Digital Ekonomi umum
( 1143 )CEO Apple Tim Cook Dorong Pertumbuhan Komunitas Pengembang Digital
CEO Apple Tim Cook menghabiskan 48 jam di Indonesia pada
16 - 17 April 2024. Dalam unggahan terakhirnya di Indonesia di platform X, dia berada
di Apple Developer Academy BSD City, Tangsel, Banten. Cook menyebutkan dirinya
menantikan pembukaan akademi baru di Bali untuk mendukung lebih banyak
pengembang lokal. Cook meninggalkan Indonesia pada Kamis (18/4). ”Kami senang
sekali dengan berkembangnya komunitas pengembang di Indonesia dan kami berharap
dapat berinvestasi pada kesuksesan lebih banyak pengembang dengan akademi keempat
kami di negara ini,” ujar Cook dalam siaran pers di laman Apple Kamis. Akademi-akademi
Apple yang berada di Indonesia menerima peserta dari berbagai latar belakang
personal dan profesional. Hingga saat ini, peserta akademi ini berasal dari lebih
dari 90 kota di seluruh Indonesia dengan rentang usia antara 18 dan 50 tahun.
Cook berkunjung ke Apple Developer Academy yang berlokasi di
BSD City, Tangerang Selatan, pada Rabu (17/4) pukul 15.00. Di sana dia berkeliling
dan menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pengembang lokal. Salah satunya
pengembang aplikasi PetaNetra, yakni Jessi Febria, Graciela Gabrielle Angeline,
dan Yafonia Hutabarat. Aplikasi bertajuk PetaNetra ini menggunakan jalur augmented
reality untuk menyarankan rute paling aman dan paling cepat dengan
mempertimbangkan hal-hal seperti dinding, pola lantai, dan obyek lainnya. Tim ini
telah menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga ternama, termasuk Perpustakaan Jakarta,
untuk memetakan ruangan dan meningkatkan fitur aplikasi ini.
Rabu (17/4), Cook berkunjung ke Istana Kepresidenan, Jakarta,
bertemu Presiden Jokowi. Dia didampingi Vice President Apple Inc Liza Jackson,
Head Global Apple Inc Nick Amman, Head Government Apple Inc Elizabeth Hernandez,
dan Government Affair South East Asia Apple Inc Mirza Natadisastra. Pertemuan
tersebut berfokus pada eksplorasi rencana strategis Apple, termasuk peluang ekspansi
Apple di Indonesia dan integrasi lebih dalam ke dalam rantai pasok global.
Apple berencana untuk menambah Apple Developer Academy ke empat sebagai
investasi di Indonesia. Saat ini telah ada tiga Apple Developer Academy yang tersebar
di Surabaya, Batam, dan Tangerang. ”Kami berbicara tentang keinginan Presiden melihat
ada manufaktur produk Apple di negara ini dan hal itu adalah sesuatu yang akan
kami pertimbangkan,” ujar Cook. (Yoga)
DJP : Penerimaan Sektor Ekonomi Digitalisasi Rp 23 Triliun
Telkom Buka Kelas Pemasaran Digital Gratis Bagi UMKM
Algoritma yang Melahirkan Kartel
Algoritma yang Melahirkan Kartel
Mengurai Dominasi Platform Digital Global
”Winner takes all market” Ekosistem bermedia hari ini menampakkan
struktur yang berlapis-lapis. Bagaimana masyarakat mengonsumsi informasi,
kurang lebih ditentukan oleh apa platform media sosial (medsos), platform mesin
pencari, platform video, web browser, sistem operasi, serta aplikasi tertanam
dalam gawai yang mereka gunakan. Model periklanan yang banyak digunakan
pengiklan juga ditentukan oleh perilaku konsumsi media yang terbentuk oleh
hal-hal tersebut. Dalam konteks inilah, perusahaan platform digital
mengendalikan praktik bermedia. Google secara paripurna menguasai pangsa pasar
teknologi mesin pencari (Google Search), platform video (Youtube), web browser
(Chrome) dan sistem operasi (Android).
Meta mendominasi jagat medsos dengan mengoperasikan platform
medsos terpopuler: Facebook, Instagram, Whatsapp. Dengan dominasi tersebut,
Google dan Meta mempraktikkan monopsoni sekaligus monopoli, yakni menguasai
pasar secara paripurna karena baik bahan dasar (data perilaku pengguna) maupun
produk akhir (teknologi, informasi, dan iklan) dikendalikan pihak yang sama. Semakin
kuat winner takes all market, semakin lebar ketimpangan antara penguasa pasar
dan pelaku pasar lain. Inilah yang terjadi dalam hubungan antara perusahaan platform
digital dan perusahaan media massa, termasuk di Indonesia. Dalam laporan We are
Social dan Melwater, dari total belanja iklan Indonesia pada 2023 yang mencapai
Rp 103,4 triliun, belanja iklan digital memiliki porsi 46 % (Rp 47,5 triliun).
Dengan pertumbuhan di atas 10 % per tahun, belanja iklan
digital diperkirakan akan menyudahi dominasi belanja iklan televisi di Indonesia
pada 2025. Sayangnya yang menikmati pertumbuhan ini bukan media massa konvensional,
melainkan raksasa digital Google dan Meta. Dalam tiga tahun terakhir, duopoli
itu menguasai lebih dari 70 % belanja iklan digital di Indonesia, melalui dua
cara. Pertama, mereka adalah pemilik inventori iklan terbesar yang mengoperasikan
platform mesin pencarian, video, dan media sosial dengan popularitas yang tak
tertandingi. Popularitas ini mampu melahirkan persepsi publik, ”kalau mau
mencari informasi, hiburan, dan jejaring, harus ke Google Search, Youtube, Facebook
dan Instagram”. Dalam peta belanja iklan digital Indonesia tahun 2023, ketiga
jenis periklanan ini memiliki porsi masing-masing: iklan pencarian (32 %/Rp 15,5
triliun), iklan medsos (35 %/Rp 16,7 triliun), iklan video (14,8 %/Rp 10,9 triliun).
Kedua, perusahaan platform digital juga mengoperasikan berbagai
teknologi penunjang periklanan digital yang semakin lama semakin sulit
dihindari penerapannya oleh para penerbit dan pengiklan, seperti DSP, SSP, Ads
Servers, Trading Desk, WebBrowser, analytics software provider, dan data provider.
Teknologi-teknologi ini melahirkan mode periklanan programatik di mana
perusahaan platform bertindak sebagai broker yang menjembatani hubungan antara
pengiklan dan media. Sebagai broker, ”diam-diam” mereka mengambil porsi bagi
hasil terbesar, diperkirakan mencapai 61-74 % dari nilai transaksi iklan. Padahal,
porsi periklanan programatik sangat dominan dalam pasar periklanan digital di
Indonesia, yakni 80 % (Rp 38,6 triliun) dari total belanja iklan digital
Indonesia 2023. (Yoga)
Jebakan di Ujung Jari, THR Ludes hingga Terlilit Utang
Tunjangan hari raya (THR) sudah cair? Kalaupun belum,
berderet kebutuhan hari raya menunggu dipenuhi. Ditambah kebutuhan rutin, daftar
belanja bertambah panjang. Walau masih bayangan, bakal segera belanja menerbitkan
rasa senang tersendiri. Selain ke mal dan supermarket, belanja daring telah menjadi
kebiasaan yang makin lama makin memikat. Sekali mengetik nama atau jenis barang
di lokapasar, berbagai pilihan muncul. Harga bersaing dan tinggal memilih
teknis pengiriman, barang diterima sesuai harapan. Sesuai hasil riset, belanja
daring seperti halnya berjalan-jalan dan berbelanja di mal, sama-sama mujarab untuk
mengurangi kesedihan.
Majalah Time, Maret, menyuguhkan ulasan tentang mengapa orang
menghabiskan banyak uang untuk berbelanja. Sebab, sekarang, belanja dan membayar
apa pun secara daring makin minus hambatan. Mulai dari memesan kamar hotel,
berbagai jasa di tempat wisata, belanja baju, sampai beras dan tisu tinggal
ketuk di layar ponsel. Terlebih ada pilihan buy now pay later dan cicilan. Yuqian
Xu, peneliti metode pembayaran tanpa menggesek, menyatakan, membayar melalui
ponsel hanya butuh 29 detik. Membayar dengan kartu kredit butuh 40 detik. Kecepatan
dan kenyamanan itu mengakselerasi pengeluaran uang seseorang. Semakin nyaman
berbelanja secara digital, maka secara umum akan semakin mudah menghamburkan
uang.
Dari data OJK, piutang pembiayaan produk beli sekarang bayar
nanti (buy now pay later/BNPL) sebesar Rp 5,54 triliun pada Januari 202, meningkat
21,66 % (YOY) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 4,56 triliun. Banyak
kejadian besaran utang rumah tangga lebih besar dari pendapatan dan berujung
terlilit utang. Pada akhirnya, yang terjadi setiap bulan terjebak mencicil
utang yang terus membengkak karena bunga berbunga. Dalam hitungan hari, THR tahun
ini bagai oase baru tambahan pendapatan yang bisa meringankan berbagai beban keuangan.
Mengendalikan nafsu di ujung jari yang berselancar di layar ponsel menjadi kunci
agar tidak makin terbelit utang setelah berhari raya. (Yoga)
Asuransi ASO Tidak Proteksi Dana Lender
Data Center Milik Bitera Topang Ekonomi Digital
Menghapus Mimpi Semu Pungutan Digital
Mimpi Indonesia untuk meraup penerimaan dari transaksi perdagangan digital antarnegara menemui jalan buntu. Mayoritas negara menolak pencabutan moratorium bea masuk perdagangan barang digital lewat tapal batas. Pada WTO's 13th Ministerial Conference (MC13) yang digelar 26—29 Februari 2024, dapat dipastikan bahwa moratorium bakal diperpanjang. Bahkan, instrumen bea masuk perdagangan barang digital yang sudah berusia 25 tahun itu dapat dipermanenkan. Perlu diketahui, sejak 1998, anggota Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) secara berkala menyetujui perpanjangan moratorium pengenaan bea masuk tersebut. Perpanjangan terakhir disepakati pada Juni 2022 pada Konferensi Tingkat Menteri WTO (MC12). Selain memperpanjang moratorium hingga MC13, para anggota MC12, termasuk India, sepakat untuk mengintensifkan diskusi mengenai ruang lingkup, definisi, dan dampak moratorium. Indonesia bersama India dan Afrika Selatan, merupakan motor pengusung penghapusan moratorium bea masuk transaksi perdagangan digital antarnegara. Oleh sebab itu, India menegaskan kembali untuk mengkaji ulang implikasi moratorium bea masuk pada transaksi elektronik, khususnya bagi negara berkembang dan negara kurang berkembang (LDCs) pada MC13 pada 28 Februari 2024. Instrumen itu menjadi tantangan negara berkembang dalam meningkatkan partisipasi e-commerce di dunia. India bersama Indonesia dan Afrika Selatan telah lama berupaya untuk mengakhiri moratorium bea masuk atas barang digital dengan alasan pungutan itu cenderung menguntungkan negara maju. New Delhi percaya bahwa suatu negara harus bebas melakukan pungutan bea masuk. Pasalnya, negara berkembang kehilangan pendapatan hingga US$10 miliar karena moratorium ini. Alasan Afrika Selatan hampir sama dengan India. Adapun motif Indonesia dapat dikatakan berbeda. Jargon pemerintah RI bahwa pungutan bea masuk transaksi digital untuk menambah pundi-pundi penerimaan negara. Dengan masukanya barang digital dalam klasifikasi barang kepabeanan, maka pemerintah melalui ketentuan tersebut, memutuskan untuk membebaskan tarif bagi impor barang tak berwujud alias bertarif 0%. Pada pembahasan hari terakhir MC13, negara maju dari WTO tidak pernah berfikir bakal mencabut moratorium. Bahkan, bakal dibuat permanen. Sebaiknya memang pemerintah berfikir realistis dengan mengoptimalkan penerimaan dari wajib pajak. Penerimaan wajib pajak selain ekstensifikasi, dapat dilakukan dengan memacu pertumbuhan ekonomi. Berfikir visioner, seperti India justru lebih baik, yakni menyiapkan industri raksasa digital di dalam negeri. Tidak sekadar menjadi pasar produk digital negara asing.
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022








