Manufaktur
( 164 )Setara Sepatu Pesohor Dunia
Sepatu-sepatu yang dipajang di kantor PT Sepatu Mas Idaman (Semasi) terlihat mentereng. Sebagian besar alas kaki itu terbuat dari kulit mengilat yang sesuai untuk pekerja kantoran. Sejumlah produk tersebut juga cocok digunakan untuk kesempatan kasual dengan jenama Gino Mariani. Product Development Senior Manager Semasi Ridwan Suryanto menunjukkan material alas sepatu berbahan baku spesial, disebut Cloudtech dari cloud (awan) dan technology (teknologi), bertujuan supaya konsumen tidak gampang capek, pemakainya serasa melangkah di awan dan sudah dipatenkan. Di Indonesia baru Semasi yang menggunakan Cloudtech, dengan produksi 11.000 pasang sepatu per hari, melonjak dibandingkan Oktober 2021 sekitar 7.000 pasang. Semasi mengekspor sebagian besar sepatunya ke AS, selain Inggris, Jepang, dan Italia. Korporasi yang bekerja sama dengan Semasi, adalah Sperry asal AS. Produk itu dipakai sejumlah pesohor internasional seperti John Legend
Chief Executive Officer Manufacture Group Tjandra Suwarto memperlihatkan bot mentereng warna coklat, di dalamnya tertera nama John Legend, biduan asal AS. ”Legend dijadikan brand ambassador lewat kolaborasinya dengan Sperry,” kata Tjandra. Legend menerima informasi mengenai Sperry yang dikenakan Daniel Craig saat shooting film James Bond teranyar, No Time To Die, di Jamaika. Sebagian besar sepatu Sperry diproduksi Semasi, dengan menggunakan bahan baku berkelanjutan atau daur ulang. Gino Mariani mengincar konsumen menengah atas dengan harga mulai dariRp 1,5 juta per pasang. ”Sepatu didistribusikan ke 40 department store. Kami juga membuka lima toko di Jakarta, Bandung, Banjarmasin, dan Makassar,” ucapnya. (Yoga)
Omicron Bisa Menghambat Ekspansi Manufaktur
Prospek kinerja manufaktur ke depan kembali suram sejalan dengan penyebaran Covid-19 di Indonesia yang mulai memasuki gelombang ketiga Covid-19. Jika pengetatan mobilitas kembali dilakukan, sektor ini bakal menerima pukulan keras. Padahal, kinerja sektor manufaktur Indonesia pada awal tahun terlihat ciamik. Menurut data IHS Markit, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Januari 2022 sebesar 53,7, naik dari 53,5 pada bulan Desember 2021. Economics Associate Director IHS Markit Jingyi Pan dalam keterangannya, Rabu (2/2) menyebut ada permintaan dari klien sehingga produsen berekspansi lebih besar. Permintaan baru manufaktur ini terutama berasal dari luar negeri.
Berkaca pada kuartal III-2021 lalu, kinerja manufaktur anjlok cukup dalam akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan Level 4 yang diambil pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19, khususnya varian delta. Pada bulan Juli 2021, PMI Manufaktur Indonesia jeblok ke level 40,1, dari bulan sebelumnya 53,3. Pada bulan Agustus, PMI Manufaktur masih berada pada kisaran 40, yakni 43,7. Pada bulan September, saat pandemi mulai terkendali, indeks manufaktur baru bisa kembali ke level ekspansif, yakni ke posisi 52,2
Aktivitas Manufaktur di Tiongkok Berkurang
Aktivitas manufaktur di Tiongkok dilaporkan agak berkurang pada Januari 2022. Menurut data resmi yang dirilis, Minggu (30/1) walau dipandang masih diatas ekspektasi perusahaan-perusahaan di Negeri Tirai Bambu itu kembali terpukul oleh gangguan sporadis yang ditimbulkan varian baru virus Covid. "Menghadapi lingkungan ekonomi yang kompleks dan parah, serta wabah yang tersebar, ekonomi Tiongkok terus pulih dan berkembang meskipun tingkat pertumbuhan agak menurun," ujar Ahli statistik NBS,Zhao Qinghe. Sebelumnya, angka-angka NBS bergerak dikisaran pertumbuhan sejak November 2021, karena krisis listrik melanda operasional bisnis. Pemerintah Tiongkok sendiri diketahui sangat mewaspadai penyebaran wabah virus baru, ditengah persiapannya menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin bulan depan. (Yetede)
Manufaktur Menggeliat
Peningkatan kinerja industri pengelohan masih akan berlanjut pada awal 2022. Ini tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) kuartal pertama tahun ini sebesar 53,83%, lebih tinggi ketimbang pencapaian di triwulan keempat tahun lalu 50,17%. Pada kuartal I-2022, hampir semua komponen pembentuknya berada dalam zona ekspansif (indeks di atas 50). Misalnya, indeks volume produksi 56,94%, sejalan peningkatan permintaan. Indeks volume pesanan barang input sebesar 55,69%, indeks volume persediaan barang 54,60% dan indeks penggunaan tenaga kerja 50,84.
Investasi Manufaktur Ditargetkan Rp 310 Triliun
Nilai Investasi manufaktur ditargetkan mencapai Rp 300-310 triliun pada tahun 2022, naik 7% dari ekspektasi tahun ini Rp 280-290 trliun. Peningkatan investasi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5 5% pada tahun depan. "Meski adanya gejolak dan tantangan akibat pandemi, sektor industri manufaktur konsisten memainkan peranan pentingnya sebagai penggerak dan penopang utama bagi perekonomian nasional. Bahkan, kami dapat menyatakan bahwa sektor industri manufaktur merupakan sektor pendorong utama bagi Indonesia untuk keluar dari resesi,"kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasamita pada acara jumpa pers Akhir Tahun 2021.
Dalam upaya mencapai target-terget tersebut, lanjut menperin, telah diidentifikasi berbagai tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2022. Tantangan tersebut antara lain terkait disrupsi dari supply chain, kelangkaan kontainer yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan perdagangan lewat laut, serta berbagai event internasional khususnya eksibisi atau pameran internasional yang diselenggarakan dalam bentuk virtual atau digital yang dinilai kurang mampu menarik bagi pengunjung. "Kami juga mengkaji adanya usulan pemberian insentif baru bagi sektor industri tertentu agar daya saing industri meningkat," ujar Menteri Agus. (Yetede)
Manufaktur dan Perdagangan Menopang Setoran Perpajakan
Membaiknya mobilitas masyarakat pasca lonjakan kasus Covid-19 lalu, ikut mendorong penerimaan pajak. Bahkan, penerimaan pajak 2021 telah melampaui target, setelah 12 tahun berturut-turut mencatatkan selisih tekor alias shortfall. Sebelumnya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) melaporkan bahwa realisasi penerimaan pajak hingga sampai 26 Desember 2021, mencapai Rp 1.231,87 triliun. Angka ini telah setara 100,19% dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 yang sebesar Rp 1.229,6 triliun. Dari realisasi tersebut, setoran pajak penghasilan (PPh), menjadi pendorong utamanya. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Neilmaldrin Noor, Rabu (29/12) menyatakan hal ini seiring dengan meningkatnya aktivitas bisnis di industri dan badan usaha karena perbaikan perekonomian, terutama didominasi sektor industri pengolahan.
Pengamat Pajak Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Darussalam sebelumnya menyebut, tiga sektor ekonomi akan jadi penopang penerimaan pajak hingga akhir tahun yakni manufaktur, perdagangan, dan pertambangan. Ketiga sektor ini sudah menunjukkan perbaikan kinerja sejalan peningkatan harga komoditas, permintaan, insentif pajak, hingga membaiknya konsumsi domestik.
Jelang Tutup Tahun, Manufaktur Lesu Lagi
Tensi aktivitas industri manufaktur Indonesia mulai berkurang menjelang tutup tahun 2021. Penyebabnya: permintaan luar negeri mulai lesu serta ada kendala logistik global yang mengganggu distribusi. IHS Markit mencatat: Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia November 2021 di posisi 53,9, turun dari bulan Oktober sebesar 57,2. Meskipun turun, indeks manufaktur Indonesia masih masuk di level ekspansi yakni di atas 50 poin.
Airnav Siapkan Prosedur Helikopter
Airnav Indonesia memiliki jurus jitu mendukung gelaran World
Superbike Mandalika International Street Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat
yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (12/11). Kelima prosedur
tersebut adalah implementasi prosedur helikopter, dukungan personal layanan
navigasi penerbangan, pengoperasian
intrusment landing system.
“Prosedur helikopeter yang kami siapkan utuk mendukung gelaran Wrold Superbike Mandalika adalah rute Bandar Udara Internasional Lombok Zainudin Abdul Majdid ke sirkuit Mandalika dan sebaliknya. Rute ini dapat digunakan untuk helicopter yang akan ditumpangi oleh pembalap, official team, panitia World Superbike, penonton, atau tamu VIP lainnya.” Kata Direktur Utama Airnav Indonesia M Pramintohadi Sukarno.
Dalam mendukung oparasional penerbangan helicopter di Sirkuit Mandalika, Airnav pun menyiapkan personil layanan navigasi penerbangan yang bertugas selama perhelatan World Superbike berlangsung. “Kami akan menempatkan personal air traffic controller di sirkuit Mandalika untuk memberikan layanan informasi penerbangan termasuk kondisi cuaca terkini dan alerting service memastikan lalu lintas penerbangan berjalan selamat, aman dan efisien.“ujar Pramintohadi. (Yetede)
Manufaktur Menggeliat Lagi
Kinerja ekspor dan impor pada Agustus 2021 menampakkan geliat sektor manufaktur. Kegiatan industri di sektor hilir ini perlu diiringi penguatan sektor hulu dan antara. Indikator kinerja ekspor dan impor pada Agustus 2021 menunjukkan perbaikan aktivitas industri setelah sempat mengalami tekanan pada Juli 2021 karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Kendati demikian,kenaikan impor bahan baku atau penolong juga menggambarkan masih kuatnya ketergantungan industri dalam negeri pada bahan baku impor. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, Rabu (15/9/2021),impor pada Agustus 2021 tercatat senilai 16,88 miliar dollar AS, naik 10,35 persen dari Juli 2021.Secara tahunan, kinerja impor naik 55,26 persen dibandingkan dengan Agustus 2020. Impor yang berkaitan dengan kinerja industri, seperti impor bahan baku/penolong dan barang modal, mencatat nilai tertinggi dibandingkan dengan impor barang konsumsi.
Kelangkaan Kontainer Menekan Manufaktur RI
Kinerja manufaktur Indonesia masih tertahan pandemi Covid-19. Kondisi itu diperparah dengan kelangkaan kontainer sehingga mengacaukan arus ekspor impor. Mengacu data IHS Markit, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 43,7 pada Agustus 2021. Sebenarnya posisi itu naik dari Juli 2021 di level 40,1. Lantaran masih di bawah level 50, kinerja manufaktur Indonesia berada di fase kontraksi.
Gangguan rantai pasok akibat Covid-19 dinilai masih terjadi pada Agustus, sehingga sebagian perusahaan mencatatkan penurunan kinerja, di saat yang sama harga barang dan jasa melonjak. Gangguan rantai pasok ini pun terkait erat dengan kelangkaan kontainer secara global.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









