Digital Ekonomi umum
( 1143 )BUMN Berambisi Jadi Pemain Pusat Data di Asia Tenggara
Indonesia melalui PT Telkom Data Ekosistem berambisi menjadi
pemain utama penyedia pusat data di Asia Tenggara pada 2030. Pertumbuhan
ekonomi digital dalam negeri yang dibarengi permintaan yang tinggi dinilai
menjadi modal utama untuk mengembangkan pasar itu. ”Kami dari BUMN akan
mendorong penuh dari regulasi yang mendukung supaya kita menjadi salah satu pemain
global, terutama di ASEAN dalam bidang data center,” ujar Wakil Menteri BUMN,
Rosan Perkasa Roeslani di kantor Hyperscale Data Center (HDC),Cikarang, Jabar,
Senin (16/10).
PT Telkom Data Ekosistem, akan berkompetisi dengan pihak
swasta ataupun asing. Namun, anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
itu terbuka untuk bekerja sama guna menarik klien-klien asing. Pertumbuhan
ekonomi digital Indonesia menambah optimisme pemerintah untuk mendorong
pengembangan pusat data. Perekonomian digital di Tanah Air diproyeksikan tumbuh
delapan kali lipat, dari Rp 632 triliun pada 2020 menjadi Rp 4.531 triliun pada
2030. Kenaikan itu linier dengan kontribusinya terhadap PDB, dari 4 % menjadi
18 %. (Yoga)
Revolusi Digital Usaha Kecil Pemuas Lidah
Usaha kuliner Moqafe menjadi bukti kesuksesan digitalisasi
melampaui masa-masa sulit saat pandemi Covid-19. Berdiri sejak 1 Maret 2020 di
sekitar daerah perkantoran di bilangan Gelora, Tanah Abang, Jakpus, usaha kecil
itu bertahan karena memanfaatkan beberapa aplikasi penjualan dan pengantaran
makanan secara daring. Pemilik usaha, Willy Ramadhan (28), bernostalgia. Ia
sempat kalut karena kasus Covid-19 pertama yang menakutkan masyarakat muncul
pada hari pertamanya membuka kedai berukuran 2 x 7 meter. Tempat yang awalnya
berkonsep kafe itu menjajakan pempek dengan aneka camilan dan minuman artisan.
Usaha luar jaringan itu dibuka setelah Willy terjun di usaha produksi pempek
yang dipasarkan di platform e-dagang sejak 2015. Pembatasan kegiatan social sempat
membuat penjualan sepi karena sebagian besar pekerja tidak pergi ke kantor dan
Moqafe tidak bisa melayani makan di tempat. Namun, Willy kembali menyesuaikan
diri dengan digitalisasi dan menggunakan beberapa aplikasi online delivery.
”Akhirnya, ada penjualan dan pada Oktober 2020 melonjak
karena ditopang online,” ucapnya kepada Kompas, Kamis (5/10). Adaptasi saat itu
membantu pengenalan usaha dan penjualan produknya hingga ke luar kotamadya.
Omzet pada 2020 menyentuh Rp 1,8 juta sehari. Sekitar 80 % omzet ditopang
penjualan daring dan sisanya dari luar jaringan. Setelah pandemi berakhir,
omzet yang rata-rata Rp 1 juta per hari berbalik didominasi penjualan di
tempat. Perluas pengenalan Willy tetap memanfaatkan digitalisasi untuk
memperluas pengenalan Moqafe. Ia juga memanfaatkan pembayaran nontunai yang
semakin populer. Upaya ini tidak lepas dari kendala terbatasnya dana pemasaran.
Penghasilan selama ini, termasuk bantuan kredit usaha rakyat (KUR) perbankan
yang ia dapat sejak 2020, masih digunakan untuk modal usaha. Ia menghindari
tren kenaikan biaya layanan dan algoritma pemasaran penyedia aplikasi online
delivery yang kurang menguntungkan dengan menggunakan aplikasi bisnis lainnya.
Aplikasi baru itu membantunya menyebarkan promosi produk ke pelanggan secara
personal. (Yoga)
Puluhan Triliun Rupiah di Balik Pernak-pernik Gim
Theo Christiawan (25), karyawan swasta, masih ingat betul
saat pertama mengunduh gim Mobile Legends di gawainya lima tahun silam. Bermula
dari mengikuti tren yang menjamur di kalangan tongkrongan sebayanya, perlahan
Theo mulai akrab dan kerap menghabiskan waktunya mencari hiburan melalui bermain
gim. Dalam beberapa kesempatan, ia rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi
mendapatkan kostum karakter (skin) edisi khusus ataupun pernak-pernik yang
dijual oleh pengembang gim tersebut, Shanghai Moonton Technology Co Ltd,
perusahaan asal China. ”Setiap kali ada event penjualan skin unlimited (terbatas),
biasanya butuh uang sampai Rp 3 juta. Selain itu, rata-rata sebulan bisa keluar
Rp 1,2 juta. Kalau ditotal, selama ini sudah habis lebih dari Rp 20 jutalah,”
katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (11/10).
Mutiara Ayu (26), karyawati swasta, rela mengeluarkan uang separuh
penghasilannya demi gim berbasis gawai itu. ”Awalnya cuma keluar uang Rp
150.000-Rp 200.000, tetapi lama-lama tidak terasa sebulan habis Rp 1,1 juta.
Rasanya jadi bangga gitu karena enggak semua orang punya. Bahkan, selama
sebulan itu rela nahan jajan dan beli makan yang murah biar bisa top up gim,”
tuturnya. Dilansir dari data Statista.com, total pendapatan di pasar mobile
game atau gim yang dimainkan dari gawai di Indonesia diproyeksikan mencapai
0,71 miliar USD atau Rp 11,15 triliun pada 2023. Jumlah ini diperkirakan terus
tumbuh rata-rata 6,4 % per tahun hingga mencapai 0,91 miliar USD atau Rp 14,29
triliun pada 2027.
Tren ini linier dengan jumlah pengguna mobile game yang juga
diproyeksikan meningkat hingga 76,9 juta orang pada 2027. Saat ini, sebagian
besar pemain mobile game didominasi penduduk berusia 25-34 tahun. Outlook
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2023/2024 oleh Kemenparekraf menyebutkan,
Indonesia menjadi pangsa pasar mobile game terbesar ketiga di dunia berdasarkan
unduhan aplikasi Google Play. Pengeluaran para pemain mobile game di Indonesia
yang dilihat dari in-app purchase (IAP) diperkirakan mencapai 0,37 miliar USD
atau Rp 5,6 triliun pada 2023. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and
Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat, besarnya potensi tersebut perlu
dioptimalkan oleh pengembang gim (game developer) lokal mengingat para pemain
gim memiliki loyalitas yang besar sehingga dapat memberikan dampak ekonomi. (Yoga)
Putar Otak Setelah Tiktok Shop Tutup
Topik yang sedang ramai saat ini adalah penutupan Tiktok
Shop, fitur belanja yang diperuntukkan bagi pengguna Tiktok untuk berbelanja
langsung di aplikasi media sosial tersebut. Fitur ini menjadi populer di
kalangan masyarakat lantaran banyak penjual yang menjajakan barang dengan harga
murah. Karena Tiktok tidak memiliki izin berdagang sebagai platform e-dagang sesuai
regulasi di Indonesia, Tiktok Shop tutup sejak 4 Oktober 2023. Berat bagi Aldo
Permana Dewantara (20) untuk menerima kenyataan tersebut. Mahasiswa Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, asal Batu
Ampar, Kepri, ini sudah nyaman menggunakan fitur Tiktok Shop. ”Kita berada di
zaman teknologi. Pedagang-pedagang seharusnya lebih kreatif memanfaatkan teknnologi.
Dengan penutupan ini sebenarnya saya tidak setuju,” kata Aldo dari Yogyakarta,
Kamis (12/10).
Aldo sering memanfaatkan Tiktok Shop untuk memenuhi kebutuhan
harian karena harganya pasti, ulasan dari pembeli ada, dan lokasi penjual
tertera jelas. Terlebih lagi, pelanggan di Tiktok Shop mudah berinteraksi
dengan penjual terkait produk dengan potongan harga menarik. Namun tak semua
keberatan. Nathania Aline Inditha (20) tak masalah jika Tiktok Shop tutup. ”Menurut
aku, Tiktok itu untuk media sosial hiburan, bukan jualan. Aku lihat penuh
dengan orang bikin konten sekalian jualan, banyak iklan produk dalam konten
yang mengganggu,” kata mahasiswa asal Jakarta di Fakultas Ilmu Budaya di
Universitas Udayana ini. Aline sebetulnya biasa berbelanja di Tiktok Shop. Dia
kerap membeli produk skincare dan bahan baku usaha yang ia rintis bersama
teman-teman kontrakannya. Mereka menjual roti selai secara luring. Alasan Aline
berbelanja daring sederhana. Dia malas keluar. (Yoga)
Pelaku Usaha Harus Adaptif pada Teknologi
Wapres Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa disrupsi dan kemajuan
teknologi digital perlu segera disikapi dunia usaha. Pelaku UMKM serta ekonomi
keuangan syariah harus mengikuti perkembangan dan menyesuaikan diri. Dalam
pembukaan Ijtima Sanawi (Pertemuan Tahunan) Dewan Pengawas Syariah XIX 2023, di
Jakarta, Jumat (13/10) Wapres Amin mengingatkan, pasar konvensional seperti Pasar
Tanah Abang akhirnya tergerus oleh pasar digital. Padahal, hampir semua pelaku
di pasar konvensional di Indonesia adalah pelaku UMKM.
”Oleh karenanya, mesti segera dilakukan langkah penyadaran
kepada para pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk menyiapkan diri dan terus
adaptif dengan dinamika zaman, termasuk menghadapi tantangan disrupsi,” ujar
Wapres. Dalam kesempatan itu, Wapres mengatakan, pelaku ekonomi dan keuangan
syariah juga harus memitigasi tantangan disrupsi ini. Apalagi, perkembangan ini
menuntut tersedianya ragam produk keuangan syariah sesuai kebutuhan masyarakat yang
semakin familiar dengan dunia digital. Oleh karena itu, Wapres Amin meminta
para regulator, pelaku industri, Dewan Syariah Nasional(DSN), MUI, dan Dewan
Pengawas Syariah (DPS) untuk merespons perubahan ini. (Yoga)
Digitalisasi UMKM pada Era Digital
Social Commerce merupakan istilah baru yang muncul di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi di era modern yang mengintegrasikan media sosial dan aktivitas belanja online (social dan e-commerce). Indonesia dengan populasi melek digital yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, telah menjadi salah satu pasar terbesar untuk social commerce di Asia Tenggara, mendominasi 71% pasar di Asia Pasifik dan diprediksikan mencapai pendapatan sebesar US$22 miliar dengan CAGR sebesar 47,9% pada 2028. Fenomena belanja melalui media sosial ini telah mengubah cara usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berinteraksi dengan pelanggan mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak UMKM yang beralih dari model bisnis tradisional ke model berbasis digital, memanfaatkan platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok untuk memasarkan produk mereka. Keuntungan utama dari social commerce adalah kemampuannya untuk mencapai audiens yang lebih luas dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode pemasaran tradisional.Dalam kurun waktu dua tahun, terjadi lonjakan signifikan dalam jumlah UMKM yang beralih ke digital. Dari 9 juta UMKM yang sudah go digital pada 2020. Angka ini meningkat menjadi 21 juta pada 2022, menjadikan 32% dari total UMKM sudah terdigitalisasi. Sebanyak 2 juta UMKM di antaranya sudah terjun ke dalam TikTok Shop.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, pembatasan ini dilakukan untuk melindungi para pedagang lokal.
Kehadiran raksasa teknologi asing seperti TikTok bisa berpotensi merugikan UMKM lokal jika tidak diatur dengan baik. Namun, di sisi lain larangan total terhadap layanan seperti TikTok Shop juga bisa kontraproduktif.
Dengan mengintegrasi fungsi social media dan e-commerce, akan tercipta seamless journey bagi pelanggan dan menciptakan nilai lebih. Pelaku usaha dapat menciptakan pengalaman belanja yang kohesif dan mempersonalisasi untuk konsumen di era digital.
POTENSI BISNIS UMKM : PELUANG BESAR DARI ECATALOG
Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah didorong untuk naik kelas dan meningkatkan skala usahanya dengan masuk ke dalam ekosistem digital. Mungkin selama ini banyak pelaku UMKM yang lebih akrab dengan perdagangan digital melalui e-commerce maupun media sosial yang sifatnya business-to-consumer (B to C). Padahal, terdapat potensi perdagangan digital yang peluangnya jauh lebih besar melalui marketplace atau platformkatalog elektronik (e-catalog) dan proses e-purchasing yang disediakan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).Kehadiran katalog elektronik atau e-catalog menjadi tanda pergerakan masif bisnis di Indonesia makin mengarah ke ranah digital. Selain e-commerce, e-catalog yang diusung oleh LKPP juga menjadi wadah transaksi lain yang bisa dimanfaatkan untuk bisnis yang bersifat business-to-business (B-to-B). Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) telah mencatat 40.473 penyedia UMK dengan 2,3 juta katalog hingga November 2022 lalu. Angka tersebut perlahan naik sepanjang 2023. Kemenkop UKM mendorong beragam strategi ajakan agar UMKM berkeinginan masuk ke e-catalog.
Setidaknya LKPP menarget-kan transaksi sebesar Rp500 triliun untuk pengadaan barang dan jasa dari instansi pemerintah, lembaga, BUMN/BUMD yang menggunakan dana APBN/APBD di dalam e-catalog tahun ini. Dari nilai tersebut, para pelaku UMKM memiliki kesempatan besar untuk dapat mengambil bagian dan masuk ke dalam platform e-catalog pengadaan barang/jasa pemerintah tersebut. Salah satunya seperti yang dialami oleh Riene Mahardiani, pemilik usaha Zee Collection, yang ketika itu pernah mendapatkan permintaan pengadaan suvenir oleh Kementerian Luar Negeri. Riene mengaku sudah mencoba beberapa kali untuk dapat memasukkan produknya melalui e-catalog tetapi sudah hampir satu tahun masih belum juga mendapatkan persetujuan dari sistem.
Hal serupa disampaikan oleh Yudiana Lyn, Owner HomLiv yang mengaku sempat mendapatkan pesanan dari Kemenparekraf untuk pengadaan souvenir. Waktu itu, dirinya diarahkan oleh pihak dari Kementerian untuk memasukkan produknya melalui e-catalog. Sementara itu, Ketua BPD Asephi DKI Jakarta Sholahudin Fuad mengatakan, masih belum banyak UMKM yang onboarding ke e-catalog karena terkendala dalam hal kelengkapan administrasi.
Pengamat Ekonomi & Telekomunikasi ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, katalog elektronik dari LKPP ini menjadi platfrom yang bisa lebih dimaksimalkan lagi untuk UMKM.
EKONOMI DIGITAL, Ramai di Perdagangan, Sepi di Produksi
Pemerintah menekankan bahwa transformasi digital jangan
hanya dimaknai sebatas digitalisasi cara berjualan produk dan jasa, tetapi juga
cara produksi. Selama ini, transformasi digital dari sisi produksi belum maksimal
diterapkan, terutama di kalangan pebisnis kecil dan menengah. ”Transformasi
digital di Indonesia, menurut saya, terlalu maju di hilir (cara pemasaran, berjualan,
dan distribusi). Sementara transformasi digital di sisi hulu (produksi) masih
relatif lemah. Ini yang harus terus kita dorong bersama,” ujar Menteri Koperasi
dan UKM Teten Masduki saat menghadiri Indonesia Digital MeetUp 2023 dengan tema
”Festival Wirausaha Mudah”, Kamis (5/10) di Jakarta.
Dia mengakui sempat mendapat protes dari warganet yang menduga
pemerintah tidak memahami afiliator pasca-Tiktok mengumumkan penutupan layanan
transaksi jual-beli dalam Tiktok Shop Indonesia. Dia menyayangkan, pembicaraan
yang berkembang masih berkutat pada hal itu. Para afiliator hingga penjual,
baik retailer maupun produsen yang sekaligus jadi penjual, biasanya memiliki
berbagai saluran pemasaran dan penjualan daring dan luring. ”Justru, isu
besarnya dan harus dilindungi, yaitu produksi barang dalam negeri supaya tidak
mati dan tidak bisa bersaing. Jika aktivitas produksi barang menjadi lesu yang
salah satunya ditengarai oleh serbuan barang impor murah, mereka (pelaku UMKM)
tidak bisa menyerap banyak tenaga kerja,” katanya. (Yoga)
Digitalisasi UMKM Harus Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Pemerintah Siap Fasilitasi Tiktok Terkait Perizinan Usaha Baru
Kemendag terbuka apabila Tiktok ingin mengurus izin usaha
baru sebagai penyedia layanan transaksi jual-beli barang secara daring. Hal itu sesuai
amanat Permendag No 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan,
Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem
Elektronik. ”Jika Tiktok mau layanan e-dagang dalam Tiktok Shop Indonesia
berjalan, layanan seperti itu harus dipisah (izin usahanya). Kami akan bantu pengurusan
izin usahanya sesuai ketentuan terbaru,” ujar Mendag Zulkifli Hasan, Rabu (4/10)
di Jakarta.
Zulkifli kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang
social commerce, tetapi mengaturnya. Jika perusahaan media sosial ingin
menjalankan layanan e-dagang, mereka jangan melakukannya di platform media
sosial, tetapi di dalam platform e-dagang. Dalam keterangan resmi di laman
perusahaan, Selasa (3/10), Tiktok mengatakan, prioritas perusahaan adalah mematuhi
peraturan perundangan yang berlaku sehingga perusahaan tidak lagi memfasilitasi
transaksi e-dagang di Tiktok Shop Indonesia per Rabu pukul 17.00 WIB. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









