Manufaktur
( 164 )Manufaktur China Kembali Ekspansif Setelah Pasar Domestiknya Lesu
Manufaktur China dilaporkan kembali ekspansif ada Oktober 2024, pertama sejak April. Kabar baik ini jarang terjadi bagi Negeri Tirai Bambu yang sedang berjuang untuk meningkatkan aktivitas manufaktur. Mengutip laporan National Bureau of Statistics (NBS) atau Biro Statistik Nasional, indeks manajer pembelian atau purchasing manager's index (PMI) China menguat dari 49,8 poin pada Oktober 2024. PMI yang melampaui ambang batas 50 poin merupakan indikasi ekspansi aktivitas manufaktur, sedangkan angka dibawah 50 menunjukkan kontraksi.
Sebagai informasi, China tengah berjuang melawan lesunya konsumsi domestik, krisis properti berkelanjutan dan hutang pemerintah yang menumpuk. Semua itu berpotensi mengancam target pertumbuhan resmi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut tahun ini. Indikator ekonomi itu dilaporkan sempat mengalami penurunan selama enam bulan, di mana PMI positif terakhir tercatat pada April, ketika berada di level 50,4 poin. Data Oktober itu pun sekaligus melampaui proyeksi 49,9 poin dari para analis yang disurvei oleh Blooberg. Saat merilis data pada Kamis, NBS mengatakan bahwa iklim bisnis industri manufaktur telah pulih. (Yetede)
Keberpihakan ke Manufaktur jadi Kunci untuk Mencapai Target
Pemerintah Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Keberpihakan ke manufaktur menjadi kunci untuk mencapai target tersebut. Ketua Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (ApsyFI) Redma Gita mengatakan, bila ingin pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8%, maka industri manufaktur harusnya tumbuh 10%. Sayangnya, dalam 5 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi rata-rata di angka 4%-4,5%. "Untuk mencapai pertumbuhan manufaktur 10%, artinya tekstil harus tumbuh 16%. Hanya saja sekarang kita minus, untuk ke 16% angka berat," ucap dia. Redma melihat Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasamita sangat paham dengan kondisi industri.
Sayangnya, masalah di kementerian lain seperti ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu). "Di Kemedag itu tergantung Kemenko Kayak kemarin permendag 36 ke permendag 8 itu posisi perdagangan sulit ditekan sana sini," kata dia. Redma menjelaskan, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso sudah berkomitmen untuk menjaga pasar dalam negeri. Seharusnya komitmen ini juga diikuti oleh Kemenkeu. "Presiden Prabowo enggak mau menaikkan pajak tetapi diperluas Wajib Pajak terutama pemain ilegal di ritel. Pajakkan yang dikoyak yang formal. Tapi yang diselundupkan enggak pernah dikerjain," ucap dia. (Yetede)
Industri Halal: Geliat Manufaktur di Tengah Perubahan
Kementerian Perindustrian terus mendorong perkembangan industri manufaktur, terutama dengan melibatkan generasi muda dalam sektor industri yang potensial, seperti industri halal. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan *Industrial Festival 2024*, di mana generasi muda diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan sektor industri. Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Eko SA Cahyanto, menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, pemangku kebijakan, dan masyarakat umum dalam upaya ini.
Festival ini juga melibatkan sejumlah tokoh muda, seperti Zaskia Adya Mecca dan Ricky Harun, yang memberikan wawasan terkait dengan memanfaatkan marketplace dan pentingnya produk halal dalam memenangkan pasar. Kegiatan ini mencakup berbagai acara seperti *talk show*, workshop, konsultasi halal, dan pop-up market yang menampilkan produk lokal, guna mendukung penguatan industri dalam negeri.
Eko juga menyatakan bahwa *Industrial Festival 2024* diadakan dalam tiga rangkaian acara, salah satunya berkolaborasi dengan *Halal Indo 2024* yang menargetkan kehadiran 15.000 pengunjung dari lebih dari 35 negara. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama internasional dan investasi di sektor industri halal. Festival berikutnya akan memperingati Hari Batik Nasional pada Oktober 2024, yang menonjolkan peran batik sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia.
Dalam konteks ekonomi, sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan harapan dapat membawa negara keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Kontraksi manufaktur tiga bulan berturut-turut menjadi PR yang harus segera dibenahi
Kontraksi manufaktur selama tiga bulan berturut-turut menjadi PR yang harus segera dibenahi oleh pemerintahan Prabowo Subianto. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI) Redma Gita. Redma Wirawasta mengatakan, perbaikan industri manufatur bergantung pada pemerintahan baru nantinya. Dia menilai kinerja Kemenperin sangat positif selama ini, karena dianggap sangat paham pada industri. Redma menilai justru masalahnya ada di Kemenkeu dan Kementerian ESDM.
"Kalau Menkeu tidak mengerti masalah manufaktur, tidak pro industri dalam negeri, ya dalam lima tahun kedepan akan terjadi deindustrialisasi dan industri akan tambah banyak pabrik yang tutup," ucap Redma kepada Investor Daily. Dia mengatakan, tanda-tanda kontraksi sebenarnya sudah terlihat dari 2023, dimana ada dua poin penting yang penurunan industri manufaktur yaitu dari pasarnya yang tidak bagus dan harga energi yang mahal. Market globalnya sedang tidak bagus sehingga semua mengandalkan pasar dalam negeri, sehinga pasar dalam negeri itu diserang produk-produk impor," terang Redma. (Yetede)
Industri Manufaktur Kembali Kontraksi
Manufaktur Menjadi Sandaran Ekspor
Ekspor nasional tumbuh 7,13% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 23,5 miliar pada Agustus 2024 dari bulan sama tahun lalu US$ 21,9 miliar. Pertumbuhan itu berada dikisaran konsensus analis sebesar 4,1-8,5% dan terjadi ditengah tren penurunan harga komoditas. Agustus 2024, ekspor manufaktur tumbuh 8,7% menjadi US$ 17,7 miliar, menyumbangkan 75% total ekspor. Pertumbuhan ekspor manufaktur melampaui sektor pertambangan dan lainnya yang hanya tumbuh 2,76% secara yoy dan kontraksi 10,6% secara kuartalan. Berdasarkan data BPS, ekspor beberapa produk manufaktur mencetak pertumbuhan tinggi. Agustus 202, ekspor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya tumbuh 16,4% menjadi US$ 1,3 miliar, lalu kendaraan dan bagiannya tumbuh 16,4% menjadi US$ 1,3 miliar, lalu kendaraan dan bagiannya 5,91% menjadi US$ 1 miliar, mesin dan peralatan mekanisme serta bagiannya 31,7% menjadi US$ 571 juta, nikel dan barang daripadangan 30,86% menjadi US$ 741 juta dan alas kaki 17,5% menjadi US$ 656 juta. Ekspor logam mulia dan perhiasan/permata melesat paling tinggi, sebesar 70,92% menjadi US$ 788 juta. (Yetede)
Sektor Manufaktur, Seperti Tekstil, Garmen, dan Alas Kaki, Melakukan PHK.
Guncangan di Sektor Manufaktur Menimbulkan PHK Massal
Kontraksi Manufaktur Berdampak Pengurangan Tenaga Kerja
Manufaktur Makin Lemah Dihantam Banyak Masalah
Kinerja industri manufaktur makin terseok. Mereka kelimpungan mempertahankan bisnis di tengahnya beratnya masalah yang harus dihadapi. Selain dihadapkan pada pelemahan daya beli masyarakat, pelaku industri manufaktur harus berjibaku melawan dominasi produk impor di pasar lokal. Sementara industri berorientasi ekspor juga harus gigit jari lantaran permintaan di pasar global juga sedang lesu darah. Kombinasi masalah itu menyeret aktivitas produksi manufaktur terjerembab ke titik terendah sejak Agustus 2021. Indikasi kemunduran manufaktur ini terekam di survei S&P Global tentang Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Agustus 2024. S&P Global melaporkan, PMI Indonesia Agustus 2024 di level 48,9, turun 0,4 poin dari bulan sebelumnya di 49,3. Artinya, dua bulan beruntun industri manufaktur nasional di zona kontraksi. PMI sebenarnya telah mengalami tren penurunan selepas Maret 2024 hingga kini. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menilai, penurunan PMI manufaktur disebabkan melemahnya permintaan pasar domestik. Sudah lemah, pasar domestik pun terus digempur produk-produk impor ilegal. Wakil Ketua Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar memperkirakan, penurunan PMI akan berlanjut. Banyak fasilitas produksi beroperasi dengan utilisasi kurang dari 40%. "Ini berbahaya dan dapat menyebabkan gelombang PHK lebih lanjut," jelasnya, Senin (2/9). Kementerian Ketenagakerjaan menyebut, pekerja Indonesia yang terkena PHK mencapai 46.240 orang pada Januari-Agustus 2024, naik 23,71% secara tahunan.
Industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) jadi subsektor manufaktur yang paling banyak melakukan PHK.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menambahkan, sampai saat ini pasar domestik terus dibanjiri produk impor TPT ilegal.Para produsen lokal sulit bersaing karena produk impor dijual dengan harga miring tanpa dikenakan pajak.
Industri otomotif juga terdampak pelemahan daya beli. Ini tercermin pada tren penjualan
wholesales
(pabrik ke diler) dan retail mobil nasional yang masing-masing turun 17,5% dan 12,2% secara tahunan hingga Juli 2024.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengusulkan kebijakan relaksasi atau penghapusan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil produksi lokal dengan kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi.
Apindo minta stimulasi produksi. Wujudnya bisa kemudahan mendapat bahan baku, kemudahan pembiayaan, akses pembiayaan ekspor, pencegahan tumpang tindih kebijakan, hingga fasilitas izin investasi.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









