Reformasi Iklim Usaha Kembalikan Tren Positif Manufaktur
JAKARTA,ID- Reformasi iklim usaha secara struktual, birokrasi hingga ketenagakerjaan, dibutuhkan untuk mengembalikan kinerja manufaktur nasional ke arah tren positif. Hal ini mendesak dilakukan setelah indeks kepercayaan industri (IKI) mencatat hattrick penurunan selama tiga bulan terakhir, dan indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) yang makin mendekati level kontraksi. "Penurunan PMI setelah periode high consumption Indonesia (Ramadan dan Indul Fitri) adalah hal yang cukup wajar, tetapi seharusnya tidak seanjlok ini. Banyak faktor yang masih memerlukan pembenahan melalui reformasi struktural iklim usaha, reformasi birokrasi, dan reformasi pasar tenaga kerja," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani kepada Investor Daily, Sabtu (17/06/2023). Penurunan manufaktur, menurut Shinta, terjadi karena kurangnya stimulus iklim usaha untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi beban produksi. "Ini diliat dari kesulitan pelaku sektor manufaktur untuk mengimpor bahan baku/penolong yang masih persisten terjadi, suku bunga pinjaman riil yang tidak affordoble, dan minimnya reformasi struktural baru yang berfungsi mencipatakan tingkat efisiensi beban/biaya usaha lebih tinggi disektor manufaktur," ungkap dia. (Yetede)
Tags :
#ManufakturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023