MENJAGA LAJU MANUFAKTUR
Kewaspadaan atas melemahnya kinerja sektor manufaktur masih perlu ditingkatkan pada kuartal terakhir tahun ini karena masih besarnya tantangan mulai dari dampak kenaikan harga BBM, kenaikan suku bunga acuan, gangguan rantai pasok, hingga ancaman resesi global. Tak ayal bila kemudian para pelaku usaha bersama-sama mulai memutar strategi dan taktik demi menjaga laju manufaktur di Tanah Air pada kuartal IV/2022 agar tetap stabil. Upaya ini penting ditempuh karena laju industri pengolahan diprediksi bisa lebih rendah dibandingkan dengan laju pada kuartal III/2022. Apalagi, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia atau PMI-BI memprediksi pada kuartal IV/2022 bisa mencapai 53,18%. Tentu angka ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi PMI-BI pada kuartal III/2022 sebesar 53,71%. Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar, Jumat (14/10), mengatakan siasat untuk meredam kontraksi manufaktur lebih dalam di sektor alat angkut, pebisnis akan lebih mengoptimalkan pasar domestik dengan menggenjot industri komponen otomotif. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja meminta pemerintah untuk menyalurkan stimulus baik di sisi pasar maupun pelaku industri untuk menjaga laju manufaktur pada kuartal IV/2022. Di sisi suplai, jelasnya, setidaknya diperlukan dua jenis stimulus. Pertama, stimulus untuk efisiensi beban biaya overhead produksi yang meningkat seiring dengan inflasi yang terjadi di Tanah Air. Kedua, stimulus berupa pinjaman usaha yang affordable agar perusahaan punya cukup dana untuk mempertahankan ataupun melakukan ekspansi produksi.
Tags :
#ManufakturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023