Manufaktur
( 164 )Pertumbuhan Manufaktur Melambat
Lepas Dahaga Manufaktur Menjelang Bulan Puasa
Dukungan Konsisten Agar Industri Manufaktur Tumbuh 5,6%
Manufaktur Dapat Tumbuh 5,6%
Ekspor Manufaktur Tembus US$ 187 Miliar
Ekspor industri manufaktur sepanjang 2023 berhasil menembus US$ 186,98 miliar atau menyumbang 72,24% dari total nilai ekspor nasional sebesar US$ 258,82 miliar. Hasil tersebut juga melampaui target ekspor sebesar US$ 186,40 miliar. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, ditengah kondisi dunia yang sedang tidak stabil, industri manufaktur tetap agresif untuk memperluas pasar ekspornya. "Untuk 2024, kami menargetkan US$ 193,4 miliar. Kami optimis segera tercapai," ungkap dia. Menperin menyebutkan, beberapa sektor yang menjadi penyumbang paling besar terhadap capaian nilai ekspor industri manufaktur nasional, antara lain industri logam dasar, industri makanan, industri bahan kimia, industri kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer, industri komputer kertas dan barang dari kertas. (Yetede)
BARANG ELEKTRONIK, Belum Jadi Raja di Negeri Sendiri
Industri manufaktur elektronik dalam negeri sejatinya punya
potensi besar. Hanya saja, industri ini masih acap kali dipandang sebelah mata
di pasar domestik sendiri dibandingkan dengan merek global. Mengutip data BPS,
industri elektronik terus mencatatkan pertumbuhan sejak triwulan III-2022
hingga triwulan III-2023. Selama lima triwulan itu, industri berturut-turut
tumbuh 12,56 %, 7,62 %, 12,78 %, 17,32 %, dan 13,68 %. Catatan ini hanya kalah
dari industri logam dasar yang tengah kinclong dengan maraknya hilirisasi
mineral. Industri elektronik berkontribusi 8,3 % terhadap kinerja total
industri manufaktur pada triwulan III-2023, menempatkan industri elektronik di
posisi keempat kontributor terbesar terhadap industri manufaktur, di bawah industri
makanan dan minuman, industri batubara dan pengilangan migas, serta industri
kimia dan farmasi.
Direktur Operasional PT Supertone Tri Isyanta mengatakan,
pertumbuhan industri elektronik belakangan tumbuh pesat, berkaitan dengan
tumbuhnya UMKM perakit komponen yang menghasilkan barang elektronik. ”Saat ini,
membuat barang elektronik mudah sekali. Tidak seperti dahulu yang perlu
kemampuan sangat modern. Sekarang, cukup menyatukan bagian-bagian yang sesuai
saja. Ditancap atau di-pin saja sudah bisa,” ujar Tri saat dihubungi, Jumat
(12/1). Kini banyak UMKM yang beroperasi di ruko-ruko sudah bisa merakit
sendiri barang elektronik, lalu menjualnya. Geliat ini mendorong industri ini
berkembang hingga ke berbagai pelosok daerah.
Kendati mencatat pertumbuhan pesat, secara keseluruhan pasar
ritel barang elektronik dalam negeri masih dikuasai merek global. Konsumen dalam
negeri cenderung lebih memilih merek global. Tri berharap dukungan lebih besar
lagi dari pemerintah dan konsumen dalam negeri. Dukungan yang sudah ada, misalnya,
aturan penggunaan produk dalam negeri dalam program pengadaan barang elektronik
pemda ataupun pusat. Barang elektronik yang dimaksud, misalnya, laptop, CCTV,
dan komputer untuk kebutuhan kementerian, lembaga, dan pemda. Merek produk
lokal masuk dalam e-katalog dalam pengadaan barang-barang dan inventaris
pemerintah. (Yoga)
Menurun Kontribusi Industri Manufaktur
PERFORMA MANUFAKTUR : Bekal Kuat Industri Baja Nasional
Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) optimistis menghadapi 2024, karena ada sentimen yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi baja nasional. Selain geliat properti, dan naiknya belanja infrastruktur pemerintah, pertumbuhan permintaan di pasar global otomotif juga diproyeksi bakal membuat industri baja lebih baik. Dalam laporan terbarunya, IISIA meneropong pertumbuhan konsumsi baja bakal sejalan dengan tren peningkatan pada 2020—2023. Adapun, tahun lalu konsumsi baja nasional mencapai 17,4 juta ton, naik dari 16,6 juta ton pada 2022. Dalam laporan tersebut, IISIA juga memprediksi pertumbuhan sektor pengguna baja nasional bakal meningkat, seperti infrastruktur dari belanja pemerintah pada 2024 yang bakal naik 7,9% menjadi Rp423 triliun. Di sisi lain, sektor otomotif juga diyakini akan berkontribusi positif dalam menyerap produk baja nasional. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil baru pada 2024 sebesar 1,1 juta unit, meningkat dari 1,05 juta unit pada 2023. Dalam kesempatan terpisah, Chairman IISIA Purwono Widodo mengatakan, pihaknya bakal memaksimalkan pasar domestik untuk menggenjot pertumbuhan di tengah beragam persoalan yang bisa menghambat pertumbuhan pasar global.
Manufaktur Ekspansif selama 2023
Investasi Manufaktur Ditarget Rp 630 T
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023









