;
Tags

Keuangan

( 1012 )

LPS Mencatat Simpanan di Perbankan Nasional dengan Tiering Nominal di Atas Rp 5 Miliar Kembali Menguat

KT1 03 Jan 2025 Investor Daily (H)

Lembaga Penjamim Simpanan (LPS) mencatat simpanan di perbankan nasional dengan tiering nominal di atas Rp 5 miliar kembali menguat menjelang tutup tahun 2024.Berdasarkan data distribusi simpanan yang dipublikasikan LPS, simpanan kelas kakap ini tumbuh tinggi 1,8% (month to month/mtm). 

Berikutnya, simpanan tiering nominal sampai dengan Rp100 juta tumbuh 5,4% (yoy) per November 2024 menjadi Rp 1.076,5 triliun, mengalami perlambatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang naik 5,9% (yoy). Apabila secara bulanan naik 0,9% (mtm), menguat tipis dari Oktober 2024 sebesar 0,8% (mtm). 

Pada tiering nominal Rp 100-200 juta tumbuh 5,3% (yoy) menjadi Rp 445,75 triliu, flat jika dilihat, beberapa tiering nominal Rp200 juta sampai dengan di bawah Rp 5 miliar mengalami kontraksi secara bulanan. Seperti tiering Rp200-500 juta yang susut 0,5% (mtm) menjadi Rp720,16 triliun per November 2024. 

Untuk tiering nominal Rp500 juta sampai dengan 1 miliar juga susut 0,6% (mtm) menjadi Rp609,82 triliun. (Yetede)


Untuk Menjaga Stabilitas BI Memborong SBN

KT1 30 Dec 2024 Tempo
UNTUK menjaga stabilitas fiskal dan moneter tahun depan, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan sepakat menerbitkan dan membeli Surat Berharga Negara (SBN). Melalui kebijakan ini, BI akan memegang obligasi pemerintah, sedangkan pemerintah memperoleh dana untuk menutupi defisit anggaran. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan langkah ini bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global. Pemerintah dan BI mengambil keputusan ini setelah melakukan pembahasan intensif. Perry menyebutkan langkah tersebut telah disepakati bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. "Secara prinsip, kami sudah sepakat mengenai rencana penerbitan dan pembelian SBN dari pasar sekunder sebagai bagian dari operasi moneter," ujarnya dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu, 18 Desember 2024.

Melalui skema ini, pemerintah akan meminjam langsung dari bank sentral dengan menerbitkan obligasi yang diborong BI. SBN tersebut akan menjadi alat pendanaan penting bagi pemerintah untuk menutupi celah fiskal, sembari menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas keuangan negara. Perry menuturkan BI akan membeli lebih banyak SBN dari pasar sebagai strategi pengelolaan utang menjelang jatuh tempo pada 2025. Pada 2025, utang pemerintah yang jatuh tempo mencapai Rp 800,33 triliun. Angka ini terdiri atas SBN atau obligasi pemerintah senilai Rp 705,5 triliun. Sebanyak 92,7 persen dari obligasi tersebut terbit setelah 2014 atau pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ada juga utang yang jatuh tempo tahun depan berupa pinjaman sebesar Rp 94,83 triliun.

Selain itu, sebelumnya Sri Mulyani memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara menjadi 2,53 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp 616 triliun. Pembiayaan defisit APBN 2025 akan dipenuhi melalui pembiayaan utang yang secara neto sebesar Rp 775,8 triliun dan pembiayaan nonutang yang secara neto sebesar minus Rp 159,7 triliun. Pembiayaan utang ini akan dilakukan melalui penerbitan global bond, penarikan pinjaman luar negeri dan dalam negeri, serta penerbitan SBN di pasar domestik. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (ketiga dari kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (ketiga dari kanan) serta para Deputi Gubernur BI, Doni P. Joewono (kedua dari kiri), Juda Agung (kedua dari kanan), Aida S. Budiman (kiri), dan Filianingsih Hendarta (kanan), berbincang sebelum menyampaikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, 18 Desember 2024. (Yetede)

Akankah Resolusi Keuangan di Tahun 2024

KT3 28 Dec 2024 Kompas

Tidak terasa, kita sudah berada di pengujung tahun 2024. Banyak cerita yang terukir selama 2024, termasuk cerita perencanaan dan pengelolaan keuangan yang dilakukan. Apakah resolusi keuangan Anda pada 2024 sudah tercapai atau hanya sebatas resolusi? Ada beberapa manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan pengecekan kondisi keuangan di akhir tahun.Pertama, Anda akan melihat kondisi keuangan yang dimiliki selama satu tahun, termasuk aset dan utang yang dimiliki. Kedua, Anda akan mampu mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan yang dialami ketika melakukan pengelolaan keuangan di tahun 2024. Identifikasi kegagalan diperlukan untuk merumuskan langkah antisipatif yang akan dilakukan jika menghadapi kondisi serupa di masa depan. Ketiga, dengan mengidentifikasikan kondisi keuangan terkini, penyusunan resolusi perencanaan keuangan tahun 2025 akan dapat dilakukan dengan lebih baik dalam mencapai tujuan keuangan. Pengecekan keuangan disarankan untuk dilakukan oleh setiap orang yang sudah memiliki penghasilan tidak memandang umur, status pernikahan, atau pekerjaan. Ketika mengecek kondisi pengelolaan keuangan diakhir tahun dapat dilakukan secara efektif dan efisien, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan, Perpisahan merupakan peristiwa yang penting, meskipun terkadang kita menghindarinya karena merasa sulit atau canggung.

Sesungguhnya perlu juga kita memahami gaya perpisahan dan bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara baik kepada orang lain. Jo-Ann Finkelstein (2020), psikolog klinis di Chicago, mengatakan bahwa mengucapkan selamat tinggal memungkinkan kita untuk mengungkapkan perasaan, membentuk cara mengingat seseorang, menyusun pilihan, dan membingkai periode waktu yang berbeda. Singkatnya, perpisahan memberi kita rasa akhir saat melangkah ke fase kehidupan berikutnya. Schwörer, Krott, dan Oettingen (2020) menemukan dalam penelitian yang berbeda-beda bahwa ”akhir yang menyeluruh”, yang ditandai dengan rasa penyelesaian, berkaitan dengan afek positif, penyesalan yang relatif sedikit, dan transisi yang lebih mudah ke fase kehidupan selanjutnya. Jika kita tidak mengucapkan selamat tinggal, resolusi akan lebih sulit didapat. Kita mungkin tidak akan pernah sepenuhnya menyelesaikan perpisahan, dan mungkin mendapati diri dalam keadaan berkabung terus-menerus, bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi. Kita mungkin dibiarkan dengan perasaan menyesal, marah, bingung, dan bersalah. Ketika seorang teman dekat pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal, kita mungkin bertanya-tanya apakah dia benar-benar peduli pada kita dan menyimpulkan bahwa dia tidak menganggap penting pertemanan selama ini. Dengan kata lain, akhir itu, baik formal maupun informal, adalah sesuatu yang penting dan sering kali merupakan hal yang kita bawa terus dalam ingatan.  (Yoga)

PPN 12% Membuat Laju DPK Tersendat

KT1 18 Dec 2024 Investor Daily (H)
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan indeks menabung konsumen (IMK) per November 2024 mengalami perlambatan.  Ke depannya, dengan adanya peningkatan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% mulai 1 Januari 2025, dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan tumbuh tersendat. Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, sebelum adanya kebijakan PPN 12% pertumbuhan DPK  perbankan memegang sudah melambat, sehingga adanya PPN 12% akan sulit DPK untuk naik kencang. Per Oktober 2024, DPK perbankan tumbuh 6,74% (yoy) lebih lambat dari bulan sebelumnya 7,04% (yoy). "Mudah-mudahan nggak sampai anjlok, tapi saya lihat akan sulit untuk naik kencang. DPK kami prediksi 6-7% sampai sekarang belum kami ubah, itu akan adaptif tergantung dari waktu ke waktu," ungkap Purbaya pada LPS Mornings Talk. Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah kemungkinan sedang membutuhkan uang untuk menambah anggarannya, sehingga ada kebijakan PPN 12%. Namun, apabila dana tersebut nantinya digunakan untuk program akan posiitif karena akan dirasakan masyarakat. "Itu kalau uang masuk ke pemerintah, tidak langsung masuk ke sistem, dampaknya empat bulan dalam jangka pendek itu akan pengaruhi tren tabungan," (Yetede)

Sinyal Risiko di Pasar Keuangan Semakin Kuat

HR1 16 Dec 2024 Kontan (H)
Pekan ini, pasar keuangan akan fokus pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) dan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, yang akan menentukan arah suku bunga acuan. Menurut Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, The Fed diproyeksikan memangkas suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,25%-4,5%, sementara BI kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga di 6% untuk menopang nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp 16.000 per dolar AS.

Dimas Krisna Ramadhani, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, menambahkan bahwa keputusan BI mempertahankan suku bunga dapat memperbesar selisih dengan Fed rate, yang diharapkan mendorong aliran dana masuk ke Indonesia. Namun, Oktavianus Audi, Vice President Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa kebijakan Donald Trump dapat memperlambat pemangkasan suku bunga The Fed di masa depan, meningkatkan volatilitas pasar.

Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, memproyeksikan depresiasi rupiah berlanjut hingga 2025, dengan kisaran Rp 16.000–Rp 16.100 per dolar AS. Ketidakpastian global dan kebijakan tarif AS menjadi faktor utama yang mengurangi minat investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, untuk pasar saham, Ratih Mustikoningsih dan Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 7.200–7.550 hingga akhir tahun. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati (wait and see), menanti kepastian dari keputusan RDG BI dan FOMC.

Penerbitan Obligasi Bank Diperkirakan Meningkat

HR1 14 Dec 2024 Kontan
Penerbitan obligasi sektor perbankan diproyeksikan meningkat pada tahun 2025, didorong oleh tantangan likuiditas yang ketat. Bankir memprediksi persaingan untuk menghimpun dana pihak ketiga (DPK) akan semakin intensif, bersamaan dengan peningkatan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang ditargetkan naik 42,2%.

Analis Pefindo, Danan Dito, memperkirakan perbankan akan beralih ke penerbitan obligasi sebagai alternatif pendanaan, terutama karena Loan to Deposit Ratio (LDR) telah mendekati 90%. Hingga akhir November 2024, Pefindo telah menerima mandat penerbitan surat utang perbankan senilai Rp 3 triliun, yang kemungkinan akan terealisasi tahun depan.

Nixon L.P. Napitupulu, Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), mengungkapkan rencana penerbitan obligasi tahun depan untuk mendukung program pembiayaan 3 juta rumah yang dicanangkan pemerintah. BTN akan memulai dengan global bond pada kuartal I-2025, seiring rasio LDR-nya yang sudah mencapai 96% per September 2024.

Bank BJB, melalui Direktur Utamanya, Yuddy Renaldy, juga mengumumkan rencana penerbitan obligasi, namun waktu dan nilainya akan bergantung pada kondisi pasar dan likuiditas pada tahun 2025.

Dengan ketatnya likuiditas dan persaingan dana, penerbitan obligasi akan menjadi strategi utama perbankan dalam mendukung ekspansi kredit di tahun mendatang.

Kesejahteraan Finansial sebagai Pegawai

KT3 07 Dec 2024 Kompas

Berdasarkan laporan PwC Employee Wellness Survey pada tahun 2023 silam, pegawai yang mengalami kondisi stres akibat masalah finansial umumnya akan mengalami gejala seperti kesulitan tidur, gangguan kesehatan mental, gangguan rasa percaya diri, penurunan kesehatan fisik terutama terkait masalah pencernaan, dan memburuknya hubungan keluarga. Padahal, seorang pegawai bekerja utamannya karena ingin mencapai kesejahteraan finansial,dimana seseorang merasa aman secara finansial dan mental. Pegawai memiliki keamanan finansial dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan keuangan, mencakup faktor-faktor seperti tersedianya dana darurat dan tabungan pensiun, rasio utang terhadap pendapatan yang terkendali, serta kemampuan berinvestasi untuk masa depan finansial.

Ada empat tingkatan kesejahteraan finansial. Pertama, financial survival, yaitu bagaimana seseorang memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan minimum, seperti biaya hidup dasar, makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Kondisi ini umum dialami oleh pekerja yang memiliki penghasilan UMR atau pekerja yang baru bekerja.  Oleh sebab itu, memiliki anggaran bulanan dan kemampuan untuk mengendalikan diri adalah hal penting. Kedua, financial security, yaitu kondisi saat seorang pegawai mampu untuk menutupi biaya hidup dasar bulanan ataupun tahunan. Pegawai me miliki simpanan uang untuk keadaan darurat dan mulai dapat menabung untuk membuat tujuan keuangan masa depan. Ketiga, financial flexibility, yaitu kondisi yang memungkinkan seorang pegawai berbuat lebih banyak dengan uang yang dimiliki.

Keempat, financial freedom, yaitu kondisi saat pegawai memiliki level kesejahteraan finansial tertinggi. Bila pegawai telah mencapai tingkatan ini, mereka memiliki cukup tabungan, investasi, dan uang tunai untuk menjalani kehidupan yang lebih dari layak. Sumber daya keuangan juga cukup untuk melakukan apa yang diinginkan dengan keluarga, karier, dan masa depan. Untuk dapat menaiki tangga kesejahteraan finansial, penting untuk memiliki pola pikir dan gaya hidup yang sederhana. Dengan kesederhanaan, seorang pegawai akan tidak boros dalam pengeluaran, tetapi juga tidak pelit dalam mengatur penghasilan. Keseimbangan antara pengeluaran masa kini, masa depan, dan masa sulit merupakan kondisi yang senantiasa akan menjadi prioritas. Oleh sebab itu, menjauhkan diri dari pola hidup konsumtif, bahkan menghindari pinjaman daring untuk menaikkan taraf hidup, adalah salah satu kuncinya. (Yoga)


Ketatnya Likuiditas Membayangi Ekspansi Bisnis

HR1 07 Dec 2024 Kontan
Tantangan likuiditas perbankan di tahun 2025 diperkirakan meningkat seiring dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel hingga 42,2% dari tahun sebelumnya, dengan target penerbitan mencapai Rp 140 triliun–Rp 180 triliun. Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah dan perbankan bersaing dalam menarik dana masyarakat, yang dapat memperlambat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, mengakui bahwa peningkatan penyerapan dana masyarakat ke instrumen SBN dan Bank Indonesia (BI) dapat menyulitkan bank untuk melakukan ekspansi kredit. Ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam ekspansi agar sejalan dengan pertumbuhan DPK.

Ita Tetralastwati, SEVP Tresuri BNI, menambahkan bahwa BNI akan menggenjot dana murah melalui layanan digital, optimalisasi produk tabungan, serta memanfaatkan instrumen surat berharga likuid sebagai cadangan likuiditas.

Sementara itu, Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, menekankan pentingnya kreativitas perbankan dalam mencari sumber likuiditas alternatif. Ia juga melihat bahwa insentif likuiditas makroprudensial dari BI dapat membantu perbankan menjaga stabilitas likuiditas.

Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, mengungkapkan bahwa imbal hasil SBN yang tinggi akan menarik banyak dana masyarakat, sehingga bank perlu mengerem ekspansi kredit jika likuiditas tetap ketat. Hal ini bisa memengaruhi kinerja bank secara keseluruhan. Perbankan disarankan untuk mengupayakan berbagai alternatif pendanaan guna mengatasi tantangan tersebut.

Tips Saat Menggunakan ”Paylater”

KT3 30 Nov 2024 Kompas

Kecepatan, kemudahan, dan kepraktisan menjadi tuntutan dan gaya hidup masyarakat, tidak terkecuali di sektor jasa keuangan. Industri jasa keuangan menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan  produk dan layanan jasa keuangan yang dapat diakses dari gawai masing-masing. Semuanya seakan ada di genggaman tanpa dibatasi waktu dan ruang. Salah satu produk jasa keuangan yang menggunakan teknologi informasi dalam penggunaannya adalah buy now pay later (BNPL) atau lebih dikenal dengan paylater. Produk ini memungkinkan konsumen membeli barang/jasa dengan membayarnya di kemudian hari. Produk paylater sangat diminati generasi muda.

Proses persetujuan yang mudah, terhubung langsung dengan toko daring dan fasilitas promo belanja yang berlimpah menjadi faktor pendorong semakin akrabnya paylater di kalangan generasi muda. Selain itu, gaya hidup dengan prinsip fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), fear of other people’s opinion (FOPO), dan tren doom spending di generasi muda juga menjadi pupuk tumbuh suburnya paylater. Namun, semua gaya hidup ini mengarahkan generasi muda menjadi lebih konsumtif. Tips pemanfaatan Agar penggunaan paylater bermanfaat bagi pengelolaan keuangan yang dimiliki dan tidak berakhir menjadi lilitan utang, adalah: Pertama, ingat, paylater adalah pinjaman atau utang yang harus dibayar. Pastikan mengenali kondisi keuangan sebelum menggunakan paylater, termasuk kemampuan membayar cicilan.

Kedua, pinjamlah untuk kebutuhan produktif bukan kebutuhan konsumtif. Penggunaan paylater untuk kebutuhan produktif bisa menghasilkan sumber pendapatan baru, yang dapat digunakan untuk membayar cicilan paylater dan sisanya dapat diinvestasikan lagi. Sejalan dengan langkah OJK untuk mendorong lembaga jasa keuangan mengembangkan sumber pembiayaan mikro bagi pelaku UMKM. Ketiga, pahami manfaat, syarat, biaya, tenor pinjaman, dan denda dari penggunaan, untuk memaksimalkan manfaat penggunaan paylater, meminimalisasi risiko gagal bayar, serta terhindar dari jeratan utang. Keempat, pastikan membayar cicilan tepat waktu, selain untuk menghindari pengenaan denda, keterlambatan dalam pemenuhan kewajiban dapat berakibat buruk pada catatan kualitas kredit. Kelima, pastikan menggunakan layanan paylater dari perusahaan penyedia yang resmi terdaftar dan memperoleh izin dari OJK. (Yoga)


Perempuan Merupakan Pilar Keberhasilan Inklusi Keuangan

KT3 29 Nov 2024 Kompas

Perempuan merupakan pilar keberhasilan inklusi keuangan. Namun, perempuan dari keluarga berpendapatan rendah kerap terpinggirkan dalam akses layanan keuangan. Bahkan, di tengah kemajuan keuangan digital, perempuan kesulitan mengakses keuangan dan jadi korban akibat minimnya literasi digital keuangan. Kesulitan warga berpendapatan rendah, terutama perempuan dan kelompok rentan, mengakses layanan keuangan sejak 25 tahun lalu mendapat perhatian Microsave Consulting (MSC), firma butik konsultan global, yang berfokus pada inklusi keuangan, ekonomi, dan sosial lewat kemitraan dengan pemain ekosistem digital. Salah satunya adalah program Women’s Economic Empowerment yang sukses menghubungkan koperasi perempuan dengan lembaga keuangan formal. Program ini memungkinkan perempuan miskin di Afrika dan Asia mengakses layanan keuangan yang lebih beragam.

Model ini berhasil karena koperasi perempuan yang sebelumnya mengandalkan sistem simpan pinjam informal kini bisa mengakses layanan perbankan lebih lengkap. Selain memiliki tabungan dan akses kredit, perempuan bisa menjangkau layanan pembayaran tagihan, asuransi, dan biaya pendidikan anak. Tahun 2024 merupakan tahun ke-25 bagi MSC (dulu bernama Proyek Microsave). Proyek Microsave berawal dari program United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan Pemerintah Inggris mendukung pengembangan layanan tabungan bagi masyarakat miskin di Uganda. Proyek ini berkembang dan kini telah melayani lebih dari 60 negara. ”Sejak saat itu, kami membangun organisasi ini. Kami memulai dengan tiga orang dan kini memiliki 380 orang di Afrika dan Asia,” ujar Graham AN Wright, The Founder and Group Managing Director of MSC, di Jakarta, dalam Perayaan 25 Tahun MSC, Selasa (26/11). Kepala Divisi Ultra Mikro BRI Dani Wildan menegaskan, digitalisasi membawa efisiensi dan mempercepat inklusi keuangan. Di sini MSC berperan aktif. (Yoga)