;

MEMACU MESIN MANUFAKTUR

Ekonomi Hairul Rizal 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)
MEMACU MESIN MANUFAKTUR

Mesin perekonomian Indonesia terbukti masih solid selama lebih dari 3 tahun, salah satunya tecermin dari kinerja positif neraca perdagangan selama 42 bulan secara beruntun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Oktober 2023 mencetak surplus US$3,48 miliar. Surplus itu diperoleh dari nilai ekspor Oktober 2023 sebesar US$22,15 miliar, sedangkan nilai impor hanya US$18,67 miliar. Dengan pencapaian itu, kinerja dagang selama Januari-Oktober 2023 membukukan akumulasi surplus US$31,22 miliar, kendati lebih rendah US$14,22 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2022 sebesar US$45,44 miliar. Kendati demikian, surplus kinerja perdagangan Indonesia juga diiringi fakta bahwa terjadi penurunan impor bahan baku penolong. Padahal suplai bahan baku menjadi indikator geliat industri manufaktur. Jika berkepanjangan, amat mungkin produktivitas sektor manufaktur, yang selama ini menjadi pilar penting penyokong ekonomi nasional, akan tersendat. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan impor bahan baku/penolong dalam tren menurun selama 5 bulan terakhir.  Sejatinya, tren penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2022. Selama Januari-Oktober 2023, nilai impor bahan baku/penolong juga merosot sebesar US$19,32 miliar atau 12,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ada tiga besar golongan barang yang merosot nilai impornya selama periode 10 bulan pertama 2023, yaitu bahan bakar mineral, besi dan baja serta plastik dan bahan dari plastik. Saat dimintai tanggapan, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan memprediksi total impor Indonesia sepanjang 2023 memang turun sebesar 7,7%. Untuk tahun depan, dia menyatakan Kemendag bakal memastikan ketersediaan input bagi industri manufaktur domestik, sejalan dengan kebijakan penghiliran.   Kasan juga mengatakan Kemendag fokus pada ekspor barang dan jasa bernilai tambah tinggi guna meningkatkan produktivitas perekonomian. Sebaliknya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 sebesar US$3,48 miliar bisa menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Sementara itu, Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar menyatakan penurunan nilai impor bahan baku/penolong menunjukkan ada kontraksi di industri manufaktur. “Jadi banyak yang menahan produksi, melihat situasi, hitung-hitung market daya belinya gimana dengan produksi yang naik,” kata Bobby. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi juga sepakat dengan Bobby. Menurutnya, penurunan impor bahan baku/penolong dipicu antara lain penurunan permintaan. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz juga menegaskan Indonesia memasuki tren penurunan surplus neraca perdagangan.

Download Aplikasi Labirin :