Bursa
( 810 )Aksi Korporasi Bakal Meningkat
Penetapan pemenang pemilihan umum menebalkan kepercayaan pelaku pasar modal untuk melanjutkan aksi korporasi baik berupa penerbitan surat utang, reksa dana, hingga rencana mencatatkan saham di lantai bursa. Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu (20/3) yang menetapkan pasangan Prabowo-Gibran sebagai pemenang Pemilihan Presiden 2024, dan kondisi politik yang relatif stabil menjadi penguat bagi para pelaku dalam menjalankan roda bisnis. Bila mengikuti target yang ditetapkan oleh otoritas bursa, pada tahun ini ditargetkan 62 perusahaan baru akan meramaikan papan transaksi di bursa saham. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pencapaian emiten IPO pada 2023. BEI mencatat sepanjang 2023 ada 79 emiten IPO dengan nilai penggalangan dana sebesar Rp54,14 triliun. Jumlah itu melesat dibandingkan dengan 2022 yang sebanyak 59 emiten dengan penghimpunan dana Rp33,06 triliun. Jumlah pencatatan emiten baru pada 2023 pun mencatatkan rekor tertinggi sejak 1990 silam sebanyak 66 emiten.
Optimisme pelaku pasar tergambar dari mulai bertambahnya transaksi. Pada bulan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh level tertinggi, ditopang oleh rencana bagi dividen dan membaiknya kinerja emiten. Nilai transaksi pun diyakini akan terus membaik seiring dengan mulai masuknya aliran dana asing ke pasar saham. Otoritas Bursa Efek Indonesia memperkirakan nilai transaksi rata-rata akan mencapai di angka Rp12,25 triliun.Berdasarkan data BEI, IHSG kemarin ditutup di level 7.350,152 naik tipis 0,16% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Nilai transaksi sepanjang Jumat (22/3) mencapai Rp10,10 triliun dengan volume 14,611 miliar saham.
Kualitas calon emiten menjadi isu yang cukup disoal oleh investor mengingat banyaknya emiten yang baru mencatatkan saham tetapi sudah tertimpa masalah. Beberapa di antaranya bahkan diberikan notasi khusus dengan sanksi beragam. Tak hanya itu, nilai saham yang diperdagangkan pun, banyak yang anjlok di bawah harga penawaran. Kami tentunya mengharapkan otoritas bursa lebih selektif memberikan lampu hijau bagi calon emiten yang akan mencatatkan sahamnya di bursa. Perlindungan kepada investor harus diutamakan. Apalagi saat ini jumlah investor ritel terus bertambah.
Saham Cuan Saat Ramadan
Bunga Turun, Bursa Saham Kompak Terbang
Investor saham semringah. Sejumlah bursa global mengalami tren Indeks bursa di Amerika Serikat (AS) yakni Dow Jones tembus rekor di 39.781,37 pada Kamis (21/3). Sepekan terakhir Dow Jones menguat 2,25% dan sejak awal tahun naik 5,55%. Begitu juga indeks Nikkei 225 yang mencatat tembus 40.888,43, pada Jumat (22/3). Indeks Bursa Jepang ini juga menguat 5,62% selama sepekan. Dan sejak awal tahun ini juga sangat perkasa 22,44%. Berikutnya bursa Euro Stoxx 50 naik 11,74% dan FTSE 100 Index London juga sedikit menguat 1,93% secara . Lima hari terakhir, Euro Stoxx 50 naik 1,19% dan FTSE 100 menguat 1,80%. Tak mau kalah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat kembali mencatatkan . Kemarin IHSG ditutup menguat 0,16% ke 7.350,15 dan 1,06% sejak awal tahun ini. Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, menghijaunya bursa-bursa global dipengaruhi kinerja makro ekonomi masing-masing negara. "April-Mei ini kinerja makro ekonomi global terpantau positif, ini membuat bursa global positif," ujarnya ke KONTAN, Jumat (22/3). Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee melihat, sentimen yang memicu bursa global menghijau adalah rencana pemangkasan suku bunga The Fed dan beberapa bank sentral negara-negara maju. Hans memprediksi, The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga Juni atau Juli 2024. Bank Sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) juga akan memangkas suku bunga Juni nanti. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, IHSG bisa berada di level 7.500 pada semester I 2024 dan 8.000 pada akhir tahun ini. Sedang menurut Hans, IHSG bisa berada di level 7.650 - 7.850 di akhir tahun. Adapun untuk Nikkei, Audi memproyeksi bisa mencapai 42.300 akhir tahun. Berikutnya Nasdaq akan tercatat di 17.120 dan Strait Times Index (STI) bisa mencapai 3.320 hingga akhir 2024 nanti.
Bursa Saham Dibanjiri Emiten Tak Berkualitas
Lukas Setia Atmaja, Pengamat Pasar Modal Universitas Prasetiya Mulya mencermati, dari 313 saham IPO selama 5 tahun terakhir, ada 43% saham yang harganya turun 40% di bawah harga perdana. Lalu, ada 25% saham IPO yang harganya tinggal gocap bahkan kurang. "Saham IPO yang fundamentalnya kurang baik dan dijual saat IPO akan sangat merugikan investor," kata dia. Otoritas bursa sendiri mulai melihat isu ini sebagai salah satu masalah. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna bilang, BEI sudah mendengar ada beberapa hal yang jadi isu di bursa, yaitu volatilitas transaksi dan penurunan harga saham usai IPO. "Kami juga sudah melakukan refleksi. Selain volatilitas transaksi, ada beberapa perusahaan yang mengalami permasalahan dari sisi operasional," kata dia, Rabu (20/3). Untuk mengatasi masalah volatilitas, Nyoman bilang BEI akan menyempurnakan aturan tentang penjatahan atau allotment.
Grup Sinar Mas Tak Kenal Wait and See
Grup Sinar Mas terus menggeber ekspansi bisnis. Langkah konglomerasi ini digelar lewat sejumlah entitas bisnis mereka di pasar modal. Tengok saja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang merilis obligasi berkelanjutan IV tahap IV tahun 2024 senilai Rp 4 triliun, sukuk mudharabah berkelanjutan III tahap IV tahun 2024 senilai Rp 695,09 miliar, serta obligasi dolar AS berkelanjutan I tahap III tahun 2024 senilai US$ 25 juta. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga merilis obligasi berkelanjutan I dan sukuk mudharabah berkelanjutan I senilai total Rp 7 triliun. Kemudian, DSSA juga mengambil alih aset bisnis pusat data yang sebelumnya dipegang PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Smartfren sendiri tak mau ketinggalan mencari pendanaan dari pasar modal. FREN menggelar rights issue dengan menerbitkan 171,45 miliar saham baru.
Target penghimpunan dananya hingga Rp 8,57 triliun. Managing Director Sinar Mas Ferry Salman mengungkapkan, perencanaan bisnis Sinar Mas memang tidak terhalang oleh tahun politik. Sentimen ini biasanya ampuh mengerem hajat korporasi menggelar ekspansi. "Buat kami tidak ada istilah wait and see . Kami terus konsisten dan melanjutkan apa yang telah direncanakan," kata Ferry dalam buka puasa bersama yang digelar Kamis (21/3). Dalam kesempatan yang sama, CEO Smartfren Andrijanto Muljono optimistis bisa menumbuhkan kinerjanya tahun ini. Dia juga menyinggung mengenai potensi merger antara FREN dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL). "Jika gabung, mungkin kami bisa langsung nomor dua secara " ungkap Andrijanto. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mencermati tidak semua aksi Grup Sinar Mas tersebut cepat membawa dampak positif. Misalnya rights issue yang dilakukan FREN.
Menanti Tim Ekonomi Prabowo
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut
02 itu meraup sebanyak 96.214.691 suara. Setara dengan 58,46% dari total suara,
unggul dibandingkan dua pasangan calon lainnya. Kemenangan satu putaran Prabowo
- Gibran sejatinya sudah terprediksi usai unggul telak dalam hitung cepat. WH-Project
William Hartanto menimpali, selama tidak ada kericuhan, dinamika politik tidak
akan membawa dampak negatif yang signifikan mengganggu IHSG. Dalam jangka
pendek, William menaksir IHSG akan terlebih dulu bergerak pada 7.270 -
7.400 dengan kecenderungan melemah. Pasar menanti tim ekonomi yang
mengisi kabinet Prabowo. Seperti IHSG, kurs rupiah saat hari pengumuman KPU
kemarin melemah. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia, kemarin rupiah tutup di Rp
15.727. Melemah tipis dibanding sehari sebelumnya di Rp 15.712 per dolar
AS.
Setelah Bank, Masih Ada THR dari Sektor Tambang
Setelah ramai pembagian dividen saham perbankan, kini saatnya investor bersiap menyambut gelombang pembagian dividen berikutnya. Termasuk dari emiten saham sektor pertambangan yang terkenal royal menebar dividen. Ike Widiawati, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas mengatakan, investor bisa mencermati sejumlah emiten yang akan membagikan dividen dalam waktu dekat dengan mencermati tanggal rapat umum pemegang saham (RUPS). Investor juga bisa melirik emiten dengan historis dividend pay out ratio yang konsisten. Salah satu emiten yang diperkirakan akan membagikan dividen dalam waktu dekat adalah PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG). ITMG akan menyelenggarakan RUPS pada 28 Maret mendatang. "Selain ITMG, BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) juga akan RUPS di awal April, dengan ekspektasi mau bagi dividen," katanya, Jumat (15/3). Menurut Ike, jika mengharapkan dividen, pastikan investor sudah membeli sejak lama karena ada potensi penurunan harga setelah cum date dividen. Di luar saham perbankan, Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai investor juga dapat mencermati saham sektor energi yang menjadi konstituen IDX High Dividend 20.
Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo mengamini, dividen emiten energi punya prospek menarik. Secara kinerja, sejumlah emiten sudah in line, bahkan ada yang di atas ekspektasi. Hal itu sudah mempertimbangkan penurunan laba yang terprediksi akibat amblesnya harga komoditas, terutama batubara. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer sepakat, mayoritas dividen dari emiten batubara akan lebih rendah, sejalan dengan penurunan kinerja. Dia pun menghitung estimasi yield beberapa emiten tambang di IDX High Dividend 20. Misalnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berpeluang memberi yield dividen 9,8% dengan asumsi DPR 60%. Lalu, estimasi yield ITMG 6,4% dengan asumsi rasio DPR 60%. Research Associate Panin Sekuritas Sarkia Adelia Lukman turut memprediksi emiten batubara masih memberi yield yang menarik, meski tidak setinggi tahun lalu. Selain itu, emiten telekomunikasi dan komoditas emas juga menarik dicermati. Menurut Sarkia, saat ini investor masih cenderung wait and see menanti laporan keuangan emiten dahulu.
Waspada dalam Euforia
Suasana lantai bursa pada sesi perdagangan sejak Rabu (13/3) sampai kemarin, benar-benar luar biasa. Indeks harga saham gabungan alias IHSG berulangkali menembus rekor tertinggi di tengah gerak bursa Asia yang berfluktuasi. Gerak IHSG bahkan sempat menembus all time high (ATH) sebelum ditutup di posisi 7.433,31, kemarin. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di level 7.380—7.454. gairah panas IHSG mendorong saham-saham emiten turut menghijau. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 13 miliar saham telah beredar dengan nilai Rp10,9 triliun yang dibukukan dari total 1,27 juta transaksi. Kinerja IHSG ditopang oleh 284 saham naik, 247 saham turun, dan 393 stagnan. Di tengah kegembiraan pasar finansial yang bersejarah, dengan IHSG yang menembus angka psikologis 7.436, mata uang kripto Bitcoin juga mencapai puncak baru di level US$72.000 sekeping. Adakah komoditas lain yang berseri-seri? Tentu. Harga emas juga melewati batas US$2.206 per troy ounce. Semua senang berada dalam pasar yang volatile. Namun, di balik euforia itu, para investor sesungguhnya dihadapkan pada dinamika pasar yang menantang. Penawaran SBN ritel seri SR020 juga menjadi titik fokus prospeknya instrumen karena SBN menawarkan alternatif investasi bagi mereka yang mencari keamanan di tengah volatilitas pasar seperti sekarang. Kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia, yang mencapai Rp1.051,68 triliun atau naik 9,21% pada Januari 2024 (year-on-year/YoY), menandakan konsumen dan pemerintah, siap tidak siap, akan menghadapi musim belanja besar-besaran dengan harga yang ikut melambung tinggi di kelompok sembako. Di tengah kondisi pasar yang euforia, investor tetap perlu menggunakan akal sehat dan tidak didikte emosi. Salah satunya dengan menerapkan strategi yang seimbang antara ekspansi dan konservasi. Diversifikasi portofolio menjadi kunci, tidak hanya di antara kelas aset yang berbeda tetapi juga dalam aset yang sama untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Menimbang fenomena kenaikan IHSG di atas, potensi emas sebagai lindung nilai, dan volatilitas Bitcoin, investor sebaiknya perlu mempertimbangkan komposisi aset yang adaptif terhadap perubahan pasar. Kinerja aset ke depannya akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter The Fed, dinamika pasar global, serta kondisi ekonomi domestik yang dipengaruhi oleh konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri. Proyeksi penurunan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua 2024 dapat memberikan dorongan bagi likuiditas pasar dan memicu apresiasi lebih lanjut pada aset-aset berisiko. Pada intinya, pendekatan yang berhati-hati di tengah euforia pasar dan tetap proaktif akan memungkinkan investor memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko. Diversifikasi, analisis mendalam, dan pemahaman yang kuat tentang dinamika pasar selalu menjadi kunci sukses dalam investasi pada periode yang penuh tantangan ini.
Emiten Bahan Baku Mulai Menggeliat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,53% ke posisi 7.421,20 Rabu (13/3). IHSG sempat menembus level tertinggi (all time high) di 7.441,61. Saham di sektor barang baku (basic materials) jadi motor penggerak lonjakan IHSG. Saham barang baku melaju paling kencang dengan penguatan harian indeks sektoral mencapai 2,61%. Barisan saham emiten berskala jumbo dari bidang usaha tambang logam mineral (nikel, tembaga dan timah), kimia, kertas dan baja kompak melaju. Sekadar contoh, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menguat 3,28% dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik 3,51%. Duo Grup Barito di industri kimia, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kompak melompat 1,49% dan 11,66%. Emiten kertas PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan emiten baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) turut melesat, naik 2,10% dan 6,25%. Sebelumnya, saham emiten emas telah melaju cukup kencang. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati akselerasi saham sektor barang baku terdongkrak kenaikan harga komoditas tambang global, seperti nikel yang kembali rebound setelah setahun terakhir mengalami koreksi. Sementara itu, ketidakpastian global turut memoles permintaan emas sebagai aset safe haven.
Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Ayu Dian menambahkan perkembangan industri Artificial Intelligence (AI) akan turut menggairahkan kembali permintaan dan harga komoditas logam dan mineral. Pasalnya, industri AI sangat memerlukan semikonduktor yang bahan bakunya berasal dari komoditas tambang mineral. Sedangkan Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyoroti rilis data inflasi China bulan Februari 2024 yang berada di atas estimasi konsensus. Menjadi salah satu tanda perbaikan ekonomi China yang sebelumnya menghadapi tantangan deflasi sejak September 2023. "Ada indikasi pulihnya ekonomi China dan menggeliatnya aktivitas industri," ujar Felix ke KONTAN, Rabu (13/3). Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengingatkan, pelaku pasar perlu selektif memilih saham dan menentukan momentum. Dia menyoroti emiten petrokimia yang berpotensi profit taking usai naik signifikan. Sedangkan emiten komoditas yang kinerjanya tertinggal seperti nikel dan emas, masih berpotensi kembali melaju.
Bunga Turun, Emiten Saham Properti Ceria
Pilihan Editor
-
John Riady: Jangan Khawatir Bubble Start-up
06 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021 -
Perusahaan Rokok Besar Menikmati Insentif Cukai
04 Sep 2021









