Waspadai Melambatnya Ekspansi Manufaktur
Melambatnya Indeks Kepercayaan Industri atau IKI dalam tiga bulan terakhir perlu direspons dari sisi suplai dan permintaan. Di sisi suplai, perlu insentif untuk mendongkrak kinerja industri yang masih kesulitan dalam pemulihan. Daya beli masyarakat juga mesti tetap dijaga. Berdasarkan data Kemenperin, IKI Mei 2023 ialah 50,9 atau masih di zona ekspansi atau optimistis (lebih dari 50). Akan tetapi, angka itu melanjutkan tren penurunan IKI. Pada Februari 2023, IKI tercatat 52,32. Pada Maret 51,87 dan April 51,38. Situasi itu sejalan dengan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager’s Index/PMI) manufaktur Indonesia yang dipublikasikan S&P Global. Pada Mei 2023, PMI Indonesia pada posisi 50,3 atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang 52,7. Kendati menurun, PMI Indonesia masih dalam kondisi ekspansif.
Ekonom Center of Reformon Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, di Jakarta, Jumat (16/6) menilai, dari faktor internal, pelambatan IKI dan PMI lebih pada penyesuaian terhadap permintaan di dalam negeri. Adapun, pada factor eksternal dipengaruhi situasi global. ”Khususnya pada PMI manufaktur, penurunan karena adanya ketergantungan pada pangsa pasar mereka yang ekspor. Lalu, proses pemulihan ekonomi beberapa negara, termasuk China, ternyata tidak sebaik yang diharapkan sebelumnya sehingga permintaan barang dari China pun melambat,” ujar Yusuf. Dalam merespons tren penurunan itu, upaya menjaga iklim bisnis di dalam negeri penting dilakukan. Pada sisi suplai, hal itu dilakukan dengan meningkatkan kinerja industri manufaktur. Sementara dari sisi permintaan, daya beli masyarakat perlu dijaga. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023