Digital Ekonomi umum
( 1180 )Persaingan Nike dan Adidas
Bagi sebagian orang, jika sudah menggunakan
Adidas, mereka enggan beralih ke Nike, begitu pula sebaliknya. Salah satunya
Fildaz Raeditya (33) yang selama 10 tahun setia menggunakan produk Adidas tanpa
pernah membeli merek lain. Dari berbagai produk yang pernah ia coba sebelumnya,
Adidas menjadi pilihan yang paling nyaman di kakinya, sesuai dengan selera, dan
memberikan rasa percaya diri yang lebih. ”Durability (daya tahan) Adidas luar
biasa. Total ada delapan pasang sepatu yang saya miliki. Dari yang termurah, Rp
300.000 untuk model Superstar, hingga yang termahal Rp 3 juta, yaitu Microacer,
favorit saya. Yang paling sering dipakai Adizero SL,” ujarnya, Selasa (18/3).
Menurut Didit, kesetiaannya pada
Adidas didasarkan pada konsep klasik yang ditawarkan merek tersebut. Selain
itu, beberapa seri Adidas juga menghadirkan sentuhan futuristik, bahkan menggabungkan
kedua konsep itu dalam satu desain. Yavi Diamanta. Hingga usia 30 tahun, tetap
setia pada Nike dan tak pernah beralih ke merek lain. ”Nike punya kampanye yang
luar biasa. Bold, well-crafted, dan erat dengan dunia atlet. Gue suka banget
atlet-atlet Nike. Cerita bagaimana Nike bisa merekrut Michael Jordan, misalnya,
itu gila banget. Belum lagi deretan sepatu ikonik Nike yang sudah menjadi
bagian dari kultur,” ujar Yavi. Menurut dia, model Air Jordan 1 adalah sepatu
yang tak lekang oleh waktu.
Dua koleksi lainnya yang menjadi
favoritnya adalah Nike Blazer Mid 77 dan Jordan 1 Purple Court. Dari kecil dia memang
suka dan merasa paling cocok dengan Nike, dan tidak tertarik membeli merek lain.
Persaingan merebut hati konsumen tak hanya terlihat dari cerita Yavi dan Didit.
Dua jenama, Nike dan Adidas, juga bersaing ketat berdasarkan sejumlah data.
Mengutip laporan Brand Finance, di sektor aparel atau fashion, kedua merek ini
masuk 10 besar merek dengan nilai tertinggi di dunia pada 2024. Nike, mencatat
nilai merek sebesar 29,873 miliar USD, menempati peringkat kedua. Posisi Nike
digeser Louis Vuitton dari Perancis yang kini berada di peringkat pertama
dengan nilai pasar 32,235 miliar USD.
Pada 2024, Adidas berada di peringkat
kedelapan dengan nilai pasar 14,448 miliar USD. Dengan kekuatan branding-nya
yang solid, kedua jenama ini juga mencatat pendapatan besar. Berdasarkan data
Statista yang dipublikasikan pada 14 Januari 2025, pendapatan Adidas mencapai 23,683
miliar euro pada 2024, meningkat dari tahun sebelumnya di 21,427 miliar euro.
Nike mencatat pendapatan 47,78 miliar euro pada 2024, naik dari 42,65 miliar
euro pada 2023. Pendapatan besar yang diraih Nike dan Adidas juga didukung oleh
luasnya jaringan toko ritel serta jumlah pekerja yang tersebar di seluruh
dunia. (Yoga)
Transaksi Perdagangan Digital Setor Pajak Rp 26,18 Triliun
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kemenkeu sudah mengumpulkan PPN sebesar Rp 26,18 triliun dari Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). Setoran pajak ini didapat dari 188 PMSE telah melakukan pemungutan dan penyetoran PPN PMSE. "Jumlah tersebut berasal dari Rp 731,4 miliar setoran tahun 2020, Rp 3,9 triliun setoran tahun 2021, Rp 5,51 triliun setoran tahun 2022, Rp 6,76 triliun setoran tahun 2023, Rp 8,44 triliun setoran tahun 2024 dan Rp 830,3 miliar setoran tahun 2025," jelas Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas DJP Kemenkeu, Dwi Astuti pada Jumat (14/3/2025). Sampai Februari 2025 pemerintah telah menunjuk 211 pelaku usaha PMSE menjadi pemungut PPN.
Pada bulan Februari 2025 terdapat 10 wajib pajak PMSE dalam negeri yang dihapus dan digabungkan ke Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pusat badan dengan flagging PMSE. Sepuluh wajib pajak tersebut adalah PT Jingdong Indonesia Pertama, PT Shopee Internationa lIndonesia, PT Ecart Webportal Indonesia, PT Bukalapak.Com, PT Tokopedia, PT Global Digital Niaga, PT Dua Puluh Empat Jam Online, PT Fashion Marketplace Indonesia, PT Ocommerce Capital Indonesia dan PT Final Impian Niaga. Upaya mengumpulkan pajak digital tidak hanya dilakukan melalui PMSE tetapi juga melalui pajak kripto, pajak fintech (P2P lending) dan pajak yang dipungut oleh pihak lain atas transaksi pengadaan barang dan/atau jasa melalui Sistem Informasi Pengadaan Pemerintah (pajak SIPP). (Yetede)
Solusi Digital Untuk UMKM dari Papper.id
Paper.id, penyedia solusi invoicing dan pembayaran business to business (B2B), mengahdirkan ragam solusi digital yang ditujukan untuk segmen UMKM, diantaranya, untuk mengotomatisasi proses bisnis UMKM, termasuk e-invoicing, pembayaran digital, serta pencatatan transaksi real time. "Kami ingin pelaku UMKM lebih sadar bahwa mengelola keuangan bisnis tidak harus rumit. Melalui kampanye #SolusiPebisnisCerdas hadir untuk mendorong UMKM beradaptasi dengan digitalisasi dan mengelola bisnis lebih cerdas,"kata Chief Business Officer Paper.id Anthony Huang, Kamis (13/3/2025). Anthony menjelaskan, salah satu langkah cerdas yang bisa diterapkan adalah dengan memanfaatkan invoice otomatis dan pembayaran digital fleksibel untuk memastikan arus kas tetap lancar.
"Dengan Paper.id, proses menerbitkan invoice bermaterai, menerima maupun melakukan pembayaran bisa lebih cepat, transparan dan dapat membantu mereka memiliki kesempatan akses pembiayaan bisnis untuk menjamin pertumbuhan bisnis," ungkap Anthony. Pencatatan transaksi ini, tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi, tetapi juga membuka akses pernbiayaan lebih luas. Dengan solusi kartu kredit Paper.id, pelaku usaha juaga dapat memperpanjang tempo pembayaran hingga 60 hari, mengoptimalkan modal kerja, dan meningkatkan fleksibilitas keuangan. "Saat ini, lebih dari 600.000 pemilik usaha telah menggunakan Paper.id untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperbesar peluang untuk mengembangkan usaha, dan siap menghadapi tantangan bisnis di era digital," jelas Anthony. (Yetede)
Peningkatan Transaksi Investasi Awal Ramadhan
PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatat adanya peningkatan kecenderungan Jago mengungkapkan bahwa secara umum terdapat transaksi melalui aplikasi Jago, khususnya yang terkait dengan rekening dana nasabah (RDN) dan investasi. "Ada kenaikan transaksi di investasi, mungkin mereka lagi siap-siap buat nanti pakai hasil investasi pas Lebaran mungkin ya, atau karena spend rightly mereka nger-rem daripada konsumtif," kata Waasi. Dia menambahkan, transaksi investasi yang dilakukan platform Bibit menggunakan bank jago juga menunjukkan tren kenaikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Meski demikian, dia memandang saat ini masih terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa investasi menjadi tren transaksi bagi para nasabah selama bulan Ramadan, mengingat saat ini baru memasuki hari keempat bulan Ramadan. Sementara itu, transaksi yang menggunakan wallet atau QRIS melalui aplikasi Jago relatif stabil dan tidak mengalami perubahan signifikan. Menyambut Puasa dan Lebaran, Bank Jago juga mengajak semua masyarakat untuk bijak mengelola keuangan pribadi dan usaha untuk melakukan serangkaian kegiatan edukasi keuangan yang melibatkan ribuan pengusaha lokal dari berbagai wilayah Indonesia. Edukasi keuangan dilakukan dalam beberapa sesi tatap muka (offline) dan online melalui platform media sosial. (Yetede)
Jelang Lebaran, Bank Genjot Layanan PayLater
Mudik Gratis Terbatas, Efisiensi Anggaran Kemenhub
2 Juta NIK KTP Tak Aktif Masih Terima Saldo Dana Bansos dari Pemerintah
OJK Mendorong Indonesia Harus Jadi Pemain Produk Halal Global
Komitmen Apple Dipenuhi, iPhone 16 Meluncur
Komitmen Apple Dipenuhi, iPhone 16 Meluncur
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022








