Manufaktur
( 164 )Manufaktur Masih di Level Ekspansif
S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2024 berada di level 52,9, atau turun 1,3 poin bila dibandingkan Maret yang mencapai 54,2. Walau begitu, industri manufaktur masih melanjutkan fase ekspansi selama 32 bulan bertutur-turut. Menteri Perindustrian (Memperin) Agus Guniwang Kartasasmita menerangkan, nilai PMI yang ekspansif dan berkelanjutan selama 32 bulan beruntun itu merupakan sebuah capaian yang tak semua negara di dunia bisa mewujudkannya. Selain Indonesia, negara yang bisa mencapai ekspansi 32 bulan berturut-turut adalah India. Dia menjelaskan, PMI manufaktur Indonesia solid dan sehat ditengah-tengah dinamika geopolitik yang menjadi tantangan bagi semua pihak. PMI Manufaktur Indonesia pada April 2024 mampu melampaui PMI manufaktur Asean (51,0). Tingkat optimisme yang tinggi ini dikarenakan kepercayaan pelaku usaha terhadap kebijakan pemerintah pusat, dan perbaikan kondisi ekonomi global ke depan. (Yetede)
Berharap Banyak dari Industri Manufaktur
Lembaga keuangan multilateral, dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) hingga International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia mampu melaju masing-masing 2,9% dan 3,2% pada 2024, naik tipis atau bahkan relatif tak beranjak dari proyeksi sebelumnya. Adapun, otoritas fiskal melalui Kementerian Keuangan dan otoritas moneter melalui Bank Indonesia menilai tekanan ekonomi global makin berat dengan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, perekonomian Indonesia diproyeksikan masih mampu melaju di atas 5%.
Imbasnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23—24 April 2024 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00%. Penguatan dolar AS yang menyebabkan rupiah bertekuk lutut di atas Rp16.000 per dolar AS sejak pekan pertama April, bersamaan dengan eskalasi Iran vs Israel mendorong otoritas moneter menaikkan suku bunga.
Tujuannya adalah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya risiko global serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025, sejalan dengan stance kebijakan moneter yang pro-stability
Pasalnya, data menunjukkan dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi relatif terjaga di kisaran 5%, kecuali pada 2020 yang terkontraksi 2,07% dan 2021 yang hanya tumbuh 3,7% gara-gara pandemi Covid-19.
Kemandirian ekonomi tentu membuat bangsa ini tak mudah dipermainkan oleh kondisi geopolitik yang turun naik dalam dua tahun terakhir sejak konflik Rusia-Ukraina pecah.
Pandangan umumnya, yaitu butuh kontribusi manufaktur setidaknya 25% terhadap PDB untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6%—7%. Persoalannya, kontribusi manufaktur terhadap PDB terus merosot dalam dua dekade terakhir, dari 28,25% pada 2003 menjadi 26,36% (2009), 23,97% (2013), 19,71% (2019), dan 18,67% pada 2023. Manufaktur menjadi lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar pada laju pertumbuhan ekonomi 2023 sebesar 5,05%. Industri manufaktur memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia karena kemampuannya untuk menghasilkan produk yang dapat diperdagangkan dan membuka lapangan kerja.
MENGEREK INVESTASI MANUFAKTUR
Peluang pemerintah untuk merealisasikan target investasi yang pada tahun ini disasar Rp1.650 triliun, cukup terbuka. Sebab, pada kuartal I/2024 saja, realisasi penanaman modal mencapai Rp401,5 triliun atau 24,3% dari target. Besarnya peluang itu juga didukung oleh ekspektasi berakhirnya masa wait and see investor, sejalan dengan ditetapkannya Presiden dan Wakil Presiden terpilih, sehingga memberikan kepastian bagi dunia usaha. Akan tetapi, pemerintah juga menghadapi tantangan yang cukup berat untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena pada saat bersamaan investasi di sektor manufaktur makin menyusut. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, pada kuartal I/2024 porsi investasi manufaktur hanya 40,2%.
Padahal, dalam dua tahun terakhir sektor ini cukup dominan. Di sisi lain, sejatinya pemerintah tak kurang royal memanjakan industri pengolahan. Sejumlah insentif fi skal yang saat ini tersaji pun mayoritas bisa dinikmati oleh investor manufaktur. Mulai dari diskon Pajak Penghasilan (PPh) tax holiday, tax allowance, super tax deduction, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga kepabeanan. Baik Kementerian Investasi maupun Kementerian Perindustrian tak menampik adanya problematika dalam struktur penanaman modal dewasa ini. Sebab meski sektor jasa dominan, efek rambatannya pun masih kalah luas dibandingkan dengan manufaktur.
Presiden Joko Widodo pun saat melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong kemarin, Senin (29/4), langsung turun tangan. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah dalam memacu investasi manufaktur. Salah satunya adalah fasilitas pembiayaan dari perbankan. Sejalan dengan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) Rate di level 6,25%, tentu faktor ini makin menjadi penekan investor. "Ini pekerjaan rumah kita, perbankan kita harus terbuka kepada sektor penghiliran," katanya. Sementara itu, Kementerian Perindustrian menyiapkan siasat untuk memacu investasi di sektor industri pengolahan. Salah satunya dengan mengarahkan penanaman modal pada industri antara atau intermediate yang dinilai masih minim.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan beberapa subsektor pada pohon industri antara (midstream) masih belum tersedia. Untuk itu, dia meminta investasi difokuskan pada industri pascapengolahan bahan baku mentah.
Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin, memandang mengendurnya investasi manufaktur lebih disebabkan oleh siklus politik yang mendorong pebisnis wait and see.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, menyarankan pemerintah mengevaluasi kebijakan larangan terbatas yang terkesan tanpa arah sehingga membatasi akses bahan baku impor dan barang modal pelaku industri.
PMI Ekspansif Tanda Industrialisasi Terus Berjalan
Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang ekspansif dalam 30 bulan terakhir menandakan industrialisasi terus berjalan. Hasil tersebut juga menandakan bahwa sektor industri nasional telah benar-benar pulih dari covid-19. Ketua Bidang Ketenagakerjaan DPN Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengatakan, pelaku industri sangat memandang positif capaian gemilang PMI manufaktur Indonesia selama 30 bulan berturut-turut yang juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
“Industri tidak bekerja sendiri, pasti dipengaruhi oleh kebijakan lainnya seperti perdagangan dan keuangan dan yang paling penting adakah indicator ketenagakerjaan,” ujar Bob seperti dikutip Antara, Senin (23/3). Dia menjelaskan, kebijakan di sektor lain seperti pajak, kemudahan perdagangan, arus barang dan lainnya merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sektor riil di Indonesia, karena itu pemerintah harus serius mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap sektor industri nasional. (Yetede)
PERFORMA MANUFAKTUR : Sukacita Industri Sambut Ramadan
Pelaku industri menyambut Ramadan dengan sukacita, karena berharap bisa meningkatkan penjualan di tengah lesunya permintaan global. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) meramal peningkatan permintaan di dalam negeri dapat mencapai 30% pada Ramadan 2024. Pesanan dari ritel untuk produk makanan dan minuman pun telah terasa peningkatannya sejak sebulan sebelum Ramadan. “Umumnya [permintaan] bisa [naik] 30% pada Ramadan. Kami harapkan Ramadan kali ini bisa tumbuh lebih,” ujar Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman kepada Bisnis, dikutip Senin (11/3).
Di sisi lain, Ramadan juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan produk air minum dalam kemasan (AMDK) lebih dari 10% dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Rachmat Hidayat mengatakan, periode Ramadan dan Lebaran menjadi booster untuk permintaan produk makanan dan minuman, termasuk AMDK.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan bahwa faktor Ramadan dan Hari Raya Idulfi tri mendatang telah mendukung naiknya optimisme para pelaku industri, terutama di subsektor industri makanan dan minuman, pakaian jadi, serta kendaraan bermotor.
Kesulitan bahan Baku Hambat Laju Manufaktur
Kinerja Manufaktur Tetap Ekspansif
Kemenperin Bidik Peningkatan Kontribusi Manufaktur ke PDB
INDUSTRI PENGOLAHAN NONMIGAS : PERINGATAN DINI MANUFAKTUR NASIONAL
Performa kuat indeks manufaktur nasional selama lebih dari 20 bulan tidak serta-merta menjamin pertumbuhan industri pengolahan nonmigas domestik terus berada di jalur positif, seperti yang ditargetkan oleh pemerintah. Kinerja pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sepanjang 2023 tercatat melambat dibandingkan dengan 2022, yakni menjadi 4,69% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari sebelumnya 5,01% YoY. Capaian tersebut pun tidak dapat memenuhi target Kementerian Perindustrian yang mematok pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sepanjang tahun lalu sebesar 4,81% YoY. Meski begitu, angka 4,69% YoY masih lebih baik ketimbang capaian pada 2021 ketika hantaman pandemi Covid-19 masih terasa sangat keras, yakni sebesar 3,67% Yo Y. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan non-migas mencapai 4,69% pada 2023, ditopang oleh industri logam dasar yang naik 14,17%, dan industri barang galian bukan logam terapresiasi 14,11%. Selanjutnya, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik tumbuh 13,67%; industri alat angkutan naik 7,63%; serta industri pengolahan tembakau bergerak positif 4,8%. Sementara itu, subsektor industri pengolahan nonmigas yang mengalami kontraksi pertumbuhan pada 2023 adalah industri karet, barang dari karet dan plastik yang melemah 3,63%; industri pengolahan lainnya minus 2,1%; industri furnitur turun 2,04%; industri tekstil dan pakaian jadi terperosok 1,98%; serta industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki bergerak negatif 0,34%.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi mengatakan bahwa masih ada berbagai tantangan internal dan eksternal yang mengadang kontribusi manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Andi menjelaskan bahwa faktor konsumsi dari rumah tangga maupun pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tampak mengalami pelemahan. Di sisi lain, faktor impor, ekspor, dan kinerja investasi juga memengaruhi produktivitas industri pengolahan, sehingga menurunkan kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional.
Kementerian Perindustrian memang menargetkan pertumbuhan kinerja industri pengolahan atau manufaktur sebesar 5,80% pada tahun ini. Industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika bakal menjadi sektor yang diandalkan untuk mendorong pertumbuhan tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan bahwa pertumbuhan industri manufaktur berada di bawah tingkat pertumbuhan PDB nasional dalam lebih dari 10 tahun ke belakang.
Gejala deindustrialisasi dini juga dapat dilihat dari berbagai faktor, salah satunya kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional yang terus tergerus dalam 1 dekade terakhir.
Kekhawatiran yang sama disampaikan oleh Direktur Center for Economic and Law Studies Bhima Yudhistira yang mengatakan, proporsi manufaktur terhadap PDB masih kendur dibandingkan dengan 5 tahun lalu.
Pertumbuhan Manufaktur Melambat
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









