;
Tags

Manufaktur

( 164 )

Kepercayaan Besar pada Investasi Asing di Manufaktur

KT1 03 Feb 2025 Investor Daily
Penanaman modal asing (PMA) masih memberikan sumbangsih terbesar pada investasi manufaktur di 2024. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan dari investor asing kepada Indonesia. Merujuk data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi industri manufaktur sepanjang 2024 sebesar Rp721,3 T. Adapaun torehan investasi manufaktur tersebut, terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp194,3 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp527 triliun. Investasi manufaktur pada tahun 2024 naik signifikan dibanding realisasi 2023 yang menembus Rp596,3 triliun. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, dengan melihat investasi PMA yang cukup tinggi dari sektor industri, turut mencerminkan bahwa adanya kepercayaan  yang tinggi dari para investor skala global terhadap pemerintahan Presiden Prabowo. "Hal ini menandakan bahwa kepercayaan para investor masih tinggi terhadap iklim usaha di Indonesia, dan menilai  Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi yang baik untuk basis produksi dan hub ekspor," kata dia. (Yetede)

MIND ID Berkomitmen Dukung Pertumbuhan Industri Manufaktur di Indonesia

KT1 10 Jan 2025 Investor Daily (H)
Holding BUMN Pertambangan MIND ID berkomitmen mendukung pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia Grup MIND ID juga terus mempercepat program hilirisasi yang diamanatkan oleh negara melalui penyelesaian sejumlah proyek strategis. Seluruh proyek tersebut nantinya akan  semakin memperkuat perekonomian bangsa. Ketahanan mineral pertambangan demi mendukung ekosistem industrialisasi Indonesia. Cadangan mineral pertambangan Indonesia harus menjadi fondasi utama dalam penguatan ekosistem industri pertambangan di Indoensia, baik untuk kebutuhan transisi energi, kendaraan listrik, maupun pembangunan Nusantara Baru. Direktur Utama MIND ID Hendi Priyo Santoso mengatakan program hilirisasi menghasilkan bahan baku untuk industri manufaktur. Dengan begitu tidak perlu melakukan impor lagi. "Kami sangat mendukung tumbuhnya iklim perindustrian manufaktur yang membuat barang produk jadi dan kami menyatakan komitman dan kesiapan kami untuk bisa memasok bahan baku bagi industri manufaktur yang akan dibangun di bumi Indonesia," kata hendi. (Yetede)

Prospek Positif di Awal Tahun 2025

KT1 04 Jan 2025 Investor Daily (H)
Kinerja Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) yang  ekspansif pada desember 2024 menunjukkan dunia usaha tetap optimis dengan kondisi perekonomian nasional ke depan. PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2024 rebound dan kembali mencatatkan level ekspansif di angka 51,2 setelah sebelumnya sempat berada di level kontraktif. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan pesanan baru, baik domestik maupun ekspor,  serta peningkatan aktivitas pembelian bahan baku oleh perusahaan. "Kondisi ini sekaligus mencerminkan prospek positif sektor manufaktur, dengan banyak perusahaan yang bersiap menghadapi peningkatan permintaan di tahun 2025," jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Pemerintah, jelas dia, konsisten meningkatkan sektor manufaktur nasional melalui penggunaan bahan baku lokal pemberian insentif, perlindungan  industri dalam negeri, dan kerja sama ekonomi di tingkat internasional. Lebih lanjut, pemerintah mendorong penggunaan bahan baku lokal dibandingkan impor bagi yang telah tersedia di dalam negeri untuk mengurangi beban biaya produksi akibat melemahnya nilai tukar rupiah. (Yetede)

'Euforia' PPN 12% dan Dampaknya pada Pemulihan Manufaktur

HR1 03 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Dinamika sektor industri Indonesia menjelang diberlakukannya kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12% pada Januari 2025. Pelaku industri mencoba memanfaatkan waktu sebelum kenaikan PPN dengan meningkatkan pesanan untuk stok barang, meskipun akhirnya kebijakan ini hanya menyasar barang mewah. Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa kebijakan ini turut berkontribusi pada lonjakan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai 51,2 pada Desember 2024, menandakan ekspansi sektor manufaktur.

Industri domestik menunjukkan optimisme dengan peningkatan produksi dan pesanan baru, bahkan tercatat adanya kenaikan ekspor setelah hampir satu tahun. Meskipun demikian, tantangan muncul dari kenaikan harga barang impor akibat penguatan dolar AS, yang menyebabkan beberapa perusahaan menaikkan harga jual produk mereka. Selain itu, sektor ini juga dibayangi oleh masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat, yang menunjukkan adanya tekanan di beberapa sektor industri.

Ekonom Andry Satrio Nugroho menyoroti pentingnya paket kebijakan stimulus yang terarah untuk mendukung industri manufaktur, termasuk insentif fiskal dan non-fiskal, serta proteksi pasar dari produk impor yang merugikan daya saing produk lokal. Perlindungan terhadap pasar domestik dan penanggulangan praktik dumping menjadi prioritas untuk memastikan keberlanjutan industri dalam negeri. Tanpa kebijakan stimulasi yang komprehensif, Andry mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat terancam.


Apindo Memperkirakan Tantangan Industri Padat Karya Masih Berat pada Tahun Ini

KT1 02 Jan 2025 Tempo
ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan tantangan industri padat karya masih berat pada tahun ini. Namun peluang untuk tumbuh tetap terbuka asalkan pemerintah berhasil menangani akar masalahnya. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, sejak awal tahun hingga Desember 2024, setidaknya ada 80 ribu kasus pemutusan hubungan kerja di Indonesia. Sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar angka PHK dengan lebih dari 24 ribu orang. Adapun dalam dua tahun terakhir sekitar 60 pabrik tekstil tutup, baik yang beroperasi di sektor hulu, seperti pabrik bahan baku, maupun hilir, seperti pabrik kain jadi. Pabrik-pabrik itu banyak tersebar di daerah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengatakan salah satu tantangan industri padat karya pada tahun ini adalah biaya operasional yang tinggi. "Salah satunya karena ongkos logistik yang mencapai 23,5 persen dari pertumbuhan domestik bruto," ujarnya kepada Tempo, Selasa, 31 Desember 2024. Para pelaku usaha harus menghadapi kenaikan biaya produksi seiring dengan perubahan pajak pertambahan nilai, kenaikan suku bunga, serta upah minimum provinsi yang ditetapkan naik 6,5 persen. 

Kebijakan pemerintah ikut memperkeruh iklim usaha di industri padat karya. Shinta mencontohkan keputusan soal pengupahan 2025 yang menambah biaya tenaga kerja dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Indonesia tak lagi menjadi pasar yang menarik untuk investor domestik dan asing. Hal itu berbanding terbalik dengan Vietnam dan Bangladesh yang menawarkan biaya tenaga kerja lebih rendah serta memberikan kepastian hukum. Kondisi ini bakal berkontribusi pada deindustrialisasi jika tak ditangani segera. Shinta mencatat kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto terus menurun. Pada 2020 kontribusinya bisa mencapai 29 persen. Sedangkan pada 2024 hanya 18,5 persen.  (Yetede)


Industri Petrokimia Dukung Sektor Hulu Manufaktur Indonesia

KT1 20 Dec 2024 Investor Daily (H)
Industri petrokimia memainkan peran krusial dalam mendukung  sektor hulu manufaktur Indonesia. Produk kimia yang dihasilkan menjadi bahan baku berbagai industri seperti plastik, tekstil, farmasi, kosmetik, dan obat-obatan. Namun, para pelaku usaha menilai masih banyak tantangan yang baru diatasi agar industri ini dapat berkembang optimal. Ketua Komisi Tetap Industri Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Achmad Widjaja, menekankan pentingnya keterlibatan swasta dalam pengembangan industri hulu. Namun, ia menyoroti kompleksitas regulasi yang kerap menghambat investasi, termasuk investasi dari luar negeri seperti Lotte Group yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi. "Seperti Lotte Group kan masih makan waktu berapa tahun ini. Hal itu menjadi koreksi pemerintah," kata Achmad. Menurutnya pemerintah perlu menyusun paket kebijakan yang menarik bagi investor, seperti pemberian tax holiday selama 20 tahun. Hal ini penting karena industri petrokimia memerlukan investasi yang sangat besar dan waktu pembangunan yang lama, sekitar tiga tahun untuk satu pabrik. (Yetede)

Pukulan Ganda Sektor Manufaktur pada 2025

KT1 29 Nov 2024 Investor Daily (H)
Sektor manufaktur bakal kena pukulan ganda pada 2025, yakni dari kenaikan PPN menjadi 12% dan upah minimum provinsi (UMP). Kedua hal itu bakal mendorong industri menaikkan harga jual di tengah tren pelemahan daya beli masyarakat. Akibatnya, penjualan ditaksir turun, yang berujung pada penurunan produksi, utilitas, hingga PHK massal. Hal ini akan mempengaruhi iklim investasi nasional. Investor, terutama asing, yang tadinya berniat bakal menunda atau bahkan membatalkan rencana investasi, karena pasar domestik melemah. Tak ayal lagi, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas menufaktur bakal makin tergerus. Pandangan esktrem, pertumbuhan manufaktur tahun depan bisa dibawah 4% atau tepatnya 3%. Sejalan dengan itu, porsi manufaktur terhadap produk domestik (PDB) bakal makin turun, karena lajunya dibawah ekonomi. Akibatnya, Indonesia sulit keluar dari zona deindrustrialisasi. Ini sangat disayangkan mengingat manufaktur sejatinya bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi, mengingat merupakan lapangan usaha penyumbang PDB terbesar. (Yetede)

Kebijakan Proteksionisme Donald Trump Beri Efek Negatif ke Manufaktur

KT1 11 Nov 2024 Investor Daily (H)
Kebijakan proteksionisme yang kemungkinan akan kembali dilakukan Donald Trump saat kembali jadi Presiden AS, dapat memberikan efek negatif ke industri manufaktur. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, kebijakan tersebut dapat membuat China mencari tujuan ekspor lainnya karena dihadang AS dan ujungnya membanjiri pasar Indonesia. "Kita harus waspadai jangan sampai over production China semakin membanjiri market yakni dengan memperkuat dengan Trade Remedies untuk  melindungi pasar domestik Indonesia di tengah utilitas industry TPT yang masih lemah," ucap dia. Kebijakan proteksionisme ini merupakan kebijakan ekonomi Trump dalam melindungi industri dalam negerinya. Trump berencana akan meningkatkan tarif impor hingga 10% untuk barang-barang asing. Angkat itu diklaim bisa meningkat, seandainya pihak mitra dagang terbukti memanipulasi atau terlibat perdagangan tak adil. Oleh karena itu, terang Jemmy, pemerintah Indonesia perlu melakukan negosiasi dalam mendorong kegiatan ekspor ke Amerika Serikat. Di sisi lain Indonesia harus mencoba menegosiasi Trade Agreement dengan Amerika Serikat. (Yetede)

Waspadai Pelemahan Sektor Manufaktur

KT1 02 Nov 2024 Investor Daily (H)

Pemerintah diminta waspadai pelemahan sektor manufaktur dalam empat bulan beruntun, karena menjadi sinyal kuat perlambatan ekonomi nasional. Sebab, manufaktur merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar menurut lapangan usaha. Pelemahan manufaktur juga bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memangkas pemerimaan pajak. Ini perlu diantisipasii oleh pemerintah. Berdasarkan data S&P Global, indeks manager pembelian (purchasing managers index/PMI) Indonesia mencapai 49,2 pada Oktober 2024.

Manufaktur Tetap Melaju: Indeks Kepercayaan di Zona Positif

HR1 01 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Industri pengolahan di Indonesia mengalami perkembangan positif, tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 52,75 pada Oktober 2024, menunjukkan ekspansi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 52,48. Kenaikan ini didorong oleh 22 subsektor industri yang berkontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas, meskipun hanya satu subsektor, yakni industri kayu, barang dari kayu dan gabus, yang mengalami kontraksi.

Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, menyatakan bahwa subsektor industri minuman dan barang galian nonlogam mencatatkan nilai IKI tertinggi pada Oktober 2024. Kinerja manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi juga didorong oleh kenaikan variabel produksi dan persediaan produk, meskipun ada sedikit pelambatan dalam pesanan baru, terutama akibat lesunya pasar global.

Namun, optimisme pebisnis terhadap prospek bisnis enam bulan ke depan meningkat signifikan, mencapai 73,3%, mencerminkan kembali pulihnya keyakinan para pelaku usaha setelah sempat menurun sejak Juli 2024. Kenaikan ini juga dipicu oleh pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta pembentukan Kabinet Merah Putih, yang dianggap memberikan angin segar bagi dunia usaha dan perekonomian Indonesia ke depan.