;
Tags

Manufaktur

( 164 )

Tren Perlambatan Laba bank Berlanjut

KT1 04 Dec 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Meski mendapat tekanan dari kondisi ekonomi global, nyatanya kinerja  sektor industri manufaktur nasional menjelang akhir tahun 2023 tumbuh positif. Hal ini dilihat dari capaian Purchasing Managers's  Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai level 51,7 pada November  atau meningkat 0,2 poin dari Oktober 2023 yang berada di posisi 51,5. hasil ini juga selaras dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang pada November mencapai 52,43 (ekspansi), meningkat 1,73 poin dibandingkan dengan Oktober 2023 yang sebesar 50,70. PMI manufaktur Indonesia pada November 2023 mampu melampaui PMI manufaktur Asean (50,0) serta negara-negara Asean seperti Thailand (47,6), Malaysia (47,9), Vietnam (47,3) dan Myanmar (41,8). Selain itu juga lebih tinggi dibandingkan PMI China (50,7), Zona Eropa (43,8), Jerman (43,2), Jepang (42,3), Belanda (44,9), Korea Selatan (50,0), Taiwan (48,3) Inggris (46,7) dan Amerika Serikat (49,4). (Yetede)

Ekonomi Menguat Manufaktur Rebound

KT1 04 Dec 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Meski mendapat tekanan dari kondisi ekonomi global, nyatanya kinerja sektor industri menufaktur nasional menjelang akhir tahun 2023 tumbuh positif. Hal ini dilihat dari capaian Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai level 51,7 pada November atau meningkat 0,2 poin dari Oktober 2023 yang berada di posisi  51,5. Hasil ini juga selaras dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang pada November mencapai 52,43 (ekspansi), meningkat 1,73 poin dibandingkan dengan Oktober 2023 yang sebesar 50,70. PMI manufaktur Indonesia pada November 2023 mampu melampaui PMI manufatur Asean (50,0), serta negara-negara Asean seperti Thailand (47,6) Malaysia (47,9), Vietnam (47,3), dan Myanmar (48,1). Selain itu, juga lebih tinggi dibanding PMI China (50,7), Zona Eropa (43,8), Jerman (42,3), Jepang (48,3), Belanda (44,9), Korea Selatan (50,0), Taiwan (48,3), Inggris (46,7), dan Amerika Serikat (49,4). (Yetede)

Industri Butuh Stimulus

KT1 21 Nov 2023 Investor Daily (H)
Laju industri manufaktur kembali menunjukkan perlambatan  dengan menurunnya impor bahan baku/ penolong sebesar 12,65% pada Januari-Oktober 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Industri manufaktur membutuhkan stimulus untuk meningkatkan permintaan konsumsi pasar. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menerangkan, impor bahan baku/penolong akan selalu berjalan  pararel dengan kebutuhan produksi atau sesuai  dengan permintaan konsumsi pasar. Selama pasar konsumsi stagnan, tentu para pelaku industri  tidak mempunyai banyak justifikasi untuk meningkatkan konsumsi bahan baku/penolong. "Jadi kalau mau konsumsi bahan baku/penolong oleh pelaku usaha meningkat, yang perlu ditingkatkan lebih dulu adalah  konsumsi/demand pasar. Demand itu bukan sesuatu yang bisa kami stimulus secara leluasa dari sisi pelaku usaha," ucap dia kepada Investor Daily. (Yetede)

MEMACU MESIN MANUFAKTUR

HR1 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)

Mesin perekonomian Indonesia terbukti masih solid selama lebih dari 3 tahun, salah satunya tecermin dari kinerja positif neraca perdagangan selama 42 bulan secara beruntun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Oktober 2023 mencetak surplus US$3,48 miliar. Surplus itu diperoleh dari nilai ekspor Oktober 2023 sebesar US$22,15 miliar, sedangkan nilai impor hanya US$18,67 miliar. Dengan pencapaian itu, kinerja dagang selama Januari-Oktober 2023 membukukan akumulasi surplus US$31,22 miliar, kendati lebih rendah US$14,22 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2022 sebesar US$45,44 miliar. Kendati demikian, surplus kinerja perdagangan Indonesia juga diiringi fakta bahwa terjadi penurunan impor bahan baku penolong. Padahal suplai bahan baku menjadi indikator geliat industri manufaktur. Jika berkepanjangan, amat mungkin produktivitas sektor manufaktur, yang selama ini menjadi pilar penting penyokong ekonomi nasional, akan tersendat. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan impor bahan baku/penolong dalam tren menurun selama 5 bulan terakhir.  Sejatinya, tren penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2022. Selama Januari-Oktober 2023, nilai impor bahan baku/penolong juga merosot sebesar US$19,32 miliar atau 12,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ada tiga besar golongan barang yang merosot nilai impornya selama periode 10 bulan pertama 2023, yaitu bahan bakar mineral, besi dan baja serta plastik dan bahan dari plastik. Saat dimintai tanggapan, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan memprediksi total impor Indonesia sepanjang 2023 memang turun sebesar 7,7%. Untuk tahun depan, dia menyatakan Kemendag bakal memastikan ketersediaan input bagi industri manufaktur domestik, sejalan dengan kebijakan penghiliran.   Kasan juga mengatakan Kemendag fokus pada ekspor barang dan jasa bernilai tambah tinggi guna meningkatkan produktivitas perekonomian. Sebaliknya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 sebesar US$3,48 miliar bisa menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Sementara itu, Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar menyatakan penurunan nilai impor bahan baku/penolong menunjukkan ada kontraksi di industri manufaktur. “Jadi banyak yang menahan produksi, melihat situasi, hitung-hitung market daya belinya gimana dengan produksi yang naik,” kata Bobby. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi juga sepakat dengan Bobby. Menurutnya, penurunan impor bahan baku/penolong dipicu antara lain penurunan permintaan. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz juga menegaskan Indonesia memasuki tren penurunan surplus neraca perdagangan.

Pertumbuhan Manufaktur Meleset dari Target

KT1 03 Nov 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Pertumbuhan industri manufaktur diperkirakan tidak bisa mencapai 5,1%-5,4% hingga akhir tahun nanti, seperti yang ditargetkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Hantaman bertubi-tubi jelang akhir  tahun membuat industri hanya bisa tumbuh 4,5%-4,8%. Direktur Center of Economics and law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, selain mendapat hambatan dari pelemahan rupiah industri manufaktur juga  mendapat hambatan dari dalam negeri. Dia menerangkan, ada kecendungan konsumen menengah keatas, yang menguasai lebih  dari 40% total konsumsi nasional, cenderung menahan belanja. Ini terlihat dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dimana jumlah tabungan nasabah bank umum dengan simpanan di atas Rp 5 miliar pada September 2023 mencapai Rp8.203 triliun. (Yetede)

Manufaktur Kena Hantaman Bertubi-tubi

KT1 02 Nov 2023 Investor daily
JAKARTA,ID-Laju industri manufaktur mengalami hantaman bertubi-tubi menjelang akhir tahun, di mana S&P Global melaporkan Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke posisi 51,5 pada Oktober diandingkan 52,3 pada September 2023. Angka ini merupakan laju paling lambat sejak Mei dan melanjutkan  penurunan selama 2 bulan berturut-turut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengungkapkan, masalah utama industri  manufaktur nasional pada saat ini adalah penggelembungan beban overhead cost usaha. Ini karena peningkatan beban impor bahan baku/penolong yang disebabkan pelemahan rupiah. "Faktor regulasi seperti kebijakan neraca perdagangan dan pengetatan impor turut  menambah beban pengetatan impor turut menambah beban penciptaan produktivitas sektor manufaktur, meskipun outlook daya beli dan konsumsi pasar masih relatf stabil," ucap dia kepada Investor Daily, Jakarta, Rabu (1/11/2023). (Yetede)

Rupiah Melemah, Harga Mobil Berpotensi Naik

KT1 18 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Melemahnya rupiah dalam beberapa pekan terakhir dapat membuat dampak negatif pada industri manufaktur seperti otomotif yang masih impor bahan baku. Pemerintah diharapkan tidak terlalu kaku mengenai impor untuk membantu industri menekan dampak tersebut. Sebab, jika rupiah terus memburuk maka tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga di produk mobil. Wakil Presiden PT Toyota Motor Manufacturing  Indonesia (TMMIN) Bob Azam  mengatakan, pelemahan rupiah pasti berdampak kenaikan  harga bahan bakar impor. Akan tetapi, disaat yang bersamaan juga menjadi berkah bagi ekspor mobil. Apakah keuntungan ekspor dapat menekan  dampak negatif, hal itu terhantung dari komposisinya. Bob mengatakan, pihaknya berterima kasih kalau pemerintah bisa mengantisipasi pelemahan rupiah ini dengan baik dan bijak. Dia sadar, bahwa memang enggak mudah karena masalah ini cukup kompleks  dan menyangkut beberapa aspek. (Yetede)

Lonjakan Harga Menahan Ekspansi Manufaktur

HR1 03 Oct 2023 Kontan

Ekspansi industri manufaktur Indonesia melambat pada September tahun ini, setelah mencatatkan kenaikan dalam beberapa bulan berturut-turut. S&P Global mencatat, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2023 di level 52,3. Angka ini melorot 1,6 poin dibandingkan realisasi Agustus 2023 yang berada di level 53,9. Hal itu menunjukkan kondisi sektor manufaktur membaik selama 25 bulan berturut-turut. Namun dengan laju paling lambat sejak Mei 2023. "Data PMI S&P Global terbaru mengindikasikan bahwa sektor manufaktur Indonesia terus berekspansi pada akhir triwulan ketiga," ucap Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan dalam keterangan resminya, Senin (2/10). Ekspansi PMI Manufaktur pada bulan September didorong peningkatan permintaan dan perbaikan kinerja vendor. Terlebih lagi, permintaan baru dari luar negeri terus naik dan dengan laju yang sedikit lebih cepat pada September 2023 di tengah menguatnya permintaan di seluruh pasar ekspor utama. Selain itu, perusahaan sangat optimistis sejak Oktober 2022 sehingga sentimen bisnis di seluruh sektor manufaktur secara umum membaik. Sektor manufaktur berharap kondisi pasar membaik dan turut mendukung pertumbuhan penjualan selama 12 bulan ke depan. "Kepercayaan diri berbisnis naik pada September. Ini membuktikan bahwa kondisi sektor akan semakin membaik dalam waktu dekat," tambah Jingyi. Meski demikian, sejumlah pelaku industri mengakui permintaan saat ini menurun. Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo tak heran jika indeks manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada periode tersebut. Pasalnya, sektor ini mulai merasakan penurunan volume penjualan sejak awal tahun. Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Edi Rivai mengatakan, dalam waktu tiga bulan terakhir ini pihaknya mengalami penurunan utilitas produksi pabrik sekitar 30% hingga 40%.

Simalakama Hari Libur Bertambah di Tahun 2024

HR1 14 Sep 2023 Kontan

Jumlah hari libur nasional akan bertambah banyak pada tahun depan. Ibarat dua sisi mata uang, kondisi ini bisa bermanfaat bagi sederet sektor usaha, sekaligus memicu mudarat bagi sektor bisnis lainnya. Pemerintah telah memutuskan jumlah hari libur nasional sebanyak 27 hari pada 2024. Jumlah itu terdiri dari 17 hari libur nasional dan 10 hari cuti bersama. Jumlah hari libur tahun depan, belum termasuk pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2024. Jika pemerintah menetapkan hari pemilu sebagai hari libur, maka tahun depan merupakan jumlah hari libur terbanyak, setidaknya dibandingkan lima tahun terakhir. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat ada peluang peningkatan produktivitas pada momen liburan, terutama pengusaha ritel dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Khususnya, "Terkait komoditas makanan dan minuman, serta turunannya," tutur dia kepada KONTAN, Rabu (13/9). Hal ini menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi domestik. Sebab, ada potensi konsumsi rumah tangga akan bergulir. Sementara komponen ini adalah penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB), yang mencapai hampir 52% pada tahun lalu. Terlebih, pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi 2024 di level yang tak rendah, yakni 5,2%. "Jadi, jangan kehilangan momentum. Karena tahun 2024 akan didorong belanja rumah tangga dan belanja pemerintah, di tengah tahun politik," kata dia. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamad Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandara Wahjudi menilai, adanya hari libur yang lebih banyak bisa berdampak positif bagi sektor ritel dan pariwisata. Adapun sektor akomodasi dan makanan-minuman berkontribusi sebesar 2,49% terhadap PDB di tahun 2022. Namun bagi sektor seperti industri manufaktur dan sejenisnya, banyaknya libur panjang justru membuat sektor ini tidak produktif. Padahal manufaktur merupakan sektor penyumbang PDB terbesar, yakni mencapai 18,32% di sepanjang tahun lalu.

Jaga Tren Positif Manufaktur, Kondusi Harus Tetap Kondusif

KT1 06 Sep 2023 Investor Daily

JAKARTA,ID-Selama 24 bulan berturut-turut atau sepanjang dua tahun terakhir, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di atas 50 poin. Ini menandakan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih bertahan dalam kondisi ekspansif. Pemerintah diharapkan dapat menjaga tren positif manufaktur dengan memastikan kondisi sosial, ekonomi dan politik tetap kondusif. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menerangkan, PMI manufaktur yang ekspansif selama 2 tahun terakhir ini didorong oleh rebound volume konsumsi pasar domestik atau masyarakat pasca pandemi. "Jadi kondusifitas iklim usaha, sosial-politik dan stabilitas makro perlu terus dijaga. Kami juga mengapresiasi pemerintah yang memungkinkan ekpansi ini terjadi melalui transisi pandemi yang baik dan penciptaan iklim usaha yang terus kondusif terhadap peningkatan produktifitas usaha hingga saat ini," kata Shinta kepada Investor Daily, Jakarta, Selasa (5/9/2023)