;
Tags

Manufaktur

( 164 )

Dunia Usaha Menggeliat, Manufaktur Solid

KT1 19 Jul 2024 Investor Daily (H)
Kinerja kegiatan dunia usaha menggeliat pada kuartal II-2024, berdasarkan hasil survei Kegiatan Dunia Usaha (SKUD) Bank Indonesia. Pada periode itu, saldo bersih tertimbang (SBT) mencapai 17,2% lebih tinggi kuartal sebelumnya sebesar 14,11%.  Kinerja sektor manufaktur, penyumbang terbesar produk domestik bruto berdasarkan lapangan usaha, juga masih solid pada kuartal II lalu. Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, meningkatkan kegiatan dunia usaha tersebut ditopang oleh kenaikan kinerja beberapa lapangan usaha, antara lain pertanian, kehutanan, dan perikanan  sejalan dengan pergeseran musim panen khususnya komoditas tanaman pangan disejumlah wilayah, transportasi dan pergudangan, dan konstruksi. Selain itu, perdagangan besar eceran dan reparasi mobil motor, serta penyediaan akomodasi dan makan  minum mencatat kenaikan permintaan pada saat hari besar keagamaan nasional. (Yetede)

PERFORMA MANUFAKTUR : Berkah IKN untuk Besi & Baja

HR1 11 Jul 2024 Bisnis Indonesia

Pembangunan Ibu Kota Negara atau IKN Nusantara membawa berkah tersendiri bagi industri besi dan baja nasional. Pembangunan megaproyek itu diperkirakan membutuhkan 331.000 ton besi dan baja sejak 2023 hingga akhir tahun ini. Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Abdul Muis memastikan bahwa pembangunan IKN Nusantara hingga kini hanya menggunakan besi dan baja yang berasal dari industri di dalam negeri. “Khusus IKN sejak 2023 sampai dengan 2024, kami kalkulasi sekitar 331.000 ton yang kita butuhkan, sampai akhir Desember nanti,” katanya, Rabu (10/7). Adapun, proyeksi kebutuhan baja di IKN Nusantara oleh Kementerian PUPR itu jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan estimasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang memperkirakan bakal tembus 400.000 hingga 700.000 ton. Mengacu pada data tersebut, kebutuhan pasokan baja dan besi di IKN Nusantara dilaporkan mencapai 30% dari total kebutuhan nasional. “Untuk 2024, kami butuh 1,1 juta ton untuk seluruh Indonesia. Di IKN Nusantara 331.000 ton. Jadi, sekitar 30% [untuk IKN],” tambahnya. Di sisi lain, Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) terus berupaya melindungi industri baja nasional dari serbuan produk impor.Direktur Eksekutif IISIA Widodo Setiadharmaji sempat mengatakan kebijakan pengendalian impor yang dikeluarkan oleh pemerintah berhasil menekan volume importasi baja. Sepanjang 2019—2023, volume impor turun 12,94% year-on-year (YoY) dari 17 juta ton pada 2019 menjadi 14,8 juta ton pada 2023. Angka impor itu belum pernah mencapai level sebelum Covid-19, meski permintaan baja domestik terus tummbuh.

Emiten Industri Kena Efek Penurunan PMI

HR1 04 Jul 2024 Kontan

Kinerja industri manufaktur Indonesia melambat. Tercermin dari penurunan Purchasing Manager's Index (PMI). S&P Global merilis PMI Manufaktur Indonesia Juni 2024 turun ke level 50,7, anjlok 1,4 poin dibandingkan Mei yang masih di level 52,1. Penurunan PMI menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan PMI bisa jadi sentimen prospek kinerja dan saham emiten di sektor industri. Terlebih, di semester I-2024, indeks saham sektor industri masih terkoreksi -15,08%. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menyoroti tiga faktor yang menyebabkan penurunan PMI Manufaktur Indonesia. Pertama, tertahannya suku bunga acuan di level tinggi, dimana pasca kenaikan suku bunga, PMI menunjukkan tren menurun. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketiga, pemulihan ekspor yang masih lambat. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menimpali, penurunan PMI dapat menimbulkan kekhawatiran atau dampak psikologis di kalangan investor. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani ikut memprediksi, sentimen dari penurunan PMI hanya jangka pendek. "Dampak ke pasar hanya sementara, akan ada koreksi satu atau dua hari.Setelah itu IHSG akan melanjutkan rally," terang Arjun. Sektor barang konsumsi primer performanya bisa lebih stabil dengan produk yang tetap dibutuhkan masyarakat. Sedangkan konsumsi non-primer rawan tekanan saat ekonomi melambat. Masyarakat akan membatasi konsumsi.

Rupiah Melemah, Manufaktur Ketar-ketir

KT1 26 Jun 2024 Investor Daily
Industri manufaktur bakal menjadi salah satu  sektor yang paling terdampak usai rupiah mengalami tren pelemahan. Pemerintah diharapkan segera mengintervensi agar nilai rupiah tidak menembus Rp16.500 per dolar AS. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, pelemahan rupiah memang belum berdampak ke harga jual, namun sudah berdampak pada peningkatan  biaya operasi pabrik. Kebutuhan industri makanan dan minuman (mamin) seperti gandum, susu, garam, dan gula saat ini masih bergantung pada impor. Dia menyebut, berdasarkan Badan Data Pusat Statistik (BPS) nilai impor 4 komoditas  tersebut mencapai US$ 9 miliar per tahun. Pelemahan rupiah sebesar 6,5% secara tahun berjalan membuat nilai impor keempat komoditas tersebut berpotensi menjadi Rp 5 triliun-6 triliun. (Yetede)

INVESTASI MANUFAKTUR : Menadah Berkah dari China

HR1 06 Jun 2024 Bisnis Indonesia

Keinginan sejumlah industri di China melakukan diversifikasi rantai pasok sembari melengkapi basis manufakturnya membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi wilayah tujuan relokasi basis produksi. Lembaga penyedia layanan manajemen real estat dan investasi Jones Lang LaSalle (JLL) memproyeksi bakal terjadi akselerasi rantai pasok yang membidik Asia Tenggara dan India sebagai basis produksi dalam 1 dekade ke depan. Hal tersebut didorong oleh pertimbangan perusahaan manufaktur yang mencari lokasi dengan opsi pembiayaan lebih baik untuk memanfaatkan volatilitas rantai pasokan. 

Beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan China mulai menjajaki relokasi. Penambahan basis manufaktur di luar China dianggap penting untuk mencegah gangguan terhadap rantai pasokan dengan mengurangi ketergantungan terhadap satu negara. Country Head dan Head of Logistics and Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan, demand yang lebih besar terhadap lahan industri, ditambah dengan upah dan biaya bahan baku yang meningkat juga membuat harga tanah di China lebih mahal. Head of Manufacturing Strategy Asia Pasific JLL Michael Ignatiadis menyatakan, Pemerintah di negara-negara Asia Tenggara dan India bersiap menangkap peluang itu, dan memberikan kebijakan yang mendukung industri manufaktur lokal mereka dengan memprioritaskan ketersediaan lahan dan akses permodalan. Pada 2023, Indonesia mengalami peningkatan penanaman modal asing langsung di bidang manufaktur, dengan peningkatan sebesar US$4 miliar, sehingga mencapai total US$28,7 miliar.

Penyebab Industri Manufaktur Terus Tertekan

KT1 06 Jun 2024 Tempo
DATA S&P Global menunjukkan indeks manajer pembelian atau purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level 52,1 per Mei 2024. Capaian ini menandai konsistensi ekspansi industri manufaktur di dalam negeri selama 33 bulan terakhir. Namun lembaga tersebut melihat tanda-tanda pelemahan aktivitas manufaktur. "Meski pertumbuhan masih bertahan positif, terlihat tanda-tanda akan memburuk," ujar Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence Paul Smith dalam keterangan tertulis pada 3 Juni 2024.

Output dan permintaan baru dari pasar melambat selama Mei. Ekspansi manufaktur selama periode tersebut mayoritas didukung dari permintaan pasar domestik. Sementara itu, untuk pesanan ekspor baru tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut, menunjukkan pelemahan permintaan global. Itulah sebabnya PMI manufaktur Indonesia bulan lalu tercatat turun dibanding pada April 2024 yang mencapai 52,9. Indeksnya juga tercatat paling rendah sejak November 2023. PMI manufaktur merupakan indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan manajer bisnis di sektor manufaktur. Skor PMI di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur sedang ekspansi. Sedangkan jika angkanya di bawah 50, industri berada di fase kontraksi.  

Indikasi pelemahan berlanjut tampak antara lain dari tingkat staf di industri manufaktur yang menurun selama dua bulan berturut-turut. Perusahaan menahan diri untuk menambah tenaga kerja lantaran ketidakpastian industri. Kebijakan untuk merekrut tenaga kerja diambil secara hati-hati. Beberapa perusahaan memutuskan tidak mengganti staf yang berhenti. "Muncul kekhawatiran bahwa tanda-tanda penurunan permintaan pasar akan makin intensif dalam 12 bulan ke depan." Di sisi lain, inflasi harga input menguat di Indonesia. Panelis survei S&P Global melaporkan kenaikan tersebut antara lain dipicu oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang buruk, di kisaran Rp 16 ribu per US$ 1. (Yetede)

Tanda Seru dari Pabrik Sepatu

HR1 08 May 2024 Bisnis Indonesia

Pengumuman PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) mengenai penutupan operasional pabrik sepatunya di Purwakarta, Jawa Barat, per 30 April 2024 seperti menghidupkan alarm mengenai industri alas kaki maupun industri manufaktur di Indonesia. Pabrik ini sudah beroperasi sejak 30 tahun yang lalu. Sebuah periode yang cukup panjang untuk ukuran Indonesia. Dalam pasar alas kaki, brandBata juga sudah dikenal begitu lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebagian kalangan generasi X pada masa lalu. Dua hal ini membuat kabar viral mengenai penutupan pabrik di Purwakarta tersebut mendapat sorotan yang luas. BATA menutup operasional pabrik sepatunya lantaran rugi selama 4 tahun terakhir. Apabila ditelisik lebih jauh, BATA membukukan rugi bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp190,28 miliar per 31 Desember 2023. 

Rugi itu membengkak hampir 80% dibandingkan periode sama 2022 sebesar Rp105,91 miliar. (Bisnis.com, 6/6). Meskipun menghentikan operasional pabrik di Purwakarta, perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya di Indonesia, khususnya di sektor ritel. Pengurus Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) pun angkat suara. Pengurus Aprisindo menyebut industri alas kaki dalam negeri masih menghadapi tekanan sehingga kinerjanya masih terkontraksi setelah dihantam pandemi. Menurut pengurus Aprisindo, sejak pandemi hingga saat ini kondisi industri belum pulih normal. Terlebih, tantangan inflasi pangan pada awal tahun ini yang memicu lesunya daya beli konsumen. Beberapa brand untuk segmen menengah-menengah ke bawah pada periode Lebaran yang baru lalu mengalami penurunan dibanding untuk periode yang sama di 2023. 

Sejatinya, industri alas kaki merupakan salah satu subsektor dari industri pengolahan. Industri ini berkontribusi sebesar 1,26% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan pada kuartal I/2024. Badan Pusat Statistik melaporkan, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) dari industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar Rp8,02 triliun pada kuartal I/2024. Nilai tersebut naik 5,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. (DataIndonesia.id, 6/6)Secara makro, pertumbuhan kinerja industri kulit dan alas kaki tersebut melanjutkan tren positif yang terjadi sejak kuartal IV/2023. PDB ADHK dari industri alas kaki pada kuartal pertama tahun ini juga menjadi yang tertinggi dalam 2 tahun terakhir.

PERFORMA MANUFAKTUR : ARAL KENCANG INDUSTRI ALAS KAKI

HR1 06 May 2024 Bisnis Indonesia

Awan mendung masih menyelimuti industri alas kaki nasional yang terus berupaya bangkit dari berbagai tantangan yang mengadang sejak pandemi Covid-19. BATA menjadi korban terkini dari problem pesanan yang terus menurun. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) membeberkan bahwa industri alas kaki dalam negeri masih menghadapi berbagai tekanan, sehingga kinerja masih terkontraksi sejak pandemi. Inflasi pangan yang terjadi sejak awal tahun ini menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat, sehingga berujung pada anjloknya permintaan. Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakrie mengatakan bahwa momentum Idulfi tri tahun ini tidak mampu mengompensasi permintaan yang terjadi sebelumnya. Bahkan, permintaan alas kaki pada Lebaran tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) menjadi salah satu produsen alas kaki yang terimbas dari penurunan permintaan. Perusahaan yang masuk ke Indonesia sejak 1940 itu harus menutup pabrik sepatunya di Purwakarta, Jawa Barat, sejak 30 April 2024.

Meski menutup fasilitas produksinya di Purwakarta, kata Firman, BATA tetap akan beroperasi di Indonesia, khususnya untuk sektor ritel. Selain itu, BATA juga memiliki bisnis memproduksi sepatu sesuai dengan pesanan brand lokal. Dari keterbukaan informasi yang disampaikan BATA kepada Bursa Efek Indonesia, diketahui perusahaan menutup fasilitas produksinya karena kerugian yang dialami 4 tahun belakangan. Corporate Secretary BATA Hatta Tutuko mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya, tetapi kerugian dan tantangan industri akibat pandemi, hingga perubahan perilaku konsumen terlampau cepat, sehingga tak mampu dibendung. Berdasarkan catatan Bisnis, produsen sepatu asal Republik Ceko itu membukukan kerugian sebesar Rp80,56 miliar pada periode Januari—September 2023, naik 294,76% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp20,43 miliar. Penjualan perusahaan pada 9 bulan awal 2023 juga tercatat turun 0,42% secara tahunan menjadi Rp488,47 miliar, dari periode sama tahun sebelumnya yang Rp490,57 miliar.

Kementerian Perindustrian pun bergerak cepat dengan turun tangan langsung melakukan peninjauan terhadap kondisi pabrik sepatu BATA di Purwakarta. Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Kris Sasono Ngudi Wibowo mengatakan bahwa pemerintah hingga kini tengah mendalami penyebab tutupnya fasilitas produksi itu, sembari mencermati situasi terkini di pabrik tersebut. Secara terpisah, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita menilai industri alas kaki nasional —khususnya skala kecil dan menengah— makin tumbuh dan berkembang, seiring dengan bermunculannya berbagai brand lokal yang memiliki kualitas dan desain untuk bersaing dengan produk impor. 

Menurutnya, Kementerian Perindustrian terus berkomitmen untuk berperan pada penguatan ekosistem industri alas kaki melalui pengembangan kreativitas dan kemitraan, salah satunya melalui melalui Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di bawah Direktorat Jenderal IKMA. Berdasarkan data World Footwear, Indonesia merupakan konsumen produk alas kaki terbesar kelima di dunia dengan jumlah konsumsi mencapai 702 juta pasang produk alas kaki pada 2022 atau berkontribusi 3,2% dari total konsumsi produk alas kaki dunia. Di dalam negeri, industri alas kaki sempat mendapatkan angin segar saat Kementerian Perdagangan mengecualikan barang contoh untuk industri tekstil dan alas kaki dari larangan dan pembatasan impor.

Waspada Manufaktur Terus Melambat

KT1 04 May 2024 Tempo

Mencapai rekor tertinggi pada Maret 2024 di level 54,2, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2024 anjlok ke angka 52,9. Artinya, ekspansi sektor manufaktur di Tanah Air melambat. PMI Manufaktur merupakan indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan manajer bisnis di sektor manufaktur. Skor PMI di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur berada di level ekspansi. Sebaliknya, jika angkanya di bawah 50, industri berada di fase kontraksi.

Pada Maret lalu, PMI Manufaktur Indonesia, berdasarkan survei S&P Global Indonesia, mencetak rekor 54,2 atau yang tertinggi sejak dua tahun terakhir. Namun, pada April, PMI anjlok ke angka 52,9. Ekspansi manufaktur pada April 2024 terjadi akibat turunnya penjualan ekspor, tingkat pertumbuhan produksi, dan permintaan baru. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor industri pengolahan pada Januari-Maret 2024 mencapai US$ 45,2 miliar atau turun 4,92 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu: US$ 47,5 miliar. Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence Paul Smith mengatakan melambatnya ekspansi manufaktur mendorong perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja. Fenomena tersebut dianggap sebagai menurunnya optimisme perusahaan. Bahkan kepercayaan diri perusahaan turun ke tingkat terendah selama hampir empat tahun terakhir pada April ini.

Survei S&P Global Market Intelligence itu sejalan dengan data Kementerian Perindustrian yang mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada April 2024 menurun 0,75 poin dibanding pada Maret 2024 yang sebesar 53,05. Jumlah subsektor yang mengalami ekspansi pada April 2024 tercatat sebanyak 19 subsektor, menurun dari Maret 2024 yang sebanyak 21 subsektor. Jumlah subsektor yang mengalami peningkatan IKI pada April 2024 sebanyak tujuh subsektor, anjlok dari 15 subsektor pada Maret 2024. IKI adalah indikator derajat keyakinan atau tingkat optimisme industri manufaktur terhadap kondisi perekonomian. IKI juga memberi gambaran kondisi industri pengolahan. (Yetede)

Manufaktur Melandai, PHK Bisa Mengancam

HR1 03 May 2024 Kontan

Lampu kuning menyala dari sektor manufaktur. Ekspansi pelaku usaha di sektor ini kembali melandai. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kembali terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur. Hal tersebut terindikasi dari data S&P Global yang mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2024 di level 52,9. Angka itu melorot 1,3 poin dibandingkan Maret 2024 di level 54,2, meski mencatat ekspansi dan menunjukkan kondisi di sektor manufaktur membaik selama 32 bulan. Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Paul Smith mengatakan secara keseluruhan, April merupakan bulan positif untuk perekonomian manufaktur Indonesia, dengan output dan permintaan baru meningkat sejak Maret. Hanya saja, ada beberapa hambatan. Menurut dia, penjualan ekspor kembali menurun. Baik tingkat pertumbuhan produksi, maupun permintaan baru, juga mengalami penurunan. 

Dalam laporannya, keseluruhan ketenagakerjaan April 2024 turun untuk pertama kali sejak Oktober lalu. Dengan kapasitas tenaga kerja yang dikurangi dan persyaratan produksi naik, penumpukan pekerjaan naik lagi. Meski dalam keadaan tertentu, Paul bilang, PHK dianggap sebagai fenomena sementara. Namun hal ini dapat menggambarkan penurunan optimisme perusahaan.Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai, penurunan PMI Manufaktur kali ini merupakan kombinasi dari berbagai penyebab. Berbeda, Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy melihat, PHK bukan menjadi satu-satunya akibat dari tekanan industri manufaktur. Pasalnya, PHK juga terjadi pada tahun lalu dan saat itu PMI Manufaktur berada di level yang tinggi. Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan kinerja manufaktur Indonesia masih menunjukkan tren ekspansif meski gejolak geopolitik global belum berkesudahan.