;

Manufaktur Makin Lemah Dihantam Banyak Masalah

Ekonomi Hairul Rizal 03 Sep 2024 Kontan (H)
Manufaktur Makin Lemah Dihantam Banyak Masalah

Kinerja industri manufaktur makin terseok. Mereka kelimpungan mempertahankan bisnis di tengahnya beratnya masalah yang harus dihadapi. Selain dihadapkan pada pelemahan daya beli masyarakat, pelaku industri manufaktur harus berjibaku melawan dominasi produk impor di pasar lokal. Sementara industri berorientasi ekspor juga harus gigit jari lantaran permintaan di pasar global juga sedang lesu darah. Kombinasi masalah itu menyeret aktivitas produksi manufaktur terjerembab ke titik terendah sejak Agustus 2021. Indikasi kemunduran manufaktur ini terekam di survei S&P Global tentang Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Agustus 2024. S&P Global melaporkan, PMI Indonesia Agustus 2024 di level 48,9, turun 0,4 poin dari bulan sebelumnya di 49,3. Artinya, dua bulan beruntun industri manufaktur nasional di zona kontraksi. PMI sebenarnya telah mengalami tren penurunan selepas Maret 2024 hingga kini. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menilai, penurunan PMI manufaktur disebabkan melemahnya permintaan pasar domestik. Sudah lemah, pasar domestik pun terus digempur produk-produk impor ilegal. Wakil Ketua Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar memperkirakan, penurunan PMI akan berlanjut. Banyak fasilitas produksi beroperasi dengan utilisasi kurang dari 40%. "Ini berbahaya dan dapat menyebabkan gelombang PHK lebih lanjut," jelasnya, Senin (2/9). Kementerian Ketenagakerjaan menyebut, pekerja Indonesia yang terkena PHK mencapai 46.240 orang pada Januari-Agustus 2024, naik 23,71% secara tahunan. 

Industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) jadi subsektor manufaktur yang paling banyak melakukan PHK. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menambahkan, sampai saat ini pasar domestik terus dibanjiri produk impor TPT ilegal.Para produsen lokal sulit bersaing karena produk impor dijual dengan harga miring tanpa dikenakan pajak. Industri otomotif juga terdampak pelemahan daya beli. Ini tercermin pada tren penjualan wholesales (pabrik ke diler) dan retail mobil nasional yang masing-masing turun 17,5% dan 12,2% secara tahunan hingga Juli 2024. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengusulkan kebijakan relaksasi atau penghapusan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil produksi lokal dengan kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi. Apindo minta stimulasi produksi. Wujudnya bisa kemudahan mendapat bahan baku, kemudahan pembiayaan, akses pembiayaan ekspor, pencegahan tumpang tindih kebijakan, hingga fasilitas izin investasi.

Tags :
#Manufaktur
Download Aplikasi Labirin :