;

Bola Salju Utang Waskita Karya

Bola Salju Utang Waskita Karya
Gagal bayar Waskita bisa menjadi bola salju yang liar. Selama masa suspensi saham WSKT saja, para pemegang obligasi tak bisa bertransaksi. Akibatnya, pengelola dana pensiun bisa kurang bayar kepada para pensiunan, atau perusahaan asuransi tak bisa menebus premi yang dibayarkan para nasabahnya. Menurut data OJK, ada 734 ribu orang yang terdaftar sebagai nasabah dana pensiun. Problem keuangan Waskita sebetulnya sudah terendus lama. Total utang Waskita Karya Rp 84,31 triliun, terbesar di antara BUMN karya. Utang itu berasal dari beban biaya tiga proyek jalan tol: Kayu Agung-Palembang-Betung, Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, dan Krian-Legundi-Bunder-Manyar di Surabaya-Mojokerto. Cawang-Kampung Melayu, dan Krian-Legundi-Bunder-Manyar di Surabaya-Mojokerto.

Dengan demikian, kewajiban Waskita Karya bukan hanya kepada pemegang obligasi, tapi juga kepada bank. “Untungnya”, bank-bank pemberi utang itu sebagian besar juga bank BUMN, sehingga Menteri BUMN bisa mengintervensi mereka agar menangguhkan pembayaran jatuh tempo 10 tahun. Masalahnya, penyakit tidak akan sembuh jika tak diobati. Pemerintah mencoba menyiapkan jalan keluar dengan berencana memindahkan 75 persen saham pemerintah di Waskita ke Hutama Karya, BUMN karya lain yang tak punya utang sebesar Waskita. Masalahnya, inbreng ini bisa sekadar memindahkan masalah jika tak dibarengi dengan restrukturisasi utang Waskita. Inbreng hanya bisa jalan jika urusan utang sudah beres.

Setelah itu, pemerintah akan menjual jalan-jalan tol jika kelak Waskita beres mengerjakannya. Lagi-lagi, solusi ini pun bisa boncos jika harganya rendah karena okupansi jalan-jalan tol itu belum teruji. Jamak kita tahu bahwa semua proyek infrastruktur besar di era Jokowi dilakukan tanpa kajian yang memadai, sehingga mencapai nilai keekonomian yang tak merugikan. (Yetede)
Download Aplikasi Labirin :