpanjangan tenor hingga 25 tahun. Ahli
pendidikan berpendapat sistem pembayaran pinjaman mahasiswa yang terbaik adalah
sistem yang sederhana berdasarkan pendapatan mahasiswa. Adapun tenor ditetapkan
berjangka panjang dan penagihan secara otomatis. ”Jangka waktu yang lebih
pendek berarti lulusan berpenghasilan rendah akan selalu kesulitan dan berisiko
gagal bayar,” kata Lorraine Dearden, Profesor Statistik Ekonomi dan Sosial
University College London, di The New York Times. Sistem pinjaman pendidikan tak
bisa melupakan tujuannya untuk meningkatkan harkat peminjam. Sistem yang abai pada
sisi manusiawi peminjam justru akan menuai masalah di kemudian hari. Apalagi,
jika utang pendidikan dibiarkan menjadi ajang mencari cuan bagi pinjaman
daring. (Yoga)
Bayar Utang Luar Negeri, Cadev Turun Jadi US$ 145,1 Miliar
Penanda Kerentaan Utang Negara
Bola Salju Utang Pemerintah
Beban Berat APBN Bayar Bunga Utang
Merah-Biru Rapor Sri Mulyani
Meningkat 2% ULN Masih Terkendali
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









