;
Tags

Bursa

( 805 )

Memburu Anggota Baru Keping Biru Pilihan

HR1 22 Jan 2024 Kontan (H)

Tak lama lagi, Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal mengocok ulang susunan sejumlah indeks konstituen, termasuk indeks terlikuid LQ45. Sesuai jadwal, para penghuni baru Indeks LQ45 akan diumumkan pada akhir Januari mendatang. Ada beberapa saham yang digadang-gadang berpeluang besar menjadi penghuni baru LQ45. Beberapa di antaranya adalah saham pendatang baru PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Belakangan ini saham-saham tersebut mencuri perhatian lantaran berperan besar menggerakkan arah bursa saham. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, BREN dan AMMN berpeluang masuk ke indeks LQ45 dan IDX30 karena likuiditasnya yang tinggi.  "Likuiditas AMMN dan BREN di atas Rp 100 miliar per hari, rasio free float juga relatif besar di atas 10%, serta kapitalisasi pasar besar di atas Rp 500 triliun," katanya kepada KONTAN, kemarin. Di samping itu, Praska menyebut prospek bisnis AMMN dan BREN dalam jangka panjang masih didukung oleh kinerja fundamental kuat dari pos pendapatan dan laba. Hal ini akan menambah daya tarik bagi investor. Selain kedua nama pendatang baru itu, Praska menilai saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga memiliki potensi besar untuk masuk ke indeks LQ45. Kedua saham ini juga telah memenuhi kriteria sebagai penghuni LQ45.

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas juga sepakat kalau BREN dan AMMN menjadi saham yang punya peluang paling kuat untuk masuk ke indeks LQ45. Kendati begitu, valuasi kedua saham ini sudah relatif tinggi. "BEI punya fasilitas fast track untuk saham-saham yang baru IPO. Ini semestinya bisa menjadi peluang BREN dan AMMN masuk dalam rebalancing LQ45 Januari ini," katanya.Kendati belum lama listing di bursa, saham BREN memberikan bobot 42,2% terhadap kenaikan IHSG sejak bulan Januari 2023 hingga saat ini. Hal ini pula yang membuat performa saham LQ45 tertinggal jauh dari IHSG. Sepanjang tahun 2023, pergerakan IHSG turut terdorong oleh harga BREN yang terus menguat sejak IPO. Alhasil, di akhir 2023, IHSG ditutup naik 6,2%. Sedangkan laju LQ45 hanya tumbuh 3,6% sepanjang tahun lalu. "Kalau BREN jadi masuk LQ45, pergerakan LQ45 bakal sejalan dengan IHSG. Disamping bobot, faktor free float juga menjadi pertimbangan utama," ujar Praska. Investment Consultant Reliance Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, selain AMMN, BREN atau pun ADMR, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), juga berpotensi masuk gerbong LQ45. Soal ADMR, Bukan pertama kali anak usaha ADRO itu digadang sebagai calon penghuni baru LQ45. Pada rebalancing Agustus 2023 lalu, sejumlah analis juga memperkirakan ADMR masuk ke indeks ini. Tapi, likuiditas AMDR masih kalah dengan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang akhirnya jadi penghuni baru LQ45 periode itu. Sedangkan saham yang berpeluang tercoret dari daftar LQ45 adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Pasalnya, rata-rata transaksi harian SCMA relatif kecil dibanding peers lain yang tergabung sebagai konstituen LQ45 dalam enam bulan terakhir. Harga saham ini juga masih dalam tren bearish jangka panjang, disertai kinerja fundamental yang melambat. Pengamat Pasar Modal & Founder WH Project William Hartanto menyarankan sell on strength saham BREN jika terjadi penguatan terbatas. Sementara untuk AMMN, William merekomendasikan beli dengan target harga di Rp 8.000 hingga Rp 8.350 dalam jangka pendek.

Bersih-bersih Emiten Zombi

HR1 19 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Pertumbuhan jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia meningkat signifikan dalam 3 tahun terakhir. Pencatatan perdana saham PT Griptha Putra Persada Tbk. (GRPH), kemarin (18/1), menambah daftar perusahaan tercatat ke-911 serta menjadi emiten ke-8 yang melantai di pasar saham sejak awal 2024. Jika dihitung sejak 2020, jumlah emiten sudah bertambah 243 perusahaan atau melonjak 36,4%. Semarak pendatang baru boleh saja dimaknai positif, tetapi kualitas IPO dan profil emiten debutan ini kerap menjadi gunjingan di tengah-tengah pelaku pasar. Sebagian besar emiten anyar tercatat di papan akselerasi dan pengembangan, hanya segelintir di antaranya yang masuk ke papan pencatatan utama. Ini menandai prospek saham-saham emiten tersebut secara fundamental relatif kurang menjanjikan karena belum memenuhi sejumlah kriteria yang salah satunya mencakup pembukuan laba bersih. Memang, dinamika pasar dan korporasi ke depan diharapkan mendorong perbaikan terhadap kinerja emiten. Akan tetapi, juga tidak sedikit emiten yang kepayahan melewati tantangan dan gagal untuk keluar dari si­tua­si sulit.

Kinerja keuangan yang buruk hampir selalu inline dengan performa saham perusahaan. Keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka harus disadari melibatkan ekspektasi masyarakat melalui kepemilikan saham. Sejak akhir tahun lalu, Bursa Efek Indonesia telah memperingatkan 38 emiten agar memperbaiki kinerja jika tidak ingin ditendang dari pasar saham atau sahamnya di-delisting. Beberapa nama emiten yang berpotensi didepak dari papan pencatatan tahun ini di antaranya PT Armidian Karyatama Tbk. (ARMY), PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX), PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA), PT Triwira Insanlestari Tbk. (TRIL), hingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Seperti kita ketahui, penghapusan saham dilakukan oleh otoritas bursa jika emiten mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup perusahaan, baik secara finansial maupun hukum. Saham WSKT, misalnya, telah disuspensi di seluruh pasar selama 6 bulan. Adapun masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 8 Mei 2025. Suspensi ini berkaitan dengan penundaan pembayaran bunga dan pokok atas sejumlah obligasi yang diterbitkan perusahaan. Emiten infrastruktur Group Salim yakni PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) juga menempuh langkah serupa dan telah mengajukan delisting sejak November tahun lalu. Ada beragam alasan META berencana meninggalkan pasar saham, yang terkuat tentu saja terkait dengan kondisi perusahaan yang merugi sejak kuartal III/2023.

Indosat Akan Memperkuat Bisnis Internet Rumah

HR1 19 Jan 2024 Kontan
Usai mencaplok 300.000 pelanggan MNC Play, PT Indosat Tbk (ISAT) alias Indosat Ooredoo Hutchinson (IOH) akan fokus mengemabangan segmen bisnis Fiber To The Home (FTTH). SVP Head of Corporate Communications ISAT, Steve Saerang mengatakan, proses pengambilalihan pelanggan aset MNC Play telah selesai pada 15 November 2023. "Lebih dari 300.000 pelanggan MNC Play telah menggunakan layanan FTTH Indosat melalui merek baru, yakni MNC Play powered by Indosat Ooredoo Hutchinson," katanya kepada KONTAN, Kamis (18/1). Steve mengatakan, pelanggan dapat memilih antara FTTH atau Internet Protocol Television Services (IPTV) maupun kedua layanan dalam satu paket yang sama. Untuk layanan IPTV, disediakan oleh PT MNC Kabel Mediacom. Sebagai catatan, nilai penjualan dan pengalihan pelanggan MNC Play kepada ISAT mencapai Rp 875,86 miliar dan sudah dibayarkan. Saat ini, layanan FTTH Indosat akan diperkuat oleh Asianet, yang di akhir tahun 2023 memiliki jaringan fiber lebih dari 15.000 kilometer dan lebih dari 1,5 juta homepass di seluruh di Indonesia. Niko Margaronis, Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, bakal ada peningkatan lebih lanjut dalam sinergi merger antara Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 dalam memperluas pangsa pasar. Menurut Niko, ISAT akan menghasilkan pertumbuhan yang relatif lebih kuat dibandingkan perusahaan sejenis sebesar 7,3% CAGR pada 2023 sampai 2025. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham ISAT dengan target harga Rp 11.000 per saham. Hingga akhir perdagangan Kamis (18/1), saham ISAT ditutup menguat sebesar 2,56% ke level Rp 10.000 per saham.

Antrean IPO Panjang Jangan Terkecoh Harga Murah

HR1 18 Jan 2024 Kontan (H)

Saham memang jenis investasi yang tergolong high risk and high return. Dalam konteks saham emiten pendatang baru, skala potensi risiko dan peluang keuntungannya bahkan terbukti jauh lebih besar lagi. Tengok saja, dari tujuh saham anyar yang dicatatkan pada Januari 2024, tiga diantaranya; ASLI, ACRO dan MANG sudah berada di bawah harga perdana. Hingga Rabu (17/1), ketiga saham tersebut belum juga mampu kembali ke posisi harga saat IPO.Kondisi serupa juga terjadi pada saham emiten yang menggelar initial public offering (IPO) tahun lalu. Betul, dari 79 pendatang baru hanya 19 emiten yang di hari perdana nyungsep di bawah harga IPO. Namun, dari 19 saham tersebut, hingga kemarin hanya tiga yang mampu merangkak kembali ke atas harga perdana, yakni KING, PTPS dan SURI. Di sisi lain, tak ada jaminan emiten yang moncer di hari perdana bakal terus bersinar. Sebab faktanya, dari 60 saham yang menghijau di hari perdana, 31 saham diantaranya kini sudah melorot ke bawah harga IPO. Sejatinya banyak faktor yang bisa menjadi pedoman bagi calon investor untuk memilih saham IPO.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengakui tingkat permintaan saham IPO bukan satu-satunya jaminan performa suatu saham bakal apik. "Calon investor juga tak boleh terkecoh hanya oleh valuasi pasca IPO yang murah. Sebab," kata Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, penting untuk membandingkan valuasi perusahaan dengan para pesaing di industri yang sama. "Selain itu, perlu juga mengevaluasi rekam jejak dan pengalaman manajemen perusahaan," ujarnya. Tipikal pembeli saham IPO juga bisa berpengaruh terhadap performa di pasar sekunder. Investor ritel misalnya, banyak yang memilih menggunakan strategi jangka pendek untuk mengamankan keuntungan. Sehingga jika pembeli suatu saham IPO didominasi investor ritel, potensi tekanan harganya bisa saja lebih besar. Tak kalah pentingnya, risiko tinggi di saham IPO sebetulnya bisa diredam jika saringan awalnya sudah ketat. Orientasi otoritas bursa tak boleh semata menarik sebanyak-banyaknya emiten baru. Kualitas calon emiten sama sekali tak boleh diabaikan. Dus, pengamat pasar modal Teguh Hidayat sepakat otoritas bursa perlu memperketat syarat bagi perusahaan untuk menggelar IPO. "Kembalikan (aturannya) seperti dulu, misalnya perusahaan harus profit tiga tahun berturut-turut baru bisa IPO," tandasnya.

MYRX & COWL Bisa Didepak dari Bursa

HR1 18 Jan 2024 Kontan
Bertambah lagi emiten yang terancam terdepak dari lantai bursa. Terbaru, saham PT Hanson International Tbk (MYRX) dan saham PT Cowell Development Tbk (COWL). Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam keterangan Rabu (17/1) mencatat perdagangan sahamnya MYRX sudah dihentikan atau suspensi sejak 16 Januari 2020 silam. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan III, Lidia M Panjaitan menyampaikan, mengacu pada peraturan Bursa No I-I tentang Penghapusan Pencatatan dan Pencatatan Kembali atau Relisting Saham, bursa dapat menghapus pencatatan saham. Pertama, perusahaan mengalami kondisi atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat. Kedua, saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir. Suspensi MYRX  sendiri sudah berlangsung 48 bulan per 16 Januari 2024. Lantas saham PT Cowell Development Tbk juga terancam dihapus oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan peraturan serupa, BEI berhak melakukan pencabutan perdagangan sebuah saham. Untuk COWL porsi publik sebanyak 6,41% yang memegang 312 juta saham COWL. Pemegang saham COWL terbesar adalah PT Gama Nusapala memegang 3,46 miliar saham. Jumlah tersebut setara 71,12% dari total saham COWL. Sedangkan pemegang saham MYRX adalah Asabri 5,4%, terpidana Benny Tjokrosaputro 4,25% saham MYRX. Dan sisanya yakni 90,35% dipegang publik. Bursa meminta investor publik mencermati informasi perseroan ini.

Antrean IPO Saham Masih Panjang

HR1 10 Jan 2024 Kontan
Tahun pemilu tak meredupkan rencana perusahaan mencari dana di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, ada 60 rencana penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) dalam pipeline penghimpunan dana. Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK mengatakan, nilai IPO dari 60 perusahaan tersebut sekitar Rp 10,01 triliun. Selain IPO, ada 11 perusahaan akan melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) senilai Rp 5,40 triliun. Lalu, akan ada delapan rencana penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) sebesar Rp 9,26 triliun. Terakhir, terdapat 6 rencana penerbitan PUB EBUS Tahap I & II senilai Rp 4,01 triliun. Jika ditotal, OJK telah mengantongi 85 rencana aksi korporasi dengan nilai indikasi Rp 28,68 triliun. Sejumlah sekuritas pun optimistis kondisi pasar modal masih kondusif sehingga memicu perusahaan untuk menjaring dana dari pasar. Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana menilai, terdapat sejumlah katalis yang bisa mendukung pasar saham tahun ini. Salah satunya suku bunga yang diproyeksikan akan menurun di pertengahan tahun 2024. Sentimen ini diyakini bisa berdampak positif ke pasar ekuitas. "Ke depan saya yakin prospeknya masih bagus," kata Oki, saat ditemui di Gedung BEI, Selasa (9/1). Oki mengatakan, saat ini Mandiri Sekuritas sudah melakukan penjajakan dengan sejumlah perusahaan yang akan diantar melantai ke bursa. Meski tak merinci, Oki menyebut perusahaan ini berasal dari berbagai sektor, seperti barang konsumen hingga sumber daya alam. "Ada beberapa yang lagi kami diskusikan," katanya. Tapi, dia memastikan belum ada perusahaan yang akan IPO melalui Mandiri Sekuritas pada kuartal I-2024. Kebanyakan rencana IPO akan dilakukan pada semester pertama dan kedua 2024.  

Cuan Para Caleg di Lantai Bursa

HR1 06 Jan 2024 Kontan (H)
Sejumlah politisi yang berstatus sebagai pemilik perusahaan mempunya cara sendiri menyambut tahun 2024. Selain berebut kursi wakil rakyat, mereka memperebutkan dana investor di bursa saham. Kesuksesan mereka di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 belum bisa dipastikan. Namun, di Bursa Efek Indonesia (BEI) para politisi ini berhasil mengantongi dana jumbo lewat initial public offering (IPO) dan divestasi saham. Paling anyar adalah hajatan IPO yang digelar Sudjatmiko, calon Legislatif (caleg) DPR 2024 dari daerah pemilihan (dapil) VI Kota Bekasi-Kota Depok. Caleg nomor urut 1 ini bertarung memperebutkan kursi di Senayan lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Jumat (5/1), PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI), perusahaan milik Sudjatmiko, memulai debut di BEI sebagai pendatang baru pertama tahun 2024. Perusahaan jasa konstruksi itu menjual 1,25 miliar unit saham di harga Rp 100 per saham, atau menangguk Rp 125 miliar dari IPO. Sudjatmiko menguasai sekitar 4,34 miliar saham ASLI atau 69,52% dari modal disetor dan ditempatkan penuh usai IPO. ASLI mengerjakan proyek jalan tol di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, terutama proyek jalan tol dari Balikpapan ke IKN dengan nilai kontrak sekitar Rp 30 miliar. Kendati IPO di tengah pemilu, Sudjatmiko yang juga menjabat Direktur Utama ASLI ini menampik, IPO menjadi salah satu jalan untuk memperoleh dana kampanye. Pada 8 Januari 2024, giliran perusahaan milik politisi PDI Perjuangan manggung di BEI, yaitu PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE). Perusahaan tambang nikel itu dikendalikan Herman Herry Adranacus, anggota DPR empat periode, dari 2004 -2024. Pada Pemilu 2024, Herman tak maju sebagai caleg. Anaknya, Stevano Rizki Adranacus jadi caleg DPR PDI Perjuangan dapil Nusa Tenggara Timur 2. Stevano juga pemilik NICE bersama sang ayah. Ia memegang 15% saham PT Dwidaya Mega Investama (DMI) dan Herman memegang 85% saham. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, kalaupun harga saham emiten-emiten ini terpengaruh oleh hasil pemilu, sifatnya sementara. Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin mengingatkan, investor mewaspadai volatilitas tinggi saham-saham terafiliasi partai politik.

Barito Renewables Diprediksi Masuk Indeks MSCI, Potensi Gain 25%

KT1 05 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) diprediksi masuk sebagai salah satu konstituen kuat indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia. Masuknya BREN ke Indeks MSCI membuka peluang kenaikan (Potential gain) saham emiten energi baru terbarukan (EBT) ini hingga 25% oleh posisi saat ini Rp7.525.  Probabilitas emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi anggota indeks MSCI menyusul adanya penyesuaian (rebalancing) anggota MSCI  Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Februari 2024 dan berlaku efektif 1 maret 2024. Indeks MSCI Indonesia merupakan  indeks yang didesain untuk mengukur kinerja segmen pasar Indonesia yang berkapitalisasi besar dan menengah. Beranggotakan sebanyak 22 konstituen, indeks ini mencakup sekitar 85% pasar saham Indonesia. (Yetede)

Efek Januari, Investor Tetap Perlu Selektif Pilih Saham

KT3 04 Jan 2024 Kompas

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan berlanjut di awal tahun 2024. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa investor bisa memanfaatkan ”January Effect” untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat. Namun, kali ini, investor perlu lebih selektif. Rabu (3/1/2024), IHSG tertahan di bawah area resistensi 7.300 poin setelah sempat memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (2/1) di posisi 7.323 poin. Peneliti Phintraco Sekuritas, Valdy K, menilai, posisi tersebut masih melanjutkan tren window dressing di dua bulan terakhir 2023. Window dressing merupakan upaya para investor besar untuk mempercantik portofolionya jelang akhir tahun dengan banyak membeli saham bernilai tinggi dan fenomena tersebut berhasil memperbaiki IHSG yang selama sepuluh bulan sebelumnya berada di bawah posisi 7.000.

Fenomena itu pun disebut akan berefek pada kenaikan kinerja saham pada bulan Januari. Situasi ini dikenal dengan istilah ”January Effect”. Pada momentum ini, investor bisa coba melakukan jual beli saham dalam waktu singkat untuk mendulang bonus. Saham ”bluechip” Namun, tren itu tidak terjadi di semua saham. ”Saham-saham bluechip, terutama perbankan, diperkirakan masih menjadi penggerak IHSG,” kata Valdy dalam keterangannya, Rabu (3/1). Pengamat pasar modal dan Founder WH-Project, William Hartanto, juga berpendapat sama. Ia menemukan, penguatan IHSG adalah efek bobot saham-saham tertentu saja. ”Jika berbicara bobot, kita akan melihat saham-saham big caps (berkapitalisasi besar),” ungkapnya. (Yoga)

BEI Suspensi Perdagangan Saham KAYU

HR1 04 Jan 2024 Kontan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan alias suspensi saham PT Darmi Bersaudara Tbk (KAYU) per Rabu (3/1). Penghentian sementara ini karena terjadinya penurunan harga kumulatif yang signifikan pada saham KAYU. "Penghentian sementara perdagangan saham KAYU tersebut dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai," tulis manajemen BEI, Rabu (3/1). Pada perdagangan terakhir, Selasa (2/1), saham KAYU ditutup melemah 34,71% atau turun 42 poin ke level harga Rp 79 per saham. Pengamat pasar modal dan pendiri WH-Project, William Hartanto mengatakan, penghentian tersebut wajar terjadi. Ini setelah terjadinya auto rejection bawah (ARB) berhari-hari terhadap saham KAYU. "Ke depan perdagangan saham KAYU berpotensi lebih sepi," katanya ke KONTAN Rabu (3/1). Sementara Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, emiten KAYU tengah mengupayakan memperkuat kinerja fundamentalnya di tengah faktor unusual market activity yang terjadi pada KAYU. "Supaya cooling down ," tuturnya.