;
Tags

Manufaktur

( 164 )

Tekanan Sektor Manufaktur, Prospek Pajak Suram

HR1 04 Aug 2021 Bisnis Indonesia

Prospek penerimaan pajak pada tahun ini kembali suram menyusul performa manufaktur atau industri pengolahan yang berada pada level kontraksi mengawali semester II/2021 setelah selama delapan bulan berturut-turut berada pada jalur ekspansi.IHS Markit melaporkan perolehan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Juli 2021 berada di posisi kontraksi 40,1, setelah mencatatkan level ekspansif di atas poin 50 sejak Juni 2020.Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Keuangan, manufaktur atau industri pengolahan menyumbang 29,6% penerimaan negara selama semester I/2021 atau Rp154,34 triliun dari total realisasi penerimaan pajak senilai Rp557,8 triliun.Di sisi lain, outlook penerimaan pajak pada tahun ini sebesar Rp1.176,3 triliun, atau setara dengan 95,7% dari target APBN 2021 yang mencapai Rp1.229,6 triliun. Outlook penerimaan pajak pada 2021 tumbuh 9,7% dibandingkan dengan capaian tahun lalu.

"Penerimaan pajak semester kedua diproyeksikan masih melanjutkan pertumbuhan positif. Namun laju pertumbuhannya bergantung kepada prospek aktivitas ekonomi pasca-PPKM Darurat," tulis dokumen Kementerian Keuangan yang dikutip Bisnis, Selasa (3/8).Otoritas fiskal pun memastikan bahwa target penerimaan pajak yang tertuang di dalam APBN 2021 senilai Rp1.229,6 triliun sulit direalisasikan, sehingga outlook pencapaian hanya ditaksir 95,7%."Secara keseluruhan penerimaan pajak diperkirakan dibawah target, dampak peningkatan kasus Covid-19 yang menahan laju pemulihan dan kebutuhan pemberian insentif kepada dunia usaha," tulis pemerintah.

(Oleh - HR1)

Penurunan Manufaktur Hanya Sementara

KT2 03 Aug 2021 Kompas

Setelah mencatat kinerja ekspansif selama delapan bulan beruntun, industri manufaktur kembali terkontraksi akibat meningkatnya kasus Covid-19 serta pengetatan PPKM. Pemerintah meyakini penurunan itu hanya sementara, seiring dengan langkah pengendalian Covid-19 dan upaya percepatan vaksinasi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2021 tercatat anjlok ke level 40,1, menurun dari angka 53,5 pada Juni 2021.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian SA Cahyanto mengatakan, pemerintah sudah memperkirakan akan terjadi penurunan kinerja manufaktur pada Juli. Dengan langkah pengendalian laju penularan Covid-19 serta percepatan vaksinasi dikalangan pekerja industri, kondisi di yakini akan membaik dan sektor manufaktur bisa kembali tancap gas. Eko menegaskan, meski kondisi manufaktur terkontraksi,PPKM tetap dibutuhkan dengan pengetatan sistem izin operasional dan mobilitas kegiatan industri. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan "Namun, restriksi ini bersifat sementara dan akan terus di evaluasi secara periodik sesuai perkembangan parameter pengendalian pandemi," kata nya.

Permintaan Pulih, Manufaktur Tertopang

Sajili 03 Jun 2021 Kompas

Pemulihan permintaan global telah mendongkrak aktivitas manufaktur di kawasan Asia. Situasi serupa terjadi di Indonesia terlihat dari indeks manajer pembelian manufaktur yang mengalami ekspansi dalam tujuh bulan berturut-turut dan mencapai angka tertinggi pada Mei 2021. Aktivitas pabrik di China, merujuk pada data indeks manajer pembelian (PMI) terbaru, tumbuh dengan laju tercepat pada Mei 2021.Hal itu didorong permintaan yang solid dari dalam dan luar negeri. Di Jepang dan Korea Selatan, seperti terlihat dari data PMI terbaru, menunjukkan ekspansi yang moderat. Dari data yang dikumpulkan pada 12-21 Mei 2021, IHS Markit mencatat, terjadi pertumbuhan permintaan yang kuat di sektor manufaktur. Hal itu mendorong produksi dan menyebabkan kenaikan penyerapan tenaga kerja yang pertama kali sejak sektor manufaktur terdampak pandemi Covid-19 dalam 15 bulan terakhir. Laporan yang dirilis IHS Markit, Rabu (2/6/2021), menunjukkan, PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2021 di posisi 55,3 atau naik dari level 54,6 pada April 2021. Ini indeks tertinggi dalam 10 tahun terakhir dan melanjutkan kenaikan berturut-turut selama tiga bulan. PMI Manufaktur Indonesia pada April 2021 ada di atas PMI Asia Tenggara.

Pengiriman bahan baku dari pemasok tertunda karena ada kendala seperti cuaca buruk, kurangnya bahan baku, dan masalah pengiriman akibat terdampak pandemi. Kesulitan itu berdampak pada menipisnya stok bahan baku dan barang jadi. Kendala soal bahan baku juga menyebabkan naiknya baya input dan selanjutnya mendorong kenaikan harga jual. Direktur Asosiasi Ekonomi IHS Markit Jingyi Pan menilai, kenaikan penyerapan tenaga kerja untuk pertama kalinya merupakan tanda yang menggembirakan. Hal itu menunjukkan perusahaan mulai optimistis dengan tren pemulihan sehingga mereka mulai kembali berani merekrut pekerja. Namun, ia menyoroti kendala pasokan bahan baku dan logistik.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, mengacu tren volume bongkar muat di pelabuhan internasional dan domestik per Maret 2021 oleh Badan Pusat Statistik, kendala pengiriman bahan baku umumnya lebih banyak terjadi di pintu masuk pelabuhan domestik. Ke depan, pekerjaan rumah yang harus dituntaskan adalah meningkatkan efisiensi logistik dalam negeri serta mempercepat substitusi impor di sektor hulu. Sistem rantai industri dari hulu ke hilir harus diperkuat agar RI tidak bergantung pada bahan baku/penolong impor. 

Terkait itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah akan memastikan kendala dalam pasokan bahan baku dan logistik segera diatasi. Hal ini penting untuk menjaga momentum pemulihan sektor manufaktur Indonesia agar tetap berada di atas level 50. Pemerintah saat ini sedang menata Ekosistem Logistik Nasional (NLE). Setidaknya, ada tiga hal yang jadi perhatian. Pertama, kolaborasi layanan pemerintah dengan platform logistik swasta. Kedua, regulasi yang efisien dan standar layanan prima. Ketiga, strategi penataan yang tepat berbasis teknologi informasi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menilai, momentum pemulihan menggambarkan permintaan. Ini mendorong pembelian bahan baku dan penyerapan tenaga kerja setelah 14 bulan terkontraksi. Namun, lonjakan kasus Covid-19 perlu diwaspadai. Pengetatan restriksi akan berdampak pada penurunan aktivitas manufaktur.


Sektor Manufaktur Sumbang 79,66 Persen Ekspor RI di Triwulan I 2021

Sajili 26 Apr 2021 Sinar Indonesia Baru

Neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas sepanjang Januari-Maret 2021 mengalami surplus sebesar US$ 3,69 miliar.Secara kumulatif, nilai ekspor industri pengolahan nonmigas pada Januari-Maret 2021 adalah sebesar US$ 38,96 miliar atau naik 18,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya

Industri manufaktur masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Sepanjang tiga bulan tahun ini, sektor manufaktur memberikan kontribusi terbesarnya hingga 79,66 persen dari total nilai ekspor nasional yang menyentuh US$ 48,90 miliar.

Kinerja Manufaktur, Manfaatkan Momentum Ekspansi

Ayutyas 03 Feb 2021 Bisnis Indonesia

Makin membaiknya indeks manufaktur Indonesia menjadi penanda bahwa industri pengolahan dalam negeri telah berada pada jalur pemulihan pada tahun ini. Sejumlah industri siap melanjutkan ekspansi yang sudah dimulai setidaknya sejak akhir tahun lalu. Utilisasi yang sempat anjlok bakal kembali digenjot. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT), misalnya, mulai getol melakukan ekspansi pada awal tahun ini. Subsektor tersebut diramal akan mulai menikmati pertumbuhan setidaknya 1%—2% pada kuartal I/2021. 

Adapun, Kementerian Per industrian memproyeksi kinerja teks til tahun lalu akan minus 5,41% dan tahun ini mulai bergerak positif meski masih tipis di level 0,93%. Untuk pakaian jadi, kinerja akan diproyeksi minus 7,37% pada tahun lalu dan membaik pada posisi 3,75% pada 2021 ini. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan bahwa secara industri tren ekspansi pelaku industri cenderung naik sejalan dengan survei IHS Markit yang mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia di level 52,2 pada Januari 2021.

Untuk produsen yang berorientasi ekspor, Rizal menyebut saat ini utilisasi tertinggi berada di level 90%. Untuk industri hulu, saat ini utilisasinya masih 50% dan industri tengah di kisaran 60%. Sebelumnya, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan berdasarkan survei internal anggota API pada kuartal IV/2020, utilisasi sudah menunjukkan peningkatan yang baik setelah sempat anjlok hingga kisaran 20%.

Pada perkembangan lain, Kementerian Perindustrian berharap penurunan impor produk besi dan baja pada tahun lalu akan berlanjut hingga tahun ini. Plt. Kasubdit Logam Besi Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Rizky Aditya Wijaya mengatakan secara tahunan pada 2020 impor berhasil turun sebesar 30%.

Pertama, penurunan impor pada 2021 ini tidak berdampak pada sektor hilir secara signifikan, terutama sektor otomotif. Kedua, untuk arus barang-barang modal yang tercakup dalam kelompok industri baja akan diberikan kemudahan impor agar pemulihan ekonomi bisa secepatnya. Ketiga, perlu pendalaman lebih lanjut terkait target penurunan pada 2021 dan tahun depan agar pemulihan ekonomi dan pemulihan industri dalam negeri pengguna besi dan baja tidak terganggu. 

(Oleh - HR1)

BI: Manufaktur Masuk Fase Ekspansi

Ayutyas 14 Jan 2021 Investor Daily, 14 Januari 2021

Industri manufaktur diperkirakan berada dalam fase ekspansi pada kuartal I-2021. Hal itu tercermin pada membaiknya Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI). Industri yang masuk fase ekspansi antara lain makanan, minuman, dan tembakau, semen dan barang galian nonlogam, pupuk, kimia, dan barang dari karet, serta kertas dan barang cetakan. 

Di sisi lain, BI mengindikasikan kegiatan usaha mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2021 setelah pada kuartal sebelumnya negatif. Indikasi itu ditunjukkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)-BI. Seluruh sektor mencatatkan kinerja positif, terutama sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

Hal itu di diungkapkan Direktur Eksekutif/Kepala Depar temen Komunikasi BI, Er win Har yono saat mengumumkan PMI-BI dan SKDU-BI kuartal IV-2020 di Jakarta, Rabu (13/1). PMI-BI pada kuar tal I-2021 diperkirakan mencapai 51,14%, meningkat dibanding kuartal IV, III, II, dan I-2020 yang masing-masing mencapai 47,29%, 44,91%, 28,55%, dan 45,64%. Namun, perkiraan PMI-BI kuartal I-2021 lebih rendah dibanding kuartal IV-2019 sebesar 51,50%.

Direktur Eksekutif/Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono menjelaskan, kinerja sektor industri pengolahan (manufaktur) diperkirakan meningkat dan berada dalam fase ekspansi pada kuartal I-2021. Hal itu tercermin pada membaiknya PMI-BI. “PMIBI kuar tal I-2021 diperkirakan mencapai 51,14%, naik dari kuartal sebelumnya,” ujar dia. Er win mengungkapkan, pada kuartal IV-2020, PMI-BI diperkirakan mencapai 47,29%, meningkat dari 44,91% pada kuartal III-2020, 28,55% pada kuartal II-2020, dan 45,64% pada kuartal I-2020. Meski demikian, perkiraan PMI-BI kuartal I-2021 lebih rendah dari kuartal IV-2019 sebesar 51,50% 

Dari sisi sektoral, kata dia, seluruh sektor mencatatkan kinerja positif, terutama sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan (SBT 1,63%), serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan (SBT 1,44%).

Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza Gunarto mengungkapkan, pada semester I-2021, perseroan cukup yakin bisa mencatatkan pertumbuhan kredit yang positif dibandingkan tahun lalu. Hanya saja, BRI belum bisa terlalu agresif menggenjot kredit seperti sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai dua digit. 

Corporate Secretary Bank Mandiri, Rudi As Aturridha mengakui, tahun ini pertumbuhan kredit bisa lebih tinggi dibandingkan tahun silam, meski tidak setinggi sebelum pandemi. “Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit secara bank only pada 2021 tumbuh 5-7% dan DPK (dana pihak ketiga) tumbuh 6-8%,” ungkap dia. Senada dengan hasil survei BI, menurut Rudi As Aturridha, Bank Mandiri juga memprediksi ekonomi domestik membaik pada kuartal I-2021.

Presdir BCA, Jahja Setiaatmadja mengaku belum melihat adanya peningkatan kegiatan investasi dari dunia usaha pada kuartal I-2021 seperti hasil SKDU-BI. Hal itu tercermin pada permintaan kredit yang belum banyak pada awal tahun ini. 

Menurut Direktur Bank CTBC Indonesia, Liliana Tanadi, meskipun dunia usaha optimistis melakukan investasi pada kuartal I, dampak terhadap perbankan baru akan terasa pada kuartal II-2021. Artinya, untuk tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan kredit masih rendah.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengemukakan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih sulit bangkit di tengah pandemi karena terus diserbu produk impor. Menurut dia, API bersama Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) sedang memberikan masukan kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) agar pemerintah membuat aturan importasi TPT yang lebih baik.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Selur uh Indonesia (IKATSI), Suharno Rusdi mengatakan, importasi ilegal tekstil yang marak dalam dua tahun terakhir menyebabkan negara menderita kerugian triliunan rupiah.

#R

Pemulihan Manufaktur, Industri Keramik Kian Kokoh

Ayutyas 30 Dec 2020 Bisnis Indonesia

Industri keramik nasional terus bergeliat dan makin membaik setelah sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19. Produsen keramik memproyeksikan rerata utilisasi pada 2021 akan meningkat ke level 72,5%, kendati sebelumnya sempat anjlok hingga 30% pada kuartal II/2020. Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan sejumlah faktor yang mendukung pemulihan industri keramik lebih cepat, di antaranya stimulus penurunan harga gas tertentu yakni US$6 per MMBtu dan pemberlakuan safeguard untuk produk impor China, India, dan Vietnam sebagai upaya mendukung industri dalam negeri. 

Dari sisi produksi, dia memproyeksikan pada 2021 akan mendekati 400 juta m2. Jika angka itu tercapai, maka Indonesia berpotensi memperbaiki peringkat produsen terbesar di dunia menjadi ranking 6 atau 7, naik dari posisi pada 2019 di peringkat 8.

Kinerja Industri Manufaktur, Arus Logistik Berpotensi Ganggu Pemulihan

Ayutyas 07 Dec 2020 Bisnis Indonesia

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendata saat ini ada sekitar 1 juta kargo yang tertumpuk di pelabuhan transit Singapura. Sementara itu, ribuan kontainer ekspor saat ini masih tertahan antara di gudang industri atau pelabuhan lokal.

Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) memberikan contoh bahwa saat ini sekitar 2.000 kontainer milik PT Wilmar Nabati Indonesia menumpuk di gudang industri Wilmar. Pasalnya, saat ini pelabuhan hanya mampu menghafalkan sekitar 30-40 persen dari kapasitas biasanya. Dengan kata lain, hanya 30%—40% hasil produksi yang dapat dikirimkan ke konsumen global. Sementara itu, sekitar 60%—70% hasil produksi sejak September 2020 berpotensi bertumpuk dan menahan perbaikan utilisasi industri furnitur nasional.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menyatakan kinerja ekspor industri keramik diprediksi belum terganggu. Dengan kata lain, negara utama tujuan ekspor industri keramik tidak harus melewati Singapura maupun Tanjung Pelepas lantaran tidak membutuhkan fasilitas kapal mother vessel. Pasalnya, mayoritas negara tujuan industri keramik masih berada di Asia Tenggara dan Asia Timur. Edy meramalkan pertumbuhan ekspor industri keramik sepanjang 2020 dapat mencapai 30%—35% secara tahunan.

Industri Manufaktur, Reformasi Usai Tahun Pandemi

tuankacan 02 Dec 2020 Bisnis Indonesia

Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B. Hirawan mengatakan kapasitas produksi industri manufaktur akan mulai benar-benar stabil pada pertengahan 2021, meski akan tetap bergantung dari perkembangan vaksinasi massal. Alhasil, target pertumbuhan industri manufaktur 3,95% pada 2021 kemungkinan akan tercapai jika pada kuartal I/2021 sudah ada vaksinasi massal yang berjalan sukses 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri pun meyakini tahun depan, seluruh sektor sudah bisa pulih. Namun, pekerjaan rumah untuk transformasi ekonomi melalui industri masih akan menjadi tantangan. Menurutnya, salah satunya terkait investasi. Faisal menyinggung upaya pemerintah untuk menarik sejumlah perusahaan dari China agar mau berpindah membangun pabriknya di Indonesia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani sepakat tantangan penciptaan lapangan kerja, industrialisasi, dan peningkatan daya saing ekonomi saat ini terkait minimnya integrasi industri nasional dalam global supply and value chain, minimnya investasi untuk adopsi teknologi dan inovasi industri, serta rendahnya kualitas SDM akibat terbatasnya dana pelatihan dan pengembangan SDM.

Dari sisi investasi, sektor industri terbukti tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Per September 2020, tercatat masih terjadi kenaikan 37,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk tahun depan, serapan investasi diproyeksi mencapai Rp323,6 triliu

Perdagangan Elektronik Dongkrak Penjualan Industri kemasan

leoputra 01 Dec 2020 Investor Daily, 1 Desember 2020

Perkembangan pesat perdagangan elektronik (e-commerce) dan adaptasi kebiasaan baru mendongkrak penjualan kemasan. Berdasarkan data Indonesia Packaging Federation, kinerja industri kemasan di Tanah Air diproyeksi tumbuh 6% pada 2020 dari realisasi tahun lalu Rp 98,8 triliun. Ditinjau dari material, kemasan yang beredar terdiri atas 44% dalam bentuk kemasan fleksibel, 14% kemasan plastik rigid, dan 28% kemasan paperboard.

Sementara itu, AT Kerney (2019), dalam hasil risetnya di Asia, menyatakan, terdapat beberapa pergeseran paradigma yang terjadi secara makro ekonomi dan memengaruhi tren industri pengemasan. Saat ini, teknologi pengemasan sangat berkembang dengan cepat, di antaranya menggunakan active & intelligent packaging, modified atmosphere packaging (MAP), vacuum pack (preserve the freshness of food), frozen food (freezing food preserves), dan retort packaging (for ready to eat meals)