Manufaktur
( 164 )Pasar Belum Stabil, Ekspor Mebel Tetap Tumbuh
Ekspor mebel dan kerajinan pada 2023 diperkirakan tetap tumbuh kendati prospek pasar global masih belum stabil, sehingga Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia atau HIMKI merevisi target ekspor mebel dan kerajinan. HIMKI juga menyusun sejumlah strategi agar kinerja ekspor mebel dan kerajinan tetap tumbuh positif. Pasar mebel dan kerajinan di dalam negeri juga akan digarap lebih intensif di tengah permintaan global yang masih lesu. Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur, Jumat (24/2) mengatakan, pada 2022, target ekspor mebel dan kerajinan HIMKI tidak tercapai. Realisasi ekspor kedua komoditas itu diperkirakan 3,46 miliar USD atau 0,1 % lebih rendah dari yang ditargetkan disebabkan penurunan permintaan pasar Uni Eropa (UE) 0,2 % dan perlambatan pertumbuhan permintaan pasar AS dari 43 % pada 2021 menjadi 16,7 % pada 2022.
Pada 2022, AS dan UE masing-masing berkontribusi 54 % dan 28 % dari total ekspor mebel serta kerajinan Indonesia. Menurut Sobur, pemicu utama penurunan ekspor itu adalah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik Rusia-Ukraina, yang dikirakan masih akan berlanjut hingga tahun ini, yang membuat prospek pasar ekspor mebel dan kerajinan belum stabil. Meskipun begitu, HIMKI tetap optimistis ekspor mebel dan kerajinan pada tahun ini masih bisa tumbuh positif. HIMKI memperkirakan ekspor kedua komoditas itu akan tumbuh 8 % dibandingkan tahun lalu menjadi 3,67 miliar dollar AS. ”Perkiraan nilai ekspor tersebut lebih rendah dari target kami yang senilai 4,3 miliar USD karena mempertimbangkan kondisi pasar. Sementara pada 2024, kami menargetkan ekspor mebel dan kerajinan bisa mencapai 5 miliar USD,” ujarnya. (Yoga)
Pemerintah Kaji Insentif Khusus Eksportir Manufaktur
Menkeu Sri Mulyani, Jumat (27/1) mengatakan, untuk menarik devisa hasil ekspor dari eksportir manufaktur ke dalam sistem keuangan dalam negeri, dibutuhkan pendekatan yang berbeda dari yang selama ini diterapkan pada eksportir komoditas sumber daya alam. Sebab, ada perbedaan mendasar terkait sifat sektor manufaktur dengan sektor komoditas sumber daya alam. Kegiatan ekspor-impor di sektor manufaktur biasanya lebih dinamis. Pengusaha manufaktur harus dengan cepat memutar devisa hasil ekspornya untuk membeli bahan baku yang umumnya berasal dari impor. ”Kita sedang dalam proses mengkaji apakah bentuk insentif yang dibutuhkan berbeda dari insentif yang ada selama ini. Sebab, ekspor komoditas sumber daya alam itu hakikatnya berbeda dengan manufaktur. Ini harus kita perhatikan agar jangan sampai tujuan baik kita memunculkan konsekuensi yang tidak baik,” kata Sri Mulyani saat berkunjung ke PT Samsung Electronics Indonesia dan Cikarang Dry Port, Kabupaten Bekasi, Jabar.
Pemerintah sudah memberikan insentif berupa diskon pajak bagi eksportir sumber daya alam yang menaruh devisa hasil ekspornya di dalam negeri. Diskon pajak itu berupa pengurangan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final untuk bunga deposito yang dananya bersumber dari devisa hasil ekspor. Hal itu diatur Permenkeuj No 212/PMK/03/2018. Untuk pengusaha yang menyimpan devisa hasil ekspornya di dalam negeri selama satu bulan dan dalam bentuk mata uang dollar AS, pengenaan tarif PPh final atas bunga depositonya dikurangi menjadi 10 %. Sementara untuk devisa hasil ekspor yang didepositokan selama tiga bulan, tarif PPh finalnya 7,5 %, untuk penyimpanan enam bulan dikenai tarif 2,5 %, dan untuk penyimpanan dengan jangka waktu lebih dari enam bulan dikenai tarif 0 %. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menambahkan, sembari mengkaji perluasan fasilitas insentif pajak itu, pemerintah juga sedang mempelajari tingkat kepatuhan eksportir dalam menaruh devisa hasil ekspornya dalam rekening khusus di dalam negeri. (Yoga)
2023, Industri Manufaktur Bakal Serap Investasi Rp 470 Triliun
JAKARTA, ID – Industri manufaktur ditargetkan menyerap investasi hingga Rp 450- 470 triliun pada 2023, naik 7% dari tahun ini Rp 439,33 triliun. Masuknya investasi ke sektor pengolahan tersebut diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan manufaktur hingga 5,1-5,4% dengan nilai ekspor sebesar US$ 225-245 miliar pada tahun depan. Dengan bekal pengalaman dan pelajaran yang diperoleh, kita tetap optimistis menghadapi 2023. Seiring dengan harapan membaiknya kondisi global dan perekonomian nasional, kami memperkirakan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,01% pada 2022 dan tahun depan naik 5,1%-5,4%. Sejalan dengan hal tersebut, nilai ekspor industri manufaktur diperkirakan US$ 210,38 miliar pada 2022 dan US$ 225-245 miliar di 2023, dengan nilai investasi Rp 439 triliun di 2022 dan Rp 450-470 triliun pada 2023,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Jumpa Pers Outlook Industri 2023 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (27/12/2022). (Yetede)
Impor Melambat, Kinerja Manufaktur Terhambat
Kinerja impor Indonesia kembali turun menjelang akhir tahun. Tak terkecuali impor bahan baku dan barang modal. Kondisi ini perlu diwaspadai karena mengindikasikan sektor manufaktur tengah lesu darah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Oktober 2022 sebesar US$ 19,14 miliar, turun 3,40% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini berlanjut, lantaran pada September lalu impor juga turun turun 10,58% atau bulanan atau month to month (mtm) menjadi US$ 19,81 miliar.
Secara terperinci, berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku atau penolong turun 3,99% mtm menjadi US$ 14,31 miliar. Penurunan ini lantaran penurunan impor bahan bakar mineral dengan kandungan oktan atau RON 90 ke atas dan di bawah 97, dan juga komoditas emas.
Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mengatakan, menurunnya impor pada periode tersebut disebabkan karena gejolak nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang membuat biaya impor barang semakin mahal.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, penurunan impor bahan baku dan barang modal di bulan lalu, menandakan ekspansi di sektor manufaktur mulai terganggu. Salah satunya, karena permintaan di pasar ekspor melemah.
Kondisi ini sejalan dengan melambatnya Purcashing Mangers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia di bulan Oktober yang turun menjadi 51,8 dari bulan sebelumnya 53,7.
MENJAGA LAJU MANUFAKTUR
Kewaspadaan atas melemahnya kinerja sektor manufaktur masih perlu ditingkatkan pada kuartal terakhir tahun ini karena masih besarnya tantangan mulai dari dampak kenaikan harga BBM, kenaikan suku bunga acuan, gangguan rantai pasok, hingga ancaman resesi global. Tak ayal bila kemudian para pelaku usaha bersama-sama mulai memutar strategi dan taktik demi menjaga laju manufaktur di Tanah Air pada kuartal IV/2022 agar tetap stabil. Upaya ini penting ditempuh karena laju industri pengolahan diprediksi bisa lebih rendah dibandingkan dengan laju pada kuartal III/2022. Apalagi, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia atau PMI-BI memprediksi pada kuartal IV/2022 bisa mencapai 53,18%. Tentu angka ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi PMI-BI pada kuartal III/2022 sebesar 53,71%. Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar, Jumat (14/10), mengatakan siasat untuk meredam kontraksi manufaktur lebih dalam di sektor alat angkut, pebisnis akan lebih mengoptimalkan pasar domestik dengan menggenjot industri komponen otomotif. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja meminta pemerintah untuk menyalurkan stimulus baik di sisi pasar maupun pelaku industri untuk menjaga laju manufaktur pada kuartal IV/2022. Di sisi suplai, jelasnya, setidaknya diperlukan dua jenis stimulus. Pertama, stimulus untuk efisiensi beban biaya overhead produksi yang meningkat seiring dengan inflasi yang terjadi di Tanah Air. Kedua, stimulus berupa pinjaman usaha yang affordable agar perusahaan punya cukup dana untuk mempertahankan ataupun melakukan ekspansi produksi.
KINERJA MANUFAKTUR : Kemenperin Jamin Investasi Daikin di Indonesia
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk produk penyejuk ruangan (air conditioning/AC), baik untuk rumah tangga maupun komersial. Menurutnya, Daikin sebagai pemimpin pasar AC di Indonesia telah mengambil langkah tepat dengan menyiapkan fasilitas produksinya di Indonesia. “Sebuah langkah yang sangat tepat bagi Daikin, yang notabene merupakan market leader AC di Indonesia untuk berinvestasi di dalam negeri. Saya mendorong agar brand besar lainnya dapat mengikuti gerakan Daikin memiliki fasilitas produksi di Indonesia, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor,” katanya, dikutip Minggu (4/8). Terlebih, katanya, sektor manufaktur Indonesia makin bergeliat seiring dengan komitmen dalam merealisasikan investasi, meningkatkan kapasitas, dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Kinerja positif tersebut juga tercermin dari realisasi penanaman modal sektor industri yang mencapai Rp230,8 triliun, atau sekitar 39,5% dari total nilai investasi yang menembus Rp584,6 triliun pada semester I/2022. “Manufaktur nilai investasinya meningkat dari Rp167,1 triliun pada semester I/2021 menjadi Rp230,8 triliun di semester I/2022, atau naik 38%,” ucapnya.
Menjaga Manufaktur Tak Kendur
Optimisme dunia usaha masih terbaca dari Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia Agustus 2022 lansiran S&P Global yang mencapai 51,7 alias berada di zona ekspansi. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang indeks Juli yang tercatat 51,3. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2022 bahkan mampu melampaui Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing hanya 51,5 dan 47,6. Menurut S&P Global, perusahaan manufaktur di Indonesia mencatat perbaikan lebih kuat pada keseluruhan kondisi bisnis. Hal tersebut didukung oleh produksi yang naik selama tiga bulan berturut-turut, tercepat dalam tujuh bulan terakhir. Kendati demikian, Ekonom S&P Global Market Intelligence Laura Denman mengatakan kepercayaan bisnis secara keseluruhan masih turun pada Agustus 2022 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Lunturnya optimisme ini tak lepas dari masih beratnya tekanan ekonomi akibat harga energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan yang berpotensi kembali mendorong inflasi. Hal tersebut bisa bermuara pada penurunan daya beli masyarakat sehingga konsumsi turun. Apalagi, realisasi inflasi pada bulan lalu masih parkir di atas target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan yakni 3,5%—4,5%.
Emiten Manufaktur Yakin Mampu Menghadapi Resesi
Ancaman resesi menghantui perekonomian dunia. Survei Bloomberg menunjukkan, Indonesia masuk daftar 15 negara yang berpotensi mengalami resesi.
Salah satu tanda resesi adalah kontraksi pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang. Direktur Utama PT Siantar Top Tbk (STTP) Armin berpendapat, resesi global memang sudah ada di depan mata dan tidak dapat dihindari.
Alasannya, sebelum ini ada pandemi Covid-19. Kini ada konflik Rusia dan Ukraina. Situasi ini membuat harga bahan baku dan energi naik, akibat terhambatnya logistik.
Sekretaris Perusahaan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) Amelia Allen mengatakan, ERAA akan tetap memantau kondisi yang terjadi di industri maupun ekonomi secara keseluruhan. Namun dia bilang, permintaan atas produk gadget dan headset tetap ada di pasar. "Erajaya terus mendorong kinerja dengan promosi dan diskon, memberi layanan mobile selling, dan lainnya," tutur Amelia.
Wakil Direktur Utama PBRX Anne Patricia Sutanto juga masih yakin, permintaan tekstil dan garmen masih tinggi. "Indonesia justru dapat pengalihan pesanan dari negara lain," ujar dia. Bahkan PBRX akan menambah kapasitas produksi di tahun depan. Tahun ini, PBRX akan fokus memperbaiki likuiditas.
SIAGA RISIKO RESESI AS
Tren positif perekonomian nasional yang tecermin dari geliat manufaktur tak boleh membuat dunia usaha terlena. Selain tensi geopolitik global masih tinggi, efek domino dari risiko resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) akibat lonjakan inflasi patut diwaspadai. Kemarin, Kamis (14/7), Bank Indonesia merilis Prompt Manufacturing Index (PMI) Kuartal II/2022 mencapai 53,61. Angka itu lebih tinggi ketimbang kuartal I/2022 yang ada di 51,77. Kenaikan terjadi pada mayoritas subsektor, dengan indeks tertinggi pada subsektor tekstil, barang kulit dan alas kaki (56,05%); makanan, minuman dan tembakau (54,60%); serta logam dasar besi dan baja (53,47%). Bank Indonesia memperkirakan tren positif itu akan berlanjut di kuartal III/2022, dengan proyeksi PMI sebesar 54,02%. Merespons dinamika tersebut, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pelaku usaha berupaya mengantisipasi dampak global. Menurutnya, inflasi tinggi di Amerika Serikat bakal berdampak negatif terhadap arus kas dan daya saing industri manufaktur nasional lantaran kenaikan beban input produksi seperti bahan baku penolong impor.
Adapun, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia Lionel Priyadi mengatakan lonjakan inflasi yang masih berlangsung di AS menaikkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bulan ini hingga 100 basis poin, dari sebelumnya hanya 75 basis poin.
Menurutnya, dengan perkembangan ekonomi tersebut, resesi di AS diperkirakan berlangsung lebih cepat, yaitu pada kuartal II/2022.
“Kalau perusahaan tidak bisa mengelola kenaikan beban ini, yang akan terjadi adalah stagnasi atau kontraksi pertumbuhan kinerja sektor manufaktur,” katanya, Kamis (14/7).
Tembus US$ 69,59 Miliar, Industri Manufaktur Masih Dominasi Ekspor
Industri pengolahan atau manufaktur masih memberikan konstribusi yang dominan terhadap nilai ekspor nasional, dengan capaian sebesar 74,46% sepajang Januari-April 2022. Selama empat bulan pertama 2022, kinerja pengapalan produk sektor menufaktur menembus hingga lebih US$ 69,59 miliat atau naik 29,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Guniwang Kartasamita menerangkan, hasil tersebut menunjukkan bahwa upaya dan kebijakan ekonomi nasional yang dilakukan oleh pemerintah berjalan dengan baik. Apalagi, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, sasaran ekspor Indonesia harus pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang tinggi. "Tingginya dominasi sektor industri manufaktur pada capaian nilai ekspor nasional juga menstimulasi pengikatan nilai surplus terhadap neraca perdagangan kita saat ini," jelas Menperin. Surplus neraca perdagangan itu diperoleh dari nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan nilai impor pada periode tersebut. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









