Bursa
( 805 )Memburu Anggota Baru Keping Biru Pilihan
Tak lama lagi, Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal mengocok ulang susunan sejumlah indeks konstituen, termasuk indeks terlikuid LQ45. Sesuai jadwal, para penghuni baru Indeks LQ45 akan diumumkan pada akhir Januari mendatang. Ada beberapa saham yang digadang-gadang berpeluang besar menjadi penghuni baru LQ45. Beberapa di antaranya adalah saham pendatang baru PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Belakangan ini saham-saham tersebut mencuri perhatian lantaran berperan besar menggerakkan arah bursa saham. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, BREN dan AMMN berpeluang masuk ke indeks LQ45 dan IDX30 karena likuiditasnya yang tinggi. "Likuiditas AMMN dan BREN di atas Rp 100 miliar per hari, rasio free float juga relatif besar di atas 10%, serta kapitalisasi pasar besar di atas Rp 500 triliun," katanya kepada KONTAN, kemarin. Di samping itu, Praska menyebut prospek bisnis AMMN dan BREN dalam jangka panjang masih didukung oleh kinerja fundamental kuat dari pos pendapatan dan laba. Hal ini akan menambah daya tarik bagi investor. Selain kedua nama pendatang baru itu, Praska menilai saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga memiliki potensi besar untuk masuk ke indeks LQ45. Kedua saham ini juga telah memenuhi kriteria sebagai penghuni LQ45.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas juga sepakat kalau BREN dan AMMN menjadi saham yang punya peluang paling kuat untuk masuk ke indeks LQ45. Kendati begitu, valuasi kedua saham ini sudah relatif tinggi. "BEI punya fasilitas fast track untuk saham-saham yang baru IPO. Ini semestinya bisa menjadi peluang BREN dan AMMN masuk dalam rebalancing LQ45 Januari ini," katanya.Kendati belum lama listing di bursa, saham BREN memberikan bobot 42,2% terhadap kenaikan IHSG sejak bulan Januari 2023 hingga saat ini. Hal ini pula yang membuat performa saham LQ45 tertinggal jauh dari IHSG. Sepanjang tahun 2023, pergerakan IHSG turut terdorong oleh harga BREN yang terus menguat sejak IPO. Alhasil, di akhir 2023, IHSG ditutup naik 6,2%. Sedangkan laju LQ45 hanya tumbuh 3,6% sepanjang tahun lalu. "Kalau BREN jadi masuk LQ45, pergerakan LQ45 bakal sejalan dengan IHSG. Disamping bobot, faktor free float juga menjadi pertimbangan utama," ujar Praska. Investment Consultant Reliance Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, selain AMMN, BREN atau pun ADMR, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), juga berpotensi masuk gerbong LQ45. Soal ADMR, Bukan pertama kali anak usaha ADRO itu digadang sebagai calon penghuni baru LQ45. Pada rebalancing Agustus 2023 lalu, sejumlah analis juga memperkirakan ADMR masuk ke indeks ini. Tapi, likuiditas AMDR masih kalah dengan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang akhirnya jadi penghuni baru LQ45 periode itu. Sedangkan saham yang berpeluang tercoret dari daftar LQ45 adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Pasalnya, rata-rata transaksi harian SCMA relatif kecil dibanding peers lain yang tergabung sebagai konstituen LQ45 dalam enam bulan terakhir. Harga saham ini juga masih dalam tren bearish jangka panjang, disertai kinerja fundamental yang melambat. Pengamat Pasar Modal & Founder WH Project William Hartanto menyarankan sell on strength saham BREN jika terjadi penguatan terbatas. Sementara untuk AMMN, William merekomendasikan beli dengan target harga di Rp 8.000 hingga Rp 8.350 dalam jangka pendek.
Bersih-bersih Emiten Zombi
Pertumbuhan jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia meningkat signifikan dalam 3 tahun terakhir. Pencatatan perdana saham PT Griptha Putra Persada Tbk. (GRPH), kemarin (18/1), menambah daftar perusahaan tercatat ke-911 serta menjadi emiten ke-8 yang melantai di pasar saham sejak awal 2024. Jika dihitung sejak 2020, jumlah emiten sudah bertambah 243 perusahaan atau melonjak 36,4%. Semarak pendatang baru boleh saja dimaknai positif, tetapi kualitas IPO dan profil emiten debutan ini kerap menjadi gunjingan di tengah-tengah pelaku pasar. Sebagian besar emiten anyar tercatat di papan akselerasi dan pengembangan, hanya segelintir di antaranya yang masuk ke papan pencatatan utama. Ini menandai prospek saham-saham emiten tersebut secara fundamental relatif kurang menjanjikan karena belum memenuhi sejumlah kriteria yang salah satunya mencakup pembukuan laba bersih. Memang, dinamika pasar dan korporasi ke depan diharapkan mendorong perbaikan terhadap kinerja emiten. Akan tetapi, juga tidak sedikit emiten yang kepayahan melewati tantangan dan gagal untuk keluar dari situasi sulit.
Kinerja keuangan yang buruk hampir selalu inline dengan performa saham perusahaan. Keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka harus disadari melibatkan ekspektasi masyarakat melalui kepemilikan saham. Sejak akhir tahun lalu, Bursa Efek Indonesia telah memperingatkan 38 emiten agar memperbaiki kinerja jika tidak ingin ditendang dari pasar saham atau sahamnya di-delisting. Beberapa nama emiten yang berpotensi didepak dari papan pencatatan tahun ini di antaranya PT Armidian Karyatama Tbk. (ARMY), PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX), PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA), PT Triwira Insanlestari Tbk. (TRIL), hingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Seperti kita ketahui, penghapusan saham dilakukan oleh otoritas bursa jika emiten mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup perusahaan, baik secara finansial maupun hukum. Saham WSKT, misalnya, telah disuspensi di seluruh pasar selama 6 bulan. Adapun masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 8 Mei 2025. Suspensi ini berkaitan dengan penundaan pembayaran bunga dan pokok atas sejumlah obligasi yang diterbitkan perusahaan. Emiten infrastruktur Group Salim yakni PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) juga menempuh langkah serupa dan telah mengajukan delisting sejak November tahun lalu. Ada beragam alasan META berencana meninggalkan pasar saham, yang terkuat tentu saja terkait dengan kondisi perusahaan yang merugi sejak kuartal III/2023.
Indosat Akan Memperkuat Bisnis Internet Rumah
Antrean IPO Panjang Jangan Terkecoh Harga Murah
Saham memang jenis investasi yang tergolong high risk and high return. Dalam konteks saham emiten pendatang baru, skala potensi risiko dan peluang keuntungannya bahkan terbukti jauh lebih besar lagi. Tengok saja, dari tujuh saham anyar yang dicatatkan pada Januari 2024, tiga diantaranya; ASLI, ACRO dan MANG sudah berada di bawah harga perdana. Hingga Rabu (17/1), ketiga saham tersebut belum juga mampu kembali ke posisi harga saat IPO.Kondisi serupa juga terjadi pada saham emiten yang menggelar initial public offering (IPO) tahun lalu. Betul, dari 79 pendatang baru hanya 19 emiten yang di hari perdana nyungsep di bawah harga IPO. Namun, dari 19 saham tersebut, hingga kemarin hanya tiga yang mampu merangkak kembali ke atas harga perdana, yakni KING, PTPS dan SURI. Di sisi lain, tak ada jaminan emiten yang moncer di hari perdana bakal terus bersinar. Sebab faktanya, dari 60 saham yang menghijau di hari perdana, 31 saham diantaranya kini sudah melorot ke bawah harga IPO. Sejatinya banyak faktor yang bisa menjadi pedoman bagi calon investor untuk memilih saham IPO.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengakui tingkat permintaan saham IPO bukan satu-satunya jaminan performa suatu saham bakal apik. "Calon investor juga tak boleh terkecoh hanya oleh valuasi pasca IPO yang murah. Sebab," kata Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, penting untuk membandingkan valuasi perusahaan dengan para pesaing di industri yang sama. "Selain itu, perlu juga mengevaluasi rekam jejak dan pengalaman manajemen perusahaan," ujarnya. Tipikal pembeli saham IPO juga bisa berpengaruh terhadap performa di pasar sekunder. Investor ritel misalnya, banyak yang memilih menggunakan strategi jangka pendek untuk mengamankan keuntungan. Sehingga jika pembeli suatu saham IPO didominasi investor ritel, potensi tekanan harganya bisa saja lebih besar. Tak kalah pentingnya, risiko tinggi di saham IPO sebetulnya bisa diredam jika saringan awalnya sudah ketat. Orientasi otoritas bursa tak boleh semata menarik sebanyak-banyaknya emiten baru. Kualitas calon emiten sama sekali tak boleh diabaikan. Dus, pengamat pasar modal Teguh Hidayat sepakat otoritas bursa perlu memperketat syarat bagi perusahaan untuk menggelar IPO. "Kembalikan (aturannya) seperti dulu, misalnya perusahaan harus profit tiga tahun berturut-turut baru bisa IPO," tandasnya.
MYRX & COWL Bisa Didepak dari Bursa
Antrean IPO Saham Masih Panjang
Cuan Para Caleg di Lantai Bursa
Barito Renewables Diprediksi Masuk Indeks MSCI, Potensi Gain 25%
Efek Januari, Investor Tetap Perlu Selektif Pilih Saham
Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan berlanjut
di awal tahun 2024. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa investor bisa
memanfaatkan ”January Effect” untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.
Namun, kali ini, investor perlu lebih selektif. Rabu (3/1/2024), IHSG tertahan
di bawah area resistensi 7.300 poin setelah sempat memecahkan rekor tertinggi
sepanjang masa pada Selasa (2/1) di posisi 7.323 poin. Peneliti Phintraco
Sekuritas, Valdy K, menilai, posisi tersebut masih melanjutkan tren window
dressing di dua bulan terakhir 2023. Window dressing merupakan upaya para
investor besar untuk mempercantik portofolionya jelang akhir tahun dengan
banyak membeli saham bernilai tinggi dan fenomena tersebut berhasil memperbaiki
IHSG yang selama sepuluh bulan sebelumnya berada di bawah posisi 7.000.
Fenomena itu pun disebut akan berefek pada kenaikan kinerja saham pada
bulan Januari. Situasi ini dikenal dengan istilah ”January Effect”. Pada momentum
ini, investor bisa coba melakukan jual beli saham dalam waktu singkat untuk mendulang
bonus. Saham ”bluechip” Namun, tren itu tidak terjadi di semua saham.
”Saham-saham bluechip, terutama perbankan, diperkirakan masih menjadi penggerak
IHSG,” kata Valdy dalam keterangannya, Rabu (3/1). Pengamat pasar modal dan Founder
WH-Project, William Hartanto, juga berpendapat sama. Ia menemukan, penguatan
IHSG adalah efek bobot saham-saham tertentu saja. ”Jika berbicara bobot, kita
akan melihat saham-saham big caps (berkapitalisasi besar),” ungkapnya. (Yoga)
BEI Suspensi Perdagangan Saham KAYU
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan alias suspensi saham PT Darmi Bersaudara Tbk (KAYU) per Rabu (3/1). Penghentian sementara ini karena terjadinya penurunan harga kumulatif yang signifikan pada saham KAYU.
"Penghentian sementara perdagangan saham KAYU tersebut dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai," tulis manajemen BEI, Rabu (3/1).
Pada perdagangan terakhir, Selasa (2/1), saham KAYU ditutup melemah 34,71% atau turun 42 poin ke level harga Rp 79 per saham.
Pengamat pasar modal dan pendiri WH-Project, William Hartanto mengatakan, penghentian tersebut wajar terjadi. Ini setelah terjadinya
auto rejection
bawah (ARB) berhari-hari terhadap saham KAYU. "Ke depan perdagangan saham KAYU berpotensi lebih sepi," katanya ke KONTAN Rabu (3/1).
Sementara
Senior Investment Information
Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, emiten KAYU tengah mengupayakan memperkuat kinerja fundamentalnya di tengah faktor
unusual market activity
yang terjadi pada KAYU. "Supaya
cooling down
," tuturnya.
Pilihan Editor
-
PNBP Sektor Perikanan Tangkap
29 Aug 2021 -
Jokowi Bentuk Badan Pangan Nasional
26 Aug 2021









