Bursa
( 805 )Grup Sinar Mas Tak Kenal Wait and See
Grup Sinar Mas terus menggeber ekspansi bisnis. Langkah konglomerasi ini digelar lewat sejumlah entitas bisnis mereka di pasar modal. Tengok saja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang merilis obligasi berkelanjutan IV tahap IV tahun 2024 senilai Rp 4 triliun, sukuk mudharabah berkelanjutan III tahap IV tahun 2024 senilai Rp 695,09 miliar, serta obligasi dolar AS berkelanjutan I tahap III tahun 2024 senilai US$ 25 juta. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga merilis obligasi berkelanjutan I dan sukuk mudharabah berkelanjutan I senilai total Rp 7 triliun. Kemudian, DSSA juga mengambil alih aset bisnis pusat data yang sebelumnya dipegang PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Smartfren sendiri tak mau ketinggalan mencari pendanaan dari pasar modal. FREN menggelar rights issue dengan menerbitkan 171,45 miliar saham baru.
Target penghimpunan dananya hingga Rp 8,57 triliun. Managing Director Sinar Mas Ferry Salman mengungkapkan, perencanaan bisnis Sinar Mas memang tidak terhalang oleh tahun politik. Sentimen ini biasanya ampuh mengerem hajat korporasi menggelar ekspansi. "Buat kami tidak ada istilah wait and see . Kami terus konsisten dan melanjutkan apa yang telah direncanakan," kata Ferry dalam buka puasa bersama yang digelar Kamis (21/3). Dalam kesempatan yang sama, CEO Smartfren Andrijanto Muljono optimistis bisa menumbuhkan kinerjanya tahun ini. Dia juga menyinggung mengenai potensi merger antara FREN dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL). "Jika gabung, mungkin kami bisa langsung nomor dua secara " ungkap Andrijanto. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mencermati tidak semua aksi Grup Sinar Mas tersebut cepat membawa dampak positif. Misalnya rights issue yang dilakukan FREN.
Menanti Tim Ekonomi Prabowo
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut
02 itu meraup sebanyak 96.214.691 suara. Setara dengan 58,46% dari total suara,
unggul dibandingkan dua pasangan calon lainnya. Kemenangan satu putaran Prabowo
- Gibran sejatinya sudah terprediksi usai unggul telak dalam hitung cepat. WH-Project
William Hartanto menimpali, selama tidak ada kericuhan, dinamika politik tidak
akan membawa dampak negatif yang signifikan mengganggu IHSG. Dalam jangka
pendek, William menaksir IHSG akan terlebih dulu bergerak pada 7.270 -
7.400 dengan kecenderungan melemah. Pasar menanti tim ekonomi yang
mengisi kabinet Prabowo. Seperti IHSG, kurs rupiah saat hari pengumuman KPU
kemarin melemah. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia, kemarin rupiah tutup di Rp
15.727. Melemah tipis dibanding sehari sebelumnya di Rp 15.712 per dolar
AS.
Setelah Bank, Masih Ada THR dari Sektor Tambang
Setelah ramai pembagian dividen saham perbankan, kini saatnya investor bersiap menyambut gelombang pembagian dividen berikutnya. Termasuk dari emiten saham sektor pertambangan yang terkenal royal menebar dividen. Ike Widiawati, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas mengatakan, investor bisa mencermati sejumlah emiten yang akan membagikan dividen dalam waktu dekat dengan mencermati tanggal rapat umum pemegang saham (RUPS). Investor juga bisa melirik emiten dengan historis dividend pay out ratio yang konsisten. Salah satu emiten yang diperkirakan akan membagikan dividen dalam waktu dekat adalah PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG). ITMG akan menyelenggarakan RUPS pada 28 Maret mendatang. "Selain ITMG, BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) juga akan RUPS di awal April, dengan ekspektasi mau bagi dividen," katanya, Jumat (15/3). Menurut Ike, jika mengharapkan dividen, pastikan investor sudah membeli sejak lama karena ada potensi penurunan harga setelah cum date dividen. Di luar saham perbankan, Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai investor juga dapat mencermati saham sektor energi yang menjadi konstituen IDX High Dividend 20.
Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo mengamini, dividen emiten energi punya prospek menarik. Secara kinerja, sejumlah emiten sudah in line, bahkan ada yang di atas ekspektasi. Hal itu sudah mempertimbangkan penurunan laba yang terprediksi akibat amblesnya harga komoditas, terutama batubara. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer sepakat, mayoritas dividen dari emiten batubara akan lebih rendah, sejalan dengan penurunan kinerja. Dia pun menghitung estimasi yield beberapa emiten tambang di IDX High Dividend 20. Misalnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berpeluang memberi yield dividen 9,8% dengan asumsi DPR 60%. Lalu, estimasi yield ITMG 6,4% dengan asumsi rasio DPR 60%. Research Associate Panin Sekuritas Sarkia Adelia Lukman turut memprediksi emiten batubara masih memberi yield yang menarik, meski tidak setinggi tahun lalu. Selain itu, emiten telekomunikasi dan komoditas emas juga menarik dicermati. Menurut Sarkia, saat ini investor masih cenderung wait and see menanti laporan keuangan emiten dahulu.
Waspada dalam Euforia
Suasana lantai bursa pada sesi perdagangan sejak Rabu (13/3) sampai kemarin, benar-benar luar biasa. Indeks harga saham gabungan alias IHSG berulangkali menembus rekor tertinggi di tengah gerak bursa Asia yang berfluktuasi. Gerak IHSG bahkan sempat menembus all time high (ATH) sebelum ditutup di posisi 7.433,31, kemarin. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di level 7.380—7.454. gairah panas IHSG mendorong saham-saham emiten turut menghijau. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 13 miliar saham telah beredar dengan nilai Rp10,9 triliun yang dibukukan dari total 1,27 juta transaksi. Kinerja IHSG ditopang oleh 284 saham naik, 247 saham turun, dan 393 stagnan. Di tengah kegembiraan pasar finansial yang bersejarah, dengan IHSG yang menembus angka psikologis 7.436, mata uang kripto Bitcoin juga mencapai puncak baru di level US$72.000 sekeping. Adakah komoditas lain yang berseri-seri? Tentu. Harga emas juga melewati batas US$2.206 per troy ounce. Semua senang berada dalam pasar yang volatile. Namun, di balik euforia itu, para investor sesungguhnya dihadapkan pada dinamika pasar yang menantang. Penawaran SBN ritel seri SR020 juga menjadi titik fokus prospeknya instrumen karena SBN menawarkan alternatif investasi bagi mereka yang mencari keamanan di tengah volatilitas pasar seperti sekarang. Kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia, yang mencapai Rp1.051,68 triliun atau naik 9,21% pada Januari 2024 (year-on-year/YoY), menandakan konsumen dan pemerintah, siap tidak siap, akan menghadapi musim belanja besar-besaran dengan harga yang ikut melambung tinggi di kelompok sembako. Di tengah kondisi pasar yang euforia, investor tetap perlu menggunakan akal sehat dan tidak didikte emosi. Salah satunya dengan menerapkan strategi yang seimbang antara ekspansi dan konservasi. Diversifikasi portofolio menjadi kunci, tidak hanya di antara kelas aset yang berbeda tetapi juga dalam aset yang sama untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Menimbang fenomena kenaikan IHSG di atas, potensi emas sebagai lindung nilai, dan volatilitas Bitcoin, investor sebaiknya perlu mempertimbangkan komposisi aset yang adaptif terhadap perubahan pasar. Kinerja aset ke depannya akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter The Fed, dinamika pasar global, serta kondisi ekonomi domestik yang dipengaruhi oleh konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri. Proyeksi penurunan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua 2024 dapat memberikan dorongan bagi likuiditas pasar dan memicu apresiasi lebih lanjut pada aset-aset berisiko. Pada intinya, pendekatan yang berhati-hati di tengah euforia pasar dan tetap proaktif akan memungkinkan investor memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko. Diversifikasi, analisis mendalam, dan pemahaman yang kuat tentang dinamika pasar selalu menjadi kunci sukses dalam investasi pada periode yang penuh tantangan ini.
Emiten Bahan Baku Mulai Menggeliat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,53% ke posisi 7.421,20 Rabu (13/3). IHSG sempat menembus level tertinggi (all time high) di 7.441,61. Saham di sektor barang baku (basic materials) jadi motor penggerak lonjakan IHSG. Saham barang baku melaju paling kencang dengan penguatan harian indeks sektoral mencapai 2,61%. Barisan saham emiten berskala jumbo dari bidang usaha tambang logam mineral (nikel, tembaga dan timah), kimia, kertas dan baja kompak melaju. Sekadar contoh, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menguat 3,28% dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik 3,51%. Duo Grup Barito di industri kimia, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kompak melompat 1,49% dan 11,66%. Emiten kertas PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan emiten baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) turut melesat, naik 2,10% dan 6,25%. Sebelumnya, saham emiten emas telah melaju cukup kencang. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati akselerasi saham sektor barang baku terdongkrak kenaikan harga komoditas tambang global, seperti nikel yang kembali rebound setelah setahun terakhir mengalami koreksi. Sementara itu, ketidakpastian global turut memoles permintaan emas sebagai aset safe haven.
Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Ayu Dian menambahkan perkembangan industri Artificial Intelligence (AI) akan turut menggairahkan kembali permintaan dan harga komoditas logam dan mineral. Pasalnya, industri AI sangat memerlukan semikonduktor yang bahan bakunya berasal dari komoditas tambang mineral. Sedangkan Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyoroti rilis data inflasi China bulan Februari 2024 yang berada di atas estimasi konsensus. Menjadi salah satu tanda perbaikan ekonomi China yang sebelumnya menghadapi tantangan deflasi sejak September 2023. "Ada indikasi pulihnya ekonomi China dan menggeliatnya aktivitas industri," ujar Felix ke KONTAN, Rabu (13/3). Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengingatkan, pelaku pasar perlu selektif memilih saham dan menentukan momentum. Dia menyoroti emiten petrokimia yang berpotensi profit taking usai naik signifikan. Sedangkan emiten komoditas yang kinerjanya tertinggal seperti nikel dan emas, masih berpotensi kembali melaju.
Bunga Turun, Emiten Saham Properti Ceria
BEI Ingin Gairahkan Produk Derivatif
Risiko Turun, Saatnya Mengintip Blue Chip
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup bulan Februari dengan pelemahan 0,17%, Kamis (29/2). Hasil ini membawa IHSG ke posisi 7.316,11. Meski melandai sepekan terakhir, tapi IHSG mampu mengakumulasi penguatan 2,22% dalam periode bulanan. Jika dihitung sejak awal tahun 2023, IHSG masih naik tipis 0,60%. Gerak menanjak IHSG ikut terdorong oleh arus dana dari investor asing yang secara year to date berada di posisi net buy Rp 18,43 triliun. Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengamati, katalis yang menggerakkan IHSG pada Februari berasal dari dalam negeri. Pertama, indikator ekonomi nasional masih menunjukkan fundamental yang kuat. Situasi ini membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga pada kuartal II atau kuartal III-2024. Kedua, penyelenggaraan pemilu berlangsung dengan kondusif, dengan hasil yang relatif sesuai perkiraan. Ketiga, musim rilis laporan keuangan menjadi sentimen penggerak pasar, terutama dari saham bank berkapitalisasi pasar jumbo (big caps) yang membukukan pertumbuhan kinerja. Sebaliknya, sentimen eksternal cenderung belum kondusif dengan adanya ketegangan geopolitik di Laut Merah, kontraksi dan resesi ekonomi di sejumlah negara, dan kehati-hatian The Fed memangkas suku bunga acuan.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Robertus Hardy mengatakan, pergerakan positif IHSG di bulan Februari sebagian besar ditopang oleh saham-saham perbankan (lihat tabel). Sebelumnya, sejumlah bank besar mengatakan pertumbuhan kredit tahun ini bisa lebih rendah akibat tingginya suku bunga dan ketidakpastian politik dalam negeri. Memasuki bulan Maret, Robertus menyarankan investor kembali mencermati saham-saham blue chip. Meskipun terdapat potensi peningkatan inflasi yang disebabkan oleh faktor musiman di bulan Ramadan, Robertus meyakini tren penurunan inflasi inti diperkirakan akan berlanjut dan memberikan ruang yang terbatas bagi BI untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Analis Stocknow.id Dinda Resty Angira mengatakan, musim pembagian dividen bakal menjadi katalis penting yang mendongkrak saham big caps, terutama perbankan. Sedangkan Ramadan akan menambah daya tarik bagi sektor barang konsumsi dan ritel. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus menilai, IHSG masih punya kecenderungan bergerak sideways pada rentang 7.000-7.350 dalam beberapa minggu ke depan. Sedangkan Valdy memprediksi IHSG akan mengalami fluktuasi dalam jangka pendek, tapi dengan kecenderungan menguat dalam rentang 7.200-7.400.
Pasar Respons Positif Hasil Pemilu
Otoritas Bursa Perlu Perbaiki Aturan IPO
Para penghuni papan akselerasi memiliki anomali di antara papan pencatatan lain Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni papan utama, papan new economy dan papan pengembangan. Papan akselerasi dikhususkan bagi perusahaan dengan aset skala kecil dan menengah (UKM). Harapannya, lebih banyak UKM yang bisa menggelar penawaran umum perdana alias
initial public offering
(IPO).
Hingga saat ini, sudah ada 42 emiten yang tercatat di papan pemantauan khusus. Menariknya indeks yang mengukur papan akselerasi tersebut melesat sepanjang 2024 berjalan ini. Bahkan laju indeks papan dengan emiten skala mini ini lebih tinggi dibanding Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Selasa (13/2), IHSG masih terkoreksi 0,87% ke level 7.209,74.
Namun ada anomali lainnya yang terjadi. Banyak saham pendatang baru langsung tumbang. Dari 17 emiten yang melantai di BEI dan tercatat di papan akselerasi pada tahun 2023. Iman Rachman, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia mengatakan harga merupakan sebuah kesepakatan pasar sehingga peran BEI jauh lebih dari itu, yakni menjaga kelayakan.
Iman mengklaim mayoritas emiten di papan akselerasi berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan yang tinggi di tahun 2022.
Sampai saat ini baru ada satu emiten yang berhasil naik kelas dari papan akselerasi. Yakni, PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) yang berhasil masuk ke papan pengembangan.
Founder CTA Saham, Andri Zakaria mengatakan sebaiknya investor dan pelaku pasar untuk menghindari saham dengan harga di bawah Rp 50 karena kecilnya likuiditas dan secara fundamental belum tentu bagus.
Andri menyarankan, investor bisa memburu saham yang berhubungan dengan isu kemenangan hitung cepat pasangan Prabowo-Gibran atau emiten yang berencana membagikan dividen. Saham terafiliasi Prabowo-Gibran, seperti Grup Adaro, Grup Bakrie dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP).
Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai uji coba otoritas bursa untuk mendorong perusahaan kecil untuk melantai di BEI tidak berhasil.
Pilihan Editor
-
John Riady: Jangan Khawatir Bubble Start-up
06 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021 -
Perusahaan Rokok Besar Menikmati Insentif Cukai
04 Sep 2021









