Manufaktur
( 164 )Manufaktur Zona Euro dan RRT Siap Bangkit
LONDON,ID-Penurunan aktivitas manufaktur di zona euro mereda pada bulan lalu, sehingga mengindikasikan bahwa masa terburuk telah berakhir bagi pabrik-pabrik di blok mata uang tunggal Eropa tersebut. Sementara itu, rebound tak terduga aktivitas manufaktur di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memberikan harapan bagi negara yang tergantung pada ekspor tersebut. Demikian berdasarkan survei swasta yang dirilis pada Jumat (01/09/2023). Data Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur zona euro terbaru yang dikeluarkan HCBO dan disusun oleh S&P Global menunjukkan kenaikan ke level tertinggi dalam tiga bulan. Sebagai informasi ambang batas PMI di bawah 50 poin menunjukkan kontraksi. Indeks pengukur output-dimasukkan ke dalam PMI komposit- yang dijadwalkan diriliss pada Selasa (05/09/2023) dan dipandang sebagai tolok ukur yang baik untuk kesehatan ekonomi, naik 42,7 menjadi 43,4. "Posisi kita sekarang lebih baik daripada perkiraan banyak orang, mengingat suku bunga telah naik cukup tinggi dan pesat. Hal ini (akan) membuat Bank Sentral Eropa (ECB) jeda sejenak untuk berpikir karena tidak ingin terlalu kuat mengendalikan inflasi tetapi akan merugikan perekonomian,"' kata Craig Erlam, analis OANDA, yang dilansir Reuters. (Yetede)
EKSPANSI MANUFAKTUR : Ekonomi Indonesia Pikat Pemodal Asing
Geliat Perekonomian nasional berhasil memikat investor global untuk kembali menanamkan modalnya di Tanah Air. Pepsi yang sempat hengkang dari Indonesia, tahun ini kembali berinvestasi dengan membangun pabrik barunya senilai US$200 juta.PT PepsiCo Indonesia Food and Beverages atau PepsiCo Indonesia resmi merealisasikan investasinya dengan membangun pabrik di atas lahan seluas 60.000 meter persegi di Cikarang, Jawa Barat.CEO PepsiCo Indonesia Asif Mobin mengatakan, investasi tersebut bakal dilakukan secara bertahap hingga 10 tahun mendatang. Hal itu menjadi komitmen perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, keberlanjutan lingkungan, serta kontribusi terhadap pengembangan komunitas.
Di fasilitas tersebut, PepsiCo Indonesia bakal memproduksi sejumlah produk makanan ringan pada tahap pertama. Pabrik tersebut juga akan menjadi fasilitas manufaktur yang sepenuhnya menerapkan prinsip keberlanjutan.
“Melalui investasi baru dan pada kapasitas maksimalnya, Sharp berkontribusi sebesar 26,6% dari keseluruhan permintaan AC nasional,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufi ek Bawazier.
Penghiliran Industri dan Pengalaman Empat Negara
Kementerian Perindustrian terus meningkatkan kinerja sektor industri manufaktur melalui penghiliran atau hilirisasi industri sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan) di Johannesburg, Afrika Selatan, pekan lalu, Presiden Joko Widodo alias Jokowi juga menegaskan bahwa penghiliran industri setiap negara tak boleh dihalang-halangi dan diskriminasi perdagangan harus ditolak. Penghiliran industri itu membutuhkan strategi yang tepat. Belajar dari pengalaman negara-negara Asia Timur yang mengalami kemajuan ekonomi secara cepat, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Cina, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pun semestinya berbasis pada ekspor serta investasi, selain menjaga level konsumsi rumah tangga di tingkat moderat.
Jika memakai pendekatan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan (biasa dikenal dengan pendekatan developmental state), industrialisasi berjalan bersamaan dengan penghiliran, ketika pemerintah memberikan dukungan penuh kepada pelaku ekonomi domestik (membatasi investasi asing). Ini termasuk dukungan infrastruktur dan modal (capital), kemudahan akses pembiayaan perbankan (represi finansial), kemudahan regulasi, aneka rupa insentif, serta sokongan pembiayaan penelitian dan pengembangan (pembiayaan bersama) untuk menghasilkan produk-produk baru yang berdaya saing di pasar global (ekspor). (Yetede)
Smelter dan KI jadi Kartu As Manufaktur 2024
JAKARTA,ID-Laju pertumbuhan sektor manufaktur diyakini terus berlanjut ditengah hiruk pikuk pesta demokrasi tahun depan. Presiden Joko Widodo dalam pidato nota keuangan dan RAPBN 2024 yang di bacakan di Gedung DPR-RI, Rabu (16/08/2023) mengungkapkan optimismenya terhadap masa depan sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia ini. Industri menufaktur diyakini bisa tumbuh 5,4-5,8% dan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan 5,3-5,7% pada tahun depan. "Dari sisi produksi, sektor manufaktur diperkirakan masih melanjutkan tren ekspansi di tahun 2024," kata Presiden Jokowi. Pemerintah menargetkan sebanyak 53 smelter rampung pada 2024, dengan rincian 30 smelter nikel, 11 smelter bauksit, 4 smelter besi, 4 smelter tembaga, 2 smelter mangan, dan 2 smelter seng. Sebanyak 7 smelter telah diselesaikan pada 2022, dan tahun ini menyusul 17 smelter telah diselesaikan pada 2022, dan tahun ini menyusul 17 smelter lagi yang ditargetkan selesai. "Keberhasilan hilirisasi juga akan semakin membuka minat dan daya tarik investasi di dalam negeri. Pembangunan smelter untuk mineral-mineral strategis seperti nikel, bauksit , dan tembaga semakin masif, sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong ekspansi pada sektor-sektor terkait bangunan juga diperkirakan akan mulai meningkat," kata Jokowi. (Yetede)
PMI Melesat, Manufaktur Jangan Terlena
JAKARTA,ID-Di tengah merosotnya kinerja manufaktur global, sektor industri Tanah Air justru mencatatkan performa gemilang pada awal semester II-2023. Hal ini terlihat dari indeks manejer pembelian (purchasing managers' index/PMI) manufaktur Indonesia bulan Juli 2023 naik ke level 53,3 dari capaian tersebut diharapkan tidak membuat lengah terhadap ancaman deindustrialisasi di dalam negeri. "Harapan kami, pemerintah tidak cepat puas (complacent) dan tetap fokus menciptakan iklim usaha dan investasi di sektor manufaktur yang kompetitif dan suportif. Karena masih ada satu semester lagi hingga akhir tahun," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (1/8/2023). Shinta mengatakan, pada industrialisasi atau deindustrialisasi tidak memiliki parameter baku. Namun, penekanananya pada pertumbuhan industri dalam kurun waktu lebih panjang yang biasanya dalam hitungan tahun, dan dilihat dampak-dampak indutrialisasi terhadap parameter pertumbuahn lain seperti tenaga kerja, daya saing di pasar global, dan lain-lain. (Yetede)
Strategi Hilirisasi Perlu Perbaikan
Ironi angka kemiskinan yang meningkat di wilayah sentra penghasil serta pengolah nikel, seperti Sulawesi dan Maluku, menyisakan pekerjaan rumah besar. Pemerintah menyadari beberapa kendala yang perlu diatasi untuk memperbaiki strategi hilirisasi agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Naiknya angka kemiskinan di Sulawesi dan Maluku terekam dalam data Profil Kemiskinan di Indonesia Edisi Maret 2023 yang dirilis BPS awal pekan lalu. Kemiskinan tercatat naik di daerah penghasil dan pengolah nikelterbesar, seperti Sultra, Sulteng, Sulsel, dan Maluku Utara.
Ketimpangan ekonomi juga meningkat di daerah tersebut. Di Sultra, tingkat ketimpangan yang digambarkan lewat rasio gini per Maret 2023 adalah 0,371, naik 0,005 poin dibandingkan rasio gini September 2022 sebesar 0,366. Hal serupa terlihat di Sulsel, dengan rasio gini 0,377, naik dari 0,365. Peningkatan kemiskinan itu kontras dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicapai daerah-daerah tersebut sejak tahun lalu. Contoh, ekonomi Sulteng pada 2022 tumbuh dua digit sebesar 15,17 % dan pada triwulan I-2023 sebesar 13,18 %. Sementara ekonomi Sultra tumbuh 5,53 % pada 2022 dan 6,48 % pada triwulan I-2023. Demikian pula ekonomi Maluku Utara tumbuh 22,94 % (2022) dan 16,5 % (triwulan I-2023).
Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti, Jumat (21/7) mengatakan, ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu ditangani pemerintah untuk membuat dampak multiplier dari hilirisasi lebih terasa ke masyarakat setempat. Hilirisasi saat ini, ujarnya, belum cukup inklusif untuk menaikkan taraf hidup warga di sekitar lokasi pertambangan. Selain melalui penciptaan lapangan kerja di sejumlah smelter, pemerintah juga mengupayakan kerja sama inklusif antara perusahaan dan UMKM lokal untuk membentuk rantai pasok yang lebih inklusif. Praktik ini diupayakan melalui pendampingan dari pemerintah meski sejauh ini hasilnya belum optimal. (Yoga)
Nyala Mesin Produksi Manufaktur
Kinerja industri pengolahan diperkirakan masih bergeliat memasuki paruh kedua tahun ini, di tengah tantangan perekonomian global yang belum menunjukkan pemulihan. Tingginya permintaan dari dalam negeri menjadi penopang.n Data yang dilansir dari S&P global menyebutkan Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni berada di level 52,5 naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya di level 50,3. Laju ekspansi sektor manufaktur pada bulan lalu merupakan tertinggi selama 1,5 tahun terakhir dan tergolong kuat secara keseluruhan. PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2023 tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan PMI Manufaktur Asean sebesar 51,0, dan negara lainnya yaitu Malaysia 47,7, Myanmar 50,4, Filipina 50,9, Vietnam 46,2, Jepang 49,8, dan China 50,5. Menurut laporan tersebut, pertumbuhan di seluruh sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami percepatan pada Juni. Laju kenaikan permintaan secara keseluruhan tergolong solid, meskipun kurangnya permintaan eksternal menghambat pertumbuhan penjualan. Rendahnya permintaan dari luar terlihat dari data yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik. Pada periode Januari-Mei 2023, ekspor produk industri pengolahan mencapai US$76,22 miliar turun 8,97% bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Kendaraan bermotor menjadi penyumbang ekspor terbesar di sektor industri pengolahan. Data yang disampaikan Kementerian Perindustrian menunjukkan pada Januari-April 2023, volume ekspor kendaraan completely built up (CBU) mencapai 166.000 unit naik 26% bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar 131.000 unit. Harian ini mendukung upaya pemerintah menggenjot penghiliran yang diharapkan dapat memacu kinerja manufaktur mengingat selama ini tingkat ketergantungan terhadap bahan baku impor masih cukup tinggi. Mengekspor produk bernilai tambah tentunya akan memberikan pemasukan lebih tinggi daripada sekadar mengekspor bahan mentah. Bila Indonesia mampu mengurangi tingkat ketergantungan terhadap bahan baku terutama untuk barang yang bisa dipenuhi dari dalam negeri, tentunya nilai impor akan berkurang signifikan.
Manufaktur Bakal Jadi Game Changer Ekspor Nasional
JAKARTA,ID- Peta ekspor nasional diperkirakan berubah pada 2035 seiring habisnya kontribusi dari komoditas berbinis berbasis sumber daya alam (SDA), bersamaan dengan selesainya bonus demografi. Dalam kondisi tersebut, industri manufaktur dipandang akan menjadi game changer aktivitas ekspor dan menjadi kunci dalam membawa Indonesia menuju negara maju pada 2024. "Pada 2035 bonus demografi akan habis, dan SDA juga sudah habis. Itu tinggal manufaktur yang jadi game-nya," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Sutrisno dalam acara diskusi Gambir Trade Talk di Jakarta, Rabu (21/06/2023). Pada Januari-Mei 2023, ekspor produk Industri pengolahan mencapai US$ 76,22 miliar atau 70,54% dari total ekspor yang sebesar US$ 108,06 miliar. Sisanya sebanyak US$ 23,48 miliar (21,72%) dikontribusi dari produk pertambangan, US$ 6.59 miliar (6,10%) dari Migas (1,64%) dari produk pertanian, kehutanan, dan perikanan. Meski demikian, menurut benny, industi manufaktur masih menghadapi beberapa tantangan untuk mengoptimalkan ekspornya. (Yetede)
Reformasi Iklim Usaha Kembalikan Tren Positif Manufaktur
JAKARTA,ID- Reformasi iklim usaha secara struktual, birokrasi hingga ketenagakerjaan, dibutuhkan untuk mengembalikan kinerja manufaktur nasional ke arah tren positif. Hal ini mendesak dilakukan setelah indeks kepercayaan industri (IKI) mencatat hattrick penurunan selama tiga bulan terakhir, dan indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) yang makin mendekati level kontraksi. "Penurunan PMI setelah periode high consumption Indonesia (Ramadan dan Indul Fitri) adalah hal yang cukup wajar, tetapi seharusnya tidak seanjlok ini. Banyak faktor yang masih memerlukan pembenahan melalui reformasi struktural iklim usaha, reformasi birokrasi, dan reformasi pasar tenaga kerja," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani kepada Investor Daily, Sabtu (17/06/2023). Penurunan manufaktur, menurut Shinta, terjadi karena kurangnya stimulus iklim usaha untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi beban produksi. "Ini diliat dari kesulitan pelaku sektor manufaktur untuk mengimpor bahan baku/penolong yang masih persisten terjadi, suku bunga pinjaman riil yang tidak affordoble, dan minimnya reformasi struktural baru yang berfungsi mencipatakan tingkat efisiensi beban/biaya usaha lebih tinggi disektor manufaktur," ungkap dia. (Yetede)
Waspadai Melambatnya Ekspansi Manufaktur
Melambatnya Indeks Kepercayaan Industri atau IKI dalam tiga bulan terakhir perlu direspons dari sisi suplai dan permintaan. Di sisi suplai, perlu insentif untuk mendongkrak kinerja industri yang masih kesulitan dalam pemulihan. Daya beli masyarakat juga mesti tetap dijaga. Berdasarkan data Kemenperin, IKI Mei 2023 ialah 50,9 atau masih di zona ekspansi atau optimistis (lebih dari 50). Akan tetapi, angka itu melanjutkan tren penurunan IKI. Pada Februari 2023, IKI tercatat 52,32. Pada Maret 51,87 dan April 51,38. Situasi itu sejalan dengan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager’s Index/PMI) manufaktur Indonesia yang dipublikasikan S&P Global. Pada Mei 2023, PMI Indonesia pada posisi 50,3 atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang 52,7. Kendati menurun, PMI Indonesia masih dalam kondisi ekspansif.
Ekonom Center of Reformon Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, di Jakarta, Jumat (16/6) menilai, dari faktor internal, pelambatan IKI dan PMI lebih pada penyesuaian terhadap permintaan di dalam negeri. Adapun, pada factor eksternal dipengaruhi situasi global. ”Khususnya pada PMI manufaktur, penurunan karena adanya ketergantungan pada pangsa pasar mereka yang ekspor. Lalu, proses pemulihan ekonomi beberapa negara, termasuk China, ternyata tidak sebaik yang diharapkan sebelumnya sehingga permintaan barang dari China pun melambat,” ujar Yusuf. Dalam merespons tren penurunan itu, upaya menjaga iklim bisnis di dalam negeri penting dilakukan. Pada sisi suplai, hal itu dilakukan dengan meningkatkan kinerja industri manufaktur. Sementara dari sisi permintaan, daya beli masyarakat perlu dijaga. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









