Digital Ekonomi umum
( 1150 )Algoritma yang Melahirkan Kartel
Algoritma yang Melahirkan Kartel
Mengurai Dominasi Platform Digital Global
”Winner takes all market” Ekosistem bermedia hari ini menampakkan
struktur yang berlapis-lapis. Bagaimana masyarakat mengonsumsi informasi,
kurang lebih ditentukan oleh apa platform media sosial (medsos), platform mesin
pencari, platform video, web browser, sistem operasi, serta aplikasi tertanam
dalam gawai yang mereka gunakan. Model periklanan yang banyak digunakan
pengiklan juga ditentukan oleh perilaku konsumsi media yang terbentuk oleh
hal-hal tersebut. Dalam konteks inilah, perusahaan platform digital
mengendalikan praktik bermedia. Google secara paripurna menguasai pangsa pasar
teknologi mesin pencari (Google Search), platform video (Youtube), web browser
(Chrome) dan sistem operasi (Android).
Meta mendominasi jagat medsos dengan mengoperasikan platform
medsos terpopuler: Facebook, Instagram, Whatsapp. Dengan dominasi tersebut,
Google dan Meta mempraktikkan monopsoni sekaligus monopoli, yakni menguasai
pasar secara paripurna karena baik bahan dasar (data perilaku pengguna) maupun
produk akhir (teknologi, informasi, dan iklan) dikendalikan pihak yang sama. Semakin
kuat winner takes all market, semakin lebar ketimpangan antara penguasa pasar
dan pelaku pasar lain. Inilah yang terjadi dalam hubungan antara perusahaan platform
digital dan perusahaan media massa, termasuk di Indonesia. Dalam laporan We are
Social dan Melwater, dari total belanja iklan Indonesia pada 2023 yang mencapai
Rp 103,4 triliun, belanja iklan digital memiliki porsi 46 % (Rp 47,5 triliun).
Dengan pertumbuhan di atas 10 % per tahun, belanja iklan
digital diperkirakan akan menyudahi dominasi belanja iklan televisi di Indonesia
pada 2025. Sayangnya yang menikmati pertumbuhan ini bukan media massa konvensional,
melainkan raksasa digital Google dan Meta. Dalam tiga tahun terakhir, duopoli
itu menguasai lebih dari 70 % belanja iklan digital di Indonesia, melalui dua
cara. Pertama, mereka adalah pemilik inventori iklan terbesar yang mengoperasikan
platform mesin pencarian, video, dan media sosial dengan popularitas yang tak
tertandingi. Popularitas ini mampu melahirkan persepsi publik, ”kalau mau
mencari informasi, hiburan, dan jejaring, harus ke Google Search, Youtube, Facebook
dan Instagram”. Dalam peta belanja iklan digital Indonesia tahun 2023, ketiga
jenis periklanan ini memiliki porsi masing-masing: iklan pencarian (32 %/Rp 15,5
triliun), iklan medsos (35 %/Rp 16,7 triliun), iklan video (14,8 %/Rp 10,9 triliun).
Kedua, perusahaan platform digital juga mengoperasikan berbagai
teknologi penunjang periklanan digital yang semakin lama semakin sulit
dihindari penerapannya oleh para penerbit dan pengiklan, seperti DSP, SSP, Ads
Servers, Trading Desk, WebBrowser, analytics software provider, dan data provider.
Teknologi-teknologi ini melahirkan mode periklanan programatik di mana
perusahaan platform bertindak sebagai broker yang menjembatani hubungan antara
pengiklan dan media. Sebagai broker, ”diam-diam” mereka mengambil porsi bagi
hasil terbesar, diperkirakan mencapai 61-74 % dari nilai transaksi iklan. Padahal,
porsi periklanan programatik sangat dominan dalam pasar periklanan digital di
Indonesia, yakni 80 % (Rp 38,6 triliun) dari total belanja iklan digital
Indonesia 2023. (Yoga)
Jebakan di Ujung Jari, THR Ludes hingga Terlilit Utang
Tunjangan hari raya (THR) sudah cair? Kalaupun belum,
berderet kebutuhan hari raya menunggu dipenuhi. Ditambah kebutuhan rutin, daftar
belanja bertambah panjang. Walau masih bayangan, bakal segera belanja menerbitkan
rasa senang tersendiri. Selain ke mal dan supermarket, belanja daring telah menjadi
kebiasaan yang makin lama makin memikat. Sekali mengetik nama atau jenis barang
di lokapasar, berbagai pilihan muncul. Harga bersaing dan tinggal memilih
teknis pengiriman, barang diterima sesuai harapan. Sesuai hasil riset, belanja
daring seperti halnya berjalan-jalan dan berbelanja di mal, sama-sama mujarab untuk
mengurangi kesedihan.
Majalah Time, Maret, menyuguhkan ulasan tentang mengapa orang
menghabiskan banyak uang untuk berbelanja. Sebab, sekarang, belanja dan membayar
apa pun secara daring makin minus hambatan. Mulai dari memesan kamar hotel,
berbagai jasa di tempat wisata, belanja baju, sampai beras dan tisu tinggal
ketuk di layar ponsel. Terlebih ada pilihan buy now pay later dan cicilan. Yuqian
Xu, peneliti metode pembayaran tanpa menggesek, menyatakan, membayar melalui
ponsel hanya butuh 29 detik. Membayar dengan kartu kredit butuh 40 detik. Kecepatan
dan kenyamanan itu mengakselerasi pengeluaran uang seseorang. Semakin nyaman
berbelanja secara digital, maka secara umum akan semakin mudah menghamburkan
uang.
Dari data OJK, piutang pembiayaan produk beli sekarang bayar
nanti (buy now pay later/BNPL) sebesar Rp 5,54 triliun pada Januari 202, meningkat
21,66 % (YOY) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 4,56 triliun. Banyak
kejadian besaran utang rumah tangga lebih besar dari pendapatan dan berujung
terlilit utang. Pada akhirnya, yang terjadi setiap bulan terjebak mencicil
utang yang terus membengkak karena bunga berbunga. Dalam hitungan hari, THR tahun
ini bagai oase baru tambahan pendapatan yang bisa meringankan berbagai beban keuangan.
Mengendalikan nafsu di ujung jari yang berselancar di layar ponsel menjadi kunci
agar tidak makin terbelit utang setelah berhari raya. (Yoga)
Asuransi ASO Tidak Proteksi Dana Lender
Data Center Milik Bitera Topang Ekonomi Digital
Menghapus Mimpi Semu Pungutan Digital
Mimpi Indonesia untuk meraup penerimaan dari transaksi perdagangan digital antarnegara menemui jalan buntu. Mayoritas negara menolak pencabutan moratorium bea masuk perdagangan barang digital lewat tapal batas. Pada WTO's 13th Ministerial Conference (MC13) yang digelar 26—29 Februari 2024, dapat dipastikan bahwa moratorium bakal diperpanjang. Bahkan, instrumen bea masuk perdagangan barang digital yang sudah berusia 25 tahun itu dapat dipermanenkan. Perlu diketahui, sejak 1998, anggota Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) secara berkala menyetujui perpanjangan moratorium pengenaan bea masuk tersebut. Perpanjangan terakhir disepakati pada Juni 2022 pada Konferensi Tingkat Menteri WTO (MC12). Selain memperpanjang moratorium hingga MC13, para anggota MC12, termasuk India, sepakat untuk mengintensifkan diskusi mengenai ruang lingkup, definisi, dan dampak moratorium. Indonesia bersama India dan Afrika Selatan, merupakan motor pengusung penghapusan moratorium bea masuk transaksi perdagangan digital antarnegara. Oleh sebab itu, India menegaskan kembali untuk mengkaji ulang implikasi moratorium bea masuk pada transaksi elektronik, khususnya bagi negara berkembang dan negara kurang berkembang (LDCs) pada MC13 pada 28 Februari 2024. Instrumen itu menjadi tantangan negara berkembang dalam meningkatkan partisipasi e-commerce di dunia. India bersama Indonesia dan Afrika Selatan telah lama berupaya untuk mengakhiri moratorium bea masuk atas barang digital dengan alasan pungutan itu cenderung menguntungkan negara maju. New Delhi percaya bahwa suatu negara harus bebas melakukan pungutan bea masuk. Pasalnya, negara berkembang kehilangan pendapatan hingga US$10 miliar karena moratorium ini. Alasan Afrika Selatan hampir sama dengan India. Adapun motif Indonesia dapat dikatakan berbeda. Jargon pemerintah RI bahwa pungutan bea masuk transaksi digital untuk menambah pundi-pundi penerimaan negara. Dengan masukanya barang digital dalam klasifikasi barang kepabeanan, maka pemerintah melalui ketentuan tersebut, memutuskan untuk membebaskan tarif bagi impor barang tak berwujud alias bertarif 0%. Pada pembahasan hari terakhir MC13, negara maju dari WTO tidak pernah berfikir bakal mencabut moratorium. Bahkan, bakal dibuat permanen. Sebaiknya memang pemerintah berfikir realistis dengan mengoptimalkan penerimaan dari wajib pajak. Penerimaan wajib pajak selain ekstensifikasi, dapat dilakukan dengan memacu pertumbuhan ekonomi. Berfikir visioner, seperti India justru lebih baik, yakni menyiapkan industri raksasa digital di dalam negeri. Tidak sekadar menjadi pasar produk digital negara asing.
GoTo Andalkan Layanan ”On-Demand” dan Tekfin
Lini bisnis layanan on-demand dan teknologi finansial menjadi
andalan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) dalam memperluas jangkauan dan
monetisasi pasar selama 2024. Kedua lini bisnis ini juga dianggap bisa membantu
perseroan mengejar laba. Direktur/Presiden Teknologi Finansial GoTo Hans Patuwo
saat sesi paparan publik, Rabu (28/2) di Jakarta, mengatakan, laporan riset E-Conomy
SEA2023 yang dirilis Google,Temasek, dan Bain & Company menunjukkan, layanan
on-demand, seperti transportasi dan pengantaran makanan, di Indonesia
diprediksi akan tumbuh sekitar 20 miliar USD pada 2030. Industri layanan
pembayaran digital diperkirakan tumbuh 760 miliar USD dan pembukuan pinjaman
digital tumbuh 40 miliar USD pada 2030. ”Riset itu menggambarkan potensi bisnis
yang besar bagi segmen on-demand dan teknologi finansial,” ujarnya.
Menurut Hans, pada triwulan IV-2023, adjusted EBITDA, atau
laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang disesuaikan, pada
GoTo positif. Nilai adjusted EBITDA GoTo terus membaik dalam tujuh triwulan
terakhir. Untuk memperkuat kinerja, GoTo menyusun strategi guna mencapai
adjusted EBITDA grup positif tahun 2024. Pilar pertamanya adalah meningkatkan
frekuensi pelanggan lamaserta terus memperluas jangkauan pasar, melalui
produk-produk yang menjangkau konsumen dengan karakteristik suka
memprioritaskan harga, seperti GoCar hemat, GoFood hemat, dan aplikasi GoPay. Pilar
keduanya, meningkatkan monetisasi melalui produk teknologi finansial yang mampu
menghasilkan take rate atau komisi lebih tinggi, seperti GoPayLater, GoPay
Pinjam, dan GoPay Tabungan yang bekerja sama dengan Bank Jago. Di luar kedua
pilar itu, perseroan juga berkomitmen disiplin mengelola beban usaha yang
mencakup beban infrastruktur dan pengembangan teknologi informasi, beban
operasional tetap, serta insentif dan promosi. (Yoga)
Tunggu Nasib Moratorium Bea Masuk Barang Digital
Kemenkominfo Didik 127 Ribu Talenta Digital
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022








