Manufaktur
( 164 )Tekanan Sektor Manufaktur, Prospek Pajak Suram
Prospek penerimaan pajak pada tahun ini kembali suram menyusul performa manufaktur atau industri pengolahan yang berada pada level kontraksi mengawali semester II/2021 setelah selama delapan bulan berturut-turut berada pada jalur ekspansi.IHS Markit melaporkan perolehan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Juli 2021 berada di posisi kontraksi 40,1, setelah mencatatkan level ekspansif di atas poin 50 sejak Juni 2020.Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Keuangan, manufaktur atau industri pengolahan menyumbang 29,6% penerimaan negara selama semester I/2021 atau Rp154,34 triliun dari total realisasi penerimaan pajak senilai Rp557,8 triliun.Di sisi lain, outlook penerimaan pajak pada tahun ini sebesar Rp1.176,3 triliun, atau setara dengan 95,7% dari target APBN 2021 yang mencapai Rp1.229,6 triliun. Outlook penerimaan pajak pada 2021 tumbuh 9,7% dibandingkan dengan capaian tahun lalu.
"Penerimaan pajak semester kedua diproyeksikan masih melanjutkan pertumbuhan positif. Namun laju pertumbuhannya bergantung kepada prospek aktivitas ekonomi pasca-PPKM Darurat," tulis dokumen Kementerian Keuangan yang dikutip Bisnis, Selasa (3/8).Otoritas fiskal pun memastikan bahwa target penerimaan pajak yang tertuang di dalam APBN 2021 senilai Rp1.229,6 triliun sulit direalisasikan, sehingga outlook pencapaian hanya ditaksir 95,7%."Secara keseluruhan penerimaan pajak diperkirakan dibawah target, dampak peningkatan kasus Covid-19 yang menahan laju pemulihan dan kebutuhan pemberian insentif kepada dunia usaha," tulis pemerintah.
(Oleh - HR1)Penurunan Manufaktur Hanya Sementara
Setelah mencatat kinerja ekspansif selama delapan bulan beruntun, industri manufaktur kembali terkontraksi akibat meningkatnya kasus Covid-19 serta pengetatan PPKM. Pemerintah meyakini penurunan itu hanya sementara, seiring dengan langkah pengendalian Covid-19 dan upaya percepatan vaksinasi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2021 tercatat anjlok ke level 40,1, menurun dari angka 53,5 pada Juni 2021.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian SA Cahyanto mengatakan, pemerintah sudah memperkirakan akan terjadi penurunan kinerja manufaktur pada Juli. Dengan langkah pengendalian laju penularan Covid-19 serta percepatan vaksinasi dikalangan pekerja industri, kondisi di yakini akan membaik dan sektor manufaktur bisa kembali tancap gas. Eko menegaskan, meski kondisi manufaktur terkontraksi,PPKM tetap dibutuhkan dengan pengetatan sistem izin operasional dan mobilitas kegiatan industri. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan "Namun, restriksi ini bersifat sementara dan akan terus di evaluasi secara periodik sesuai perkembangan parameter pengendalian pandemi," kata nya.
Permintaan Pulih, Manufaktur Tertopang
Pemulihan permintaan global telah mendongkrak aktivitas manufaktur di kawasan Asia. Situasi serupa terjadi di Indonesia terlihat dari indeks manajer pembelian manufaktur yang mengalami ekspansi dalam tujuh bulan berturut-turut dan mencapai angka tertinggi pada Mei 2021. Aktivitas pabrik di China, merujuk pada data indeks manajer pembelian (PMI) terbaru, tumbuh dengan laju tercepat pada Mei 2021.Hal itu didorong permintaan yang solid dari dalam dan luar negeri. Di Jepang dan Korea Selatan, seperti terlihat dari data PMI terbaru, menunjukkan ekspansi yang moderat. Dari data yang dikumpulkan pada 12-21 Mei 2021, IHS Markit mencatat, terjadi pertumbuhan permintaan yang kuat di sektor manufaktur. Hal itu mendorong produksi dan menyebabkan kenaikan penyerapan tenaga kerja yang pertama kali sejak sektor manufaktur terdampak pandemi Covid-19 dalam 15 bulan terakhir. Laporan yang dirilis IHS Markit, Rabu (2/6/2021), menunjukkan, PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2021 di posisi 55,3 atau naik dari level 54,6 pada April 2021. Ini indeks tertinggi dalam 10 tahun terakhir dan melanjutkan kenaikan berturut-turut selama tiga bulan. PMI Manufaktur Indonesia pada April 2021 ada di atas PMI Asia Tenggara.
Pengiriman bahan baku dari pemasok tertunda karena ada kendala seperti cuaca buruk, kurangnya bahan baku, dan masalah pengiriman akibat terdampak pandemi. Kesulitan itu berdampak pada menipisnya stok bahan baku dan barang jadi. Kendala soal bahan baku juga menyebabkan naiknya baya input dan selanjutnya mendorong kenaikan harga jual. Direktur Asosiasi Ekonomi IHS Markit Jingyi Pan menilai, kenaikan penyerapan tenaga kerja untuk pertama kalinya merupakan tanda yang menggembirakan. Hal itu menunjukkan perusahaan mulai optimistis dengan tren pemulihan sehingga mereka mulai kembali berani merekrut pekerja. Namun, ia menyoroti kendala pasokan bahan baku dan logistik.
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, mengacu tren volume bongkar muat di pelabuhan internasional dan domestik per Maret 2021 oleh Badan Pusat Statistik, kendala pengiriman bahan baku umumnya lebih banyak terjadi di pintu masuk pelabuhan domestik. Ke depan, pekerjaan rumah yang harus dituntaskan adalah meningkatkan efisiensi logistik dalam negeri serta mempercepat substitusi impor di sektor hulu. Sistem rantai industri dari hulu ke hilir harus diperkuat agar RI tidak bergantung pada bahan baku/penolong impor.
Terkait itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah akan memastikan kendala dalam pasokan bahan baku dan logistik segera diatasi. Hal ini penting untuk menjaga momentum pemulihan sektor manufaktur Indonesia agar tetap berada di atas level 50. Pemerintah saat ini sedang menata Ekosistem Logistik Nasional (NLE). Setidaknya, ada tiga hal yang jadi perhatian. Pertama, kolaborasi layanan pemerintah dengan platform logistik swasta. Kedua, regulasi yang efisien dan standar layanan prima. Ketiga, strategi penataan yang tepat berbasis teknologi informasi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menilai, momentum pemulihan menggambarkan permintaan. Ini mendorong pembelian bahan baku dan penyerapan tenaga kerja setelah 14 bulan terkontraksi. Namun, lonjakan kasus Covid-19 perlu diwaspadai. Pengetatan restriksi akan berdampak pada penurunan aktivitas manufaktur.
Sektor Manufaktur Sumbang 79,66 Persen Ekspor RI di Triwulan I 2021
Neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas sepanjang Januari-Maret 2021 mengalami surplus sebesar US$ 3,69 miliar.Secara kumulatif, nilai ekspor industri pengolahan nonmigas pada Januari-Maret 2021 adalah sebesar US$ 38,96 miliar atau naik 18,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
Industri manufaktur masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Sepanjang tiga bulan tahun ini, sektor manufaktur memberikan kontribusi terbesarnya hingga 79,66 persen dari total nilai ekspor nasional yang menyentuh US$ 48,90 miliar.
Kinerja Manufaktur, Manfaatkan Momentum Ekspansi
Makin membaiknya indeks manufaktur Indonesia menjadi penanda bahwa industri pengolahan dalam negeri telah berada pada jalur pemulihan pada tahun ini. Sejumlah industri siap melanjutkan ekspansi yang sudah dimulai setidaknya sejak akhir tahun lalu. Utilisasi yang sempat anjlok bakal kembali digenjot. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT), misalnya, mulai getol melakukan ekspansi pada awal tahun ini. Subsektor tersebut diramal akan mulai menikmati pertumbuhan setidaknya 1%—2% pada kuartal I/2021.
Adapun, Kementerian Per industrian memproyeksi kinerja teks til tahun lalu akan minus 5,41% dan tahun ini mulai bergerak positif meski masih tipis di level 0,93%. Untuk pakaian jadi, kinerja akan diproyeksi minus 7,37% pada tahun lalu dan membaik pada posisi 3,75% pada 2021 ini. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan bahwa secara industri tren ekspansi pelaku industri cenderung naik sejalan dengan survei IHS Markit yang mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia di level 52,2 pada Januari 2021.
Untuk produsen yang berorientasi ekspor, Rizal menyebut saat ini utilisasi tertinggi berada di level 90%. Untuk industri hulu, saat ini utilisasinya masih 50% dan industri tengah di kisaran 60%. Sebelumnya, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan berdasarkan survei internal anggota API pada kuartal IV/2020, utilisasi sudah menunjukkan peningkatan yang baik setelah sempat anjlok hingga kisaran 20%.
Pada perkembangan lain, Kementerian Perindustrian berharap penurunan impor produk besi dan baja pada tahun lalu akan berlanjut hingga tahun ini. Plt. Kasubdit Logam Besi Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Rizky Aditya Wijaya mengatakan secara tahunan pada 2020 impor berhasil turun sebesar 30%.
Pertama, penurunan impor pada 2021 ini tidak berdampak pada sektor hilir secara signifikan, terutama sektor otomotif. Kedua, untuk arus barang-barang modal yang tercakup dalam kelompok industri baja akan diberikan kemudahan impor agar pemulihan ekonomi bisa secepatnya. Ketiga, perlu pendalaman lebih lanjut terkait target penurunan pada 2021 dan tahun depan agar pemulihan ekonomi dan pemulihan industri dalam negeri pengguna besi dan baja tidak terganggu.
(Oleh - HR1)
BI: Manufaktur Masuk Fase Ekspansi
Industri manufaktur diperkirakan
berada dalam fase ekspansi pada kuartal I-2021.
Hal itu tercermin pada membaiknya Prompt
Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI).
Industri yang masuk fase ekspansi antara lain
makanan, minuman, dan tembakau, semen
dan barang galian nonlogam, pupuk, kimia, dan
barang dari karet, serta kertas dan barang cetakan.
Di sisi lain, BI mengindikasikan kegiatan usaha mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2021 setelah pada kuartal sebelumnya negatif. Indikasi itu ditunjukkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)-BI. Seluruh sektor mencatatkan kinerja positif, terutama sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan.
Hal itu di diungkapkan Direktur
Eksekutif/Kepala Depar temen
Komunikasi BI, Er win Har yono
saat mengumumkan PMI-BI dan
SKDU-BI kuartal IV-2020 di Jakarta,
Rabu (13/1).
PMI-BI pada kuar tal I-2021
diperkirakan mencapai 51,14%,
meningkat dibanding kuartal IV, III,
II, dan I-2020 yang masing-masing
mencapai 47,29%, 44,91%, 28,55%,
dan 45,64%. Namun, perkiraan
PMI-BI kuartal I-2021 lebih rendah
dibanding kuartal IV-2019 sebesar
51,50%.
Direktur Eksekutif/Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin
Haryono menjelaskan, kinerja sektor industri pengolahan (manufaktur) diperkirakan meningkat dan
berada dalam fase ekspansi pada
kuartal I-2021. Hal itu tercermin
pada membaiknya PMI-BI. “PMIBI kuar tal I-2021 diperkirakan
mencapai 51,14%, naik dari kuartal
sebelumnya,” ujar dia.
Er win mengungkapkan, pada
kuartal IV-2020, PMI-BI diperkirakan
mencapai 47,29%, meningkat dari
44,91% pada kuartal III-2020, 28,55%
pada kuartal II-2020, dan 45,64%
pada kuartal I-2020. Meski demikian, perkiraan PMI-BI kuartal
I-2021 lebih rendah dari kuartal
IV-2019 sebesar 51,50%
Dari sisi sektoral, kata dia, seluruh
sektor mencatatkan kinerja positif,
terutama sektor keuangan, real estat
dan jasa perusahaan (SBT 1,63%),
serta sektor pertanian, perkebunan,
peternakan, kehutanan, dan perikanan (SBT 1,44%).
Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza Gunarto mengungkapkan, pada semester I-2021,
perseroan cukup yakin bisa mencatatkan pertumbuhan kredit
yang positif dibandingkan tahun
lalu. Hanya saja, BRI belum
bisa terlalu agresif menggenjot
kredit seperti sebelum pandemi
Covid-19 yang mencapai dua
digit.
Corporate Secretary Bank
Mandiri, Rudi As Aturridha mengakui, tahun ini pertumbuhan
kredit bisa lebih tinggi dibandingkan tahun silam, meski tidak
setinggi sebelum pandemi.
“Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit secara
bank only pada 2021 tumbuh
5-7% dan DPK (dana pihak ketiga) tumbuh 6-8%,” ungkap dia.
Senada dengan hasil survei
BI, menurut Rudi As Aturridha,
Bank Mandiri juga memprediksi
ekonomi domestik membaik
pada kuartal I-2021.
Presdir BCA, Jahja Setiaatmadja mengaku belum melihat
adanya peningkatan kegiatan
investasi dari dunia usaha pada
kuartal I-2021 seperti hasil
SKDU-BI. Hal itu tercermin
pada permintaan kredit yang
belum banyak pada awal tahun
ini.
Menurut Direktur Bank CTBC Indonesia, Liliana Tanadi, meskipun dunia usaha optimistis melakukan investasi pada kuartal I, dampak terhadap perbankan baru akan terasa pada kuartal II-2021. Artinya, untuk tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan kredit masih rendah.
Secara terpisah, Ketua Umum
Asosiasi Pertekstilan Indonesia
(API), Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengemukakan, industri
tekstil dan produk tekstil (TPT)
masih sulit bangkit di tengah
pandemi karena terus diserbu
produk impor. Menurut dia, API bersama
Asosiasi Produsen Serat dan
Benang Filamen Indonesia
(APSyFI) sedang memberikan
masukan kepada Kementerian
Perindustrian (Kemenperin)
dan Kementerian Perdagangan
(Kemendag) agar pemerintah
membuat aturan importasi TPT
yang lebih baik.
Ketua Umum Ikatan Ahli
Tekstil Selur uh Indonesia
(IKATSI), Suharno Rusdi mengatakan, importasi ilegal tekstil
yang marak dalam dua tahun
terakhir menyebabkan negara
menderita kerugian triliunan
rupiah.
#R
Pemulihan Manufaktur, Industri Keramik Kian Kokoh
Industri keramik nasional terus bergeliat dan makin membaik setelah sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19. Produsen keramik memproyeksikan rerata utilisasi pada 2021 akan meningkat ke level 72,5%, kendati sebelumnya sempat anjlok hingga 30% pada kuartal II/2020. Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan sejumlah faktor yang mendukung pemulihan industri keramik lebih cepat, di antaranya stimulus penurunan harga gas tertentu yakni US$6 per MMBtu dan pemberlakuan safeguard untuk produk impor China, India, dan Vietnam sebagai upaya mendukung industri dalam negeri.
Dari sisi produksi, dia memproyeksikan pada 2021 akan mendekati 400 juta m2. Jika angka itu tercapai, maka Indonesia berpotensi memperbaiki peringkat produsen terbesar di dunia menjadi ranking 6 atau 7, naik dari posisi pada 2019 di peringkat 8.
Kinerja Industri Manufaktur, Arus Logistik Berpotensi Ganggu Pemulihan
Himpunan Industri Mebel dan
Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendata
saat ini ada sekitar 1 juta kargo
yang tertumpuk di pelabuhan transit
Singapura. Sementara itu, ribuan
kontainer ekspor saat ini masih
tertahan antara di gudang industri
atau pelabuhan lokal.
Gabungan Pengusaha Ekspor
Indonesia (GPEI) memberikan contoh
bahwa saat ini sekitar 2.000 kontainer
milik PT Wilmar Nabati Indonesia
menumpuk di gudang industri Wilmar.
Pasalnya, saat ini pelabuhan hanya
mampu menghafalkan sekitar 30-40
persen dari kapasitas biasanya.
Dengan kata lain, hanya 30%—40%
hasil produksi yang dapat dikirimkan
ke konsumen global. Sementara itu,
sekitar 60%—70% hasil produksi
sejak September 2020 berpotensi
bertumpuk dan menahan perbaikan utilisasi industri furnitur nasional.
Ketua Umum Asosiasi Aneka
Keramik Indonesia (Asaki) Edy
Suyanto menyatakan kinerja ekspor
industri keramik diprediksi belum
terganggu.
Dengan kata lain, negara utama
tujuan ekspor industri keramik tidak
harus melewati Singapura maupun
Tanjung Pelepas lantaran tidak
membutuhkan fasilitas kapal mother
vessel. Pasalnya, mayoritas negara
tujuan industri keramik masih berada
di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Edy meramalkan pertumbuhan
ekspor industri keramik sepanjang
2020 dapat mencapai 30%—35%
secara tahunan.
Industri Manufaktur, Reformasi Usai Tahun Pandemi
Ekonom Centre for Strategic
and International Studies (CSIS)
Indonesia Fajar B. Hirawan
mengatakan kapasitas produksi
industri manufaktur akan mulai
benar-benar stabil pada pertengahan 2021, meski akan tetap
bergantung dari perkembangan
vaksinasi massal. Alhasil, target
pertumbuhan industri manufaktur 3,95% pada 2021 kemungkinan akan tercapai jika
pada kuartal I/2021 sudah ada
vaksinasi massal yang berjalan
sukses
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri pun
meyakini tahun depan, seluruh
sektor sudah bisa pulih. Namun, pekerjaan rumah untuk
transformasi ekonomi melalui
industri masih akan menjadi
tantangan.
Menurutnya, salah satunya
terkait investasi. Faisal menyinggung upaya pemerintah
untuk menarik sejumlah perusahaan dari China agar mau
berpindah membangun pabriknya di Indonesia.
Sementara itu, Wakil Ketua
Umum Asosiasi Pengusaha
Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani sepakat tantangan penciptaan lapangan kerja,
industrialisasi, dan peningkatan
daya saing ekonomi saat ini
terkait minimnya integrasi
industri nasional dalam global
supply and value chain, minimnya investasi untuk adopsi
teknologi dan inovasi industri,
serta rendahnya kualitas SDM
akibat terbatasnya dana pelatihan dan pengembangan SDM.
Dari sisi investasi, sektor
industri terbukti tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Per
September 2020, tercatat masih
terjadi kenaikan 37,1% dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya. Untuk tahun
depan, serapan investasi diproyeksi mencapai Rp323,6 triliu
Perdagangan Elektronik Dongkrak Penjualan Industri kemasan
Perkembangan pesat perdagangan elektronik (e-commerce) dan
adaptasi kebiasaan baru mendongkrak penjualan kemasan. Berdasarkan data
Indonesia Packaging Federation, kinerja industri kemasan di Tanah Air
diproyeksi tumbuh 6% pada 2020 dari realisasi tahun lalu Rp 98,8 triliun.
Ditinjau dari material, kemasan yang beredar terdiri atas 44% dalam bentuk
kemasan fleksibel, 14% kemasan plastik rigid, dan 28% kemasan paperboard.
Sementara itu, AT Kerney (2019), dalam hasil risetnya di Asia, menyatakan, terdapat beberapa pergeseran paradigma yang terjadi secara makro ekonomi dan memengaruhi tren industri pengemasan. Saat ini, teknologi pengemasan sangat berkembang dengan cepat, di antaranya menggunakan active & intelligent packaging, modified atmosphere packaging (MAP), vacuum pack (preserve the freshness of food), frozen food (freezing food preserves), dan retort packaging (for ready to eat meals)
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









